Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
45. Kesal


__ADS_3

Nathan akhirnya membicarakan kepada ayahnya tentang masa iddah yang harus dilewati oleh Delima setelah bercerai bersama Abdi.


" Pah mundurkan dulu pernikahanku dengan Delima! Ada masa iddah yang harus diselesaikan oleh Delima. Setelah dia bercerai dengan Abdi." pinta Nathan pada ayahnya.


Arjun melotot sempurna mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nathan.


" Kau ini bagaimana sih Nathan? Semua persiapan sudah dilakukan mau dimundurkan bagaimana lagi? Lagi pula selama ini Delima dan Abdi tidak pernah bercampur layaknya suami istri. Jadi Papa rasa tidak dibutuhkan masa iddah semacam itu. Masa iddah berlaku ketika dikhawatirkan seorang hamil dari laki-laki yang menjadi suaminya yang dulu, untuk tidak membuat bingung nantinya anak itu anak siapa. Lah kamu kasusnya beda! Sekarang Delima sedang hamil anakmu kalau misalkan diundur-undur pernikahannya Maka nanti anak itu mungkin terlahir setelah kalian menikah! Apa kau mau begitu?" tanya Arjun dengan amarah di hatinya.


" Pokoknya Papa tidak mau kalau sampai cucu Papa lahir di luar nikah!! Nanti dia di kira anaknya Abdi lagi!!" Arjun terlihat menggeram kesal kepada Nathan.


Nathan akhirnya hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah diputuskan oleh ayahnya.


" Sudah kau sebaiknya menurut saja. Lagi pula kau juga kenapa tidak bisa menjaga pergaulanmu sih? Sehingga harus mengalami hal membingungkan seperti ini!" Arjun menepuk bahu Nathan yang hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Baiklah Papah!! Aku serahkan semuanya sama papa. Udah jangan ngomel lagi!" Nathan langsung berlari ke dalam kamarnya sebelum mendapatkan bogem mentah dari ayahnya.


" Dasar anak durhaka! Sudah diurusin semua kebutuhan pernikahanmu, bukannya berterima kasih malah kau meledek papamu!" Arjun terus menggelengkan kepalanya gara-gara melihat kelakuan Nathan.


Sementara itu Nathan yang berada di dalam kamarnya hanya bisa tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya yang begitu percaya dan perhatian kepadanya.


Nathan benar-benar bersyukur karena sekarang ayahnya sudah banyak berubah.


" Syukurlah kalau sekarang papa sudah mau mempedulikanku lagi. Aku senang sekali!" Nathan kemudian menghubungi Delima untuk membicarakan apa yang tadi dikatakan oleh ayahnya padanya soal masa iddah.


Delima akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala. Karena memang dia pun tidak bisa dan tidak mempunyai kekuasaan untuk memajukan ataupun memundurkan tanggal pernikahan mereka. Karena semua sudah diatur oleh orang-orang tua yang mengurus soal pernikahan mereka.


" Ya sudah Nathan. Tidak apa-apa kita menikah sesuai tanggal yang sudah di sepakati. Kalau memang seperti itu kenyataannya. Biarlah kita hanya bisa menjalaninya saja! Semoga ada kebaikan di dalamnya!" Delima yang saat ini perasaannya sedang kacau langsung mematikan telepon dari Nathan.

__ADS_1


Nathan sadar kalau Delima memang belum terlalu mencintainya. Tapi Nathan berjanji bahwa dia akan berusaha untuk membuat Delima jatuh cinta kepadanya.


Sementara Delima saat ini sedang merasakan gundah dan juga kebingungan.


Delima saat ini benar-benar dibuat resah karena Abdi yang tiba-tiba saja berubah secara drastis dan membuatnya merasa terganggu dengan hal itu.


" Apakah aku sudah membuat kesalahan?? Ya Allah tolonglah aku! Tolong perbaiki kalau memang aku sedang melakukan sebuah kesalahan dalam hidupku!" Doa Delima pada dirinya sendiri.


Rasa hati Delima saat ini benar-benar sedang kacau dan bingung.


Bagaskara masuk ke dalam kamar Delima dan melihat Delima yang saat ini sedang melamun dan sedih hatinya.


" Ada apa denganmu Delima? Kenapa sejak acara lamaran itu, Papa perhatikab Kau sering sekali melamun? Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa sedih?" tanya Bagaskara kepada Delima.


Delima langsung menjatuhkan kepalanya ke dalam pangkuan Bagaskara.


Bagaskara tahu kalau anaknya saat ini sedang merasakan sesuatu yang berbeda yang membuat hatinya tidak bahagia.


