Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
52. Usaha Abdi


__ADS_3

Abdi yang awalnya pergi ke Amsterdam ingin menenangkan diri dan juga merubah dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Abdi mulai berubah pikiran karena dia menyadari bahwa ternyata dirinya telah mencintai Delima secara mendalam. Abdi tidak rela berpisah dengan wanita yang hampir 5 tahun lebih menjadi istrinya namun telah disia-siakan karena seorang Alana yang dia cintai yang dia pikir lebih sempurna dari Delima.


Sifat kompetitif yang dimiliki oleh Abdi terhadap Nathan yang selalu menjadi tolak ukur segalanya. Entah kenapa, sejak dulu Abdi selalu menganggap apa saja yang dimiliki oleh Nathan begitu menarik di matanya.


Sama ketika Nathan mencintai Alna, itu pun terjadi di saat Nathan sekarang mencintai Delima. Sifat kompetitif itu kembali hadir di dalam hati Abdi dan membuat Abdi tidak bisa makan dan tidur nyenyak sebelum bisa mendapatkan apa yang menjadi targetnya.


Abdi mulai menjadikan Delima sebagai tujuan hidupnya. Walaupun Abdi tidak pernah mengganggu Delima secara langsung .Tetapi Abdi terus mengganggu bisnis Nathan secara menggelap. Sama seperti dulu.


Abdi tidak pernah secara berterang menunjukkan permusuhannya di hadapan Nathan. Sehingga Nathan terkadang kesulitan untuk menyikapi sifat Abdi yang semacam itu.


" Apa yang sedang kau lakukan Nathan?? Sudah Papa bilang untuk mempertimbangkan kembali pemberian saham kepada bajingan yang bernama Abdi. Kau lihat sekarang apa yang dia lakukan di belakang kita?? dia secara sembunyi dan menggelap terus-terusan melahap saham-saham yang di lepas oleh pemiliknya yang mau menjualnya dengan harga tinggi!" terlihat Arjun begitu murka.


Nathan yang saat ini sedang dipanggil oleh ayahnya, hanya bisa menundukkan kepala. Dia saat ini tidak berani untuk menatap mata sang ayah yang begitu marah dan kesal mengenai saham perusahaan mereka yang sekarang sudah 15% berada di tangan Abdi.


" Cepat jawab Nathan! Kenapa kau malah diam saja?" tanya Arjun yang semakin murka dengan apa yang dilakukan oleh putranya.


" Pah, kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Abdi. Kita buat saja pengumuman kepada para pemegang saham kita. Kalau mereka ingin melepaskan sahamnya, agar ditawarkan kepada pihak kita. Sehingga kita mencegah gerak langkah yang akan diambil oleh Abdi di belakang kita!" ucap Nathan dengan begitu enteng dan tanpa beban sama sekali.


Arjun bukannya merasa senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya dia malah semakin marah.


" Bagaimana kalau mereka besar-besaran menjual saham mereka kepada kita?? Apakah kau memiliki dananya?" tanya Arjun menatap tajam kepada Nathan.


Nathan kesulitan untuk menelan salivanya sendiri mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ayahnya.

__ADS_1


" Mikir kalau mau bicara tuh jangan cuma asal jeplak saja!" kesal Arjun sambil melemparkan berkas yang ada di tangannya ke atas meja sehingga membuat Nathan terkejut bukan kepalang.


" Nathan akan kembali ke ruangan. Kalau Papa memanggil Nathan hanya untuk dimarahi seperti ini." Nathan sudah bersiap untuk meninggalkan kantor milik Arjun akan tetapi langkahnya terhenti oleh ucapan sang ayah.


" Kalau sampai kita kehilangan perusahaan ini, percayalah sama Papa!! Papa pasti tidak akan pernah melepaskan Delima dan akan membuat dia hidup sengsara di dalam keluarga kita!" Ancam Arjun yang saat ini sedang dikuasai oleh emosi dan juga kemarahan yang sangat luar biasa di hatinya.


Nathan menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh kepada sang ayah.


" Silakan saja Papa lakukan kalau Papa berani dengan hal itu. Maka selamanya Papa tidak akan pernah melihat Nathan di dalam perusahaan Prawira group!" Nathan tidak mau kalah dengan Arjun yang sedang menunjukkan pamornya di hadapan putranya.


