
Marco datang dengan membawa beberapa makanan untuk semua orang . Terutama pesanan Arion untuk Luna yaitu bubur ayam , Marco juga membawakan makan siang untuk bosnya yang belum makan sama sekali dari tadi. Dia juga membawakan beberapa botol minuman .
Marco melihat hanya ada Gavin yang ada di luar ruangan , entah sedang apa dia .Papa Luna yang satu ini memang sangat keras kepala , Marco sendiri ingin sekali menghajar Gavin , jika bukan karena larangan dari Arion . Tanpa bertanya apapun , dia meletakkan sebotol air mineral dan sebungkus makanan untuk Gavin . Dia kemudian masuk ke dalam ruangan Luna dirawat .
Marco sangat terkejut melihat keadaan Luna yang sangat berbeda Sejak terakhir kali mereka bertemu . Kali ini Luna terlihat sangat kurus dan tidak terawat meskipun wajahnya masih terlihat cantik . Sebenarnya apa yang terjadi pada Luna , Marco sendiri tidak tahu dan tidak menanyakan apapun kepada siapapun . Dia hanya melakukan perintah Arion saja , Jika dia Tidak diberitahu maka dia tidak akan mencari tahu . Itulah prinsip dari Marco
"Tuan saya juga membelikan makanan untuk anda . Karena anda belum makan siang . Butuh tenaga untuk Anda merawat Nona Luna , jika nona Luna sakit . Dan Anda juga ikut sakit Jadi siapa yang akan merawat nona Luna ." Ujar Marco panjang lebar , seperti mak-mak kompleks yang sedang menasehati anaknya .
"Taruh aja di situ , nanti aku akan memakannya , setelah menyuapi Luna . " ujar Arion , yang mengerti kecemasan asistennya itu.
"Kamu juga Makanlah dan beristirahat ." perintah Arion kepada asistennya itu.
"Baik Tuan . Kalau ada apa-apa Anda tinggal menghubungi saya ." Marco kemudian keluar dari ruangan Luna , dan membiarkan sepasang kekasih itu berduaan .
"Ayo aku suapin lun , biar kamu nggak kurus seperti ini . Aku nggak suka melihatnya ." Kata Arion yang mulai menyuapi Luna .
Sedikit demi sedikit Luna menerima suapan dari Arion .
"Memangnya kamu nggak suka cewek kurus ."
"Enggak , Aku suka cewek yang berisi . Tapi juga nggak gemuk-gemuk amat ." Kata Arion sambil terkekeh .
"Baiklah kalau begitu , aku akan makan banyak agar tubuhku kembali terisi ."
"Nah gitu dong , itu baru lunaku . " Kata Arion sambil mengusap rambut Luna yang lepek .
Tak lama kemudian pintu ruangan Luna dirawat dibuka dengan kasar , dan masuklah dua pria tampan masuk ke dalam kamar itu .
"Brengsek ," salah satu dari mereka maju ke depan memberi sebuah pukulan kepada Arion.
"Lucas Kamu apa-apaan sih , kenapa memukul Arion . " pekik Luna yang tidak terima kekasihnya dipukul saudara kembarnya .
"Gara-gara dia bilang dia mau pergi , lo Hampir Mati Luna . Tau nggak lo, Hah . " Teriak Lucas kepada saudara kembarnya .
Arion yang mengerti kekesalan Lucas, dia pun menceritakan apa yang terjadi .
__ADS_1
"Gue emang mau pergi , tapi karena pesawat gue di sana terhalang cuaca buruk , Jadi mereka menunda penerbangan . Karena mereka tidak ingin penerbangan kami terhambat oleh cuaca . " Kata Arion menjelaskan .
"Gue nggak bilang lo lagi , karena gue kira udah berpamitan. Jadi untuk apa bolak-balik berpamitan. " jelas Arionn pada akhirnya .
"Sambil menunggu cuaca baik di sana , di sini gue kerja dulu . Dan menandatangani beberapa berkas penting . Tapi saat gue sedang memeriksa pekerjaan tiba-tiba bokap lu masuk ke ruangan gue . Dan mengatakan kalau Luna melakukan percobaan bunuh diri semalam . Sontak gue langsung ke sini untuk menemui Luna. "
"Gue sendiri nggak tahu dari mana bokap lo tahu kalau gue ada di kantor , bukan di bandara . " jelas Arion panjang lebar .
Mendengar itu,Lucas terduduk lemas. Karena dia tidak tau harus berkata apa pada Arion..
"Gue takut Arion. Gue takut, Luna akan mati semalam. Gue nggak bisa bayangin kalau itu sampai terjadi karena gue yang nemuin dia pertama kali, saat di.a bersimbah darah. " ujar Lucas dengan mata yang sudah berkaca-kaca tak dapat membendung air mata nya lagi.
