
Luna menyimpan surat itu dengan baik, dan dia segera lari kedalam kamar mandi. Hari ini dia akan tampil sempurna. Walaupun keadaan tubuhnya tak sesehat dulu. Turun sepuluh kilo dalam dua minggu, sungguh luar biasa.
(Kalau saja othor bisa seperti itu pasti bahagia hatiku)
Dia menggunakan baju terbaiknya dan mematut dirinya di cermin. Dia akan keluar dari kamar mulai sekarang. Kalau Arion ingin melupakannya dan mencari kebahagiaan untuknya, maka Luna juga ingin melakukan hal yang sama. . Luna pikir sudah cukup bagi dirinya untuk menyiksa diri selama ini. Kalau ternyata perjuangan Arion hanya sebatas ini. Luna juga ingin bahagia dan melupakan Arion.
Saat makan malam, Luna keluar dari kamarnya, dan turun kelantai bawah. Dilihatnya kedua orang tuanya dan Lucas sedang berkumpul di meja makan. Semua orang tertegun melihat Luna, yang akhirnya mau keluar dari kamar. Namun dengan penampilan yang berbeda. Tubuhnya terlihat sangat kurus. Gavin sampai tak percaya melihat perubahan tubuh Luna. Tubuhnya yang berisi, sekarang terlihat semakin kurus.
Eliza segera beranjak dari duduknya dan memeluk anak gadis satu-satunya itu.
"Sayang.... kamu nggak apa-apa kan? " tanya Eliza saat melihat keadaan anaknya.
"Aku nggak apa-apa, ma. "
Luna lalu duduk di samping Lucas seperti biasa.
"lo nggak apa-apa kan Lun? " tanya Lucas yang merasa aneh dengan perubahan sikap Luna.
"Iya gue baik-baik aja kok. Emangnya gue kenapa? " tanya Luna yang ketus seperti biasa.
"Ayo makan, aku sudah lapar. sudah beberapa hari ini aku nggak makan dengan baik. " kata Luna sambil memakan makanannya dengan lahap.
Eliza merasa senang dengan apa yang dilihatnya, anaknya itu mau makan sekarang. Bahkan makan dengan lahap. Begitu juga dengan Gavin. Dia bahagia karena akhirnya Luna sudah kembali seperti dulu. Mungkin setelah ini, dia akan melupakan Arion. Pikir Gavin saat ini.
Tapi perasaan tidak enak malah menyelimuti Lucas. Karena dia melihat sendiri seperti apa Luna selama beberapa hari ini. Dia selalu menangisi Arion dan Arion yang dia sebut namanya.
"Pa, setelah ini. Luna janji. Akan melupakan Arion selamanya. " kata Luna setelah semua orang menyelesaikan makannya.
Dan semua pandangan beralih ke Luna setelah Luna mengatakan hal itu.
"Benarkah? Wah bagus kalau gitu. Itu baru anak papa. ' kata Gavin dengan bangga.
" Iya pa, Luna kesel banget sama Arion, katanya dia akan memperjuangkan Luna sampai akhir. Tapi pada akhirnya dia menyerah. Dan malah akan pergi jauh, dia mau melupakan Luna dan menjemput kebahagiaan nya sendiri. Kalau begitu, Luna juga ingin melakukan hal yang sama. Yaitu menjemput kebahagiaan Luna dengan cara Luna sendiri. " kata Luna panjang lebar, dengan nada manja seperti biasanya.
"Bagus itu... papa akan memberikan apapun yang kamu mau asalkan kamu bisa melupakan laki-laki itu." Kata Gavin bersemangat.
Luna hanya mengangguk mendengarkan ucapan papanya. Sedangkan Eliza tak tau lagi harus bicara apa. Dia sudah merasa bahagia saat melihat Luna mau makan dan ceria seperti dulu.
Sedangkan Lucas yang sejak tadi memperhatikan Luna, dia melihat ada sorot mata kesedihan dimatanya. Namun Luna menyembunyikannya.
"Kuliahmu bagaiamana? " tanya Gavin kemudian
"Entahlah, aku mau ambil cuti dulu. Aku masih capek. " kata Luna dengan nada manjanya.
Setelah makan malam, mereka berkumpul di depan televisi, untuk menonton siaran drama yang sedang populer saat ini. Luna bermanja-manja di pangkuan mamanya. Sedangkan Eliza fokus melihat acara televisi sambil tangannya mengusap lembut rambut Luna.
__ADS_1
Luna menikmati kebersamaan mereka malam ini. Hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam. Luna segera bangkit dari pangkuan mamanya. Dia lalu menciumi papa dan mamanya, Kemudian Lucas.
"Aku ke atas dulu. Mau tidur." katanya.
"Ya sudah istirahatlah." Ujar Gavin dengan mata yang masih fokus melihat ponselnya.
Dengan riang, Luna berlari naik tangga
"Lihatlah, Luna pasti baik-baik saja tanpa Arion. " kata Gavin dengan yakin setelah melihat keceriaan anaknya.
"Apa papa yakin? " tanya Lucas saat melihat keyakinan di hati papanya.
"Iya... Kita buktikan saja besok dia pasti baik baik-baik saja. "
"Terserah papa. "
Di kamar nya, Luna sudah menyelesaikan menulis sesuatu di kertas. Dia lalu duduk di lantai, dan mengambil sesuatu di laci meja belajaranya. Luna tersenyum melihat benda itu.
Dan...
Sreeekk....
