
Mona dan Ray lalu meminta daftar apa saja untuk di beli, agar mereka bisa langsung ke outlet-outlet yang menjual semua perlengkapan itu. Sedangkan Luna dia masih bersiap.
"Maaf sebelumnya ,aku mau tanya. Memangnya Luna memberikan kalian uang berapa untuk belanja hantaran ini." tanya Eliza.
Ray dan Mona berpandangan, lalu tersenyutersenyum smirk. Ray lalu mengeluarkan kartu hitamnya untuk di tunjukkan kepada Eliza.
"Ini nyonya. " kata Ray dengan sombong.
Eliza yang melihat kartu sakti itu langsung menutup mulutnya tak percaya.
"Benarkah ini? "
"Tentu saja nyonya, tuan kami bukanlah orang sembarangan. Dia punya lima yang seperti ini. " kata Mona dengan sombongnya.
"Ada apa ma? kenapa mama kaget seperti itu? " tanya Luna yang baru saja keluar bersama Lucas.
"i... itu. " Eliza menunjukkan kartu yabyang sedang di kipas-kipaskan oleh Ray.
Luna dan Lucas langsung menoleh kearah Ray, dia juga terbelalak melihat sebuah black card yang Ray pegang.
"Itu kartu siapa? " tanya Luna kepada Ray.
"Tentu saja kartu tuan kami, nona. Dia memberikan ini kepada kami untuk membelikan hantaran untuk nona. Jadi nanti nona bisa memilih apapun yang ingin nona beli. Tanpa batas. " ucap Ray.
"Kalau nona ingin menghabiskan kartu ini pun tidak akan ada masalah. " jawab Mona enteng.
" Baiklah kalau begitu, apa kalian sudah mencatat apa saja yang akan kita beli nanti? " tanya Luna kepada kedua asisten kekasihnya itu.
"Sudah nona. " Jawab Ray.
"Ya sudah ayo kita berangkat. Aku akan mengajak saudaraku. Takut nanti aku hilaf belanja. " ujar LunaLuna sambil tekekeh
"Terserah nona saja. "
"Tapi aku nanti minta di belikan sepatu keluaran terbaru. ' Kata Lucas.
"Beres, tenang saja tuan Lucas. Kalau begitu ayo kita berangkat. "
"Permisi nyonya, kami berangkat dulu. " kata Ray saat berpamitan dengan Eliza.
"Iya, hati-hati ya. Luc, jaga Luna baik-baik. " oesan Eliza kepada anaknya.
"Iya ma. "
Akhirnya mereka berempat sampai di sebuah mall terbesar di kota itu. Mereka mulai menelusuri toko tas. Mona dengan santainya memotret Luna dati belakang yang sedang memilih tas yang dia sukai. Dan mengunggahnya di story. Dengan caption "belanja bareng calon bu bos. "
Dia tidak tau saja, perbuatannya yang berniat memanas-manasi sang tuan muda akan berakibat fatal untuk mereka berdua.
Marco langsung masuk ke dalam ruangan Arion tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Dia ingin menunjukkan foto yang di unggah Mona beberapa eaktu lalu kepada tuan mudanya.
Arion terkejut saat melihat Marco masuk terburu-buru.
"Ada apa Marco?" tanya Arion sambil mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Tuan coba lihat unggahan story Mona. " kata Marco.
Arion langsung membuka ponselnya, dan matanya langsung terbelalak saat melihat story Mona yang sedang memotret Luna di sebuah outlet tas terkenal. Wajah Arion langsung memerah saat melihat itu semua.
”Marco cari di mana mereka saat ini. " perintah Arion.
"Sudah tuan, saat ini mereka ada di mall X tuan. " ujarr Marco yang langsung cepat tanggap.
"Hari ini tidak ada rapat kan? " tanya Arion kepada Marco sambil menggulung kemejanya sampai siku. "
"Tidak ada tuan. "
"Baguslah, ayo susul mereka. Aku ingin membuat perhitungan untuk mereka berdua.. Karena sudah berani mengajak Luna. "
Arion dan Marco langsung keluar dari perusahaan setelah meminta tolong kepada sekertaris nya kalau hari ini dia ingin pulang cepat. Sekertaris itupun merasa bingung. Karena biasanya saat Arion pergi, perusahaan akan di handle kedua asitennya. Namun sejak pagi kedua asisten itu tidam ada yang masuk. Yang masuk hanya Arion dan Marco, dan sekaranv mereka berduapun keluar dari perusahaan. Memang sebenarnya apa yang terjadi?
Arion Marco akhirnya sampai di mall yang sama tempat Mona dan Ray berada. Tanpa ragu, Arion langsung melangkah masuk ke dalam mall tersebut. Dia langsung menjadi pusat perhatian kaum hawa yang memandangnya. Karena ketampanannya, dan lihatlah urat-urat yang menonjol ditangannya. Juga kemeja pres body yang menempel di tubuhnya. Mungkin mereka sedang membayangkan ada berapa roti sobek yang tercetak di sana.
Arion tidak peduli sama sekali dengan pandangan kagum orang-orang itu. Dia menyuruh Marco untuk menanyakan keberadaan outlet toko tas tersebut kepada security. Dan ternyata ada di lantai tiga. Mendengar itu Arion langsung berlari menuju lantai tiga, Dengan berlari menaiki eskalator. Dia akhirnya sampai juga di sana lantai tiga Marco yang mengejar tuan mudanya jadi kualahan.
Arion kembali menyuruh Marco menanyakan kepada security. Tapi saat Marco sedang bertanya kepada Security, mata Arion memicing saat melihat empat orang yang sangat ia kenali.
