
Setelah makan siang dengan drama cinta mereka, Arion mengantarkan Luna pulang. Mereka parkir agak jauh dari rumah Luna untuk bertukar posisi, dan agar tidak ketahuan papa Ghavin.
Lama mereka diam dan tidak saling bicara di dalam mobil. Hingga akhirnya...
"Luna... "
"Arion... "
Panggil mereka bersamaan. Lalu mereka berdua tersenyum bersama.
"Ladies first." kata Arion
"Apa kita bisa bertemu lagi besok? "
Arion sudah menduga Luna pasti menanyakan hal ini kepadanya.
"Maaf Luna, bukannya aku tidak mau bertemu denganmu. Tapi.... Banyak pekerjaan ku hari ini yang tertunda. Bisakah kau menunggu sampai akhir pekan? Aku akan menyelesaikan pekerjaanku. Dan kita bisa bertemu di akhir pekan. Kalau bisa buatlah acara liburan bersama anak-anak, aku akan datang ke sana. Bersama dinda juga. Nanti aku akan mengirimkan alamat villa nya, di puncak. Bagaimana? " Arion menjelaskan kesibukannya kepada Luna dan mengusulkan rencana liburan untuk teman-temannya.
"Serius? "
Arion mengangguk. ”Aku sangat merindukan teman-temanku. Nanti aku juga akan mengajak Sam. "
"Baiklah, aku akan mengajak anak-anak nanti. Apakah aku boleh mengajak Lucas? "
"Ya, ajaklah dia. Agar lebih meyakinkan papamu. "
Luna mengangguk. "Baiklah aku mengerti." ucap Luna dengan wajah sendunya.
Arion yang melihat wajah Luna yang bersedih, dia segera memeluk kekasihnya itu.
"Jangan sedih, semua ini pasti berlalu. Dan kita pasti akan bersama. Bersabarlah... dan tetap jaga sikapmu kepada papamu, ya. " pesan Arion kepada Luna sebelum mereka berpisah.
Luna mengangguk dalam pelukan Arion. Lalu Arion melepaskan pelukannya, dan menghapus airmata di pipinya.
"Jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Okey. "
Lagi, Luna hanya mengangguk sebagai jawaban.
Arion lalu mencium kening Luna begitu dalam dan lama sebelum melepaskannya. Lalu ciuman itu turun ke mata, pipi, hidung dan terakhir di bibir Luna. Mereka bermain-main sejenak disana, sebelum melepaskan tautan bibir mereka.
"Pulanglah, nanti malam aku telpon. Aku akan mengirim pesan kepadamu nanti. "
Lagi, Luna hanya mengangguk sebagai jawaban. Karena dia tidak bisa berkata - kata lagi.
"Belajar lah yang rajin, aku ingin kelak nyonya Arionku ini haruslah menjadi istri dan ibu yang cerdas untuk anak-anakku kelak. " ujar Arion untuk menghibur dan menggoda Luna.
Dan tentu saja wajah Luna langsung memerah mendengarkan ucapan dari Arion.
__ADS_1
Arion lagi - lagi memeluk Luna. "Kekasihku, istriku. " gumam Arion dengan sangat lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Luna dan membuat Luna tersipu.
"Sudah, ya. Aku harus pergi. " pamit Arion lalu membuka pintu mobil, dan memberikan ciuman sekilas di kening Luna.
Lalu dia masuk ke dalam mobilnya yang sudah ada kedua temannya di sana. Arion duduk di kursi penumpang dan meminta Marco untuk segera menjalankan mobilnya. Entah perasaan apa yang Arion rasakan saat ini, karena dia hanya temenung dan berdiam selama perjalanannya.
Setelah kepergian mobil Arion, Luna langsung menjalankan mobilnya menuju kediamannya. Lama dia berada di dalam mobilnya untuk menenangkan hati nya yang tidak baik-baik saja saat menginjakkan kaki di rumahnya. Berkali-kali dia menghirup dan menghembuskan nafasnya, untuk menetralkan hatinya yang sedang bergemuruh.
Luna akhirnya keluar dari mobilnya, saat dia sudah merasakan baik-baik saja. Dia melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk, dia ingin bersikap biasa saja kepada papanya seperti yang Arion inginkan, namun hatinya menolak. Luna langsung masuk ke dalam kamarnya, saat ia tidak melihat siapapun di ruang keluarga. Sampai di dalam kamar, Luna segera mengunci pintunya. Kali ini dia tidak akan membiarakan siapapun bisa keluar masuk kamarnya dengan seenaknya.
Bahkan saat makan malam dia tidak mau keluar dari kamarnya. Dan itu membuat semua orang merasa aneh dan khawatir secara bersamaan.
Eliza mama Luna yang khawatir pun segera ke kamar Luna dan memanggil anaknya itu, untuk segera turun dan makan malam bersama.
"Luna, sayang... ayo turun, semua orang sedang menunggumu. " Eliza terus mengetuk pintu kamar Luna tapi tidak mendapat jawabn dari Luna.
"Luna... Kamu nggak apa-apa kan? " kata Eliza lagi dengan khawatir.
Luna membuka pintu kamarnya, dan melihat wajah panik mamanya.
"Aku sudah makan tadi, ma. Aku nggak ikut makan malam. Tinggalkan saja . " ucap Luna dan hendak menutup pintunya.
