ARION The Trouble Maker

ARION The Trouble Maker
Rasa


__ADS_3

Pembicaraan Luna dan Leo masih berlanjut di cafe itu. Mereka masih berdebat tentang pria dan wanita sesuai dengan apa yang mereka ketahui dan mereka rasakan.


"Seperti kata lo tadi, kebanyakan cowok cuma suka ngejar di awal, manis di awal tapi ujung-ujungnya bikin meringis dan nangis. Kalian pikir kita ini mainan apa? " kata Luna dengan melipat tangannya dibawah dada.


"Nggak semua cowok seperti yang lo omongin barusan. Masih banyak yang memiliki hati tulus dan serius. Kalau nggak langgeng, mungkin kalian aja yang salah pilih cowok. Makanya kalau pilih cowok itu jangan cuma liat isi dompet dan wajahnya aja. Tapi lihat juga hatinya. Percuma tampan dan mapan tapi hatinya kayak tempayan. Bisa di isi banyak hati lain di dalemnya. " Kata Leo sambil menyeruput minumannya.


"Gue nggak bisa bohongin diri gue sendiri. Lo tau sendiri kan keluarga gue, keluarga berada, dan wajah gue juga good looking. Jadi gue nggak bisa dong, nyari cowok yang biasa-biasa aja untuk jadi pacar gue. " elak Luna membela dirinya.


Leo mengangkat bahunya acuh dia tidak tau lagi harus berkata apa kepada Luna.


"Gini deh lun, seandainya di dunia ini hanya ada dua cowok yang tersisa yaitu Arion dan Alex. Lo mau pilih siapa? " Kata Leo dengan senyum smirknya.


Mendengar nama Arion di sebut membuat tubuh Luna menegang.


"Kita ini lagi ngomongin apa sih? " ujar Luna sambil memalingkan wajahnya.


"Kenapa? gue cuma tanya doang. Bukankah mereka berdua masuk kriteria calon kekasih idaman lo. Dari kekuarga mapan, terpandang, wajah tampan. Dari segi bibit dan bobotnya juga tidak diragukan lagi. Kalau disandingjn sama keluarga lo pasti keluarga mereka seimbang. " Leo menunggu respon Luna mengenai sahabatnya Arion dan rivalnya Alex.


"Udah deh Leo, nggak usah membahas mereka lagi. " elak Luna dengan semburat wajah di pipinya.


Leo tau diluar sana banyak cowok yang mengejar Luna, tapi hanya Arion dan Alex saja yang mendapat respon dari Luna.


"Terserah lo, Luna. Gue cuma mau ngingetin. Kalo cinta karena fisik bisa cepet hilang sesuai berjalannya waktu. Tapi kalau cinta tulus dari hati, akan tetep ada sekalipun lo nggak bisa liat, telinga lo nggak bisa denger, mulut lo nggak bisa berucap, tubuh lo nggak bisa gerak. Tapi cinta itu akan datang masuk kerelung hati dan jiwa, bukan masuk ke dalam dompet trus ngilang. "


Luna diam membisu mendengar semua ocehan Leo. Sahabatnya ini tau banget cara menyadarkannya bahwa semua prinsip hidupnya salah. Mencari cowok yang sesuai kriteria pria idaman. Kadang kala cinta itu datang tanpa perlu melihat apakah itu cowok idaman lo apa bukan.


Tapi cinta itu datang dengan sendirinya, melalui perhatian-perhatian kecil, kelembutan kehangatan dan kenyamanan saat lo ada di dekatnya.


Dan sekarang, semua itu Luna rasakan saat bersama Arion.


*************

__ADS_1


Luna ijin ke toilet saat jam pelajaran berlangsung. Karena tidak bisa menahan kantong kemih yang sudah penuh. Keluar dari toilet, Luna melewati lapangan yang memantulkan sinar matahari yang terik kala itu.


Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok lelaki yang sedang berlari menggunakan hodie hitam yang menutup kepalanya, dan sesekali menyeka keringat di keningnya.


Luna langsung membalikkan tubuhnya saat melihat sosok itu, dan ingin mencari jalan lain menuju kelasnya. Hatinya masih berdenyut sakit saat melihat Arion. Lelaki yang sudah mempermalukannya kemarin dan menorehkan luka di hatinya.


Tapi baru beberapa langkah, Luna kembali memutar tubuhnya, melihat ke arah Arion. Sebelum memutuskan ikut berlari di belakang Arion. Luna ingat akan kata-katanya yang akan membantu Arion melewati masa - masa sulitnya. Jika hanya kejadian kemarin dia menyerah, dia tidak akan bisa membuktikan kepada Arion kalau dia benar-benar ingin membantunya.


Arion mendengus kesal, melihat sosok yang mengejarnya ikut berlari. Sesekali ia melirik ke belakang dan dilihatnya Luna yang masih mengikutinya berlari dengan senyuman yang tak pudar dari bibirnya.


