
"Lun, apa lo tau kalau orang yang nyuruh Arion ngejauhin lo, adalah papa. "
"Apa? Apa maksud lo Lucas? " Luna tak percaya dengan apa yang dia dengar dari saudara kembarnya.
Lucas hanya mengangguk menanggapi reaksi Luna.
"Dari mana lo tau? " tanya Luna lagi.
Lucas akhirnya menceritakan kejadian saat di SMA dulu, saat dia memergoki Arion dan papanya keluar dari ruang kepala sekolah. Dan malamnya dia menanyakan apa yang terjadi tadi siang. Dan jawaban dari sang papa diluar dugaan Lucas. Dia bertemu Arion hanya untuk mengatakan agar Arion menjauhi Luna.
"Mungkin karena itu Lun Arion pergi jauh dari kita semua, selama ini. Dan dia juga menjauhimu di sekolah dulu. " jelas Lucas ada akhirnya.
"Lalu apa alasan papa meminta Arion menjauhiku? " tanya Luna seolah tak percaya dengan fakta yang baru saja dia dengar.
Lucas menggeleng, "Kalau alasannya aku tidak tau, Lun. "
Luna mendengus kasar. Setelah mendengar ucapan Lucas.
"Aku tidak tau jalan pikiran papa. Kenapa begitu membenci Arion Lucas. Tidak taukah papa kalau aku sangat mencintai Arion. " ujar Luna pada akhirnya mencurahkan isi hatinya kepada Lucas.
"Aku bisa gila, kalau Arion menjauh lagi dariku. Selama ini aku menjaga kewarasanku, hanya untuk menunggunya kembali. Kalau dia pergi lagi aku harus giman? "
"Sabarlah Luna, suatu hari nanti kita pasti tau apa alasan papa membenci Arion. "
"Aku tidak peduli apapun alasan papa. Aku akan tetap bersama Arion apapun yang terjadi. " Luna sudah membulatkan tekadnya.
"Jangan nekat Luna."
"Aku tidak peduli. "
Luna pergi meninggalkan Lucas yang terdiam setelah mendengarkan semua kata-kata Luna. Luna sudah berada di parkiran, dia langsung menghubungi Arion. Dia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan pria yang dicintainya itu.
Satu panggilan tak terjawab, dua panggilan tak terjawab. Hingga akhirnya di panggilan ke tiga, Arion menjawab panggilan telpon darinya.
"Ada apa Luna? "
Luna tidak segera menjawab telponnya, yang terdengat malah suara Luna yang sesenggukan.
"Kamu kenapa? " tanya Arion yang berubah panik.
"Bisa ketemu sekarang nggak. " jawab Luna dari seberang telpon.
"Ada apa? " tanya Arion lagi penasaran dengan sikap Luna yang tidak biasa? pasalnya mereka sepakat akan bertemu besok.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu sekarang Arion. " pekik Luna dengan tangisan yang semakin kencang.
Arion semakin tidak mengerti, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Luna?
"Baiklah, sekarang kamu dimana? "
"Parkiran kampus. "
"Oke aku kesana, kamu jangan kemana-mana, okey. " ujar Arion mengalah pada akhirnya.
Arion langsung meminta Marco untuk pergi ke kampus Luna. Tak lama, mobil yang mereka kendarai telah sampai di parkiran kampus. Marco yang sudah tau mobil Luna pun langsung memarkirkan mobil mereka di samping mobil Luna.
Arion keluar dari mobilnya dan menjadi pusat perhatian para mahasiswi di sana. Tapi dia tak peduli dan langsung mengetuk kaca mobil Luna. Luna yang sedari tadi melamun, terkejut saat mobilnya ada yang mengetuk. Lalu ia menurunkan kaca mobilnya dan menyuruh Arion masuk. Setelah Arion masuk, Luna langsung menjalankan mobilnya keluar area kampus dengan kecepatan tinggi.
Arion yang tak mengerti akan sikap Luna pun hanya mengikuti apa yang diinginkan gadisnya ini. Sedangakan di belakang mereka, Marco dan Mona langsung mengikuti kemana mobil Luna pergi.
"Heh, Marco siapa sih yang ditemui tuan muda? Naik mobil nggak ada aturan, dia tidak tau apa siapa yang dia bawa. " ketus Mona yang bergidik melihat mobil yang melesat di hadapan nya.
"Itu kekasih tuan Arion Mona. "
"Apa? " pekik mona.
Dan dibalas anggukan oleh Marco.
Mona tak lagi bicara, dia hanya menatap lurus ke depan dan memperhatikan mobil yang berisi tuannya dan kekasihnya.
