
Dua hari Luna dirawat di rumah sakit , dan kini saatnya persiapan Luna untuk pulang . Mama Eliza sudah menawarkan agar Luna tinggal di kediaman Anthony . Tapi dia tidak mau , karena dia ingin tetap bersama Arion . Apa boleh buat , Eliza akhirnya mengalah demi sang anak . Mungkin mereka akan sering berkunjung ke rumah Arion untuk melihat keadaan Luna .
Dinda merasa bahagia , karena dia akan memiliki seorang keponakan . Begitu juga para asisten Arion , mereka sangat antusias dengan kehamilan Luna, karena akan ada tuan muda kecil atau nona kecil yang menghiasi kediaman Abraham saat ini .
Luna sudah berada di kediaman Arion, dan dia merasa sangat bahagia karena semua orang menyambutnya , termasuk kedua orang tuanya dan para sahabatnya sudah berkumpul di rumah Arion .
Dia merasa spesial , karena semua orang menyambut kedatangannya aduh .
"Calon Mommy jangan sakit lagi ya ? Tetap sehat selalu untuk mommy ,and babynya nanti. " Dara langsung memeluk Luna sekarang terlihat lebih kurus , karena dia tidak mau makan selama beberapa hari ini.
"Terimakasih, Dara. " mereka berdua saling berpelukan. Dilanjutkan dengan pelukan dari sahabat wanita lainnya.
Arion mengumpulkan semua sahabat dan keluarga untuk acara tasyakuran Luna yang sedang mengandung anaknya. Mereka kini berkumpul di taman belakang yang sudah disiapkan sebuah Gazebo besar untuk acara mereka hari ini. Bahkan Arion.
"Kapan Gazebo ini ada, sayang. Perasaan ini tidak ada dulu." tanya Luna yang merasa keheranan dengan adanya Gazebo besar di taman belakang.
"Sengaja aku pesan, Luna sayang. kalau kita punya acara kumpul-kumpul seperti ini kan enak. Kita bisa berkumpul bersama seperti ini. " ujar Arion.
Luna mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Arion.
Mereka semua mulai menyantap hidangan yang disediakan oleh para pelayan. Dengan berbincang hangat satu sama lain. Arion merasa bahagia bisa berkumpul seperti ini dengan para sahabat nya. Dia lalu mendekati Kevin sahabat baiknya yang paling konyol di antara mereka.
"Bagaimana kuliah lo, apa masih jalan? "
"Berkat lo, kuliah gue jalan. Thanks ya bro Seneng punya temen Sultan bisa membantu kita-kita yang nggak punya. " puji Kevin kepada Arion.
"Sudah sepantasnya, Kev. Nggak mungkin gue ngebiarin lo putus kuliah, cuma karena nggak ada biaya untuk kuliah. Sedangkan ada sohib lo yang berkecukupan. " ujar Arion sambil menepuk punggung Kevin.
"Terus usaha nyokap gimana? "
"Alhamdulillah, jalan Arion. bisa untuk menambah pemasukan di rumah. Bokap juga bersyukur karens bisa dapet kerjaan walau cuma sebagai satpam. "
"Syukurlah kalau begitu. setidaknya ekonomu keluarga lo tetap berjalan. "
"Iya thanks ya, Ar. "
"it's okey. "
Perbincangan Arion dan sahabat lainnya juga berlangsung hangat, entah itu tentang kuliah mereka atau pekerjaa mereka. Arion masih bungkam dengan keberadaannya selama dia menghilang. Karena itu adalah tempat persembunyian mereka saat suasana tidak kondusif.
Waktu berlalu begitu cepat, setelah bercengkrama dan bersenda gurau mereka akhirnya kembali ke rumah masing-masing saat waktu menjelang malam. Mereka ingin Luna agar istirahat dan segera pulih dengan cepat.
"Gue balik dulu, Ar , Lun. Thanks ya, jamuannya. " Leo.
"Sering-sering kalau ada acara kumpul-kumpul gini undang kita-kita. " Kevin.
"Sip, kalau Luna kangen kumpul gini, gue bakal undang kalian semuanya. " Arion.
Mereka semua berpamitan, dan segera meninggalkan rumah kediaman Arion.
