
Flashback
20 tahun yang lalu.
Dua orang pengusaha muda yang sedang merangkak untuk menaikkan level usahanya yaitu William Abraham dan Gavin Antony sedang menghadiri sebuah lelang tender besar yang dilakukan oleh sebuah perusahaan besar.
Tender yang bernilai 2T itu sangat menggiurkan bagi para pengusaha muda yang sedang merangkak naik. Siapa yang tidak tergiur, kalau mereka berhasil memenangkan tender ini. Mereka akan memiliki nama, dan akhirnya bisa dipercaya perusahaan lain untuk mengerjakan tender-tender lainnya.
Saat pelengan masa seleksi berlangsung, ternyata yang terpilih adalah Dua perusahaan yaitu milik Abraham dan Antony. Mereka harus bersaing lagi, untuk mendapatkan tender tersebut. Gavin sangat ingin memenangkannya, karena dia bisa menghadiahkan nya kepada sang istri yang baru saja melahirkan anak kembar mereka. Begitu juga dengan William, dia akan menghadiahkan ini untuk anak pertamanya yang baru saja lahir beberapa bulan lalu. Seorang anak laki-laki yang akan menjadi pewarisnya kelak. Arion.
Dan ternyata yang memenangkan tender itu adalah William Abraham. Dalam penyambutan nya, dia mengatakan kalau kemenangan ini akan dihadiahkan untuk anaknya sekaligus pewarisnya kelak yaitu Arion Abraham.
Sejak saat itulah, Gavin membenci William Abraham dan sebuah nama yang selalu terpatri dalam hatinya, yaitu Arion Abraham. Dia tidak ingin keluarganya berhubungan dengam keluarga Abraham, apalagi keturunan dari William yang bernama Arion.
Karena sejak mendapatkan tender itu, nama Abraham lebih di akui, daripada Antony. Hingga kejadian tragis yang meninimpa William terjadi, namun tak dipublish keluarga. Tapi diketahui oleh Gavin, yaitu tentang kematian William.
Sejak Kematian William, Perusahaan Abraham sedikit goyah. Dan disaat itulah, Antony datang untuk unjuk gigi. Dan disinilah mereka sampai saat ini. Menjadi salah satu konglomerat di dinegeri ini, setelah kehancuran Abraham.
Jadi, Gavin memiliki kebencian yang tidak masuk akal kepada keluarga Abraham. Hanya karena persaingan bisnis dan rasa iri di hati. Hingga dia tega memisahkan dua anak manusia yang saling mencintai, hanya karena keegoisannya.
Flashback off
Seminggu berlalu sejak kejadian itu. Mungkin Arion sudah merasa lelah dan akan menyerah dengan apa yang ia alami selama ini. Gavin memang benar-benar keras kepala dan tidak ada sebuah tanda-tandapun dia akan mengijinkan dirinya untuk bertemu dengan Luna.
Arion selalu datang tiap pagi sebelum berangkat kerja dan akan kembali lagi saat dia pulang kerja. Hanya untuk memperhatikan kamar Luna, berharap kekasihnya itu keluar dsri kamarnya.
Eliza dan Lucas sudah sering membujuk Gavin untuk sedikit luluh kepada Arion. Tapi Gavin tetaplah Gavin. Dendam dan kebencian masa lalunya dan keangkuhannya lebih kuat dari pada hati nurani nya, sehingga dia dengan tega. Memisahkan anaknya dari pria yang dia cintai. Anak dari pria yang dia benci , dan bahkan dia sudah mati sejak sepuluh tahun lalu. Gavin memang benar-benar keterlaluan.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Lucas.
"Gue pengen ketemu. Ada sesuatu yang ingin gue titipin buat Luna. Semoga lo mau bantu gue. "
Sebuah pesan dari Arion.
"Oke, dimana? " balas Lucas.
"Kafe biasa, saat makan siang. "
Lucas segera pergi dari rumahnya dan segera menemui Arion. Sepertinya dia juga harus ngomong sesuatu kepada Arion, tentang keadaan Luna yang semakin memburuk. Karena dia masih tidak mau makan, dan papanya tidak peduli dengan keadaan Luna.
