
Arjun benar-benar geram melihat semua yang dilakukan oleh Natasha di dalam mension miliknya.
Dia bahkan memerintahkan kepada security-nya untuk memblok list Natasha agar tidak bisa mendatangi lagi mansion miliknya.
" Satu kali saja kalian membiarkan dia menginjakkan kakinya di mensionku, akan kupastikan kalian menyesali hal itu!" ucap Arjun di dalam panggilan telepon yang dia lakukan kepada kepala security yang bekerja di rumahnya.
Nathan yang saat ini masih berada di dalam Kamariah tidak mengetahui kejadian yang berada di luar kamarnya.
Nathan sudah mulai merasa bosan karena dia sudah mulai dipingit oleh sang ayah sampai hari pernikahan nanti.
Sementara Delima selalu terlambat untuk menjawab panggilan teleponnya sehingga membuat Nathan tambah stress dan frustasi.
" Ya ampun Bos tentu saja Nyonya dDelima pasti sibuk sekali untuk mengurus persiapan pernikahan kalian!" Arya terlihat menepuk jidatnya sendiri melihat semua yang dilakukan oleh bosnya yang terlihat begitu konyol baginya.
" Kok bisa diam tidak? Kalau kau hanya ingin menambah Kepalaku pusing, lebih baik kau pergi saja!" Arya sampai kehabisan kata-kata untuk mendebat Bos besarnya yang saat ini kelihatannya sedang marah.
Arya kemudian meninggalkan Nathan dan mematuhi perintah Bagaskara untuk mengawasi Nathan agar tidak keluar rumah hingga hari H pernikahan mereka.
Sementara itu Arjun saat ini sudah dalam perjalanan. Setelah dia sibuk mengurus bisnisnya di luar kota.
" Sungguh melelahkan sekali. Aku harap setelah menikah Nathan akan menjadi lebih dewasa dan bisa aku andalkan untuk aku serahkan 100% mengurus perusahaan. Tapi Nathan sampai saat ini selalu saja mengambil keputusan hanya dengan emosinya benar-benar sangat tidak bijaksana. Akan sangat berbahaya menyerahkan sebuah perusahaan besar ke tangan orang yang seperti itu!" monolog Arjun sambil memijit pelipisnya terasa pusing sekali.
Arjun sebenarnya sudah lama sekali ingin pensiun dan memulai kehidupannya yang baru. Arjun ingin pindah ke pedesaan di mana istrinya dimakamkan.
Arjun ingin sekali meninggalkan hiruk pikuk ibukota dan menetap di desa.
Sebelum meninggal Santi meminta kepada Arjun untuk memakamkan ya di desa tempat kelahiran ibunya. itulah yang membuat Arjun airnya memakamkan Santi di sana.
Entah kenapa akhir-akhir ini Arjun selalu merindukan Santi yang sudah meninggal lebih dari 10 tahun lamanya.
" Aku harap setelah pernikahan ini Nathan benar-benar bisa aku serahkan tanggung jawab untuk mengurus Prawira Group. Bocah nakal itu benar-benar harus ditatar dengan ekstra kuat dan keras agar dia segera siap untuk menjadi CEO dari Prawira Group."
__ADS_1
Setelah mereka sampai di mansion Prawira, Arjun langsung mencari keberadaan Nathan yang saat ini sedang berada di studio miliknya.
Nathan yang memiliki hobi melukis dan juga menyanyi akhirnya memilih untuk kembali menengok lukisan-lukisannya dan juga lirik-lirik lagunya untuk menghapus kebosanan karena selama 3 hari hanya ada di rumah tanpa melakukan apapun.
Nathan benar-benar bingung kenapa dirinya harus dikurung seperti itu padahal semua persiapan pernikahan sudah diatur oleh wedding organizer yang sudah mereka sewa.
Bahkan dirinya dilarang untuk menghubungi Delima. Benar-benar sesuatu yang sangat sulit dan berat untuk Nathan.
" Di sini kau rupanya! Nathan dari tadi papa mencarimu!" Arjun kemudian duduk di hadapan putranya yang saat ini sedang melukis sebuah objek abstrak yang tidak dimengerti oleh Arjun.
Nathan menghentikan aktivitasnya dan melirik ke arah sang ayah yang kelihatan masih terlihat sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh.
" Aku hanya membunuh kebosananku dengan melukis! Semua gara-gara Papah yang sudah mengurungku di mansion ini!" Nathan terlihat protes kepada ayahnya.
Arjun melihat lukisan-lukisan lama yang sudah dibuat oleh Nathan pada masa mudanya dulu.
Mata Arjun tertuju kepada sebuah lukisan di mana dirinya dan sang istri sedang melakukan sebuah liburan di Bali.
" Nathan setelah kau menikah. Papa ingin kau segera mengambil tanggung jawabmu sebagai CEO dari perusahaan kita. Papa ingin sekali untuk segera pensiun dan menemani ibumu di desa!" Nathan terkejut mendengarkan ucapan ayahnya.
Nathan bisa merasakan kepedihan di dalam suara sang ayah yang biasanya selalu keras dan tegas terhadapnya.
