
Bandara.
Seorang pria dengan pakaian rapi dan kacamata yang nangkring di hidungnya dan masker yang menutup sebagian wajahnya, jangan lupakan topi yang menutupi kepalanya. Sedang berjalan dengan pengawalan ketat oleh para bodyguard menuju mobil mewah yang sudah menunggunya dari tadi.
"Selamat datang tuan muda. "
Ucap seorang pria paruh baya yang memberi hormat kepadanya.
Arion segera masuk ke dalam mobil mewah itu, dan melepas segala atribut yang menyesakkan.
"Kenapa aku harus bersembunyi seperti ini. Padahal aku bukan buronan. " gerutu Arion.
"Ini demi keselamatan anda, Tuan. " ujar Jack. Ya pria paruh baya yang menyambut Arion adalah asisten papanya yaitu Jack.
Arion mendengus. "Ini tidak keren Jack. Seharusnya kau publish kedatanganku dengan banyak wartawan, agar mereka semua tau kalau aku sudan kembali. Hahahaha.... " kata Arion dengan sombong.
Mendengar ucapan Arion Jack hanya memutar bola matanya malas.
Ternyata tiga tahun di Jerman membuat Arion yang berandal semakin berandal. Terbukti dari foto-foto yang dikirimkan Ray kepadanya. Suka balapan liar dan berkelahi. Yah, hobi masa SMAnya itu masih berlaku hingga dia dewasa seperti sekarang. Bahkan Marco yang menjadi pelatihnya saja sudah kualahan jika harus berkelahi dengan Arion
Arion masih bisa mengontrol dirinya selama ini walau kehidupannya jauh berbeda dengan yang dulu. Banyak wanita yang menyodorkan tubuhnya pada pria setampan Arion, tapi Arion tak bergeming. Karena dia masih ingin memperjuangkan seseorang.
Mobil yang mereka kendarai sampai di sebuah rumah mewah sesuai keinginan Arion. Dia tidak ingin sebuah mansion yang besar tapi tak berpenghuni. Jadi dia menginginkan rumah mewah saja, asalkan dia dan Dinda bisa tinggal dan tidur dengan nyaman. Ketiga temannya yang bekerja padanya akan tinggal di sana. Marco, Ray dan Mona.
Arion dan Dinda masuk ke dalam rumah, dan dilihatnya semua sesuai keinginannya. Ada foto masa kecilnya dan Dinda yang bermain dengan sang Papa. Lalu kenapa tidak ada foto mamanya disana? Arion meringis saat mengingat hal itu. Mamanya yang tidak bisa merelakan kepergian suaminya hingga lebih memilih tinggal bersama Mike saudara kembar papanya. Dan menyebabkan rumah tangga Mike yang hancur dan membuat Alex membencinya. Entahlah, itu sebuah kebenaran atau kebohongan yang dilakukan mamanya dengan Mike agar mereka bisa bersama.
"Arion, Kamarmu ada di lantai atas berhadapan dengan kamar Dinda. Sedangkan kamar Marco Ray dan Mona ada di sana. " tunjuk Jack pada Arion dan teman-temannya.
"Terima kasih Jack. Baiklah kita istirahat dulu dan akan bertemu nanti saat makan malam. " ujar Arion kepada semuanya.
"Baik, tuan Muda. " jawab mereka bertiga serempak.
Arion merangkul pundak adiknya untuk naik ke kamar mereka. Dan berpisah saat menemukan kamar mereka masing-masing.
Arion merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Terasa nyaman saat merasakan berada di tempat yang sama dengan Luna, sang belahan hati yang tertinggal di sini.
"Lun, kita akan ketemu. Tunggu saja aku akan memperjuangkan mu sekarang. Tidak akan ada yang bisa melarangku untu mendekatimu bahkan Ghavin Antony sekalipun. " gumam Arion sambil memejamkan matanya.
*
__ADS_1
Makan malam
Semua orang yang berada di rumah mewah itu berkumpul dalam satu meja untuk melakukan makan malam. Dan setelah makan malam, Mereka akan membicarakan apa yang akan mereka lakukan besok di perusahan Abraham.
"Jack, apa yang akan kita lakukan besok. " tanya Arion setelah menyelesaikan makan malamnya.
Jack menyuruh para pelayan untuk membersihkan meja makan terlebih dahulu agar terlihat lebih rapi.
"Kau tinggal datang ke perusahaan besok bersama mereka bertiga. Aku akan mengambutmu di sana bersama orang-orang yang sudah lama menantikan kedatanganmu. Aku sudah menyuruh perwakilan dari kami untuk mengadakan rapat internal direksi dan pemegang saham. Semua akan datang besok. Dan disaat itulah kau akan mengejutkan mereka dengan kedatangan mu. " Jelas Jack
" Wah, sepertinya akan keren. Benar nggak Ray. " tanya Arion pada asistennya itu.
"Tentu saja, tuan. Ini pasti akan keren. " jawab Ray dengan menganggu kan kepalnya.
