
Hari ini, sesuai perkataan Arion pada Sam. Dia akan mengambil Dinda dan memindahkannya ketempat Jack. Karena disana Dinda akan lebih aman dan tidak membuat Arion khawatir. Banyak penjaga dan anak-anak panti yang akan menjaga dan mengawasi Dinda. Dinda tidak akan kesepian lagi karena dia bisa bermain dengan mereka.
Arion tampak senang, memikirkan raut wajah Dinda yang ceria seperti dulu. Dia berharap Dinda benar-benar sudah sembuh dari depresinya. Arion pergi dengan beberapa orang suruhan Jack, untuk membantu membawa Dinda jika dia kesulitan nanti.
Tok... tok... tok...
"Eh, nak Arion. " suara wanita paruh baya itu menyapa saat membukakan pintu.
"Tania mana, bu? "
"Oh Tania sedang ke luar sebentar dengan Sam. " ujar ibu Tania.
Baik ibu Tania ataupun Tania sendiri sudah kenal baik dengan Arion. Karena Arion sering mengunjungi Dinda beberapa kali di rumah mereka.
"Ayo masuk dulu. " Ibu Tania mempersilahkan Arion masuk.
Dan tanpa ragu Arion masuk ke ralam rumah sederhana itu.
"Dinda mana bu, kok nggak kelihatan. "
Wajah ibu Tania menegang mendengar pertanyaan Arion. Arion yang melihat ketegangan itupun merasa ada yang tidak beres terjadi pada adiknya.
"Dimana Dinda. " tanya Arion lagi dengan nada yang masih biasa, karena takut jika ia bersikap terlalu kasar akan melukai wanita yang sudah merawat adiknya beberapa bulan terakhir ini.
"Dinda sedang keluar dengan temanmu. "
"Dinda keluar? Dengan temanku? " Arion mengernyitkan keningnya tak mengerti. Karena selaam ini yang tau keberadaam Dinda hanya dia, Tania dan Sam. Lalu apa yang dikatakan ibu Tania barusan?
"Dinda keluar dengan temanku? Siapa? " Arion berpikir dengan keras dan itu membuat kepalanya terasa sakit. Namun sebuah pemandangan yang tak pernah ia sangka ditangkap oleh kedua matanya. Dinda sedang bergandengan tangan dengan Luna memasuki rumah Tania dengan membawa es krim di tangan mereka.
Mata Arion, langsung menggelap penuh emosi melihat kedekatan keduanya. Apasih maunya Luna yang berani membawa adiknya keluar dari rumah Tania. Itu bisa membahayakan Tania jika dia sampai bertemu dengan tante Kinara ataupun Mike..
"Kak, Arion. " pekik Dinda bahagia saat melihat kakaknya itu. Dia lalu berlari menghampiri kakaknya dan langsung memeluknya.
Kepala Luna mendongak dan melihat sosok Arion di dalam rumah Tania.Senyumnya luntur saat pandangan matanya bertemu dengan mata Arion yang menatapnya penuh dengan kebencian. Luna masih tidak percaya, dimana tatapan kehangatan yang selalu Arion tunjukkan kepadanya.
Luna menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
Dilihatnya Arion memanggil seseorang dari dalam mobil yang terparkir didepan rumah Tania. Dan keluar dua orang pria dan wanita yang menghampiri Arion.
"Dinda, ikut kakak pulang ya, " bujuk Arion
"Pulang kemana? "
"Pulang ke tempat kakak. "
"Apa kita akan tinggal bersama? "
"Iya, kita akan tinggal bersama, asalkan Dinda nurut sama kakak dan nggak nakal lagi. "
Dinda mengangguk dan masih memeluk kakaknya.
"Nah, sekarang Dinda masuk ke mobil itu, bersama paman dan Bibi dulu. Kakak akan bicara dengan kak Luna dulu. Setelah itu, kakak menyusul. "
"Apa kakak janji. "
"Iya sayang, kakak janji. "
Dinda pun menuruti ucapan Arion, dan mengucapkan salam kepada ibu Tania dan berpamitan kepada Luna.
"Lo tau, gue udah muak sama semua kelakuan lo, Lun. Kenapa lo dengan seenak jidat lo ngajak adik gue keluar dari rumah ini. Apa lo mau tanggung jawab kalau sesuatu terjadi sama adik gue. "
Bentakan Arion membuat Luna terpaku, bahkan dia hanya bisa terdiam saat telunjuk Arion mendorong bahunya.
Arion benar-benar kecewa dengan ulah Luna kali ini, karena itu bisa membahayakan keselamatan adiknya.
"Jangan pernah temui adik gue lagi. " Arion mengucapkannya dengan penuh penegasan,
Luna mendongak dan menatap Arion dengan wajah menantang. "Kenapa? Gue cuma berusaha bantuin adik lo, agar dia cepet sembuh apa itu salah. " ucap Luna pada akhirnya tanpa rasa takut atau bersalah.