" Papa tidak tahu kenapa selama beberapa hari ini terus bermimpi tentang ibumu! Papa rasa ibumu menginginkan agar Papa segera tinggal di sana dan menemaninya sesuai dengan janji Papa dulu!" Nathan bisa merasakan getar suara sang ayah yang saat ini sedang merindukan ibunya yang sudah lama meninggal.
Arjun lebih memilih untuk hidup sendiri daripada memiliki istri baru dia fokus membesarkan mantan seorang diri dan membuktikan bahwa dirinya mampu untuk menjadi seorang ibu dan juga seorang ayah bagi Nathan.
Akan tetapi sifat mereka yang bertentangan selalu saja membuat mereka tidak pernah akur satu sama lain.
Nathan bahkan memilih untuk tinggal di apartemen sendiri bersama Arya daripada hidup bersama dengan ayahnya yang selalu diktator dan juga mengatur seluruh kehidupannya.
" Papa ini masih muda. Kenapa sudah ingin pensiun segala? Aku masih ingin menikmati masa mudaku dan meraih semua impianku di luar sana!" Nathan tidak mau menerima apa yang dikatakan oleh ayahnya.
__ADS_1
" Sasar bocah nakal! Sejak dulu kau selalu saja melawan ayahmu. Memangnya apa sih yang kau inginkan dan kau impikan lagi, hm? Semua yang diinginkan oleh orang-orang di luar sana semuanya sudah kau miliki. Nathan belajarlah untuk bersyukur dengan apa yang kau miliki maka kau baru bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupmu!" Arjun berusaha untuk menasehati putranya.
Nathan tahu bahwa ayahnya memang selalu mencintai dan menyayanginya akan tetapi ada sebuah cita-cita yang sampai saat ini masih ingin diraih oleh Nathan.
" Cepat katakan sama papa! Apa yang kau inginkan? Papa pasti akan mewujudkannya. Asal kau segera mengambil tanpuk kepemimpinan Prawira group. Katakan apa yang kau mau? Papa benar-benar ingin segera pensiun!" Nathan sampai terbelalak mendengarkan ucapan ayahnya sendiri.
" Nathan ingin melakukan sebuah pameran tunggal untuk karya-karyaku dan membuat sebuah galeri seni yang akan menampung semua karya-karya ini sehingga bisa dinikmati oleh orang di luar sana!" Arjun terlihat menganggukkan kepalanya dan langsung menjentikan jarinya.
" Setelah pernikahanmu semua itu akan terwujud. Segera kau siapkan dirimu untuk menjadi CEO dari Prawira group!" Nathan benar-benar tidak percaya kalau Ayahnya mengatakan hal itu.
Sejak dulu Arjun selalu menantang cita-cita dan impian Nathan di dunia seni. Walaupun Nathan tidak mengetahui alasan yang sesungguhnya dari penolakan sang ayah.
" Papa tidak akan membohong kan?" tanya Nathan berusaha untuk mengkonfirmasi apa yang sudah dijanjikan oleh ayahnya.
Arjun langsung mangkeplah kepala putranya yang langsung meringis kesakitan.
" Dasar bodoh! Apakah kau melihat ayahmu ini adalah seorang pembohong? Bagiku, membuat sebuah pameran seni rupa adalah sesuatu yang sangat mudah untukku seperti memberikan telapak tangan!" Nathan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
" Eleh paling papa cuma ingin memberikan janji palsu padaku untuk aku mau menerima jabatan sebagai CEO di perusahaanmu," sekali lagi Natal mendapatkan hadiah dari ayahnya yang benar-benar kesal dengan kelakuannya yang tidak percaya terhadap ayahnya sendiri.
" Baiklah kalau begitu besok papa akan membuat pameran itu segera terjadi sehingga kau tidak akan meragukan kemampuan ayahmu ini! Nathan kau sebentar lagi akan melihat seberapa hebat ayahmu mewujudkan mimpimu!" Nathan masih membeku di tempat dan tidak mau percaya semua yang dikatakan ayahnya sebelum dia membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.
" Aku baru akan mengakui kemampuan papa kalau yang Papa katakan benar-benar terwujud!" Nathan seperti mencemooh ayahnya sendiri.
Arjun tergelak mendengarkan perkataan putranya yang seperti tidak percaya dengan kualifikasinya sebagai seorang CEO Prawira Group.
" Baiklah sekarang kau siapkan ini semua karya-karya mu, karena besok akan segera diangkat untuk melakukan pameran seperti yang kau inginkan!" Nathan benar-benar tidak percaya bahwa ayahnya akan melakukan itu.
Nathan tidak mengetahui bahwa sesungguhnya, selama ini Arjun sudah menyiapkan sebuah galeri seni atas nama Nathan. Hanya saja selama bertahun-tahun tidak pernah diberikan oleh Arjun kepada putranya yang bengal dan sangat sulit diatur oleh orang tua.
Mereka berdua selama ini selalu berselisih paham dan selalu bertengkar untuk sesuatu yang tidak jelas oleh karena itu Arjun selalu tidak pernah menemukan kesempatan untuk menyerahkan gelar itu kepada Nathan.
__ADS_1
Oleh karena itu Arjun benar-benar bahagia karena akhirnya momen itu datang juga. Di mana dirinya sebagai seorang ayah akan mewujudkan impian anaknya yang benar-benar mencintai seni rupa.