ARION The Trouble Maker

ARION The Trouble Maker
Curhat Dengan Papa


__ADS_3

"Maafin gue, Lun. " Arion segera berlari kencang meninggalkan Luna dengan segala rasa didadanya.


Luna yang sedari tadi terdiam menerima Arion kini mulai terkesiap akan sikap Arion kepadanya merasa sangat bingung. Dia memegang bibirnya yang masih terasa bekas ciuman dari bibir Arion. Bahkan masih ada sisa sedikit salivanya di sana.


"Arion.... lo udah nyuri ciuman pertama gue... "


Luna berteriak histeris sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Dia lalu menggigit bibir bawahnya karena merasa malu.


"Tapi kenapa tiba-tiba dia pergi? " Luna merasa bingung dengan perubahan sikap Arion tadi, sikap yang sudah menghangat berubah menjadi dingin kembali.


"Sebenarnya apa yang udah terjadi sama lo, Arion." pikir Luna tak mengerti.


Luna Akhirnya kembali ke kelas nya. Saat melewati kelas Arion, Luna melongok melihat apakah Arion ada di kelasnya. Tapi Nihil, Arion tidak ada disana.


"Kemana dia...? "


*************


Setelah makan malam Luna tidak ikut berkumpul seperti biasa. Dia minta ijin akan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Dan di sinilah dia berada.


Luna sedang merenung, memikirkan kejadian tadi siang. Ciuman itu, ciuman hangat yang Arion berikan padanya. Luna bisa merasakan kehangatan dan ketulusan dari Arion.


"Tapi kenapa tiba-tiba Arion berubah dingin lagi? " pikirnya.


Luna memikirkan semua yang terjadi pada dirinya dan Arion. Luna yang dulu membenci Arion kemudian merasa nyaman dan dekat dengan Arion hingga beberapa waktu lalu. Pesona Arion tidak bisa ia abaikan, Luna sudah masuk terlalu jauh ke dalam hidup Arion.


Ghavin melewati kamar Luna yang terbuka. Dia sedikit mengintip dari celah pintunya. Dilihatnya anak gadisnya itu sedang menghadap meja belajar dengan serius. Ghavin pikir dia sedang belajar, lalu dia masuk ke dalam kamar putrinya secara diam-diam, agar tidak mengganggu sang anak.


"Luna... kamu lagi ngapain? "


Luna berjengkit kaget mendengar papanya yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya..


"Papa. Kok ada disini? bikin kaget aja. "

__ADS_1


"Maaf... "sesal Ghavin. " Kamu ngapain kok belum tidur. ini sudah larut lho. "


"Udah selesai kok, Luna cuma istirahat aja bentar tadi. " Kilah Luna pada akhirnya.


Ghavin tak lantas percaya. Dia yakin anaknya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Karena sejak tadi dia melihat anaknya itu hanya diam dan temenung


"Kamu kenapa? dari tadi papa perhatiin murung terus. Apa ada masalah? "Ghavin mendudukan dirinya di tepi ranjang dekat dengan meja belajar anaknya.


" Emang kelihatan banget ya, pa? "


Ghavin mengangguk, dan membelai pipi anaknya yang chubby itu.


"Kamu kan anaknya cerewet, ceria tapi dari tadi papa perhatiin kamu diem-diem aja? Coba cerita sama papa, apa yang udah mengganggu pikiranmu. "


Luna menggeleng, dan duduk di samping papanya, lalu ia membaringkan kepalanya diatas paha sang papa. Ghavin membelai lembut rambut anak perempuan kesayangannya itu. Sepertinya memang ada yang sedang dipikirkannya.


"Pah, kalau kita udah punya pacar, terus kita nyaman sama seseorang itu boleh nggak? "


Ghavin tertawa mendengar ucapan Luna barusan.


"Paaahhh."


"Iya... iya papa jawab. Nyaman sama seseorang menurut papa sih nggak masalah. Apalagi kalau kita udah kenal lama atau berteman lama dengan orang itu, buat papa sih wajar-wajar aja. Terlepas kita sudah punya kekasih atau belum. "


"Tapi Luna kadang lupa, dulu Luna begitu membencinya. Namun setelah dekat dengannya Luna merasa nyaman, karena Luna pikir dia tidak seburuk yang orang-orang kira. Tapi sekarang dia berubah, dia jadi dingin sama Luna, dia cuek sama Luna. Rasanya sakit paaahhh.... " Luna meneggelamkan kepalanya di perut sang papa.


"Luna udah punya pacar kan? Tapi kenapa Luna bisa nyaman sama cowok lain? " tanya Ghavin tak mengerti dengan jalan pikiran anaknya itu.


