Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
39. Persidangan


__ADS_3

Abdi pagi itu tampak begitu lemas dan lesu. Karena dia akan menghadiri persidangan terakhirnya untuk memutuskan apakah perceraiannya dengan Delima akan disetujui oleh pengadilan atau tidak.


" Kamu kenapa lesu seperti itu Abdi?" tanya Rosa wajahnya masih ditekuk karena masih merasa jengkel kepada putranya yang sudah mengecewakan dirinya.


Walaupun Alona sekarang sudah tidak layak lagi untuk jadi melantunnya tetapi tetap saja sikap Abdi seperti itu benar-benar sudah membuat dirinya menjadi malu kepada Risma.


" Tentu saja aku lemes mah. Karena hari ini adalah keputusan dari pengadilan. Apakah perceraianku dengan Delima akan disetujui atau tidak oleh pengadilan." Ucap Abdi sambil menundukkan bokongnya di kursi dan bersiap untuk sarapan.


Rossa menghela nafas dengan begitu berat. Dia sebenarnya sejak semalam mulai keberatan. Kalau Abdi harus bercerai dengan Delima. Setelah dia mengetahui bahwa Delima memang menantu potensial untuk putranya. Setelah mengetahui semua kebenaran tentang Delima.


" Apakah perceraianmu itu tidak bisa dibatalkan? Mama kau rasanya tidak seru ya dengan keputusanmu untuk menceraikan dia." Rosa mulai syuting nya lagi di depan Abdi.


Abdi yang sudah terlalu hafal dengan akting dan juga kelakuan ibunya hanya bisa menggelengkan kepala.


" Bosa saja Mah. Aku batalkan gugatan itu. Asal aku rela melepaskan saham keluarga Prawira yang 10% itu dan juga harta gono gini yang ditawarkan oleh keluarga Bagaskara." Rosa auto melotot mendengarkan perkataan dari putranya.


" Apa kau serius?" melihat update yang menganggukkan kepala menurut sabun auto menggelengkan kepalanya," Kalau begitu lanjutkanlah perceraian kalian!! Mama dukung 100%!" Abdi hanya bisa tertawa miris mendengar ucapan ibunya yang seakan tidak memperdulikan tentang kesedihan maupun kebahagiaan untuk dirinya.


' Tampaknya bagi Mama harta adalah segalanya dan dia tidak peduli. Apakah aku bahagia ataukah sedih!' bathin Abdi merasa nelongso hatinya melihat Mamanya yang tidak mempedulikan dirinya sama sekali.


" Sabarlah Abdi!" ucapnya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Setelah selesai sarapan Abdi kemudian menuju ke garasi untuk meninggalkan kediamannya.

__ADS_1


" Mama ikut dengan kamu sayang! Mama ingin melihat laki-laki yang akan menikahi Delima setelah bercerai denganmu!" Abdi hanya bisa mengurus dadanya melihat kelakuan ibunya yang sepertinya benar-benar tidak memperdulikan. Apapun yang terjadi kepada dirinya.


Abdi hanya bisa menghela nafas berat. Tetapi dia pun tidak bisa untuk menghentikan ibunya yang ingin mengikuti dia ke pengadilan.


" Baiklah Mama boleh mengikutiku. Tapi ingat jangan membuat aku malu dengan kelakuan mama di pengadilan!" Abdi memberikan peringatan kepada ibunya yang selama ini selalu bersikap Barbar dan selalu membuat dia kesal dengan kelakuan minusnya.


Rossa melotot kepada Abdi ketika mendengar putranya mengatakan hal seperti itu padanya.


" Apa kau berpikir bahwa mamamu ini adalah seorang pembuat Keonaran?" tanya Rosa yang mulai kesal kepada putranya sendiri.


" Mau sudah mempermalukan Mama di hadapan Jeng Risma dan sekarang pun kau mau menghina Mama di hadapan mantan besan? Apa kau tidak merasa kalau kau adalah anak durhaka?" tanya rosa kepada putranya yang telah membuat dia merasa kecewa.


Abdi menghela nafasnya berat. Dia tahu bahwa dirinya telah membuat ibunya merasa tidak nyaman dengan apa yang dia katakan.


