
Semua teman dan sahabat Arion sedang berkumpul di kantin saat ini. Mereka masih saja membahas tentang Arion sahabat lucknut nya yang sudah mengkhianati mereka. Karena lompat kelas tanpa sepengetahuan mereka semua. Belum lagi, dia yang tidak ada kabar sama sekali tentang dirinya sampai beberapa bulan ini.
Hingga sesosok pria berkaos hitam mendekat ke arah mereka dengan senyum tengilnya. Membuat siapapun terpana melihat ketampanan sosok Arion. Namun tidak bagi segerombolan anak laki-laki yang dari tadi sedang membicarakan tentang dirinya. Mereka langsung terdiam melihat sosok itu, Sosok yang sangat mereka rindukan selama tiga bulan terakhir.
Arion duduk di kursi kosong samping Leo tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Hai. "
Sapanya pada semua sahabatnya, tapi semua sahabat Arion langsung memalingkan wajahnya dan enggan bersitatap dengan Arion. Mereka semua kesal pada sosok tengil ini. Sosok yang menghilang bak ditelan bumi. Sosok yang mereka rindukan.
"Okey, kalian boleh marah sama gue. Dan gue minta maaf sama kalian semua karena gue udah jadi sahabat lucknut yang nggak bisa bareng sama kalian selama beberapa bulan terakhir. Dan mungkin setelah hari ini kita nggak akan bertemu lagi, sampai entah kapan itu. Gue cuma mau pamit sama kalian semua. Gue cabut ya. " Kata Arion sambil berdiri dan hendak beranjak.
Namun sebuah pitingan di leher Arion membuatnya tidak bisa bergerak dan diikuti beberapa pukulan di tubuhnya, dari siapa lagi kalau bukan dari para sahabatnya.
Mereka yang mendengar semua ucapan Arion merasa terkejut dan tidak menyangka kalau Arion akan berpamitan kepada mereka.
"Lo mau kemana? " tanya Roy yang tidak bisa membendung air matanya, karena selama ini dialah yang duduk satu bangku dengan Arion di kelas.
Roy langsung memeluk tubuh Arion yang semakin kekar itu. Entah latihan apa yang sudah Arion lakukan selama beberapa bulan terakhir ini, sehingga membuatnya menjadi pria macho di usianya yang masih remaja.
Arion tidak memberi jawaban, dia hanya terdiam. Karena dia tidak ingin siapapun tau kemana dia pergi.
"Gue mau nerusin sekolah. " jawabnya singkat tapi menggantung.
"Iya tapi dimana? " Roy memaksa Arion untuk mengatakan kemana dia akan pergi.
Tapi Arion hanya diam, tidak menjawab pertanyaan teman sebangku nya itu.
"Sorry, gue nggak bisa bilang sama lo. Tapi gue janji, nanti kalau gue balik. Gue akan nyari kalian semua. Tapi dengan satu syarat, nomor ponsel lo semua jangan sampai ada yang ganti. Oke... kita akan tetap pakai nomor lama.Tapi... "
"Tapi apa? " kini Leo yang sejak tadi diam ikut bicara.
"Tunggu nomor gue aktif. Kalau nomor gue sudah aktif, berarti gue udah ada disini. Tapi kalau nomor gue masih mati, itu artinya gue belum siap ketemu kalian semua. " kata Arion dengan memberikan senyum hangat nya kepada semua sahabatnya.
"Percuma dong kita pake nomor lama kalau lo nggak bisa di hubungi. " kata Kevin dengan ketus.
Leo memberi isyarat kepada Kevin untuk diam. Sepertinya dia tau apa maksud Arion.
"Oke, gue bakal nunggu lo, Sob. Gue bakal nunggu lo kumpul bareng kita lagi. " ujar Leo seolah mengerti apa yang dipikirkan Arion.
"Tapi, Le... " Roy ingin membantah, tapi tangannya langsung di cekal Leo.
__ADS_1
Diantara semua sahabatnya Leo memang paling mengerti dan peka dengan keadaan. Arion langsung memeluk Leo, dan sahabat lainnya secara bergantian. Dan segera pergi meninggakkan semua sahabatnya yang melepas kepergian Arion dengan tatapan nanar. Sedangkan Arion dia tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia berjalan menjauh dari teman-temannya dengn punggung yang sedikit bergetar.
"Le.. Arion... " Roy yang sudah tak kuasa menahan kesedihannya hanya bisa meneteskan air matanya.
"Arion pasti punya alasan. Dan apapun alasannya, kita sebagai sahabatnya harus mendukung apapun yang dia lakukan. " ujar leo kepada semua sahabatnya. Lalu mereka berjalan mengikuti Arion dari belakang dengan memberikan jarak. Bagaimanapun mereka akan berpisah, jadi mereka memutuskan untuk melihat Arion pergi.
Di persimpangan jalan, Arion bertemu dengan Luna yang mungkin saja baru turun dari rooftop. Arion memberikan senyum hangatnya kepada Luna, mungkin senyuman itu yang akan dia berikan terakhir kali untuk gadis tercintanya. Arion terus berjalan kedepan tanpa memperdulikan Luna ataupun semua sahabat dan murid lain yang melihatnya waktu itu. Luna menatap punggung Arion dengan tatapan nanar.