"Selamat tinggal Arion, selamat tinggal cintaku. aku juga akan menjemput kebahagiaanku tanpamu. " ucap Luna sambil terus tersenyum merasakan aliran darah yang keluar dari tangannya. Dan sebelum kesadarannya hilang dia melihat Saudaranya masuk ke dalam kamar nya dan meneriakkan namanya.
"Luna... Luna.. apa yang kamu lakukan bodoh.. Papa... papa... Luna pa... Maaaa..... " teriak Lucas histeris sambil menepuk-nepuk pipi Luna.
Gavin dan Eliza yang mendengar teriakan Lucas segara lari ke kamar Luna, dan mereka terkejut saat melihat Luna sudah bersimbah darah. Darah di tangannya terus mengalir. Gavin segera menyobek apapun untuk mengikat tangan luna agar darah itu tidak keluar. Lalu menggendongnya keluar menuju mobil.
Lucas yang masih berada di kamar Luna melihat secarik kertas yang ada di meja. lalu dia segera berlari mengikuti papanya.
Sebelumnya asisten rumah tangga, dia suruh untuk membersihkan darah yang berceceran di kamar Luna.
Di mobil, Eliza memangis histeris melihat keadaan anaknya yang sudah tak sadarkan diri. Untung jarak rumah sakit tidak terlalu jauh dari rumahnya. Mereka berharap Luna masih bisa di tolong.
Gavin segera mengangkat tubuh Luna lagi dan membawa ke IGD agar segera mendapat penanganan. Dan saat memasuki ruangan , Keluarga di larang masuk.
Mereka bertiga dalam keadaan kacau. Pakaian mereka sudah berlumuran darah Luna, tapi mereka tidak memperdulikan nya.
"Kenapa sih lo bodoh banget Luna. " kata Lucas dengan terisak. "Ini semua salah papa.... ini semua salah papa... ini semua salah papa. " Lucas terus mengatakan hal itu.
Gavin yang tidak mau di salah kan pun langsung menoleh kearah Lucas.
"Apa maksudmu Lucas? "
"Luna bilang, kalau sesuatu terjadi padanya. Jangan pernah menyalahkan siapapun, tapi salahkan papa yang terlalu egois dan keras kepala. Karena sudah memisahkannya dengan Arion. "
__ADS_1
Deg...
"Luna bilang, sekali saja Arion pergi lagii meninggalkannya. Jangan salahkan dia jika menjadi Juliet dalam kehidupan nyata. "
Deg....
"Dan Juliet dalam kehidupan nyata itu sudah ada di hadapan kita saat ini. " teriak Lucas histeris.
Dia tidak peduli dengan pandangan semua orang, dia hanya ingin menyadarkan papanya. Kalau sifat Luna itu gak jauh beda dari papanya. Dia adalah copy-an papanya sangat keras kepala. Dia akan melakukan apapun yang menurutnya benar. tanpa memikirkannya lagi.
"Papa jahat.. papa egois. " Lucas lalu melempar sepucuk kertas yang dia temukan di meja Luna.
Namun sebelum membacanya, seorang dokter keluar dari ruang penanganan Luna.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter.? " tanya Eliza pada akhirnya setelah melihat Gavin hanya terpaku melihat selembar kertas di hadapannya.
"Nyawa nona Luna masih bisa tertolong, tapi sayang, denyut nadinya sangat lemah. Dan dia kehilangan banyak darah. Jadi, Apakah ada yang memiki darah yang cocok dengannya? "tanya dokter tadi.
" Ambil darah saya saja dok. " kata Lucas. " Saya adalah saudara kembarnya. Jadi darah kami sama. "
"Baguslah kalau begitu. " dikter itu nerasa lega
Dokter dan Lucas segera masuk kedalam ruangan. dan Lucas segera melakukan transfusi darah untuk saudaranya yang sudah pucat itu.
"Lun, bertahanlah. " lirih Lucas.
Di luar, Eliza yang sudah sangat kesal melihat kelakuan suaminya itu segera menampar wajah suaminya deng keras.
Plak...
Bahkan tangan Eliza merasaka kebas setelah menampar suaminya. Gavin yang mendapat tamparan dari istrinya masih diam tak bergeming.
"Bagaimana? sudah puas kamu melihat anakmu yang hampir meregangkan nyawanya karena kegoisan dan sifat keras kepalamu itu. " kata Eliza yang sekarang sudah tidak bisa tinggal diam lagi, saat nyawa anaknya berada di ujung tanduk.
"Apa salah Arion, kenapa kamu membencinya. Dia tidak salah apa-apa. Bahkan papa Arion sendiri, William tidak punya salah apa-apa padamu. Hanya karena masalah sepele, rasa iri dan dengkimu mengakar sampai dua puluh tahun. Padahal orang yang kau benci mungkin saat ini sudah menjadi tanah, dan tersisaa tulang belulang saja. "
"Kamu mikir nggak sih, keegoisanmu, hampir membunuh anakmu. " kata Eliza lalu merebut kertas yang ada di depan Gavin.
Pa, Ma. Maafkan aku, kalau aku belum bisa menjadi anak yang berbakti buat kalian. Maafkan aku yang harus melakukan ini hanya demi melupakan pria yang aku cintai.
Maafkan aku pa, Aku tidak bisa melupakan Arion seperti yang papa minta. Sejak dulu, aku sangat mencintai Arion, pa, ma.
Tiga tahun perpisahan kami, membuatku sadar, kalau aku tidak bisa melupakannya. Dan jika papa memisahkan kami lagi, maka inilah jalan yang aku pilih untuk melupakannya.
Membaca pesan yang dibaca Luna membuat mata Eliza berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sekarang, puas kamu. "