" Baiklah Mamaku sayang. Maafkan Abdi! Sekarang apakah kita bisa segera berangkat? Abdi takut kalau terlambat ke pengadilan gara-gara kita terus berdebat di sini!" Abdi akhirnya hanya bisa mengalah kepada ibunya yang benar-benar membuat dia merasa frustasi dengan semua kelakuan abstraknya.


Bahkan sekarang pun berada di luar negeri bukannya belajar dan mencari ilmu. Dia malah lebih suka untuk menghabiskan waktunya dengan para wanita yang menggilai ketampanan wajahnya.


" Ayo berangkat!" Rosa akhirnya mengeluarkan suaranya setelah melihat Abdi yang terus melotot kepadanya.


Setelah melakukan perjalanan hampir setengah jam lamanya. Mereka pun sampai di pengadilan. Di sana Abdi melihat Nathan dan Delima yang terus saja bergenggaman tangan satu sama lain.


" Tahanlah diri kalian masing-masing. Setidaknya sampai ketokan palu pengadilan yang meresmikan kita sudah bercerai!" ucap Abdi yang merasa tidak nyaman melihat kemesraan mereka di depan publik.

__ADS_1


Nathan hanya mengulas senyum kepada Abdi yang jelas-jelas memperlihatkan bahwa dia saat ini sedang cemburu kepada mereka berdua.


" Tuan Nathan dan nyonya Delima. Ayo kita masuk ke dalam karena pengadilan akan segera di mulai!" pengacara Nathan segera mengingatkan kepada kliennya untuk menjaga sikap selama berada di pengadilan.


Nathan dan Delima pun kemudian saling melepaskan genggaman tangan mereka dan masuk ke dalam pengadilan seperti orang asing.


Setelah persidangan yang berjalan hampir 3 jam lamanya. Akhirnya pengadilan pun memutuskan untuk menyetujui gugatan perceraian yang diajukan oleh Abdi kepada Delima. Semua yang hadir di dalam pengadilan tampak begitu bahagia kecuali wajah Abdi yang tampak begitu sedih karena memikirkan dirinya sebentar lagi akan menjadi orang asing bagi Delima.


" Aih, Lihatlah mereka yang begitu bahagia. Setelah kalian bercerai! Seakan pernikahan bersamamu selama hampir 6 tahun tidak berarti sama sekali di mata mereka semua," Rosa seakan menaburkan cuka ke dalam luka Abdi yang saat ini sedang menganga lebar.


" Sudahlah Mah! Mama tidak usah berkomentar macam-macam terhadap mereka. Semua perceraian ini adalah kesalahan dari keluarga kita yang sudah menipu mereka mentah-mentah! Sekarang sebaiknya ayo kita pulang dengan terhormat tanpa harus merendahkan harga diri kita semakin jauh!" Abdi menarik tangan ibunya yang tadi hendak membuat keributan kepada Delima dan keluarga Bagaskara.


Delima melirik sekilas kepada Abdi yang terlihat begitu suntuk wajahnya dan tidak bahagia sama sekali.


Nathan langsung memeluk Delima dengan penuh kebahagiaan yang luar biasa karena akhirnya niatnya untuk menikah dengan delima sebentar lagi akan segera terwujud.


" Sayang! Akhirnya kita sebentar lagi akan menikah Percayalah aku pasti akan memberikan kebahagiaan untukmu!" Nathan benar-benar sangat bahagia sekali karena impiannya yang setiap malam selalu dia pupuk dengan baik Akhirnya bisa segera terwujud setelah perceraian tersebut.


Delima hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum simpul kepada Nathan.


Nathan bisa merasakan bahwa saat ini Delima tidak sedang bahagia. Sejak tadi Delima terus melirik ke arah Abdi yang sepertinya sedih dengan keputusan pengadilan.


" Jangan katakan padaku, kalau kau menyesal dengan perceraian ini!" Nathan terlihat jengkel melihat Delima yang lesu dan tidak terlihat tidak bersemangat ketika meninggalkan pengadilan siang itu.

__ADS_1


Bagaskara dan Arjun terlihat saling berpelukan satu sama lain dan itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi Nathan maupun Delima.


" Lihatlah bahkan kedua orang tua kita sangat bahagia dengan perceraian mu!" Nathan berbisik di telinga Delima.


__ADS_2