Di kafe.
Arion sudah menunggu Lucas sambil meminum segelas jus Alpukat kesukaannya. Dan tak lama, Lucas sudah duduk di depannya.
"Apa kabar bro? " sapa Lucas
__ADS_1
"Nggak baik. dan lo pasti tau alasannya. " Kata Arion jujur. Karena dia juga tidak bisa berbohong tentang keadaannya saat ini.
"Gimana kabar Luna? " tanha Arion lagi.
"Dia juga nggak baik, Dia nggak mau makan atau minum. Dia hanya mau makan kalau gue yang nyuapin dia, itupun paling banyak tiga sendok. " Kata Lucas dengan lemas.
Mendengar ucapan dari Lucas, membuat hati Arion teriris perih. Kok sampai segitunya Luna melakukan hal ini.
"Lalu gimana bokap lo, saat melihat Luna seperti itu? "
Lucas menggeleng. "Papa nggak peduli, dia nggak peduli sama sekali dengan keadaan Luna saat ini. Bahkan tubuh luna yang berisi, sekarang sudah kurus kering. " Lucas menceritakan keadaan Luna kepada Arion.
Arion menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak menyukai hal ini. Luna jadi terluka karena dirinya. Dia lalu mengambil sesuatu di saku kemejanya. Dan memberikannya kepada Lucas.
"Gue nitip ini buat Luna. Berikan ini padanya. Sepertinya gue menyerah berjuang untuk mengambil hati bokap lo. Karena bokap lo tidak memberi gue celah sedikitpun buat gue masuk ke dalam hatinya. Dia terlalu keras, untuk di lawan. Dan gue nggak bisa memiliki Luna, jika tanpa seizin dari bolap lo. Ucapin maaf gue pada Luna kalau gue menyerah. " Arion menjelaskan pertemuannya kali ini kepada Lucas.
"Dan satu hal lagi, gue bakal pergi jauh. Dan mungkin nggak akan kembali lagi ke sini. Karena disini, banyak kenangan indah dan Luka yang tertoreh. Gue ingin melupakannya. Dan memulai hidup gue yang baru. " lanjutnya.
"Arion... Lalu bagaimana dengan Luna? " tanya Lucas dengan suara tercekat. Karena dia tidak tau apa yang akan terjadi pada Luna jika Arion meninggalkan nya.
"Gue yakin Luna kuat, Tiga tahun dia bisa hidup tanpa gue. Dan sekarang pun gue yakin dia pasti bisa." Arion Yakin akan hal itu.
"Ya, sudah gue cabut dulu. Gue harus siap-siap." kata Arion sambil beranjak dari duduknya.
"Besok, pesawat gue baru sampai besok siang. Jam sebelas. " kata Arion, sambil menepuk bahu Lucas kemudian memeluknya.
"Gue titip Luna, ya. "
Lucas tertegun mendengar semua ucapan Arion. Dan saat sadar, Arion sudah pergi meninggalkannya.
Lucas segera kembali ke rumahnya, dan meminta papanya untuk mengijinkan Arion bertemu dengan Luna. Karena besok, Arion akan pergi meninggalkan negara ini.
Sesampainya di rumah, Lucas berteriak-teriak memanggil papanya, karena dia sudah tidak sabar mengatakan apa yang terjadi. Luna yang merasa terganggu dengan teriakan Lucas, segera bangun dan membuka sedikit pintunya. Untuk mendengarkan apa yang akan di katakan Lucas. Karena tidak biasanya dia berteriak-teriak seperti ini.
"Ada apa sih, Lucas. Kenapa teriak seperti orang yang tidak waras. " ketus Gavin yang baru saja keluar dari kamarnya bersama sang istri.
"Arion pa... Arion. " kata Lucas dengan panik.
"Kenapa dengan anak itu, apapun yang dia lakukan papa tidak peduli. " kata Gavin masih dengan ketus.
Mendengar nama Arion di sebut, membuat Luna deg-degan dan memasang telinganya lebar-lebar.
