Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
11. Pingsan


__ADS_3

Dengan kenekatan luar biasa. Nathan akhirnya menuju kediaman Bagaskara. Dia tidak memperdulikan bahwa dirinya dan Bagaskara adalah saingan sejak dulu.


Begitu sampai dekat di aman keluarga Bagaskara Nathan langsung turun dari mobilnya. Untuk beberapa saat lamanya Nathan terlihat ragu-ragu dan berniat untuk kembali ke Mansion miliknya.


Namun Nathan merasa kepalanya begitu pening dan perutnya merasa sangat mual. Sehingga akhirnya Nathan memaksakan diri untuk membunyikan bel kediaman Bagaskara berharap bisa bertemu dengan Delima.


" Apakah saya bisa bertemu dengan Nyonya Delima?" tanya Nathan saat dia melihat seorang wanita yang membuka pintu rumah. Pembantu merasa heran melihat wajah Nathan yang wajahnya sudah pucat seperti kapas.


Sejak kemarin kesehatan Nathan memang sudah terganggu. Dia yang tidak mau memperdulikan kesehatannya sendiri dan nekat datang ke kediaman itu hanya untuk bertemu dengan Delima.


" Maafkan saya, Aden siapa ya?" tanya pembantu yang membuka pintu rumahnya Delima dengan heran.


Namun tiba-tiba saja Nathan jatuh pingsan tepat di depannya. Kebetulan pada saat itu Delima juga keluar dari kamarnya.


" Ada apa Bi? Siapa itu yang jatuh di depan?" tanya Delima merasa bingung.


" Ini non, Bibi juga tidak tahu siapa dia. Dia datang kemari mencari Non Delima. Waktu Bibi tanya dia siapa eh dia malah jatuh pingsan!" ucap Bibi sambil melihat Delima yang terlihat sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kantornya.


Delima pun kemudian mendekati laki-laki yang jatuh tadi yang belum dia ketahui bahwa itu adalah Nathan. Karena wajahnya yang tidak kelihatan dari tempat dia berdiri saat ini.


" Nathan?" Delima sangat terkejut ketika melihat Nathan yang saat ini jatuh pingsan di depan pintu rumah ayahnya.


Delima kemudian memanggil security yang bertugas di rumahnya untuk mengangkat tubuh Nathan ke dalam kamarnya.


" Tolong ya Mang. Angkat ke dalam kamarku. Bibi Tolong ambilkan minyak kayu putih dan juga telepon dokter untuk datang kemari!" ucap delima memberikan perintah kepada orang yang bekerja di kediaman ayahnya.


" Siapa yang datang Delima? Kenapa ribut sekali?" tanya Bagaskara yang baru saja turun dari lantai dua, di mana kamarnya berada.

__ADS_1


" Nathan Pah dia pingsan!" ucap Delima.


Bagaskara mengurutkan keningnya mendengarkan laki-laki yang selama ini selalu menjadi saingan bisnisnya ternyata pingsan di depan rumahnya.


" Mau dibawa ke mana dia?" tanya Bagaskara merasa tidak senang melihat Nathan yang masuk ke dalam rumahnya.


" Ke dalam kamar Delima Pah. Masa mau membiarkan dia pingsan di depan pintu?" tanya Delima sambil menggelengkan kepalanya.


" Yang jadi bahan pertanyaan Papa. Kenapa dia harus masuk ke dalam kamarmu sayang? Bukankah di rumah ini banyak sekali kamar kosong yang bisa dia gunakan?" tanya Bagaskara sambil cemberut kepada putrinya.


" Dia adalah ayah dari anak yang sedang Delima kandung Pah." ucap Delima sambil menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap ayahnya yang langsung melotot kepadanya.


" Bagaimana bisa?" tanya Bagaskara bingung.


" Ya bisa lah Pah. Kan dia udah titip bibit kecebong di rahim Delima. Semua itu gara-gara Mas Abdi yang sudah menjebak dia dan memberikan obat perangsang kepadanya sehingga akhirnya kami melakukan hal itu." ucap Delima menjelaskan semuanya kepada ayahnya.


" Bi cepat telepon dokter! Kenapa lama sekali?" tanya Delima merasa sangat khawatir dengan kondisi Nathan yang wajahnya begitu pucat pasi.