Arjun sampai tersedak dengan salivanya sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh putranya.


" Kau berani meninggalkan Prawira Group?" tanya Arjun seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Nathan menatap wajah ayahnya dengan begitu lekat kemudian berbisik di telinga sang ayah dengan suara yang begitu yakin.


Arjun sampai merinding mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya.


" Kita akan lihat. Apa yang akan terjadi ke depannya!" Arjun kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi kebesarannya yang sudah puluhan tahun menemaninya.


Nathan kemudian meninggalkan kantor ayahnya setelah melihat Arjun yang begitu lemas setelah mendengar apa yang Nathan katakan tadi kepada ayahnya.


Nathan tersenyum miring melihat Arjun yang tidak sanggup berkata-kaya lagi saat Arjun mendengar apa yang di katakan oleh Nathan.


" Kurang ajar!! B******* itu benar-benar tidak mempunyai rasa takut sama sekali!" Arjun sampai melemparkan semua berkas yang ada di atas mejanya untuk melampiaskan kemarahannya terhadap Nathan.

__ADS_1


Mereka berdua kembali masuk ke mode pertentangan seperti sebelumnya. Nathan sudah biasa melihat amarah sama ayah yang meledak-ledak seperti itu.


Bagi Nathan, selama beberapa bulan terakhir ini hubungannya mulai membaik dengan ayahnya adalah sebuah mukjizat yang sangat luar biasa. Nathan Sampai saat ini pun masih belum mempercayai bahwa dirinya pernah akur dengan ayahnya.


Sementara itu Nathan yang saat ini sedang berada di kantornya. Nathan terlihat sedang sibuk untuk menghubungi Abdi yang berada di Amsterdam yang katanya sedang melanjutkan kuliahnya.


Sangat lama bagi Nathan untuk mendapatkan jawaban dari Abdi di seberang sana.


" Abdi Apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya? Hmmm?? Aku pikir kita sudah berdamai dengan Aku memberikanmu 10% saham perusahaan Prawira Group. tapi aku menemukan pergerakan bahwa kau sekarang sedang mencoba untuk memonopoli saham perusahaanku. Katakan padaku dengan jujur. Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Nathan to the point karena dia malas untuk berbasa-basi kepada Abdi yang selalu memberikan kepusingan kepadanya.


Di seberang sana, Abdi terdengar tertawa dengan begitu renyah sehingga membuat Nathan menjadi kesal dibuatnya.


" Katakan!! Aku tidak butuh tawamu yang terdengar sangat menyebalkan itu!" Nathan langsung memotong gelak tawa Abdi yang membuat hatinya terasa begitu panas.


" Kenapa Nathan?? Apakah kau tidak senang kalau melihat aku bahagia?" tanya Abdi dengan nada mengejek yang benar-benar membuat Nathan ingin sekali menghancurkan Abdi dan segala kesombongan laki-laki itu.


Kembali terdengar tawa yang begitu keras di seberang sana.


" Aku bukanlah kamu yang tidak pernah merasa senang dengan kebahagiaanku! Kau bajingan tengik yang selalu berupaya untuk merampas apapun yang aku inginkan!" Nathan sudah marah luar biasa pada Abdi dan sudah tidak mampu lagi untuk mengendalikan kata-katanya.


" Aku akan senang sekali kalau bisa menghancurkanmu sampai berkeping-keping. Nathan Prawira yang terhormat!! Tunggulah sebentar lagi Kau pasti akan mendapatkan kejutan yang sangat spesial dariku! Hahaha!" Abdi kemudian menutup panggilan telepon dari Nathan secara sepihak.


" Hey, aku belum selesai bicara! Kenapa kau sudah nutupnya? Dasar bajingan!" Nathan benar-benar sangat kesal sekali dengan kelakuan Abdi yang sekarang jauh lebih menyebalkan dari sebelumnya.


Nathan meresah benar-benar sudah bunuh diri dengan memberikan saham 10% untuk orang seperti Abdi yang seperti ular berbisa yang siap menghancurkan dan juga membunuhnya secara perlahan dengan bisa dan racun yang mematikan.

__ADS_1


" Kurang ajar! Aku pasti akan mengupayakan untuk kembali merebut saham 10% itu sehingga b******* itu tidak bisa banyak tingkah lagi!" ucap Nathan geram.


__ADS_2