
Setelah diberikan minyak kayu putih, Nathan kemudian siuman dia menatap ke sekeliling dan matanya terbelalak saat melihat Bagaskara dan Delima saat ini sedang berbicara dengan begitu serius.
" Aku sedang mengandung anaknya Pah. Setidaknya Papa harus memandang cucu Papa yang ada di dalam rahumku. Lupakanlah Persaingan di antara kalian. Bagaimanapun cucu Papa membutuhkan ayahnya tidak mungkin kan kalau aku harus merawat sendiri anak kami?" tanya Delima kepada Bagaskara yang terlihat diam mendengarkan perkataan putrinya yang memang ada benarnya.
Bagaskara terlihat berpikir keras kemudian dia tersenyum kepada Delima.
" Mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh bocah itu. Apakah dia akan bertanggung jawab dengan perbuatannya atau tidak. Kalau dia lari begitu saja dari tanggung jawabnya. Maka papa pasti akan menghancurkan perusahaannya dalam hitungan detik!" ucap Bagaskara dengan yakin.
Nathan yang saat ini kepalanya masih pusing sekali dan belum terlalu bisa berpikir keras. Dia masih bingung dengan isi pembicaraan keduanya. Lamat-lamat Nathan mendengar tentang cucu dan juga tanggung jawab.
" Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Nathan yang kemudian menyandarkan tubuhnya di dashboard ranjang.
Delima yang mendengar suara Nathan dia pun kemudian mendekati pemuda itu.
" Kamu sudah bangun? tadi aku melihat kamu pingsan di depan pintu jadi aku meminta Security untuk membawamu ke kamarku." ucap Delima dengan senyum manis.
Nathan kemudian berusaha untuk mengingat apa saja yang terjadi sejak dia meninggalkan rumahnya tadi pagi.
" Maafkan aku. Karena aku sudah merepotkan kalian. Aku tidak mengerti dengan fisikku akhir-akhir ini. Entahlah. Aku tidak mengerti. kenapa sangat lemah sekali badanku akhir-akhir ini. Aku sekarang sering pusing dan mual setiap pagi. Sungguh benar-benar sangat aneh!" ucap Nathan menceritakan apa yang terjadi terhadap dirinya.
" Wah rupanya cucuku ingin diakui oleh ayahnya dengan menunjukkan eksistensinya di dunia ini kepada ayahnya. Lihatlah dia! Dia sudah langsung menyerang ayahnya sendiri. Walaupun kita belum memberitahukannya tentang keberadaannya di dunia ini!" ucap Bagaskara tampak begitu senang dengan apa yang dikatakan oleh Nathan.
Nathan mengerutkan keningnya karena dia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Bagaskara.
" Maafkan saya bisa dijelaskan maksud dari perkataan Anda?" tanya Nathan sambil terus memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing. Nathan langsung berlari ke arah kamar mandi ketika dia merasakan perutnya begitu mual saat mencium aroma masakan dari dapur kediaman Bagaskara.
__ADS_1
Delima mengikuti Nathan ke kamar mandi dan menolongnya Untuk meringankan mual yang dirasakan oleh pemuda itu.
" Kau baik-baik saja?" tanya Delima merasa tidak tega melihat keadaan Nathan yang wajahnya tampak begitu pucat dan lemas.
" Ya ampun!!! Kenapa ini dokter dari tadi gak datang-datang?" ucap Delima yang terlihat frustasi melihat keadaan Natan yang sudah hampir tiga kali bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Delima kemudian mengambil ponselnya. Ingin memastikan sendiri keberadaan sang dokter yang dipanggil oleh pembantunya tadi.
" Paman! Kenapa lama sekali lama sekali? Paman ada di mana sekarang?" tanya Delima yang sudah mulai kesal karena sejak tadi melihat Nathan yang bolak-balik terus ke kamar mandi dan dia benar-benar tidak tega melihatnya.