"Tunggu, kamu nggak apa-apa kan? " Tanya Eliza lagi dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, ma. " Luna langsung menutup pintu kamarnya, dan segera menguncinya.
Eliza yang tidak mengerti apa-apa pun kembali turun untuk menemui suaminya dan Lucas.
"Dia tidak mau turun. Katanya dia sudah makan dan masih kenyang. " ujar Eliza kepada suaminya.
Lucas yang mendengar alasan dari mamanya pun langsung mengerti, mungkin karena ucapannya tadi siang. Karena sejak dia memberi tahu Luna, Ia tidak melihat Luna dimanapun. Hingga sore tadi dia baru melihat kalau mobil Luna sudah terparkir rapi di garasi. Dia harus mencari tau, apa yang terjadi pada Luna.
"Biarkan saja dia, sayang nanti kalau lapar dia pasti turun untuk makan. Nanti aku akan bicara padanya." ujar Ghavin yang melihat kekhawatiran di wajah istrinya.
Eliza mengangguk dan memulai makan malam mereka dengan tenang. .
Setelah makan malam Lucas segera kembali ke kamarnya, diikuti Ghavin yang mau menemui Luna di kamarnya.
tok... tok... tok...
Ghavin mengetuk pintu kamar Luna, tapi tidak ada jawaban.
"Luna... apa papa boleh masuk? "
Masih tidak ada jawaban.
"Apa ada yang ingin kamu ceritakan kepada papa?"
__ADS_1
Masih juga tidak ada jawaban.
"Baiklah jika kamu tidak mau bicara dengan papa. Kalau kamu mau bicara dan cerita sama papa. kamu bisa menemui papa, papa akan mendengarkanmu. " ucap Ghavin pada akhirnya.
Mungkin Luna sedang punya masalah dan dia masih tidak ingin diganggu. Pikir Ghavin saat ini.
Di dalam kamarnya, Luna masih menunggu pesan atau telpon dari Arion. Dia tidak memperdulikan papanya yang memanggilnya di luar sana. Karena dia masih kesal pada papanya itu.
Tek.. tek.. tek..
Terdengar pintu kaca kamar Luna di ketuk. Pelakunya pastilah Lucas. Dia selalu seperti ini jika ingin mengganggu Luna. Luna beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu balkon.
"Ada apa? "
"Kami kenapa Luna? sejak tadi siang aku tidak menemukanmu di kampus, dan pulang ke rumah tapi tidak mau bicara pada siapapun sekarang. "
"Aku benci papa. "
"Kamu ngomong apa sih, Lun."
"Pokoknya aku benci papa. Kenapa dia tega banget misahin aku sama Arion? Padahal kami baik-baik saja. Arion pria baik, kenapa papa membencinya. " Tangis Luna kembali pecah, kali ini di hadapan saudara kembarnya.
Melihat saudaranya menangis, Lucas langsung memeluk Luna, dan menepuk-nepuk punggung nya.
"It's Oke. Tenanglah, Mungkin papa punya alasan sendiri kenapa dia menentang kamu dekat dengan Arion. "
"Apapun alasannya, aku tetap tidak menyukainya. Papa sudah menghalangi kebahagiaanku." ujar Luna penuh emosi.
"Dan dengarkan kata-kata ku ini, Luc. Jika papa tetap keras kepala dan egois tidak mau merestui hubungan ku dengan Arion. Maka jangan salahkan siapa-siapa jika terjadi sesuatu padaku tapi, salahkan papa jika sampai cerita Juliet akan terjadi dirumah ini. "
"Luna... jangan bicara omong kosong. " bentak Lucas yang tidak suka mendengar ancaman dari Luna.
***********
Di tempat lain, tepatnya di kantor polisi. Ali yang sedang bertugas malam itu, merasa tidak tenang sejak bertemu Arion tadi siang. Bahkan dia tidak bisa memejamkan matanya, saat berada di rumah. Dia belum membuka sama sekali dua flashdisk yang diberikan Arion padanya. Karena takut Kinara mencurigai nya.
Tapi saat di kantornya kini, Ali masih ragu, haruskah dia lihat sebuah kebenaran walau itu akan menyakitkan baginya. Dengan mengucapkan bismillah, Ali lalu menyambungkan flashdisk pertama ke dalam laptopnya.
Matanya membulat saat mendengarkan apa yang dibicarakan istrinya dan Mike saat di ruang rapat perusahaan. Dia benar-benar tidak percaya istrinya yang seperti malaikat itu bisa berubah menjadi iblis. Ali mengusap wajahnya kasar. Lalu dia melepaskan flashdisk pertama, lalu memasukkan flashdisk ke dua. Kejahatan Kinara sudah terbongkar di disk pertama, maka dia tidak akan ragu lagi untuk melihat disk yang ke dua.
Dan...
Mata Ali, Benar-benar membulat tak berkedip saat melihat apa yang dilakukan istrinya itu di rumahnya.
"Brengsek, rupanya selain bisa berubah menjadi iblis, kau juga bisa berubah menjadi ****** berkedok malaikat. Ternyata aku salah menilaimu selama ini, Kinara. " gumam Ali dengan segala kemarahannya.
Lalu sebuah notifikasi pesan diterima Ali.
__ADS_1
"Bagaimana Om? apakah, om sudah melihat kebenarannya? "
"Sekarang aku serahkan pada om, om yang mengeksekusinya, atau aku dan timku yang bekerja. "