Luna hanya menggeleng menanggapi pertanyaan papanya.


"Dulu dia selalu godain Luna, tersenyum hangat sama Luna, menatap Luna dengan lembut dan selalu melindungi Luna. Tapi sekarang semuanya sudah berubah 180° derajat. Tidak ada kelembutan dan kehangatan itu, bahkan tidak ada kata atau kalimat godaan untuk Luna. Dia terlalu dingin dan sulit untuk Luna gapai. "


Ghavin menghembuskan nafas beratnya.

__ADS_1


"Jadi kamu berharap dia bersikap baik lagi padamu seperti dulu?


Luna mengangguk.


" Mungkin ada sesuatu yang ia sembunyikan, sayang. Mungkin saja dia sedang dalam masalah atau ada sesuatu yang menahannya untuk bersikap manis padamu. Apa kamu suka sama dia? "


"Pah, Luna nggak suka sama dia. "


"Tapi kamu ingin dia berubah seperti yang dulu. Kalau kamu nggak suka sama dia, nggak masalah dong dia berubah jadi dingin sama kamu. "


Luna bungkam dia tidak bisa membalas ucapan papanya barusan.


Ghavin tersenyum memandang putrinya yang masih labil itu. "Kamu mungkin belum sadar sepenuhnya kalau kamu menyukainya. Tapi, papah mau kamu jangan telalu lama tenggelam dalam perasaanmu. Kamu sudah dewasa Luna, tentu kamu tau apa yang harus kamu pilih. Mencintai atau menyukai dua orang dalam satu waktu itu bukan kesalahanmu. Wajar, bagi kita manusia memiliki perasaan kepada lebih dari satu orang. Pintu hati kita itu tidak hanya satu, tapi memiliki lebih dari satu pintu. Kamu harus pintar meletakkan dimana tempat untuk dua orang yang sudah memasuki hatimu. Apakah di sebuah tempat khusus, atau hanya persinggahan saja. Beri seluruh ruang hatimu untuk seseorang yang benar-benar kamu cintai, dan ruang lain untuk orang yang kamu sayangi. Karena sayang belum tentu cinta. Kamu harus bisa membedakannya. "


Luna mendudukkan dirinya dari pangkuan papanya, dan menatap papanya sendu.


"Luna nggak tau harus apa pa. Perasaan Luna ke Alex nggak benar-benar nyata Luna masih bingung dengan perasaan ini. Dan perasaan Luna sama temen juga masih nggak jelas, Luna merasa nyaman saat didekatnya dan merasa sakit saat melihat dia acuh sama Luna. Luna bener-bener merasa nyaman dan bahagia saat bersama mereka berdua. "


Ghavin merangkul pundak Luna dari samping. "Luna, kamu pernah dengar orang bijak bicara seperti ini. 'Jika kamu mencintai dua orang dalam waktu bersamaan, maka pilihlah orang kedua. Karena jika kamu mencintai yang pertama maka kamu nggak akan pernah jatuh cinta untuk yang kedua kalinya'. "


"Tapi Luna nggak tau, harus milih yang mana. "


Ghavin membelai lembut kepala Luna. "Menurut papa sih, kata orang bijak itu nggak sepenuhnya bener. Karena kadang apa yang kita rasakan untuk orang ke dua hanyalah perasaan sesaat yang kita salah artikan. Kita memang sulit untuk mempertahankan daripada harus memilih. Karena kita pikir lebih baik melepaskan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan. Padahal kita tidak tau, Mungkin saja Tuhan sedang menguji kita bagaimana kita berjuang untuk mempertahankan apa yang kita miliki. "


"Luna. Mungkin saat ini Tuhan ingin mempelihatkan kepadamu sebuah kasih sayang yang tulus itu tidak pernah ditunjukkan secara nyata, tapi bisa dirasakan oleh hati. Carilah pria yang dapat membuatmu bahagia, dan menjagamu dengan baik. Papa percaya pilihanmu kelak adalah pilihan yang terbaik."


Luna tersenyum mendengar semua nasehat papanya, dan langsung berhambur memeluk papanya


"Makasih pa, nasehat papa Sangat berarti buat aku. "


Ghavin terkekeh melihat Luna yang ceria kembali Dalam hatinya dia selalu berdoa semoga Luna mendapatkan pria terbaik yang akan mencintai dan melindunginya kelak.


"Sekarang katakan pada papa, siapa sih pria yang sudah mengganggu pikiran anak papa yang cantik ini? " tanya Ghavin setelah pelukan Luna terlepas.

__ADS_1


"Arion... "


__ADS_2