"Arion...bisa berhenti dulu nggak, capek. " panggil Luna saat sudah mengikuti Arion berkeliling lapangan sebanyak tiga kali.


"Arion, kalo lo nggak berhenti, gue pingsan nih. "


Sontak kalimat Luna barusan menghentikan langkah Arion. Tangannya berkacak pinggang memunggungi Luna yang ada di belakangnya sambil mengatur nafasnya yang terengah.


"Lo gapain ikut lari? " tanya Arion dengan suara dinginnya.


Wajah Luna kembali berbinar dengan senyuman merekah di bibirnya. Seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi kepadanya.


"Gue lagi dihukum karena datang terlambat. " Arion membalikkan tubuhnya, ia langsung bersitatap dengan manik mata Luna yang berbinar.


"Balik sono, ngapain juga ikut gue lari. "


Luna cengengesan, tapi dia tidak peduli dengan sikap Arion yang masih dingin kepadanya. Luna lalu menarik tangan Arion dan membawanya ke sebuah pohon rindang yang tak jauh dari sana. Arion hanya mengikuti kemana Luna membawanya.


Melihat kemana Luna membawanya hati Arion berdenyut sakit, mengingat perlakuannya pada gadis pujaan hatinya ini kemarin. Dia berperilaku b******k karena sudah mempermalukan gadis yang sudah menempati hatinya itu.


"Dari mana? " tanya nya kemudian.


"Habis dari toilet tadi, trus ngeliat lo lari. " Kata Luna dengan mata yang masih berbinar.

__ADS_1


Seketika hati Arion yang sudah ia bekukan meluruh. Seluruh aliran darahnya yang membeku, seolah mengalir kembali kesetiap jaringan yang dibutuhkan tubuhnya. Mengalirkan kehangatan di hatinya yang dingin selama berberapa waktu terakhir.


Arion mendekat ke arah Luna dan menyeka keringat yang membanjiri keningnya. Luna terpana akan sikap Arion yang tidak biasa kepadanya. Dan semburat merah muncul di pipinya yang putih.


Dari jarak sedekat ini Luna bisa melihat wajah Arion yang sangat tampan.


"Kenapa mandang gue kayak gitu? Gue memang tampan, jadi ngga perlu segitunya juga lo mandang gue. " kata Arion dengan narsisnya setelah membersihkan keringat dikening Luna.


"Ariooonnnn." pekik Luna sambil memukuli lengan Arion yang kokoh karena malu.


Dan seketika itu membuat Arion tertawa terbahak-bahak...


Akhirnya, tawa itu keluar dari bibir Arion. Tawa yang sangat Luna rindukan. Tanpa terasa Luna memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang melihat Arion yang tertawa lepas seperti itu.


Tanpa ia sadari langkah kakinya mendekati tubuh Arion dan langsung berhambur memeluk tubuh kokoh itu dengan erat menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arion yang basah akan keringat, Menghirup aroma maskulin yang menenangkan pikirannya.


Arion terpaku dengan tingkah Luna yang tak biasa dan tak bisa membalas pelukan dari Luna. Ia memikirkan sejenak apa yang baru saja terjadi, hingga ia bisa merasakan ribuan kupu-kupu masuk ke dalam perutnya dan berterbangan menuju dadanya, membuatnya merasa sesak. Sesak akan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Hingga tangannya terangkat membalas pelukan Luna dengan tak kalah eratnya. Menghirup aroma rambut Luna yang menenangkan selama beberapa saat.


Hingga suara teriakan seseorang mengagetkan mereka berdua.


"Hei, Kalian. Siapa yang suruh pelukan di sekolah."


Arion dan Luna segera melepaskan pelukan mereka, di liriknya seorang guru sedang berkacak pinggang melihat ke arah mereka sambil memicingkan matanya untuk melihat siapa dua pelaku yang sedang berpelukan tadi.


Mereka berdua tersenyum geli melihat kekonyolan yang mereka lakukan berdua. Arion lalu menarik tangan Luna, dan membawanya berlari meninggalkan lapangan. Ledakan tawa menghiasi koridor gedung yang sepi.


Arion dan Luna saling berpandangan dan tersenyum, hingga Arion mendorong tubuh Luna sampai menempel di dinding ruangan kosong.Satu tangan Arion ditempelkan ke dinding, dan satu tangannya lagi menggenggam erat tangan Luna.


Wajah Arion mendekat ke wajah Luna yang secara spontan memejamkan mata. Hingga sebuah kecupan mendarat di bibir Luna. Tak ada penolakan dari Luna, hingga Arion memberanikan diri menyesap bibir Luna atas dan bawah. Cukup lama hingga suara itu berdenging ditelinga Arion.


"Jauhi anakku. "

__ADS_1


Sontak membuat Arion melepaskan ciumannya dari bibir Luna dan menjauhkan tubuhnya dari Luna.


"Maafin gue Lun. " Arion segera berlari dengan kencang meninggalkan Luna dengan segala rasa didadanya.


__ADS_2