Memang sejak terakhir kali Delima mengusir Nathan dari rumah Abdi. Mereka tidak pernah bertemu lagi dan baru bertemu sekarang.


Setidaknya itu menurut Delima. Padahal Nathan setiap hari selalu mengawasi Delima. Tapi Delima yang tidak tahu kalau semua gerak-geriknya selalu diawasi oleh Nathan melalui anak buahnya yang dia kirimkan.


Tetapi selama tiga hari ini, tubuh Nathan selalu saja sakit. Kepala nya sering pusing dan kadang mual. Tubuh Nathan sudah lemas karena harus bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Sehingga dia tidak memiliki waktu untuk memeriksa laporan yang diberikan oleh detektif yang dia kirim untuk selalu mengawasi Delima.


Hal itulah yang menjadi alasan kenapa Nathan tidak menemu mengetahui tentang Delima yang sudah keluar dari kediaman Abdi.


Abdi dan Delima sekarang sedang dalam proses perceraian karena Delima yang sedang hamil. Sementara Abdi tidak merasa pernah menyentuh istrinya.

__ADS_1


Sementara itu Bagaskara juga sudah tidak mau lagi memberikan uang untuk Abdi. Karena dia sudah tahu bahwa putrinya tidak diperlakukan baik oleh suaminya.


Bagaskara menggunakan semua bukti pengiriman uang kepada Abdi untuk digunakan ke pengadilan kalau menantunya itu hanya memerasnya karena masalah adiknya Abdi yang tidak sengaja dia tembak.


Oleh karena itu Bagaskara tidak takut menghadapi ancaman Abdi maupun keluarganya yang mengatakan akan segera melaporkan Bagaskara ke polisi tentang kasus yang sudah lama sekali terjadi.


" Abdi memang benar-benar seorang laki-laki b******* dia rela melakukan apa saja untuk mendekatkan apa yang dia inginkan!" ucap Bagaskara tampak begitu geram mendengar penjelasan dari Delima.


" Sudahlah Pah tidak usah berbicara tentang Mas Abdul lagi. sekarang yang penting delima sudah bebas dari dia dan kami akan segera bercerai! Sekarang mari kita urus Nathan dulu!" ucap Delima sambil menatap Natan yang sampai saat ini masih belum siuman sementara dokter sejak tadi belum juga datang.


" Apakah kau mencintai Nathan?" tanya Bagaskara kepada putrinya.


" Delima tidak tahu apakah mencintainya atau tidak. Tapi yang jelas dia adalah laki-laki yang baik. Beberapa kali dia berusaha untuk menolong Delima dari kejahatan Mas Abdi!" ucap Delima sambil tersenyum kepada ayahnya yang mendengarkan semua penjelasannya dengan seksama.


" Kalau kau mencintainya. Papa akan mengusahakan agar dia bertanggung jawab dengan perbuatan dia yang sudah menitipkan bibit kecebong padamu. Sehingga mau hamil sekarang!" ucap Bagaskara kepada delima yang langsung terkejut mendengarkan perkataan ayahnya.


" Apakah papa serius? Bukankah selama ini kalian berdua adalah musuh abadi yang selalu menjadi pesaing dalam segala lini?" tanya Delima tidak percaya dengan ucapan ayahnya sendiri.


Terlihat Bagaskara menarik nafasnya dalam-dalam. Tampaknya dia juga tidak rela mengucapkan kata-kata itu tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan tidak mungkin bisa dijadikan beras lagi.


" Demi kebahagiaan kamu Papa rela mengalah untuk menekan semua ego dan melupakan permusuhan kami berdua!" ucap Bagaskara yang kemudian meninggalkan putrinya yang masih membeku di tempat.


Delima yang merasa bahagia sekali ketika mendengarkan perkataan ayahnya. Dia pun langsung berlari kepada ayahnya dan memeluk Bagaskara dengan erat.


" Terima kasih Papa atas segalanya!" ucap Delima sambil menangis di dalam pelukan Bagaskara yang merasa terharu dengan keadaan anaknya yang saat ini sedang hamil.


" Anak Papa sudah dewasa. Sudah waktunya Papa melepasmu untuk bersama dengan laki-laki yang mencintaimu. Tidak mungkin kau selamanya akan bersama dengan Papah kan?" tanya Bagaskara sambil mencubit hidung putrinya yang tercinta.

__ADS_1


__ADS_2