
Arion kembali dengan langkah gontai, karena tidak mendapat ijin dari papa Luna untuk bertemu dengannya. Tidak ada celah sedikitpun bagi Arion untuk bisa bertemu dengan wanita yang sangat dia cintai.
Begitu juga Luna. Dia juga mendengar semua alasan papanya kenapa menolak Arion dan tidak mengijinkannya untuk bertemu dengan dirinya selama ini. Luna terkulai lemas diatas brankarnya dengan wajah sendu dan akr matanya sudah mengalir begitu saja. Dia menelungkupkan kepalanya pada lekukan kakinya. Dia tidak percaya papanya begitu tega kepadanya. Papanya sudah tega memisahkan Luna dari pria yang dia cintai. Bahkan untuk menghubunginya lewat ponsel pun dia tidak diperbolehkan. Papanya begitu kejam. itulah yang dipikirkan Luna saat ini.
Luna meneruskan mogok makan dan minumnya. Kalau bisa dia ingin mati saja sekarang. Tapi dia masih percaya kalau Arion pasti akan datang menjemputnya. Karena itu dia masih bertahan sampai saat ini.
Papanya juga sudah tidak peduli, dengan Luna yang melakukan Mogok makan dan minum sebagai bentuk protesnya kepada sang papa. Hanya Lucas yang bisa menyuapi nya makan, itupun hanya 2-3 sendok saja yang masuk ke dalam perutnya.
Hingga malam itu, Luna mulai angkat bicara.
"Aku mau pulang. " hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Luna.
Dan sebuah kalimat itu, membuat Semua orang bahagia, karena akhirnya Luna mau bicara. Eliza sang mama lalu meminta kepada Ghavin untuk segera mengurus kepulangan Luna. Mungkin saja Luna sudah jenuh di rumah sakit dan ingin kembali. Dan mungkin saja nanti sesampainya di rumah, Luna mau makan dan menurut lagi kepada mereka. Itu harapan Eliza waktu itu.
Akhirnya malam itu juga Luna dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya. Namun fak adaagi seoatah kata yang keluar dari mulut Luna. Dia tetap diam membisu. Bahkan setelah sampai di rumah, dia langsung masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintunya. Dia tidak ingin di ganggu siapapun saat ini
Kabar pulangnya Luna pun, sudah di ketahui Arion. Dia lalu menyusul Luna ke rumahnya. Setidaknya walau tidak bisa bertemu, dia bisa memandang kamar Luna dari jauh.
"Lun, aku disini.... aku ada di depan rumahmu. " lirih Arion yang berada di samping mobilnya dan menatap kamar Luna yang sudah gelap.
Beberapa saat Arion di sana. Hingga dia merasa lelah karena pulang bekerja, dan kembali ke rumahnya.
Di dalam kamarnya, Luna melihat dari kaca jendelanya, sosok Arion yang berdiri beberapa saat disana.. Tanpa terasa air matanya mengalir. Sungguh Luna juga merindukan Arionnya. Tapi keras kepalanya sang papa tidak bisa di luruhkan oleh siapapun.
Meskipun di rumahnya, tapi Luna tetap saja enggan memasukkan makanan nya ke dalam mulutnya. Dia juga selalu mengunci pintunya, dan enggan bertemu dengan papa dan mamanya. Hanya Lucas yang dia terima untuk masuk ke dalam kamarnya.
Pagi hari itu, Luna mendengar keributan dari luar rumahnya, dia lalu keluar dan melihat dari jendela kamarnya, apa yang terjadi. Luna langsung menutup mulutnya saat melihat Arion datang dan berteriak di depan pagar tinggi kediaman Gavin Antony.
__ADS_1
"Luna... gue kangen sama lo. Gue pengen ketemu sama Lo. " teriak Arion yang memancing keributan.
Kalimat itu terus yang di teriakkan Arion kepada Luna.
Gavin yang merasa jengah dengan tingkah Arion pun segera keluar dan mengusirnya dengan kasar. Dan Luna melihat, papanya memukuli Arion. Tapi Arion tetap diam tak membalas menerima setiap perlakuan dari Gavin.
Karena tidak tahan Luna masuk ke dalam kamarnya, dan menangis sejadi-jadinya. Lucas yang melihat hal itupun segera masuk ke dalam rumah, dan menenangkan saudaranya itu.
Dia langsung menuju kamarnya dan segera membuka pintu balkon. Dan masuk ke kamar Luna melalui pintu balkon kamarnya. Dilihatnya Luna yang tidur telungkup sambil menangis. Lucas langsung mendekat, dan memeluk tubuh saudaranya yang sudah sangat kurus itu. Sepertinya tubuhnya kini hanya tinggal tulang dan kulit saja. Karena sudah hampir satu minggu dia tidak mau makan.