"Niat lo emang nggak salah, tapi cara lo yang ngajak adik gue keluar dari rumah ini, itu yang salah. " jelas Arion.
"Kenapa? Dinda butuh melihat dunia luar, agar dia tidak merasa terkurung di dalam rumah. Agar otak dia fresh. Apa lo takut ada orang yang tau kalau adik lo depresi. " tantang Luna dengan pongahnya.
Arion mengepalkan tangannya erat. Jika sosok di depannya ini adalah pria, Arion sudah pasti akan menghajar nya, dan kalau dia bukan sosok yang ia cintai mungkin Arion sudan pasti menamparnya.
__ADS_1
"Arion, Dinda itu butuh support, dari orang disekitarnya. Dinda butuh pengenalan dengan dunia luar dan berkomunikasi dengan orang lain untuk melawan rasa takutnya. " Suara Luna melemah saat mengatakan semua itu.
"Gue cuma mau nolongin Dinda dari stressnya, lo pikir di kurung di dalam rumah itu nggak bikin orang sterss apa? Dia butuh suasana yang berbeda...."
"Cukup, lo nggak tau apa-apa tentang Dinda. " bentak Arion lagi.
"Oke, fine. gue emang nggak tau apapun tentang Dinda. Tapi yang gue tau, Dinda butuh suasana baru dan orang yang mendukungnya. " Luna masih tidak mau mengalah berdebat dengan Arion.
"Cih... " Arion bersecih di hadapan Luna.
"Apa lo mau tanggung jawab jika Dinda sampai di culik dan dibunuh seperti bokap gue. " tanya Arion dengan suara dinginnya.
Sontak ucapan Arion membuat mulut Luna terdiam tanpa bisa membalasnya lagi.
Arion menghirup nafas dalam- dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Lun, apapapun yang lo lakuin ke adik gue selama ini gue ucapin terimakasih. Tapi kesalahan lo yang udah ngajak adik gue keluar hari ini, itu salah. Lo nggak punya hak bawa adik gue keluar. Karena jaminan keamanannya dipertaruhkan. Dan itu bisa membuat gue ikut gila, menyusul adik gue kalau sampai itu terjadi. Gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri. " kata Arion dengan suara lirih dan bergetar.
"Arion... " Luna ingin mendekat dan memegang bahu Arion, namun Arion segera menepis nya.
"Mulai hari ini, jangan pernah deketin gue dan adik gue lagi. Cukup sampai disini, kelancangan lo masuk ke hidup gue. Lo terlalu jauh masuk dan ikut campur dalam hidup gue. Lo hanya pengacau di hidup gue. " sentak Arion
Arion menutup matanya setelah mengatakan semua itu, tak kuasa ia menahan semua rasa sakit yang ia buat sendiri. Luna merasa lemah setelah mendengar semua ucapan Arion yang menyakitkan, tepat menghujam jantung hatinya.
"Arion, tatap mata gue. Katakan sekali lagi kalau gue cuma seorang pengacau di hidup lo. Agar gue yakin, dan gue akan melakukan apapun yang lo mau. pergi dari hidup lo. " ucap Luna dengan lelehan air mata dipipinya.
Arion membuka matanya, dengan mata yang sudah memerah, ia menatap mata Luna yang sudah penuh dengan lelehan air mata.. Arion dengan sekuat tenaga menahan keinginan untuk memeluk Luna dan mengucapkan kata maaf kepadanya.
"Ya... Jauhi Dinda, jauhi gue. Karena lo adalah pengacau di hidup gue. Karena lo, hidup gue tambah hancur."
Mendengar semua itulah, Luna langsung mundur. Semua sudah jelas bagi Luna. Ucapan Arion sangat jelas, terdengar tajam menusuk hatinya dan membuatnya tercabik-cabik hingga menjadi serpihan tak berbentuk. Sama halnya dengan Luna, Arion juga merasakan perasaan yang sama. Sakit namun tak berdarah.
Luna lalu berbalik, dan berlari menuju mobilnya dengan hati yang hancur berkeping-keping. Arion sudah menghancurkan hatinya.
Melihat kepergian Luna, Hati Arion merasa tersayat. Sakit rasanya harus melepaskan seseorang yang kita cintai sejak dulu tanpa bisa mengungkapkan perasaan itu. Tapi ini memang harus dia lakukan, untuk menemukan jalan terbaik meraih kebahagiaan. Sebab kasih sayang yang tulus tak pernah menuntut sebuah balasan.
Arion meneteskan air mata nya penuh kepiluan, ia sadar hari ini dia sudah kelewat kasar pada Luna. Tapi jika ia melakukan dengan kelembutan yang ada dia akan susah untuk melepaskan. Karena itu, dia bersikap kejam agar Luna menjauhinya. Dia selalu terngiang kata-kata yang selalu berdengung di telinganya.
__ADS_1
"Jauhi Luna. "
Saat ini mungkin inilah yang terbaik, bagi Luna dan Arion. Saling menjauh.... menjauhi kepingan hatinya sejauh mungkin.