
Gavin terdiam dalam keterpurukan. Dia tidak menyangka kalau anaknya akan melakukan hal nekat seperti ini, padahal sebelumnya dia bersikap sangat manis. Dan mengatakan apa yang ingin dia dengar, yaitu dia ingin melupakan Arion. Tapi cara Luna melupakan Arion lebih Ekstrim dari yang dia kira. Dia tidak habis pikir kenapa dia harus melakukan ini semua hanya demi seorang Arion?? Apakah anaknya sangat mencintai Arion?
Eliza sendiri sudah tidak peduli dengan suaminya yang egois itu. Dia masih sangat kesal padanya, karena sifat keras kepalanya itu dia hampir kehilangan anak perempuan satu-satunya. Eliza terus saja memperhatikan proses transfusi yang dilakukan Lucas kepada saudaranya melalui jendela kaca. Dia kemudian menelpon asisten rumah tangganya, untuk mengirimkan beberapa pakaian untuknya, Lucas dan Gavin ke rumah sakit. Karena sekarang dia sudah tidak merasa nyaman dengan pakaian yang penuh dengan darah itu.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Lucas keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang pucat. Karena dia hampir memberikan dua kantong darah untuk saudaranya itu.
"Bagaimana keadaanmu, nak? " tanya Eliza kepada Lucas.
"Aku baik-baik saja, ma. " kata Lucas dengan wajah yang masih pucat.
"Syukurlah." Eliza merasa lega dengan apa yang dia dengar. "Duduklah, aku sudah meminta asisten rumah tangga untuk mengantarkan pakaian ganti untuk kita. " Eliza lalu meminta anaknya untuk duduk di kursi tunggu.
Beberapa saat kemudian seorang perawat mengantarkan berapa kotak susu kepada Lucas.
"Ini untuk anda tuan, semoga cepat pulih. " ujar perawat itu sambil memberikan susu itu kepada Lucas.
"Terima kasih sus. "
"sama-sama. "
Lucas segera meminum susu itu, agar tenaganya segera kembali pulih. Dia memperhatikan sekelilingnya, dan dilihatnya sang papa sedang menunduk dan termenung. Dia lalu mendekati papanya dan duduk di sampingnya.
"Jika papa menyesal, papa harus menemui Arion sebelum dia pergi dari negara ini. Dan meninggalkan Luna selamanya. " kata Lucas yang mencoba menyadarkan papanya.
"Aku tidak tahu lagi, apa yang akan terjadi pada Luna. Jika dia mengetahui Arion sudah tidak ada di negara ini lagi. Dan aku tidak mau melihat luna terluka atau mati karena keegoisan papa. Aku akan sangat membenci papa jika itu sampai terjadi, dan akan meninggalkan papa. Aku akan menanggalkan nama Antony dibelakang namaku, karena aku tidak mau mengingat keegoisan papa kepada anaknya." Kata Lucas lalu meninggalkan papanya.
Dia kemudian merogoh ponselnya dan segera menghubungi Arion. Mungkin saja Arion mau. mengangkat panggilan darinya.
Berkali-kali Lucas menghubungi Arion, tapi tetap suara wanita cantik dari operator yang menyapa.
"Kemana kamu Arion... Ah sial... "
Lucas lalu menghubungi Leo, setelah dia tidak bisa menghubungi Arion.
"Hallo Le,"
__ADS_1
"Hallo Luc, ada apa? tumben? "
"Apa kau tau dimana rumah Arion. "
"Tidak, kami tidak tau dimana alamat rumah Arion saat ini. Dia penuh misteri sekarang. Memangnya. ada apa? " tanya Leo yang masih tidak tau kegundahan hati Lucas.
"Luna... Le.. " kata Lucas dengan sedikit terisak saat mengingat keadaan saudaranya tadi.
"Luna? kenapa Luna? " Leo ikut bingung mendengar nama Luna di sebut.
"Dia melakukan percobaan bunuh diridiri, Le. " kata Lucas pada akhirnya.
"Apa? Nggak mungkin. Dimana lo sekarang."
Lucas lalu memberitahukan dimana mereka berada saat ini.
"Oke, gue kesana sekarang. " Leo langsung pergi ke tempat Luna di rawat dengan mebggunakan motor kesayangan nya.
*
*
Arion sedang berada di balkon kamarnya saat ini, dia sedang memandang langit malam. Setelah mendapat telpon dari pilot pesawat nya yang berada di Jerman. Kalau mereka tidak bisa berangkat malam ini, karena cuaca di Jerman sedang buruk selama beberapa hari ini. Mereka tidak mungkin mengambil resiko, karena yang harus bawa tuan muda mereka. Setelah keadaan cuaca membaik mereka akan segera berangkat menjemput tuan mudanya.