"Dan kekhawatiran gue belum hilang juga, saat melihat Luna dapat selamat, tapi dengan keadaan Koma. Di situ gue makin panik. Gue telpon lo, tapi ponsel lo nggak aktif. Gue nggak tau lagi harus gimana. Gue takut, saat Luna sadar dan lo nggak ada disini. Gue takut dia melakukan hal tak terduga lagi. " racau Lucas dengan segala pikiran negatif dikepalanya.
Luna yang mendengar itupun, terlihat sesenggukan. Karena dia tidak menyangka kalau saudara kembarnya sangat mengkhawatirkan keadaannya. Dan takut kehilangan dia.
Arion langsung memeluk Lucas. "Gue janji, gue bakal jaga Luna. Gue nggak akan ninggalin dia lagi. Walaupun bokap lo masih menolak gue, gue bisa bawa pergi Luna. " ujar Arion dengan pasti.
"Apa maksudmu itu, hah. " suara menggelegar itu terdengar dari Luar. Dilihatnya Gavin dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.
"Cih, bisanya cuma bersembunyi. " decih Gavin kepada Arion.
"Kalian menyingkirlah, ini adalah urusanku dengan tuan Gavin. " ujar Arion kepada teman-temannya.
"Tapi Arion... " ucap Luna sambil memegangi ujung kemeja Arion.
"Tenanglah, aku akan menghadapi papamu, apa kau tidak apa-apa kalau aku menukul papamu.?" tanya Arion untuk memastikan perasaan Luna.
"Nggak apa-apa. Asalkan papa sadar. Kalau sekarang aku lebih mencintaimu dari papa. Karena papa sudah memisahkan aku dengan seseorang yang aku cintai. Apakah, seseorang itu pantas di panggil papa? Orang yang katanya cinta pertama bagi anak perempuannya, tapi dengan tega memisahkan anaknya dari orang yang dicintainya." ujar Luna panjang lebar. menumpahkan segala kekesalannya karena keegoisan papanya.
Gavin yang mendengar semua ucapan Luna merasa sakit di hatinya. Seperti tertusuk ribuan pedang.
"Nak, apa sekarang kau sudab tidak peduli pada papa? Apa kau sudah tidak menyayangi papa? Dan lebih menyayangi dia dari pada papa? ' tanya Gavin kepada anaknya itu.
"Ya, " jawab Luna singkat.
__ADS_1
"Tega kamu sama papa Luna. " kata Gavin dengan amarah tertahan.
"Karena papa sendiri tega sama Luna. Jadi jangan salahkan Luna kalau sekarang Luna tega sama papa. " jawab Luna memalingkan wajahnya dan tak mau melihat ke arah sang papa. .
"Apa papa puas sekarang? Setalah apa yang papa lakukan kepada Luna dan Arion, papa masih Meminta untuk di sayangi? jangan mimpi terlalu jauh pa.. " ujar Lucas kepada bapak tiri cinderela .
Mendengar ucapan kedua anaknya itu, membuat Gavin sangat terpukull. Kenapa semua orang membela Arion? Memangnya dia itu siapa? Dia hanyalah seorang putra Abraham yang tidak jelas.
" Kenapa sih kalian membela Arion mati-matian. Memangnya apa yang sudah dia lakukan sehingga kalian begitu membelanya. " Bentak Gavin pada anak-anak nya.
"Karena Arion adalah orang yang aku cintai. " Luna
"Karena aku tidak mau melihat saudaraku menderita karena dipisahkan dengan orang yang dicintainya. " Lucas.
"Baiklah kalau begitu. " Gavin maju mendekati Arion dan menepuk bahunya dengan satu tangan
"Arion.... "
"Ya... "
"Jaga Luna baik-baik, jangan biarkan setes air matapun keluar dari pipi Luna. Jangan buat dia menangis atau bersedih. Limpahkanlah kasih sayangmu kepada Luna. Tetaplah disini bersama Luna, dan jangan tinggalkan dia lagi."
"Semoga kalian bahagia. Papa merestui kalia.. Papa pulang dulu menyusul mamamu. " Ujar Gavin yang langsung berbalik dan mulai melangkah, dengan menghapus jejak air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Pa... " suara Luna memanggil sang papa.
Gavin berhenti dan membalikkan badannya. Dilihatnya Luna tengah merentangkan tangannya. Meminta sang papa untuk memeluk dirinya. Gavinlalu berjalan cepat dan langsung berhambur memeluk Luna.
"Terimakasih pa... telah merestui kami dan mengembalikan kekasihku. Aku sangat berterimakasih kepada papa. " kataa Luna sambil menangis di pelukan sang papa.
"Apa hanya terimakasih? tidakkah papa mendapatkan kasih sayang Luna kembali? " tanya Gavin masih memeluk anak kesayangannya itu.
Luna mengangguk. " Iya... aku nug sangat sayang sama papa. Aku mencintaimu, pa. " ujar Luna dengan suara yang tercekat.
"Terimakasih sekali lagi, pa. ' kata Luna tulus.
__ADS_1
" Iya... semoga kamu bahagia bersama dengan orang yang kamu cintai. "