" Iya. Ini Paman sudah masuk pintu gerbang kediaman kalian kok. Tunggu sebentar!" kemudian panggilan telepon pun diakhiri.
Bagaskara terlihat begitu kasihan melihat Nathan yang sampai lemas tubuhnya dan hampir tidak bisa bangkit lagi dari atas kasur.
Mendengarkan perkataan ayahnya Delima pun langsung mengkeplak tangan sang ayah dan melotot ke arahnya.
" Papa ini bicara apa sih? Dia itu Ayah dari calon anakku Pah. Jadi Papa tidak usah banyak bergaya!" ucap Delima sambil melotot ke arah ayahnya yang sontak langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nathan antara sadar dan tidak merasa terkejut mendengarkan perkataan dari Delima. ' Aku seorang ayah? Apakah itu artinya Delima sedang mengandung anakku?' bathin Nathan seperti belum percaya dengan pendengarannya sendiri.
" Kau ini belum juga menikah dengannya. Tapi kau sudah berani dan tega menganiaya ayahmu hanya untuk membela dia!" ucap Bagaskara misuh misuh.
Nathan sampai terkesiap melihat Bagaskara. Pria yang selama ini dia kenal sebagai seorang bisnisman yang berdarah dingin. Ternyata bisa melakukan hal seperti itu di hadapan Putri tercintanya.
' Apakah benar kalau dia itu adalah Bagaskara yang kukenal?' bathin Nathan dia benar-benar seperti terdampar di dunia asing yang tidak dikenali ketika melihat Bagaskara yang begitu akrab dan dekat dengan Delima.
__ADS_1
" Habisnya Papa ini ada-ada saja. Masa gitu sih sama ayah calon cucu sendiri?" tanya Delima yang begitu kesal dengan kelakuan ayahnya yang terlalu absurd.
Ketika Bagaskara hendak membalas ucapan putrinya. Terlihat seorang laki-laki paruh baya tergopah-gopoh masuk ke dalam kamar Delima. Delima langsung menyambut pria itu dan mengajaknya untuk memeriksa Nathan.
" Maaf ya Paman terlambat. Tahu sendiri kan? Kalau jam seperti ini adalah jam super-super sibuk di Jakarta." ucap dokter itu meminta maaf kepada delima dan juga Bagaskara.
" Om tolong periksa laki-laki itu. Dia sudah muntah hampir lebih dari 10 kali sejak 1 jam terakhir ini." ucap Delima sambil matanya menatap natap yang begitu lemas.
Saat ini Perasaan Nathab benar-benar kacau. Dia tidak bisa berpikir sama sekali. Apalagi tubuhnya yang saat ini sangat lemas luar biasa gara-gara di ganjar oleh perutnya yang terus mual dan bergolak.
" Dia tidak apa-apa kok. Dia hanya mengalami sindrom seorang ayah saat istrinya sedang hamil!" ucap sang dokter sambil tersenyum kepada Nathan.
" Tampaknya Anda sangat mencintai istri anda ya? Bahkan sampai menggantikan istri anda yang sedang mengidam! Selamat ya Tuan atas kehamilan istri anda!" ucap dokter itu yang sukses membuat Nathan menjadi pening seketika.
" Aku belum menikah dokter. Bagaimana mungkin aku bisa mempunyai istri?" tanya Nathan tampak begitu frustasi.
Dokter itu pun menatap Delima dan Nathan bergantian. Seketika Dia mengerti situasi yang sedang terjadi di rumah Bagaskara.
" Delima, Apakah dia ayah dari anak yang sedang ke kandung?" tanyanya pada keponakannya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
Delima tidak berani menatap ke arah Nathan yang terus menodongnya dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Nathan terlihat begitu lemas ketika melihat delima yang menganggukkan kepalanya.
' Ya Tuhan! Apa itu artinya aku benar-benar akan menjadi seorang ayah?' bathin Nathan yang tubuhnya semakin lemas.
__ADS_1