"Papa jahat Luc... papa jahat sama Aku dan Arion. Papa hanya mementingkan keegoisannya saja. " tangis Luna di pelukan saudaranya.
"Tenangkan dirimu Luna. Lihatlah, tubuhmu semakin kurus begini. Apa kamu tidak kasihan kepada Arion, bagaimana perasaannya jika melihatmu seperti ini. " kata Lucas sambil menepuk-nepuk punggung saudaranya itu.
"Aku tidak peduli, jika papa tetap seperti ini, biarlah aku mati kelaparan. "
" Tidak, papa tidak menyayangiku. Buktinya dia tidak membiarkanku bersama dengan Arion. Aku hanya ingin Arion, Luc. "
Lucas terdiam tidak menjawab lagi, Saat ini yang Luna inginkan hanya Arion saja. Kini Lucas tau, dari mana sikap keras kepala Luna berasal. Dari mana lagi kalau bukan dari sang papa.
Lucas lalu mengusap air mata Luna yang terus mengalir dipipinya, dan menangkupnya dengan kedua tangannya.
"Papa pasti akan berubah pikiran. Bersabarlah. "
Luna tidak menjawab, karena dia tau papanya tidak akan semudah itu untuk berubah pikiran.
Melihat saudaranya yang sudah tenang, Lucas kemudian meninggalkan Luna sendiri.
__ADS_1
*
Di Perusahaan Abraham,
Wajah Arion yang tampan kini babak setelah di pukuli Gavin pagi ini. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan beberapa bogem mentah dari Gavin. Hanya karena dia ingin bertemu dengan orang yang dia cintai. Sungguh kejam Gavin.
"Bos, Apakah anda akan tetap seperti ini ? Diam begitu saja saat dipukuli orangtua itu. " tanya Marco yang sedang mengobati luka lebam bosnya.
Dia menyaksikan sendiri bagaimana Gavin memukuli bosnya itu tanpa perlawanan. Padahal jika Arion mau melawan, hanya dengan sekali pukulan Orang itu pasti sudah terkapar.
"Aku tidak akan memukul papa dari wanita yang aku cintai, Marco. Dia adalah orang yang sangat berharga untuk Luna. Jadi aku menghargainya sebagai seorang papa. "
"Dia sangat beruntung memiliki seorang papa yang sangat mencintai anaknya. Andai papaku masih hidup, dia juga pasti melakukan hal yang sama kepada Dinda. yang tidak ingin anak gadisnya bersama dengan pria brengsek sepertiku. " kata Arion sambil terkekeh.
"Aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran anda tuan muda. Padahal di luar sana banyak sekali wanita yang mengejar-ngejar anda, bahkan mereka lebih cantik dari Luna. Tapi kenapa anda tidak bisa berpaling dari Luna. " tanya Marco yang sebenarnya sejak dulu penasaran dengan hati tuannya ini.
"Jika kamu menanyakan hal itu, aku sendiri tidak tau jawabannya. Karena hatiku tidak tau kepada siapa dia memilih dan berlabuh. Hatikulah yang sudah memilih Luna. Aku sendiri tidak tau alasannya. Kenapa hatiku memilihnya?" jawab Luna santai, karena memang itu yang dia rasakam selama ini..
Pulang kerja, Arion tidak langsung pulang ke rumahnya, dia lagi-lagi mampir ke rumah Luna. Hanya untuk melihat jendela rumahnya yang sudah gelap. Berharap Luna mau keluar, dan mereka akan saling berpandangan walau hanya lewat jarak jauh. Seperti adegan film Romeo dan Juliet. Tapi sayang, harapan Arion dua malam inj tidak terkabulkan. Karena kamar Luna selalu gelap saat dia kesana.
"Apakah Luna sudah tidur? " pikir Arion waktu itu. Sekitar dua jam Arion berdiri di sana dan hanya memandangi kamar Luna. Tapi kamar Luna tetap gelap. Hingga akhirnya dia merasa lelah dan segera pergi dari sana.
Tanpa Arion sadari, Sebenarnya Luna juga melihat nya. Sudah dua hari ini dia melihat Arion berdiri di depan rumahnya dan memandangi kamarnya. Begitu juga Gavin. Gavin juga melihat kelakuan Arion malam ini, yang berdiri di depan rumahnya, dan memandangi kamar anaknya.
"Cih... Aku tidak akan pernah membiarkanmu bersama dengan anakku. Aku masih ingat kekajaman ayahmu, yang sudah menghancurkan usahaku waktu itu."
"Walau itu hanya sebuah ketidak sengajaan, aku tetap membencimu William Abraham. Sekarang giliranku yang akan menghancurkan anakmu " gumam Gavin dengan Tangan mengepal dan gigi yang bergelatuk.
__ADS_1