
" Marco... " panggil Mona yang masih fokus melihat sepasang sejoli itu berciuman.
"Apa? " Marco juga masih melihat pemandangan manis di depan matanya.
"Aku juga ingin berciuman seperti itu... manis sekali. " kata Mona dengan wajah dibuat meleleh.
"Aku juga... sepertinya manis sekali. " ucap Marco tanpa sadar. Dan terus mengambil potret kedua sejoli itu.
"YUK... "
Mona lalu berdiri dihadapan Marco dan memonyongkan bibirnya.
Marco yang melihat Mona seperti itu, reflek langsung menutupi wajah Mona dengan satu tangannya.
"Jangan gila kau, Mona. Aku masih waras, aku normal." kata Marco dengan masih menutupi wajah Mona yang sangat menjijikkan menurutnya.
Mona langsung menepis tangan Marco dengan wajah cemberut.
"Katanya kamu pengen ciuman kayak mereka. Ayo... Aku siap jadi kelinci percobaan mu. Bukankah jika tak ada rotan, akar pun jadi. Aku siap? Marco... Ayooo.... " kata Mona dengan merengek seperti anak kecil kepada ibunya.
Marco semakin bergidik ngeri melihat tingkah Mona yang menurutnya aneh. Dia kemudian lari untuk menghindari Mona yang mengejarnya, dan terjadilah drama kejar-kejaran antara Marco dan Mona di tepian pantai seperti drama film India.
Mendengar suara berisik di belakang, Arion dan Luna melepaskan tautan bibir mereka , dan melihat ke arah suara berisik di belakang. Dilihatnya Mona sedang mengejar Marco dengan gaya melambainya.
"Mereka kenapa? " tanya Luna kepada Arion.
"Entahlah... mungkin sedang cosplay adegan film India. " kata Arion asal.
Arion dan Luna kemudian duduk berdampingan di atas pasir pantai, Menikmati angin pantai yang menerpa wajah mereka. Luna merebahkan kepalanya di bahu Arion.
"Katakan padaku, bagaimana papaku menyuruhmu untuk menjauhiku. "
"Apa perlu ku ceritakan? "
Luna mengangguk.
"Dia hanya menyuruh ku untuk menjauhimu. Karena aku hanya akan membawa pengaruh buruk padamu. Dia tidak ingin kau dekat dengan pria bajingan sepertiku. " ujarnya dengan pandangan lurus ke lepas pantai.
Mendengar alasan yang di katakan Arion, membuat Luna semakin tak percaya. Apa hanya karena hal itu? atau ada alasan lain yang membuat papanya bersikap seperti itu. Sungguh Luna tak mengerti.
"Dulu aku memang bajingan. Aku suka berkelahi, balap liar dan suka bikin onar. Tapi aku bukanlah pria brengsek yang suka tidur dengan sembarang ,merusak wanita atau mempermainkan hati wanita. Karena ada adik yang harus aku jaga. Aku tidak ingin adikku menuai karma karena perbuatan ku. Bahkan jika boleh dibilang, aku adalah pria setia yang hanya menunggu hati seorang wanita sejak lima tahun lalu. " kata Arion dengan kalimat penuh sindiran di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Dan kalimat terakhir Arion sukses membuat wajah Luna memerah.
"Aku selalu mencintainya walau dulu dia sangat membenciku, karena sikap dan sifat berandalku. " Arion menggoda Luna lagi, dan itu sukses membuat Luna mati kutu.
"Ingatlah ini, Luna. Perbedaan antara benci dan cinta itu, hanya sebatas selembar kertas tisu. Sangat tipis sekali. "
"Aku tau, dan sekarang aku sudah menelan bulat-bulat semua kata-kataku yang mengatakan aku membencimu dan tidak akan pernah menyukaimu. "
Mereka berdua terkekeh mengenang masa putih abu-abu mereka yang hanya sebentar tapi penuh dengan kenangan.
"Apa kau tidak lapar? " tanya Arion.
Luna mengangguk. " Lapar sekali, aku belum makan siang. "
Arion melihat jam ditangannya, ternyata sudah pukul tiga. Dia sama sekali tidak masuk kantor hari ini, karena panggilan dari Luna. Hanya tadi pagi sebelum dia menemui om Ali. Om Ali, bagaimana kabarnya dia? apakah dia sudah membuka semua pesan di dalam flashdisk itu, atau dia akan menutup mata melihat semua kebenarannya.
Luna dan Arion beranjak dari duduknya dan menuju mobil mereka,
"Hei kalian berdua, ayo. " Arion meneriaki kedua sahabatnya itu yang masih melakukan drama kejar-kejaran.