"Mama dan papa juga pergi dulu ya sayang. Jaga diri baik-baik jangan lupa makan Ingat selalu, kalau kamu memiliki tanggung jawab di dalam sini. " Eliza mengelus perut Luna lembut.
"Iya, ma. Aku akan mengingat itu. "
"Jaga Luna baik-baik. kalau terjadi apa-apa segera hubungi kami. " pesan Gavin sebelum pulang. Dia mulai mempercayai Arion setelah melihat ketulusan Arion dalam merawat anaknya itu.
__ADS_1
"Percayakan padaku, pa. "
Orang tua Luna beserta Lucas pun segera pergi meninggalkan kediaman anak mereka sekarang.
Setelah kepergian semua orang Luna dan Arion segera masuk ke dalam rumah. Dilihat nya Dinda sedang belajar bersama kedua pengawalnya dan asisten Arion sedang bermain game di ponsel mereka.
"Kalian semua, ingat waktu ya kalau bemain dan belajar. Ingat istirahat tepat waktu."
"Siap boss. "
"Baik, kakak. "
Jawab Dinda dan semuanya dengan serentak.
"Baiklah, aku akan menemani istriku, istirahat. karena dia sangat butuh istirahat yang cukup. " Kata Arion, dan segera menuju kamar meninggalkan mereka semua yang sedang asik dalam permainan mereka.
Sesampainya di kamar, Arion mendudukkan Luna di pinggir ranjang , Wah dan segera mengambilkan pakaian ganti untuk Luna. Luna yang mendapatkan perhatian lebih seperti itu merasa malu kepada Arion, karena sekarang suaminyalah yang sedang melayani dia.
"Maafkan Aku, karena harus merepotkan mu. " ujar Luna.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan kalau itu menyangkut dirimu sayang. " Kata Arion lalu mencium mesra pipi Luna yang memerah.
Mereka berdua pun , akhirnya istirahat malam itu dengan hanya saling berpelukan , tanpa ada adegan panas yang biasa mereka lakukan sebelum tidur . Arion benar-benar menjaga Luna dengan baik . Dia akan menunggu sampai kandungan Luna benar-benar sudah kuat , dan Luna tidak mengalami morning sicknes lagi yang membuatnya menderita .
Arion sudah siap dengan pakaian kerjanya pagi ini , Luna sedang memasangkan dasi untuk suaminya , sehingga membuat Arion benar-benar tampil mempesona hari ini .
"Aku ada pertemuan penting di Bogor , apakah kamu menginginkan sesuatu ? Karena jarang sekali aku pergi ke Bogor untuk meeting . Barangkali kamu menginginkan sesuatu . Yang dari Bogor asli ."
"Apa kau akan menginap ? " Tanya Luna dengan khawatir .
"Baiklah, yang penting kamu pulang dengan selamat. "
"Jika aku menginap, dan kamu kesepian, kamu bisa meminta Dinda untuk menemanimu tidur, di sini."
Luna tidak menimpali dia hanya mengangguk.
"Jika nanti tiba-tiba kamu menginginkan sesuatu, segera hubungi aku ya. Aku akan membelikannya untukmu." Kata Arion lagi.
"Iya sayang... suamiku cerewet sekali. "
"Bukan cerewet, Luna. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu. "
"Iya aku, tau. Ayo kita turun."
Setelah semua siao, dan suaminya sudah terlihat tampan dan sempurna. Luna lalu menggandeng tangan Arion turun ke lantai bawah. Disana para penghuni rumah sudah bersiap untuk sarapan dan hanya menunggu tuan rumah datang.
"Pagi semuanya... "
"Pagi, kakak... "
"Pagi, bos. "
Arion mencium pipi Dinda sekilas, begitu juga dengan Luna yang juga mencium pipinya. Luna sudah menganggap Dindaa seperti adiknya sendiri. Jadi dia memperlakukan Dinda seperti Arion memperlakukannya. Tidak ada kecemburuan sama sekali, seperti diawal dulu.
"Hari ini aku ada pertemuan setelah makan siang di Bogor. Marvo dan Ray, kalian ikut aku. Sedangkan Mona, kamu tetap tinggal di sini. Jaga kedua wanita yang sku sayangj ini. " Arion memberi pengarahan.
__ADS_1
"Baik tuan. " jawab merka bersamaan.
