ARION The Trouble Maker

ARION The Trouble Maker
Melepasmu


__ADS_3

"Sekarang katakan pada papa, siapa sih pria yang sudah mengganggu anak papa ini? " tanya Ghavin setelah pelukan terlepas.


"Arion..." lirih Luna dengan kepala tertunduk.


Suara Lirih Luna itu masih terdengar di telinga Ghavin, dan satu nama yang disebutkan Luna juga terdengar olehnya.


"Arion."


Mendengar namanya saja membuat wajah Ghavin memerah dan aliran darahnya memanas. Tapi dia menahan semuanya jangan sampai anaknya tau kalau dia sedang marah. Sebuah senyum ia terbitkan untuk Luna, untuk menyembunyikan semua rasa didadanya.


"Ya sudah, sekarang kamu tidur. ini sudah larut. " Ghavin meninggalkan kamar Luna dengan amarah yang terpendam.


*


Hari ini, Ghavin memutuskan untuk datang ke sekolah Luna tanpa sepengetahuan anaknya itu. Saat jam pelajaran berlangsung Ghavin menemui kepala sekolah dan meminta bertemu dengan Arion bukan Luna anaknya.


Arion yang tidak tau apapun, segera menemui kepala sekolah di ruangannya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat ada Ghavin di sana.


"Selamat pagi Pak. " sapanya kepada kepala sekolah.


"Pagi Arion, duduk sana. " kepala sekolah mempersilahkan Arion duduk di kursi yang tak jauh dari mereka.


"Arion, pak Ghavin ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Jadi, bapak akan memberi ruang untuk kalian. Bapak permisi dulu. " Pamitnya pada Arion dan Ghavin.


Setelah kepergian kepala sekolah tinggal Ghavin dan Arion di sana. Dan dirasa sudah aman, Ghavin segera memulai maksud kedatangannya.


"Aku menagih janjimu Arion. " kata Ghavin memulai obrolan mereka.


"Janji apa? " tanya Arion tak mengerti.


"Jauhi Luna. Jangan berhubungan lagi dengannya walau hanya sebatas teman. "


Arion tersenyum mengejek kearah Ghavin.


"Maaf tuan Ghavin yang terhormat, saya sudah menjauhi anak anda sejak saya masuk ke sekolaah ini lagi, bahkan saya tidak menggunakan kesempatan satu bulan yang saya minta untuk dekat dengannya. Karena jika saya pikir, jika saya dekat dengan Luna, maka akan berat bagi saya untuk menjauhi nya. "


"Cih, apa benar seperti itu. "


"Kalau anda tidak percaya, tanyakan saja kepada semua murid disini atau Lucas saudara kembar Luna yang juga tau apa yang terjadi beberapa hari terakhir. Nanti anda akan mendapat jawaban siapa yang mengejar dan dikejar. " Ujar Arion kepada Ghavin dengan percaya diri.


"Aku tidak peduli. Aku tetap memintamu menjauhi Luna. Apapun alasannya. Aku tidak mau Luna terkontaminasi dengan pengaruh burukmu. Dan kamu tidak jauh lebih baik dari Alex. "


Arion tersenyum miring. "Jangan pernah bandingkan saya dengan di brengsek Alex, tuan Ghavin yang terhormat. Karena semua kemampuan Alex atau apapun yang ia miliki, tidak sebanding denganku. Dia hanya sebatas kotoran di jariku. " Kata Arion dengan pongah, sambil membersihkan kukunya.


Ghavin benar-benar tak percaya akan keberanian sosok Arion kali ini. Dia tidak sama dengan Arion yang ia temui beberapa waktu lalu. Yang memohon untuk diberi waktu bersama Luna.


"Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan saya permisi. " Pamit Arion lalu bergegas keluar dari ruangan kepala sekolah dengan tangan yang terkepal erat.