Mereka berdua akhirnya sampai di hadapan Arion.
"Kalian berdua apa-apaan sih, kayak anak kecil aja. "
Uhuk... uhuk.. uhuk...
Luna langsung tersedak air yang sedang dia minum. Dan dengan reflek Arion langsung menepuk punggung Luna.
"Tuh, kan manisnya. " kata Mona dengan nada melambainya.
"Mereka siapa sih Arion? " tanya Luna yang sejak tadi penasaran dengan mereka berdua.
"Oh, ya. Biar aku kenal kan kepadamu. Dia Marco dan dia Mona atau Moreno mereka berdua adalah sahabatku selama ini yang menjagaku selama tiga tahun terakhir. Dan dia adalah Luna, kekasihku. " Ujar Arion dengan percaya diri.
Mereka bertiga saling bersalaman setelah diperkenalkan satu sama lain.
"Kami ingin makan siang, rekomendasi restoran dengan masakan nusantara Indonesia yang kalian tau. " tanya Arion kepada kedua sahabatnya.
Tapi mereka hanya saling berpandangan kemudian menggeleng. Karena memang mereka tidak tau tempat makan yang enakan di sekitar sini. Apalagi selama ini mereka tinggal di Jerman.
"Tuan, mana kami tau rumah makan yang rekomendasi di sini. Karena kami baru tiba disini tiga hari yang lalu bersama denganmu kan. Apa kau sudah lupa? " kata Mona dengan gayanya.
__ADS_1
"Ah, iya aku lupa. Maaf."
"Anda pasti melupakan segalanya jika sudah bersama nona Luna. " sindir Mona dengan memalingkan wajahnya.
"Sudah... sudah. Ayo, aku akan tunjukkan kepada kalian bertiga tempat makan yang enak tidak jauh dari sini. "
"Kalian berdua ikuti kami, aku akan ikut bersama Luna. " ucap Arion sebelum menaiki mobil Luna.
"Jangan berharap Tuanku yang tampan akan ikut bersama kita, jija sedang bersama wanitanya." kata Mona lalu memasuki mobilnya bersama Marco.
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah makan sea food yang bertema lesehan, Suasana aesthetic memanjakan mata mereka saat mereka memasuki rumah makan itu.
"Ayo kita makan bersama di satu tempat." ajak Luna kepada teman-teman Arion.
Marco dan Mona saling berpandangan, lalu mereka menggelengkan kepala.
"Tidak.. " ucap mereka bersamaan.
"Lho... kenapa? " tanya Luna yang tidak mengerti, kenapa mereka berdua langsung menolak permintaan Luna.
"Maaf Nona Luna kami tidak mau menjadi obat nyamuk yang fungsinya hanya untuk mengusir nyamuk disekitar kalian. " Sarkas Mona lalu mengajak Marco pergi dari sana dan memilih tempat duduk yang nyaman untuk mereka berdua.
Sedangkan Luna hanya melongo mendengar dan melihat tingkah kedua teman Arion.
"Sudah jangan dipikirkan. Mereka berdua memang begitu. " Arion lalu mengajak Luna duduk di tempat yang lebih privat untuk mereka berdua.
"Masukkan tagihan kedua orang itu di tagihan ku ya. Mereka adalah teman kami. " kata Arion kepada pelayan yang mengantar makanan kepada nya.
"Baik, tuan. "
Dan benar saja pilihan Mona dan Marco menjauh dari mereka berdua, karena jika mereka ikut gabung bersama kedua sejoli itu, yang ada mereka hanya akan gigit jari. Terbukti sekarang saja mereka berdua saling suap-suapan. Dan menganggap dunia hanya milik mereka berdua, yang lain ngontrak.
"Arion, jika boleh meminta. Aku ingin waktu berhenti disini. Karena aku ingin selalu bersamamu, dan tidak ingin berpisah lagi. " ujar Luna, saat mereka sudah menyelesaikan makanannya dan kini Luna sedang bersandar di tubuh Arion.
"Bersabarlah. Waktu itu, pasti akan datang. Jika urusanku sudah selesai, aku akan memperjuangkanmu, Luna. Aku akan memintamu sendiri kepada papamu. "
"Bagaiman jika papa menolakmu. "
"Aku akan terus berjuang meskipun terus mendapat penolakan. "
"Baiklah, aku akan menunggumu." lirih Luna.
__ADS_1
"Tapi jangan salahkan aku, jika ada drama Romeo and Juliet di kehidupan nyata nanti. " batin Luna sambil menutup matanya menikmati sisa hari ini bersama orang yang dia cintai.