Arion langsung terseyum devil saat keempat orang itu sedang masuk ke dalam outlet kosmetik. Ario lalu menyeret lengan Marco menuju outlet tersebut. Marco yang diseret pun merass bingung. Namun saat melihat keemoat orang yang dia kenali, Marco jadi mengerti maksud tuannya menyeret nya.
Arion langsung menghampiri Luna dan langsung memeluknya dari belakang. Luna merasa terkejut dan ingin memukul orang yang sudah berani memeluk nya. Tapi saat mencium aroma khas parfum Arion. Luna tidak jadi marah. dia langsung tersenyun.
"Arion. apa yang sedang kamu lakukan? malu tau. " kata Luna sambil mengerucutkan bibirnya.
Namun Arion tidam peduli, dia tetal memeluk Luna walau dia jadii pusat perhatian saat ini. Para wanita yang menatap Arion lapar, berubah menjadi iri kepads Luna yang sedang dipeluknya.
"Dasar bucin tidak tau tempat. " gerutunya.
Arion lalu melepaskan pelukannya dari Luna dan tersenyum manis kepadanya. "Aku hanya merindukanmu, sayang. " kata Arion sambil mengusap pipi mulus Luna.
Lagi-lagi sikap Arion pada Luna membuat yang melihatnya jadi meleleh.
Dan itu membuat Luna sangat malu, wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus.
"Kamu beli apa aja? " tanya Arion kemudian.
"Ini masih pilih-pilih. "
"Ambil saja apa yang kamu suka. "
Luna mengangguk, lalu membeli skincare yang selama ini dipakainya dan beberapa kosmetik yang dia butuhkan. Sedangkan Arion mendekati kedua asiten nakalnya. Dia ingin memarahi kedua orang itu. Tapi suara Luna menghentikan nya.
"Arion, jangan marahi mereka. " kata Luna yang tau, kalau Arion akan memarahi kedua asistennya.
"Awas saja kalian nanti. " bisik Arion kepada mereka berdua.
Glek...
Mona dan Ray kesulitan menelan salivanya saat mendengarkan ancaman dari Arion.
__ADS_1
Setelah membeli beberpa kosmetik, Luna Mengajak mereka ke toko perhiasan. Luna hanya akan memilih cincin pertunangan mereka, namun Arion malah membelikannya satu set perhiasan bermata berlian yang sangat cantik untuk Luna pakai.
"Cincin tunangan kita jangan sampai lupa Arion. "
"Iya sayang... cerewet sekali sih calon istriku ini. Kata Arion sambil menangkup kedua pipi Luna. "
Lalu mereka berdua sekalian memilih gaun dan kemeja yang senada untuk mereka gunakan di acara pertunangan mereka nanti.
Setelah semua daftar list belanjaan sudah mereka beli. Kini mereka berkumpul di sebuah gerai ice cream. Arion dan Luna segera memesan Ice cream yang mereka suka. Sedangkan ketiga Asisten Arion ditambah Lucas merasa kewalahan mengikuti dan membawa semua barang yang mereka beli. Arion lalau menyodorkan black card-nya kepada Ray. Ray merasa bingung hanya menatapnya. Karena tadi black card itu langsung diminta oleh Arion. Dan sekarang diberikan lagi kepadanya.
"Apa tuan. " tanya Ray yang bingung.
Belanjalah untuk kalian berempat. Ingat tidak lebih dari lima puluh juta perorang.
"Ih, pelit sekali. " Gumam Lucas.
"Mau atau tidak sama sekali. " tegas Arion
"Iya... iya... " Lucas langsung merebut black card itu dari tangan Arion.
"Ingat hanya lima puluh juta , Jadi totalnya dua ratus juta. Aku akan mengeceknya disini. " kata Arion sambil menunjukkan ponselnya.
"Iya... "
"Dan Waktu kalian hanya satu jam dari sekarang Aku akan menunggu kalian disini. " kata Terakhir Arion sebelum mereka pergi.
Luna yang melihat mereka kelimpungan hanya terkekeh.
"Apa kau senang hari ini? "
"Iya, aku senang sekali. " kata Luna sambil menghentikan tawanya.
"Arion, jangan hukum Ray dan Mona ya? " kata Luna tiba-tiba.
Arion mengangkat alisnya ke atas. "Kenapa kau membela mereka. "
"Dalam hal ini mereka tidak salah Arion. Dan menurut pendapatku mereka benar, dengan mengajakku barang-barang belanjaan ini. Karena jika mereka tidak mengajak ku, mereka tidak akan tau barang apa saja yang aku butuhkan. " kata Luna menjelaskan.
"Dan jika mereka membeli semuanya asal-asalan tanpa meminta pendapatku, belum tentu aku suka. Karena mereka aku merasa senang Arion, karena beberapa barang incaranku juga aku dapatkan. Jadi jangan marahi mereka ya. Dan seharusnya kamu berterimakasih kepada mereka. Karena telah membuatku bahagia hari ini" kata Luna lagi.
"Baiklah, jika itu membuatmu senang, tuan putri. Aku hanya merasa khawatir karena kamu baru sembuh Lun. "
"Aku tidak apa-apa. Tubuhku sudah sehat. Lagipula yang membawa semuanya adalah mereka bertiga. " kata luna sambil terkekeh.
"Kamu memang pintar sudah memanfaatkan saudaramu juga. "
"Iya, tapi dia minta bayaran sepatu incarannya. " gerutu Luna
"Biarkan saja. Calon suamimu ini kan orang kaya, Jadi nggak masalah kalau hanya membelikan sepatu untuk saudara mu.
Luna mengangguk dan tersenyum saja saat melihat kenarsisan dan kesombongan Arion muncul. Mungkin dia harus setiap hari bersiap mendengarkan kenarsisan Arion saat menjadi suaminya nanti.
"Memangnya kapan kau akan melamarku? "
__ADS_1
"Sabtu besok. "