" Apa kamu merasa terganggu dengan Abdi yang sekarang sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik? Kamu jangan mau terpedaya seperti itu oleh Abdi. Selama bertahun-tahun Abdi selalu menjadi suamimu yang buruk. Sekarang setelah bercerai dan kau akan menikah dengan Nathan, tiba-tiba saja dia berubah seperti itu. Papa tidak percaya dengan perubahan sikapnya yang terlalu mencolok. Percayalah pada Papa apa yang saat ini sedang kau lakukan adalah yang terbaik untuk hidupmu di masa depan." Bagaskara berusaha untuk meyakinkan Delima agar tidak terpengaruh oleh Abdi yang sedang memainkan sebuah peranan sebagai orang baik sekarang.


" Baiklah Pah!! Delima akan mencoba untuk bisa mengerti semuanya." Delima kemudian berbaring di atas ranjang dengan Bagaskara tetap bersama dengannya.


Setelah melihat Delima tertidur. Bagaskara kemudian keluar dari rumahnya menuju tempat di mana dirinya akan bertemu dengan seorang detektif yang selama ini selalu mengawasi Abdi di luar negeri.


Bagaskara tidak terima karena Abdi beberapa hari ini telah mengganggu konsentrasi Delima yang sedang mempersiapkan pernikahannya bersama Nathan.


" Apa yang kau temukan tentang Abdi?" tanya Bagaskara kepada detektif tersebut.

__ADS_1


Detektif kemudian menyerahkan beberapa foto kepada Bagaskara. Foto yang menggambarkan kegiatan Abdi di luar negeri.


" Dia hanya berkuliah dan melakukan beberapa bisnis kecil untuk menunjang kehidupannya di sana. selebihnya dia hanya menjalani kehidupan seperti biasa seperti orang-orang normal lainnya!" Bagaskara menganggukkan kepalanya melihat foto-foto tersebut.


" Terus awasi semua yang dilakukan olehnya atau jangan sampai lengah. Pokoknya aku harus mendapatkan semua laporan tentang yang dia lakukan di sana." Ucap Bagaskara kepada sang detektif yang langsung menganggukkan kepalanya.


" Baiklah Tuan saya permisi dulu!" detektif itu pun kemudian pergi dari hadapan Bagaskara.


Bagaskara membayar mahal sekali detektif itu. Karena dia harus melakukan banyak usaha untuk bisa memberikan laporan kepada Bagaskara tentang kehidupan Abdi di luar negeri.


Setelah memastikan semuanya. Bagaskara pun kemudian memilih untuk pergi menemui Arjun.


" Kenapa kau mengajak bertemu denganku?" tanya Arjun terlihat masih kurang nyaman untuk bertemu dengan Bagaskara.


Bagaskara hanya berdecak lidah karena melihat wajah masam Arjun saat bertemu dengan Bagaskara.


" Tanyakan sama Nathan. Apakah benar kalau Abdi menyerahkan kembali saham 10% yang Nathan berikan kepada dia?" tanya Bagaskara yang benar-benar penasaran dengan kenyataan itu.


" Memang sudah dikembalikan oleh Abdi. Tetapi Putraku yang bodoh itu tidak mau menerimanya kembali. Dia tetap mentransfer saham itu atas nama Abdi." terlihat Arjun yang cemberut dan tidak senang dengan hal tersebut.


" Seharusnya kau bangga mempunyai anak sebaik Nathan yang memiliki sifat bisa dipercaya dan juga bisa diandalkan. Kalau aku tidak melihat sifat Nathan yang seperti itu Aku juga tidak akan pernah merestui pernikahannya bersama Delima." Bagaskara berpamitan kepada Arjun dan telah mengetahui semua yang ingin dia ketahui.


Arjun hanya bisa menatap kepergian Bagaskara dengan tatapan aneh bin ajaib.


Bagaimana Arjun tidak merasa heran? Saat dia melihat Bagaskara yang sekarang begitu santai berbicara dengannya seperti tidak pernah terjadi masalah besar di antara keduanya. " Ah sudahlah! Biarkan saja semu ini. Mungkin dia sudah sadar bahwa bermusuhan denganku tidak ada gunanya!" Arjun akhirnya memilih untuk tidak ambil pusing lagi dengan apa pun yang dilakukan oleh Bagaskara sekarang.


" Lebih baik fokus untuk mengurus pernikahan mereka agar tidak sampai mempermalukan keluarga besar kami!" Arjun kemudian kembali sibuk untuk mengatur segala hal tentang rencana pernikahan Delima dan Nathan.

__ADS_1


__ADS_2