Arion memandang langit yang sedang mendung malam ini. Seperti hatinya yang merasa tidak nyaman sejak sore tadi.
"Lun, apa kamu sudah membaca suratku? semoga kamu baik-baik saja. "
Setelah puas memandangi langit dan menghirup angin malam, Arion segera masuk ke dalam kamarnya, dia ingin memejamkan matanya. Karena dia harus ke perusahaan besok sebelum dia kembali ke Jerman.
"Kenapa perasaanku tidak nyaman. " gumam Arion sebelum memejamkam matanya.
*************
Leo sampai di rumah sakit tempat Luna di rawat. Dia melihat Lucas dan mamanya yang sedang duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"Luc, bagaimana keadaan Luna. " tanya Leo yang langsung duduk di samping Lucas.
"Belum sadar. Entahlah. " jawab Lucas singkat.
Waktu sudah menunjukkan dini hari, itu artinya Luna sudah tidak sadar selama kurang lebih lima jam, Mereka semua mendengar pintu ruangan terbuka, dan beberapa perawat mendorong brangkar Luna keluar dengan wajah yang sudah tak sepucat tadi. Disusul dokter yang harus berbicara kepada keluarga pasien.
"Ada apa dok, mau dibawa kemana anak saya. " tanya Eliza yang mulai merasa panik.
"Tidak apa-apa nyonya, kami akan memindahkan nona Luna ke tempat perawatan. Keadaannya sudah membaik, dan semua sudah stabil. denyut nadi dan jantungnya sudah normal. Jika saya menangani kasus seperti ini mungkin paling lama pasien tak sadarkan diri sekitar dua sampai tiga jam saja. Tapi untuk kasus Nona Luna sepertinya berbeda. " kata dokter dengan menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa maksud anda dokter? " tanya Eliza yang tak mengerti maksud dokter yang merawat Luna.
"Sepertinya nona Luna lebih nyaman tidur di alam bawah sadarnya. " kata dokter kemudian.
XMaksud dokter? anak saya... "
"Iya seperti dugaan anda.Kita akan tunggi sampai besok siang. Jika sampai besok siang dia tidak sadarkan diri, Kemungkinan anak anda koma. s
Sehingga dia lebih nyaman tertidur di alam bawah sadarnya. Apakah sebelum ini terjadi, telah terjadi sesuatu yang menyedihkan atau membuatnya kecewa dan terluka?. " tanya dokter itu lagi.
Eliza dan semua orang terdiam tak ada satupun yang menjawabnya.
"Maaf bukannya saya mau ikut campur. Jika ini masalah percintaan anak muda. Sebaiknya anda datangkan seseorang yang telah membuatnya seperti ini. Mungkin nona Luna akan segera sadar dan bangun setelah kehadirannya. " ujar dokter itu lagi.
"Saya permisi, nyonya. Oh, ya. Nona Luna sudah kami tempat kan di kamar VVIP sesuai permintaan tuan Lucas tadi. " ujar dokter sebelum undur diri.
Eliza langsung memeluk Lucas, dan mereka berdua berjalan menuju kamar rawat Luna, tanpa memperdulikan Gavin di belakang mereka. Sungguh kehadiran Gavin saat ini seperti seperti makhluk tak kasat mata. Karena walau pun ada, tapi keluarganya menganggapnya tidak ada.
"Luna koma, Lucas. Apa yang harus kita lakukan? " Eliza terus bergumam sampai mereka sampai di depan ruangan rawat Luna.
Eliza, lucas dan Leo masuk ke dalam ruangan. Namun saat Gavin akan masuk, Suara dingin Elizza menghentikannya.
"Kau tidak perlu masuk. Renungi kesalahan mu di luar. Kau yang sudah membuat Luna seperti ini. Jadi kau yang harus bertanggung jawab. " kata Eliza dengan wajah tanpa ekspresi. Hanya kekecewaan yang dia rasakan saat ini kepada suaminya.
"Jika kau mengharapkan maaf dari kami. Bawa Arion kemari, karena hanya dia yang akan membuat Luna sadar. Jangan pernah berharap kamu bisa melihat Luna, sebelum kau membawa Arion datang kemari. " Eliza langsung menutup pintu ruangan dan me guncinya, agar Gavin tidak bisa masuk.
__ADS_1
Mendengar reaksi dari istrinya, dia tidak bisa berkutik, dia bahkan akan mencari semua orang yang masih bisa bicanya.
Gavin hanya bisa pasrah mendengar ucapan dari istrinya dan mendapatkan perlakuan seperti ini. Karena memang ini adalah salahnya, yang sudah membuat anaknya jadi seperti ini.