Akhirnya mobil Luna berhenti di sebuah pantai yang sepi, Karena ini bukan weekend jadi orang yang datang kesana pun hanya sedikit. Luna segera keluar setelah memarkirkan mobilnya. Di ikuti Arion di belakangnya, lalu ia mengikis jarak dari Luna. Di belakang sana, Marco memilih jarak aman dan memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk bicara.
"Apa hatimu sudah baik-baik saja? " tanya Arion sambil berbisik di telinga Luna.
Luna menghentikan langkah nya, dan menoleh kearah Arion. Dilihatnya wajah Arion yang semakin tampan, berwibawa dan juga dewasa. Tanpa pikir panjang lagi, Luna langsung memeluk pria yang sangat dia cintai itu, dan akhirnya tangisnya pecah didada Arion.
Arion yang tak mengerti apapun langsung membalas pelukan Luna dan menepuk-nepuk punggungnya agar dia sedikit tenang.
"Apa yang terjadi? kenapa kamu seperti ini, Sayang. " kata Arion mencoba menghibur Luna dengan kata-kata sayangnya.
Luna hanya menggeleng, dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Arion... please, jangan tinggalin aku lagi. " Akhirnya sebuah kalimat itu keluar dari bibir Luna.
"Enggak, aku kan udah janji, nggak akan ninggalin kamu. " balas Arion pada akhirnya.
"Meskipun papa memintamu untuk menjauhiku, aku mohon jangan jauhi aku lagi, jangan tinggalkan aku lagi. Aku nggak bisa jauh dari kamu Arion. " akhirnya Luna mengatakan apa yang ingin ia sampaikan dari tadi.
__ADS_1
Deg....
Arion tekejut, karena Luna sudah mengetahui bahwa dia menjauhi Luna karena papanya yang memintanya.
Arion terdiam beberapa saat, dan berfikir dari mana Luna tau?
"Arion... "
"Hmm... '
" Kenapa diam? "
"Enggak apa-apa. "
Arion lalu merenggangkan pelukannya dan menatap Luna begitu dalam.
"Apa kau mencintai ku? " tanya Luna kemudian.
Luna mengangguk. "Aku sangat.... sangat.... mencintaimu Arion. Aku selama ini menjaga kewarasanku hanya untuk menunggumu Arion. Jika kau pergi lagi, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku." Luna kembali mengeratkan pelukannya di dada bidang Arion.
"Arion."
"Apa? "
"Bawa aku pergi jauh dari sini. Aku rela melepaskan nama Antony dibelakangku, demi bersamamu. "
"Luna? "
"Ya... aku Luna... aku hanya milikmu. " Luna semakin mengeratkan pelukannya kepada Arion. Dia tidak tau harus seperti apa lagi bersikap.
Begitu juga dengan Arion, dia tidak tau kalau Luna selama ini begitu mencintainya. Mungkin jika dibandingkan dengan perasaan Arion pada Luna, jumlah takarannya akan sama. Ario tidak percaya gadis yang begitu membencinya saat di SMA dulu. Kini begitu mencintainya. Harus seperti apa lagi Arion bersyukur, karena cintanya kini terbalaskan.
Arion menundukkan pandangannya dan mulai mengikis jarak antara mereka, hingga tautan bibir mereka menyatu dan saling menyesap satu sama lain, membelitkan lidah mereka dengan di saksikan deru ombak pantai dan pasir putih yang mereka pijak. Ketika pasokan udara mereka pikir sudah habis mereka melepaskan tautan bibir itu, dan menyatukan kening mereka lalu terseyum bersama. Dan mereka mulai berciuman lagi setelah mengambil pasokan udara banyak-banyak. Mereka saling meluapkan rasa rindu dan cinta yang mereka rasakan. menyesap manisnya rasa bibir satu sama lain.
Tanpa mereka sadari dua pria yang sudah mengikis jarak agak jauh dari mereka berdua dengan susah payah menelan saliva mereka menyaksikan adegan mesra sang tuan muda dengan kekasihnya. Mata mereka melotot tak percaya, dengan Mona yang tanpa sadar menggigit ponselnya.
"Marco... " panggil Mona yang masih fokus melihat sepasang sejoli itu berciuman.
"Apa? " Marco juga masih melihat pemandangan di depan matanya.
"Aku juga ingin berciuman seperti itu... manis sekali. " kata Mona dengan wajah dibuat meleleh.
"Aku juga... sepertinya manis sekali. " ucap Marco tanpa sadar.
__ADS_1
"YUK... "
Mona lalu berdiri dihadapan Marco dan memonyongkan bibirnya.