
Setelah makan siang, Arion berpesan kepada tiga sahabatnya kalau dia akan pergi, dan tidak akan kembali ke perusahaan. Tentu saja itu membuat ketiga temannya ketar ketir karena mereka bertiga diminta Jack untuk selalu mengikuti Arion kemanapun Arion pergi.
"Tuan, mau kemana? " tanya Ray khawatir melihat Arion yang sudah bersiap untuk pergi, karena dia takut Arion akan berbuat yang tidak-tidak nanti.
"Aku ingin pergi. Ayolah Aku ingin bernafas, " Arion merasa kesal karena mereka bertiga tidak melepaskannya pergi.
"Baiklah, tuan boleh pergi asalkan salah satu dari kami ikut dengan anda. " putus Ray pada akhirnya.
"Baiklah, Marco ayo ikut aku. Ray kau gantikan aku dan Mona tetap jaga keamanan perusahaan. " Arion langsung menerima, usulan Ray dan mengajak Marco pergi. Sedangkan dua lainnya akan tetap di perusahaan sampai nanti.
Ray setuju, karena bagaimanapun Arion akan lebih aman kalau pergi bersama dengan Marco. Karena Marco lebih jago menembak dan berkelahi dari mereka berdua. Jadi kalau ada apa-apa, Marco pasti akan melindungi Arion lebih baik.
Arion segera bersiap untuk pergi, hanya dengan memakai kemejanya dan jas yang disampirkan di lengan satunya. Ia segera keluar dari perusahaan bersama Marco.
"Tuan kita mau kemana? " tanya Maeco saat mereka tengah diperjalanan.
"Ke sekolah ku yang tadi pagi kita ke sana. " jawab Arion sambil memperhatikan jalan dari jendela mobil.
Marco menaik kan alisnya merasa bingung, apakah tujuan mereka benar ke tempat yang tadi pagi,
"Kita kesana lagi tuan? "
"Iya, aku ingin kesana. Mungkin saat ini murid-murid di sekolah itu sudah pulang, jadi aku bisa berlama-lama di sana. " ujar Arion, masih dengan menatap jalanan.
Marco tidak bertanya lagi, karena Arion sudah mengatakan nya dua kali, jadi tidak mungkin ia salah dengar. Mobil yang mereka kendarai pun segera melesat ke sekolah tempat Arion menjalani pendidikan dulu.
Untuk apa Arion kesana lagi? Jawabannya hanya Arion yang tau.
__ADS_1
Mobil sport mewah mereka telah terparkir rapi di halaman Sekolah. Kepala sekolah yang masih berada disana yang mengenali siapa yang datang. Dia segera memberi hormat, kepada pemilik yayasan yang baru. Karena berita kedatangan Arion telah diketahui semua orang, termasuk pengurus yayasan pendidikan yang berada di bawah naungan Abraham.
"Selamat datang tuan. " sapa kepala sekolah, yang dulu membantu Arion untuk segera lulus dari sana.
"Bagaimana kabar anda pak. "
"Saya baik. Ada apa gerangan anda kemari tuan. "
"Saya hanya melihat-lihat saja dan ingin bernostalgia dengan kenakalan saya dulu. " jawab Arion dengan senyumannya.
"Tolong sampaikan kepada penjaga. Jangan kunci gerbang sebelum saya pergi dari sekolah ini. "
"Baik tuan, akan saya sampaikan. Dan silahkan bernostalgia dengan sekolah ini. '
" Terimakasih. " Arion langsung meninggalkan kepala sekolah, dan segera masuk ke dalam area sekolah.
Marco masih tetap membuntuti Arion kemanapun dia pergi, tanpa menanyakan apapun. Karena Marco tau, pasti ada sesuatu yang Arion cari di sekolah ini. Kenangan mungkin?
Arion tetap berdiri di tempatnya, saat melihat pohon itu masih tegak berdiri. Pohon tempat Arion mempermalukan Luna, pohon tempat ia pertama kali memeluk Luna.
Luna.... apakah wanita itu sudah membaca pesannya?
