ARION The Trouble Maker

ARION The Trouble Maker
Bentakan Ghavin


__ADS_3

Di kediaman Arion semua orang sedang menunggu kedatangan tuan muda itu yang sudah menghilang sejak siang tadi bersama Marco.


Arion masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang sangat berbunga-bunga. Senyumannya tak lekang dari bibir Arion. Semua orang yang melihat tingkah Arion itu, jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada tuan muda mereka ini.


"Aku ke kamar dulu. Setelah itu kita makan malam bersama. "


Tanpa mendengar jawaban dari teman-temannya Arion segera melangkah ke lantai dua tempat kamar nya berada. Dia segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk membicarakan sesuatu dengan mereka bertiga.


Sedangkan di bawah, Marco langsung mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari kedua temannya. Tentang apa saja yang terjadi hari ini kenapa tuan muda mereka kembali dengan wajah berbinar seperti itu.


"Ceritakan pada kami, apa yang terjadi pada tuan muda Arion. " tanya Ray yang merasa penasaran dari tadi.


Marco lalu menunjukkan sebuah foto Arion dan Luna sedang bergandengan tangan, yang ia ambil dari belakang.


"Ini tuan muda?" tanya Ray tak percaya, dan diangguki oleh Marco.


"Lalu perempuannya? " kini giliran Mona yang bertanya


Marco menghembuskan nafasnya kasar. "Sepertinya dia adalah wanita yang akan tuan muda perjuangan kan. " ujarnya.


"Benarkah? " ucap Ray dan Mona bersamaan, dan mendapat anggukan dari Marco.


"Sudah dulu, aku akan mandi. Kalian persiapkan makan malam. Sepertinya ada serius yang akan kita bahas setelah ini. " ucapan Marco langsung diangguki oleh Ray dan Mona.


Setelah makan malam siap, semuanya sudah berkumpul di meja makan termasuk Dinda. Selama ini Dinda selalu ditemani dua orang bodyguard wanita yang mengikuti kemanapun dia pergi. Karena Arion tidak ingin kecolongan lagi, melihat adiknya depresi seperti itu selama bertahun-tahun sangat menyiksa batinnya.


Mereka makan malam dengan tenang tanpa ada yang bersuara, hanya ada suara sendok dan garpu yang berdenting mengisi kesunyian itu.


"Aku sudah selesai. " Arion lalu berdiri dan hendak beranjak dari meja makan. Kalian temui aku di tempat kerja.


"Baik tuan muda. " jawab mereka bertiga serempak.


"Kakak, aku ingin bicara." panggil Dinda saat melihat kakaknya hendak pergi


"Ayo ikut kakak. "


Dinda pun langsung berlari mengejar kakaknya itu.


Di ruang kerja.


Arion sedang duduk berhadapan dengan adiknya.


"Ada apa, Din? " tanya Arion saat Dinda tidak juga bersuara.


"Aku kapan kuliah kak? " tanya Dinda sedikit takut.


"Kamu mau kuliah? " tanya Arion dengan memicingkan matanya.


Pertanyaan Arion langsung diangguki Dinda.


"Setelah urusan kakak selesai ya? Kakak tidak mau, Orang-orang itu memanfaatkan Dinda untuk melemahkan kakak. Kakak tidak ingin Dinda kenapa-kenapa. Sabar ya? Setelah semua selesai, Dinda ingin apapun akan kakak berikan. " ujar Arion menghibur adiknya.

__ADS_1


"kakak Janji ya? "


Arion mendekati adiknya. Lalu memeluk adik nya itu, keluarga satu-satunya yang ia miliki.


"Iya, sayang. Kakak janji. Kakak akan melakukan apapun untuk Dinda, asalkan Dinda tetap baik-baik saja. Kakak tidak ingin Dinda terluka. Dinda mau kan menurut sama kakak? "


Dalam pelukan Arion, Arion bisa merasakan Dinda mengangguk.


"Anak baik. Sekarang kembalilah ke kamar, Kakak mau melakukan sesuatu dengan mereka bertiga. " Tunjuk Arion kepada tiga orang yang berdiri di luar pintu.


Dinda lalu mencium pipi kakaknya itu, lalu dia segera keluar dari ruang kerja.


"Kalian bertiga masuklah. " perintah Arion.


Ketiganya pun langsung masuk dan duduk di kursi masing-masing.


"Mona, apa kau sudah menemukan sesuatu dirumah Kinara dan dirumah ku ? " tanya Arion kepada sang peretas.


"Belum. Aku harus memeriksanya dengan seksama, tuan. Tapi alu menemukan sebuah fakta saat aku meretas cctv di rumah Kinara. " ujar Mona.


"Apa? " tanya Arion penasaran.


Mona langsung memberikan sebuah flashdisk . Karena rekaman sebelumnya telah ia pindahkan ke dalam flashdisk itu. Marco dengan cekatan mengambilkan laptop tuan mudanya dan menaruhnya di meja. Arion segera memasang flashdisk itu agar mengetahui apa yang terjadi disana.