"Dinda, kalau kakak tidak pulang, nanti kamu temani kak Luna ya, tidur bareng kak Luna. "
Dinda lalu menoleh ke arah Luna dan menganggukan kepalanya. "Okey, jawabnya singkat. "
"Kak Luna nggak makan? " tanya Dinda yang tidam mengambil makanan di piringnya.
Luna menggelengkan kepalanya, "Lagi nggak enak makan, Dinda. "
"Kakak jangan gitu, kasihan adik keponakanku, kalau nggak dikasih makan sama mommynya. " Kata Dinda lagi sambil mengelus perut Luna yang masih datar.
Luna hanya tersenyum Menanggapi ocehan Dinda, dia tau Kalau dinds sangat menyayangi bayi yabga da di dalam kandungannya.
Arion yang melihat itupun, jadi tidak tega kalau harus meninggal kan Luna dalam keadaan seperti ini. Dia lalu mengambil piring dan beberapa lauk yang sudah terhidangdan mencoba menyuapkannya kepada Luna.
"Ayo sayang, dibuka mulutnya. "
Mendapat suapan dari Arion mata Luna berbinar. Dia langsung membuks mulutnya dan langsung mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Melihat itu, semua orang jadi tercengang, mereka tidak menyangka kalau Luna hanya mau makan di suapi Arion.
"Wah, anak daddy ternyata ingin disuapin sama daddy ya... " Kata Arion mengelus perut datar Luna
Mendengar hal itu membuat Luna tersipu.
Akhirnya Luna makan dengan disuapi Arion, secara bergantian. Hingga satu piring makanan habis tak bersisa masuk ke dalam perut Luna.
"Thanks Dad. " ucap Luna menirukan suara anak kecil.
Setelah sarapan selesai, mereks semua pergi ke tempat mereka menjalani aktivitas mereka masing-masing. Kecuali Luna yang berdiam diri di rumah. Dia tidak diperbolehkan Arion untuk kuliah selama masa kehamilannya, dan hanya diperbolehkan kuliah secara online, agar Luna tetap terpantau aktivitas nya di dalam rumah.
"Ray, atur ulang jadwal pertemuan ku, kita akan melakukan pertemuan sebelum makan siang. Aku tidak mau meninggalkan istriku dirumah sendirian. "
"Baik, tuan. " tanpa banyak bertanya Ray, langsung menghubungi pihak di Bogor untuk memepercepat pertemuannya.
"Kalian tau sendiri, Luna tidak mau makan jika tidak disuapi olehku. Aku takut terjadi sesuatu jika Luna tidak makan nanti. Baik itu kepada Luna maupun kepada anak-anak ku. " kata Arion lagi.
Mereka semua mengangguk mengerti.
"Dan katakan kepada mereka jika memang ingin bekerja saman dengan ku, mereka yang harud datang ke perusahaan. tidak ada acara jamuan makan. Karena itu hanya buang-buang waktu saja." putus Arion. Dia tidak mau meninggalkan keluarganya lagi. Karena dia baginya keluarga adalah yang paling utama.
"Baik tuan kami mengerti. "
Mereka berempat telah sampai di perusahaan. Dan Arion langsung menuju kantornya. Pertemuaan dipercepat pukul sepuluh siang, Ray berhasil meyakinkan dan pihak sana untuk mempercepat pertemuan mereka. Dia juga segera menyiapakan helikopter untuk terbang ke Bogor. Benar-benar asisten Ray cepat tanggap dengan keadaan tuan mudany saat ini. Mereka segera berangkat, setelah memeriksa beberapa berkas.
Saat di udara, Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Arion.
"Aku mau Asinan Bogor. "
"Benar-benar asinan yang dari Bogor. "
"Hati-hati di jalan sayang. Aku menunggumu pulang dengan membawa Asinan Bogor. "
Fix ini sudah menjadi perintah buat Arion membelikan Asinaan untuk istrinya.
Arion lalu mengirimkan pesan kepada Marco.
__ADS_1
Marco yang menerima pesan itu, tidak mengerti. Nanti saat kami rapat, kau keluarlah belikan makanan itu Luna. Dia menginginkannya. Marco mengangguk mengerti. Kalau ternyata istri bosnya yang menginginkan makanan itu.