Tanpa sengaja Lucas yang hendak pergi ke ruang guru melihat Arion yang keluar dari ruang kepala sekolah dengan wajah dinginnya, benar-benar dingin hingga ia tidak tau ekspresi apa yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini. Dan tak lama setelah Arion keluar, keluar pula sosok Ghavin dengan raut wajah yang ya tak terbaca.


"Papa." lirih Lucas.


"Apa yang sudah terjadi? kenapa papa keluar dari ruang kepala sekolah bersama Arion? " batin Lucas bertanya-tanya. Tapi dia tidak langsung menghampiri papanya, mungkin ia akan mengorek informasi nanti di rumah.


*


Arion sedang janjian nongkrong di sebuah cafe bersama Sam. Sudah lama sepertinya mereka tidak nongkrong di tempat seperti itu. Setelah lama menunggu akhirnya Sam datang, dengan menggunakan kaos longgar dan celana sobek-sobek. Sam duduk di sebelah Arion yang sudah memesan minuman dingin dan beberapa camilan.

__ADS_1


"Lo nggak mesenin gue minum? " tanya Sam


"Nggak, lo pesen sendiri aja sono. "


Akhirnya Sam memanggil pelayanan Cafe untuk memesan minuman.


"Sam, mungkin dalam waktu dekat gue akan bawa Dinda pergi dari rumah Tania. "


"Kenapa? bukankan Dinda sudah nyaman di sana? dan dia juga aman disana. "


"Iya gue tau. Tapi gue harus bawa dia pergi. ke tempat yang lebih aman. "


"Arion, gue mau tanya sama lo. Sebenarnya ada apa sih dengan hidup lo. Kenapa lo main kucing-kucingan sama bokap dan tante lo. Bukannya mereka sayang banget ya sama lo"


Arion tersenyum miris. "Gue nggak bisa cerita, nanti... suatu saat nantiii gue bakal cerita semuanya ke lo. Untuk saat ini gue belum Siap. "


"Oke deh kalau lo belum siap, gue bakal nunggu sampe lo siap. "


"Oh ya, Luna gimana? "


Arion menggeleng, "sepertinya cinta gue buat dia cukup di hati saja. Karena bokap nya udah mewanti-wanti gue supaya ngejauhin anaknya. "


Sam menghela nafanya. "Sabar, bro. Jika jodoh, suatu saat nanti pasti bersatu, walau terhalang restu. "


"Gue harap lo simpen rahasia ini dari dia. Karena gue nggak mau hubungan antara bapak dan anak renggang gara-gara gue. "


"Sip... gue pegang rahasia lo. Eh, suara lo kan lumayan. Kenapa nggak nyanyi aja sono buat ngehibur kita-kita. "


Arion memandang panggung live yang kosong sambil berfikir. Ia pengen menyanyi untuk menghibur hatinya sendiri yang lagi galau. Biasanya dengan nyanyi atau dengerin lagu, bisa membuat hatinya tenang.


"Emang gue boleh nyanyi? "


Arion berdiri dan segera menuju panggung,ia menghembuskan nafasnya, dan mulai menyanyikan sebuah lagu sesuai isi hatinya saat ini. Luna... Arion merindukan Luna. Saat ini hanya rindu yang bisa ia rasakan tidak lebih.


Alex menggenggam tangan Luna memasuki sebuah kafe. Akhir-akhir ini Luna memang jarang bertemu Alex karena dia ingin meyakinkan hatinya lebih dulu, untuk memilih rasa sukanya kepada Alex atau rasa nyamannya dengan Arion. Malam ini mereka sepakat bertemu hanya untuk melepaskan rasa rindu.


Tak ingin menyalahkan waktu


Tak mungkin menyalahkan keadaan


Kau datang disaat ku membutuhkanmu


Dari masalah hidupku bersamanya


Suara itu menyapa pendengaran Luna, suara yang sangat ia kenal. Suara seseorang yang selalu menghangatkan hatinya. Suara yang selalu menggoda nya kala itu. Luna langsung menoleh ke atas panggung. Tatapannya bertemu dengan mata Arion. Begitu juga dengan Arion yang menatap lekat mata Luna, pandang nya beralih ke sisi Luna, ada Alex disana yang sedang merangkul pundak Luna.