Arion lalu tersenyum dan melanjutkan perjalanan nya, di Koridor yang sepi. Ia ingat, ia dan Luna berlari kesana saat menghindari guru yang memergoki mereka berpelukan. Tempat itu adalah tempat pertama kali dia mencium Luna. Sebelum dia mengingat ucapan papa Luna yang berdenging di telinganya.
"Kali ini, aku tidak akan menghiraukan ucapanmu Ghavin Antony. Aku akan memperjuangkan cintaku untuk anakmu. Aku sudah memiliki segalanya, dan kita setara saat ini. " gumam Arion dalam hati.
Dia lalu pergi ke tangga yang menuju ke Rooftop.
__ADS_1
"Marco biarkan aku pergi sendiri. Kau bisa menungguku di kantin itu. Aku ingin sendiri saat ini. " pinta Arion kepada bodyguard nya itu.
Marco yang awalnya menolak, tidak bisa menolak lagi setelah melihat tatapan Arion yang tidak ingin dibantah.
"Baiklah tuan. Saya akan menunggu anda disini. " ucap Marco pada akhirnya
Di halaman sekolah yang sama, sebuah mobil mini Copper keluaran terbaru terparkir di sebelah mobil sport yang sepertinya pernah di lihat pengendaranya. Luna yang ingin kembali ke sekolah karena belum puas mengingat kenangan nya bersama Arion. Merasa terkejut karena melihat mobil mewah yang ia lihat tadi pagi kembali terparkir di halaman sekolah.
Tanpa pikir panjang Luna langsung berlari menuju rooftop, tempat favorit Arion. Dia tidak memperdulikan siapapun yang bertanya padanya atau sekedar iseng menggodanya. Saat tiba di tangga Rooftop Luna berhenti untuk menetralkan nafasnya yang memburu dan tingkah Luna itu, tidak luput dari penglihatan Marco yang sedang duduk menunggu Arion di kursi taman.
Setelah nafasnya stabil, Luna kembali berlari menaiki tangga. Marco yang terkejut melihat hal itu langsung mengejar Luna, dan ingin tau apa yang akan dilakukan wanita itu.
Luna segera membuka pintu rooftop dengan perlahan, dan itu tak luput dari pandangan Marco yang mengikutinya. Luna lalu mengedarkan pandangannya, kesegala penjuru hingga matanya menangkap sosok tinggi tegap sedang berdiri membelakangi nya. Luna berjalan perlahan mendekatinya dan langkahnya semakin cepat saat jarak antara mereka semakin dekat, dan...
Greep.
Luna langsung memeluk Arion dari belakang, sama seperti saat mereka akan berpisah dulu. Arion yang terkejut, hanya bisa diam mematung menerima pelukan dari seseorang. Entah siapa yang sudah memeluknya Tapi dia punya keyakinan, hanya satu orang yang berani memeluknya seperti ini.
Luna...
Marco yang melihat adegan itu dibuat tak percaya. Mungkin ini yang dicari oleh tuan mudanya. Dan dia akan memberi privasi untuk mereka berdua. Marco segera menutup pintu dengan perlahan dan meninggalkan mereka berdua.
Lama Luna memeluk Arion tanpa membuka suara, hanya ada isak tangis yang terdengar dari mulut Luna. Begitu juga dengan Arion yang hanya bisa diam mematung. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya kebisuan dan kesunyian yang menghiasai suasana siang yang menjelang sore itu.
Hingga Akhirnya Luna melepaskan pelukannya, dan itu membuat Arion bisa bernafas lega. Dia lalu membalikkan tubuhnya, menghadap seseorang yang dengan lancang memeluknya dari belakang. Arion melihat seorang wanita dengan kuncir kuda itu tengah menunduk dan terisak. Lalu jari tangan Arion bergerak menggamit dagu wanita itu agar memandangnya. Dan kedua pasang mata itu bertemu. Sepasang mata bermanik hitam milik Luna dan sepasang mata bermanik emerald milik Arion. Saling menatap dan mengunci.
Luna....
__ADS_1
Arion....