Luna menutup mulutnya untuk menahan isak tangisnya. Tanpa ia sadari tangan kekar seorang pria merangkul dipundakanya.
"Ayo, kita ikuti Arion sampai dia keluar. " ajak Leo sambil merangkul bahu sahabatnya itu. mereka berjalan bersama mengikuti Arion dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh.
Tertegun ku memandangmu
Saat kau meninggalkanku...
Luna benar-benar sudah jatuh cinta pada Arion. Jatuh pada lautan yang penuh arus, hingga membawanya ke lautan tak bertepi, terombang-ambing dalam perasaan sedih. Luna benar-benar mencintai Arion, hingga sulit rasanya untuk bernafas tanpanya.
Salahkah jika Luna mengharapkan Arion kembali ke hidupnya? Dan jangan pergi. Luna ingin Arion selalu ada untuknya di sampingnya, memberi bahunya untuk bersandar, dan memberikan tubuhnya untuk di dekap.
Luna ingin menyentuhnya, ingin memeluknya dan mengatakan semua perasaannya selama ini, Tetapi dia tidak bisa. Dia takkan bisa melakukan itu. Bahkan untuk menyentuh bayangannya saja dia tidak mampu sekarang.
"Arion. "
Mendengar suara Luna yang memanggilnya membuat mata Arion memerah, genangan air di pelupuk matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Dan membuat pandangan matanya buram.
Arion tidak bisa menahan rasa sakitnya ketika harus meninggalkan Luna. Meninggalkan cintanya. Lama ia berdiri mematung menunggu kata yang akan terucap dari bibir Luna, tapi Luna tak kunjung bersuara. Tanpa menoleh lagi, Arion melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan gerbang sekolah. Namun baru satu langkah dia berjalan, sebuah tubuh menubruk nya dari belakang.
"Arion, bisa nggak lo jangan pergi. " Luna lagi-lagi memeluk Arion erat dari belakang.
Arion menengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya tidak jauh
"Gue harus pergi... " Arion mencoba melepaskan tangan Luna yang melingkar di perutnya.
"Sebentar saja.... " pintanya.
Arion mengalah, dan membiarkan keadaan seperti itu untuk beberapa saat.
"Gue akan nunggu lo... Lo harus datang untuk gue. Lo harus jemput gue, Arion. " Suara Lirih Luna seolah menusuk hatinya.
Arion memberi jawaban dengan anggukan karena dia tidak bisa berucap lagi.
__ADS_1
Luna menghembuskan nafasnya, setelah hatinya baik-baik saja dia lalu melepaskan pelukannya yang melingkari perut Arion.
"Pergilah, gue akan nunggu lo. "
Tanpa menoleh ke belakang Arion, langsung melangkah dan menuju sebuah mobil yang dibukakan oleh beberapa orang berseragam yang membungkukkan tubuh mereka, memberi hormat kepada Arion saat Arion masuk ke dalam mobil.
Iring-iringan beberapa mobil yang mengawal Arion pun segera meninggalkan sekolah, dan meninggalkan sepenggal hati Arion di sana.
Semua sahabat Arion merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Luna memeluk Arion, dan apa tadi... Arion dikawal beberapa bodyguard bak orang penting seperti presiden.
Leo mendekati Luna yang masih memandang kepergian mobil yang meninggalkan Arion.
"Lun.... "
"Le... Arion sudah pergi. " katanya dengan terisak.
"Dia akan kembali untuk kita. Sabarlah, mungkin dia sedang melakukan sesuatu atau mengejar sesuatu. Kita harus mendukung apapun jalan yang Arion pilih. "
Luna bersandar, dibahu Leo sahabatnya untuk melepaskan semua kesedihannya.
**********
Bandara.
Jack dan Dinda sudah menunggu kedatangan Arion di bandara sejak tadi. Karena pesawat yang akan mereka tumpangi akan berangkat tiga puluh menit lagi. Namun Arion tak kunjung datang Jack takut Arion akan pergi dan mengurungkan niatnya.
Hingga sosok Arion muncul dengan beberapa pengawal yang mengikutinya.
"Kenapa lama sekali? " gerutu Jack kepada Arion.
"Aku sedang mengucapkan perpisahan kepada teman dan sahabatku Jack. " kilah Arion.
"Ya, sudah. Ayo... kita naik pesawat pribadi milikmu. " ujar Jack kepada Arion.
Arion hanya mengangguk, dan tidak ingin tau, dari mana pesawat pribadi itu ada.
Arion berjalan di depan bersama Dinda dengan seorang pramugari yang mengawal jalan mereka.
Sedangkan Jack, dia mengambil jarak dari Arion, dan bertanya kepada bodyguard yang mengawal Arion tadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian lama sekali. "
__ADS_1
Bodyguard itu memberikan ponselnya dan memutar sebuah rekaman Video disana. Mata Jack menyipit melihat Arion di peluk Seorang gadis, dan apa ini. Pria itu menangis?
"Sepertinya aku harus menyelidiki gadis ini. " batin Jack