Helaan nafas Arion meluncur dari mulutnya.


Semakin ku menyayangimu


Semakin ku harus, melepasmu dari hidupku.


Arion memalingkan wajahnya agar tak melihat kebersamaan Luna dan Alex.


Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini


Kita tak mungkin terus bersama.

__ADS_1


Rasa rindu yang Arion rasakan kepada Luna, menjadi sirna setelah kemuncukan Alex. Arion meringis perih, rasanya lebih sakit daripada saat dihajar anak-anak SMK dulu. Melihat sosok gadis yang ia cintai berada di depan mata bersama pria lain.


Suatu saat nanti kau kan dapatkan


Seorang yang kan dampingi hidupmu


Biarkan ini menjadi kenangan


Dua hati yang tak pernah menyatu


Arion melirik dari ekor matanya, dia melihat Alex membelai lembut wajah Luna. Dan sepertinya Luna menikmatinya. Mereka berbicara tanpa beban, seolah ia tak ada disana. Mungkinkah Alex sudah benar-benar mencintai Luna? dan tidak menggunakannya sebagai alat balas dendam kepadanya.


Miris... Tak seharusnya Arion menyimpan rasa ini terlalu lama.


Maafkan aku, yang membiarkanmu


Masuk ke dalam hidupku ini...


Maaf kan aku yang harus melepasmu


Meski ku tak ingin....


Mungkin Arion memang harus mulai melepaskan cintanya, dan berhenti mengharapkannya. Sepertinya Luna lebih bahagia bersama Alex, lagipula restu pun tak ia dapatkan dari orangtua Luna. Jadi untuk apa bertahan dengan rasa yang tak pasti.


Semakin terasa cintamu....


semakin ku harus... melepasmu dari hidupku...


Tak ingin lukai hatimu, lebih dari ini...


Kita tak mungkin terus bersama....


Pada Akhirnya, sekeras apapun Arion mencoba menunjukkan perasaan nya pada Luna, tapi gadis itu tak kan pernah bisa tau. Karena sudah ada pria sempurna di hadapannya...


Satu hal yang Arion pelajari kali ini, Hal paling menyakitkan adalah saat kita mencintai, tapi tak bisa memiliki, dan melepaskan harus kita lakukan untuk kebahagiaannya.


I'll let you go...


I'll let you goo...


Arion menyerah sampai disini. Ia akan melepaskan semua rasa cinta dan sayang nya pada Luna.


Arion harus memandang ke depan dan menata masa depannya. Mengabulkan harapan dan keinginan papanya itulah tujuan yang harus Arion gapai saat ini.


Arion turun dari atas panggung dengan sorakan tepuk tangan dari pengunjung cafe. Dengan santai dia melangkah melewati meja Luna dan Alex dengan wajah datar. Dan memasang senyum saat bertemu dengan Sam.


Sam yang mengerti akan perasaan Arion pun langsung merangkul Arion.


"Jangan sakit hati karena hal ini. "


Arion hanya tersenyum tipis menanggapi, Sam.


"Gue nyerah untuk dapetin dia Sam. "


"Ck... Ayo cabut kita kumpul sama anak-anak. Kita balapan. "


Sebuah ajakan dari Sam yang langsung mendapat anggukan kepala dari Arion. Mungkin dengan balapan dia bisa menghilangkan sejenak rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


Song : Drive - Melepasmu


Curcol : Meskipun novel ini sepi viewers atau like tapi ini adalah salah satu novel favorit yang othor tulis. Dan othor sudah jatuh cinta dengan sosok Arion di novel ini. 🥰🥰🥰


__ADS_2