"Ingat Arion, kamu harus menunjukkan wajahmu yang tegas, bukan wajah tengilmu. " Jack memperingatkan.
"Tentu saja Jack. Kita lihat saja besok. " ujar Arion dengan senyum devilnya. "Aku tak sabar ingin segera menjebloskan mereka ke dalam penjara. " gumamnya tapi masih bisa di dengar semua orang.
"Jack tapi sebelum ke perusahaan aku ingin ke suatu tempat besok." ujar Arion sebelum mereka menyudahi obrolannya.
"Mau kemana? " tanya Jack dengan memicingkan matanya.
"Terserah, tapi kau harus tetap mengajak mereka bertiga. Jika tidak awas saja. " Jack memperingatkan
"Iya... iya aku mengerti. " kata Arion dengan malas.
*
*
Pagi itu di sebuah sekolah SMA Harapan Bangsa sebelum para siswa datang, dua buah mobil sport mewah sudah terparkir di halaman sekolah. Tapi entah dimana pengemudinya karena mobil itu kosong tanpa ada seseorang didalamnya.
Sedangkan di rooftop gedung sekolah, seorang pria berkaca mata hitam, sedang berdiri tegak memandang ke bawah. Dimana para murid sudah mulai datang satu persatu.
"Tiga tahun lalu disini kita berpisah Lun. Maka kita juga akan bertemu disini. Tunggu aku... Aku datang untukmu. " lirih Arion sambil menggenggam erat baju kelulusan SMA nya yang dicoret-coret Luna. Sebuah coretan yang berisi pesan untuk Arion.
Arion mengalungkan baju itu di lehernya, lalu mengambil sebuah kain panjang yang sudah ia siapkan dan berisi sebuah pesan untuk seseorang. Arion sengaja menulis pesan itu hari ini, karena dia tau dari orang suruhannya Luna akan datang setiap tahun di hari ulang tahunnya, hanya untuk meniup lilin untuknya dengan sepotong kue. Dia lalu mengikat kain itu di pagar rooftop.
"Tunggu aku Lun, aku akan kembali. Setelah urusanku selesai."
__ADS_1
Arion segera meninggalkan tempat penuh kenangan itu, dan segera menuju ke perusahaannya. Di setiap kelas yang ia lewati semua mata memandang kagum kepada sosok pria tampan yang berjalan di depan ketiga pria tampan lainnya yang mengawalnya. Tanpa ia sadari, dia berpapasan jalan dengan sosok yang ia rindukan. Arion lewat di lorong kelas sebelah kanan , sedangkan Luna lewat di lorong kelas sebelah kiri yang dipisahkan oleh taman di tengah-tengah nya.
Seperti biasa Luna akan datang ke rooftop sekolahnya dulu sebelum berangkat kuliah saat hari ulang tahun Arion. Untuk merayakan ulang tahun pria yang ia cintai, di tempat ia berpisah dengannya dulu. Saat Luna mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rooftop, matanya memicing saat melihat sebuah kain putih yang terikat disana.
Luna segera mendekati kain itu, yang terdapat sebuah tulisan disana. Dia memperhatikan secara seksama kalimat apa yang tertulis di kain itu.
"Aku kembali untuk mu, Lun. Temui aku di taman kota dua hari lagi jam tujuh malam. "
Luna langsung menutup mulutnya karena merasa tak percaya dengan apa yang dia baca.
"A... A... Arion... "
Tanpa terasa air matanya luruh setelah membaca pesan yang di tulus untuknya.
"A.. Arion sudah datang, berarti baru saja dia disini. " racaunya
Tanpa pikir panjang lagi Luna segera turun dari rooftop dan mencari dimana Arion berada. Dia lari hingga menabrak beberapa murid yang berpapasan dengannya. Sambil memanggil manggil nama Arion.
Arion... Arion ... lo dimana....
Luna terus mencari hingga dianggap tak waras oleh para murid. Sampai salah satu murid wanita disana menghampirinya.
"Ada apa kak? " tanya murid itu
Luna langsung mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Arion saat SMA dulu.
"Apa kamu lihat kakak ini. " tanya Luna pada murid perempuan itu.
"Tampan sekali kak. " celetuk murid itu.
Luna langsung menyembunyikan foto Arion, dan dibalas cengiran oleh murid perempuan tadi.
"Tadi aku lihat empat cowok ganteng keluar sekolah kak. Yang didepan, beuh ganteng banget. wajahnya seperti foto yang kakak punya. " murid itu menjelaskan kepada Luna.
"Benarkah? " tanya Luna fak percaya
Dan diangguki oleh murid itu.
Luna langsung berlari ke halaman sekolah, untuk mengejar Arion. Namun sayang, dua mobil sport mewah tadi sudah tidak ada. Itu artinya Arion sudah pergi. Luna menggenggam erat kain putih yang berisi pesan dari Arion.
__ADS_1
"Gue akan nunggu lo, Arion. Gue akan datang. "