Matanya terbelalak saat melihat isi rekaman yang diberikan Mona kepadanya. Dia tidak menyangka kalau selama kelakuan tantenya itu sudah diluar kendali. Apa selama ini om Ali tidak tau dengan kelakuan istrinya itu.


"Kerja bagus Mona. Lanjutkan. " Arion mengapresiasi kerja sahabat melambai nya itu.


"Untuk Besok, Kalian Marco dan Mona akan ikut aku ke kantor polisi. Sedangkan Kau Ray,tetap di perusahaan. Selesaikan pekerjaan yang harus aku tangani. "


"Baik tuan. "


"Aku ingin bertemu dengan om kesayangan ku Dan menyuruhnya membuka kasus kematian papaku lagi. Dan kali ini aku tidak akan mundur, Aku ingin menghukum siapapun yang terlibat. Jika mereka tidak mampu mengeksekusi nya, maka aku sendiri yang akan mengeksekusi mereka. " ujar Arion dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Mona, malam ini aku minta padamu cari bukti apa saja yang ada di rumah Kinara. Untuk memberatkan kasusnya. "


"Baik tuan. "


"Malam ini, sampai disini. Kalian boleh istirahat atau membantu Mona bekerja. Aku lelah sekali. " ujar Arion sambil keluar dari tempat kerjanya.


"Apa kalan percaya kalau tuan muda akan langsung beristirahat? " tanya Marco kepada kedua sahabatnya.


"Tentu saja, mau apalagi dia. " Ray yang menjawab.


"Menunggu telpon dari pujaan hatinya. "


"Apa? " Pekik Ray dan Mona bersamaan. Dan di angguki Marco.


Di kamar,


Arion segera membuka ponselnya dan mendapatkan beberapa pesan chat yang masuk. Dia tersenyum sendiri saat melihat pesan-pesan itu yang berisi foto-fotonya bersama Luna. Lalu mengambil salah satunya untuk dipasang sebagai wallpaper.

__ADS_1


Tak lama sebuah panggilan video masuk, bibir Arion langsung menyunggingkan senyumnya, lalu segera menggeser tombol hijau itu. Seketika yang muncul adalah wajah Luna yang memenuhi layar ponselnya.


"Hai Arion. " Sapa Luna dengan senyuman manisnya.


Arion pun membalas sapaan Luna dengan senyuman nya juga.


"Kau sedang apa? " tanya Luna basa basi.


"Sedang mengangkat telpon dan memandang wajahmu. "


Blush wajah Luna yang seputih susu itu pun langsung memancarkan rona merah di pipinya, bisa-bisanya Arion menggodanya. Eh, tapi ini bukan godaan, mamang Arion sedang mangangkat telpon darinya kan?


"Apa kau tadi tidak dimarahi papa atau mamamu?" tanya Arion


"Tidak."


"Baguslah... "


Mereka saling berpandangan dan mengagumi satu sama lain melalui panggilan Video ini. Hingga suara ketukan pintu di kamar Luna membuyarkan keasyikan mereka.


"Luna boleh papa masuk? "


"Masuk saja pa, tidak di kunci. " Luna langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal tanpa mematikan telponnya.


"Ada apa pa? " Tanya Luna saat papanya sudah berada di dalam kamarnya.


"Papa mau tanya, apa kamu sudah putus sama Alex? " tanya Ghavin langsung pada intinya.


Luna yang terkejut, langsung menganggukkan kepalanya.


"Kenapa? apa papa boleh tau alasannya? "


"Karena Luna, sudah tidak mencintai Alex pa."


Papa Ghavin mengernyit, kalau tidak saling cinta kenapa bisa bertahan sejauh ini.


"Sejak kapan kamu tidak menyukai Alex? "


"Tepatnya Luna tidak tau, tapi yang Luna rasakan sejak tiga tahun lalu Luna sudah tidak mencintai Alex. Karena Luna mencintai pria lain. "


"Pria kedua yang waktu itu? "


Luna mengangguk. "Iya, Arion. Luna sangat mencintainya pa. "


"Tapi kan dia sudah pergi, Luna. Untuk apa kau mempertahankan orang seperti itu. "


"Dia sudah kembali, Dan aku akan memperjuangkan cintaku ini pa. " ujar Luna yang mulai membantah ucapan papanya.


"Lihatlah, belum apa-apa kau sudah berani membantah papamu. Apa jadinya jika dia bersamamu, Luna. " bentak Ghavin lalu meninggalkan kamar Luna dan membanting pintu kamarnya.


Luna tidak menyangka papanya akan semarah itu jika dia berhubungan dengan Arion.

__ADS_1


Sedangkan di seberang sana, Arion mengepalkan tangannya dengan erat setelah mendengarkan ucapan Ghavin.


__ADS_2