"Besok Arion akan pergi dari negara ini. Dia akan menjauh dari Luna, seperti yang papa inginkan. " ujar Lucas.
Mendengar hal itu membuat Luna lemas. Arionnya sudah menyerah. Yah, dia pasti menyerah karena papanya tidak memberinya kesempatan sama sekali.
__ADS_1
Gavin tertawa lebar mendengarnya, "Baguslah, dengan begitu Luna tidak perlu bertemu dengan bajingan tengik itu. " kata Gavin ketus, sambil berbalik hendak meninggalkan Lucas.
"Apakah papa tidak akan menghentikan kepergian Arion? " tanya Lucas dengan suara lirih.
"Tidak akan. Lebih baik dia menghilang tanpa jejak. karena aku yakin Luna pasti baik-baik saja , seperti tiga tahun lalu, tanpa pria brengsek itu. " kata Gavin lagi dengan penuh penekanan.
"Jika terjadi sesuatu pada Luna, aku harap papa tidak menyesal. " kata Lucas dingin lalu meninggalkan papanya dengan segala keangkuhannya.
Gavin hanya berdecih mendengar semua ucapan Lucas. Dia yakin Luna pasti baik-baik saja tanpa pria brengsek itu.
Luna yang mendengar semua perkataan Lucas dan papanya, lalu segera mengunci kamarnya lagi. Dia kembali berbaring di tempat tidurnya. Kali ini sudah tidak ada air mata. Mungkin saja, Air mata Luna sudah mengering karena sudah banyak menangis selama satu minggi terakhir ini.
"Arion, apa kamu sudah menyerah? Apakah hanya segini aja perjuangan mu untuk mendapatkan restu dari papaku? Jika kamu menyerah aku juga akan menyerah. Biarkan kisah kita ini akan tetap abadi menjadi kenangan yang terindah dalam hidup kita, dan orang-orang di sekitar kita. " gumam Luna.
Dia langsung menutup matanya karena mendengar Lucas sedang membuka jendela kamarnya.
"Dia sudah tidur. " gumam Lucas.
"Lun, ini ada titipan surat dari Arion, gue harap setelah ini. Lo bakal bisa ngelupain dia. Dan jangan pernah melakukan hal-hal yang akan membuat Arion kecewa. Gue percaya sama lo. Lo kuat, dan Arion juga bilang sama gue kalau lo adalah wanita kuat. " kata Lucas sambil membelai rambut saudaranya itu.
Lucas segera pergi dari kamar Luna, setelah menyimpan surat Arion di bawah bantalnya.
Luna langsung membuka matanya, saat Lucas meninggalkan kamarnya. Dia segera membuka surat yang diberikan Arion untuknya.
Dear Luna,
Kekasihku yang cantik dan manis.
Mungkin ini adalah surat pertama dan terakhir yang aku tulis untukmu. Karena mungkin setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi.
Maafkan aku yang tidak bisa memperjuangkan mu. Papamu terlalu membenciku, bahkan aku tidak tau kesalahan apa yang aku lakukan padanya, sehingga membuatnya sangat membenciku.
Sekali lagi aku minta maaf karena mungkin, perjuanganku hanya sampai disini. Aku akan pergi jauh sesuai keinginan papamu, Aku harap kamu bisa melupakan aku, dan bisa hidup normal seperti wanita lain di luar sana. Aku juga akan melanjutkan hidup ku. Karena hidup tidak akan berhenti pada satu titik bukan?
Tetaplah bahagia, walau tanpa aku. Jaga dirimu dan kesehatanmu. Peluk ciumku untukmu.
Love you dear,
Arion
Luna tersenyum membaca surat itu, seolah dia sedang tersenyum kepada kekasihnya, senyuman hangat yang selalu dia berikan kepada Arion tiap kali bertemu.
Aku juga mencintaimu Arion. Baiklah jika itu keputusanmu. Aku akan hidup bahagia tanpamu, dan kau juga akan hidup bahagia tanpaku.
Kita akan menjalani kehidupan masing-masing setelah ini.
__ADS_1