Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
13. Amarah Bagaskara


__ADS_3

Delima kemudian mengatakan kepada Nathan perihal kehamilannya.


" Kenapa kamu ga bilang dari kemaren?" tanya Nathan yang benar-benar terkejut dengan berita tersebut.


" Kenapa memangnya?" tanya Delima menatap kepada Nathan yang seperti merasa bingung dengan yang terjadi pada mereka.


Bagaimana mungkin tiba-tiba saja dirinya kini sekarang menjadi calon seorang ayah? Nathan masih belum mempercayai hal tersebut. Masih shock.


Nathan pun tidak mengerti kenapa sekarang malah dirinya yang selalu mual dan muntah. Bukankah seharusnya Delima yang mengalami itu?


" Aku juga baru mengetahui beberapa hari ini. Setelah aku di usir Mas Abdi, karena aku menolak untuk meminta kepada Ayahku agar mentrasferkan uang untuk dia." Ucap Delima sambil tersenyum kepada Nathan.


Nathan tidak tahu apakah dia harus bahagia ataukah harus sedih dengan berita tentang kehamilan Delima.


" Apakah Abdi tahu tentang kehamilan kamu?" tanya Nathan dengan hati-hati.


Abdi menarik nafasnya lega ketika melihat Delima yang menggelengkan kepalanya.


" Syukurlah kalau dia tidak mengetahuinya!" ucap Nathan lega.


" Kenapa memang?" tanya Delima heran.


Nathan hanya tersenyum dan kemudian dia pun berniat untuk meninggalkan mansion milik keluarga Delima.


" Aku pulang dulu. Arya pasti sudah dekat di sekitar sini untuk menjemput aku!" ucap Nathan yang terlihat begitu lemas tubuhnya.


Delima pun tidak bisa melarang. Karena Nathan bukan suaminya walaupun akan menjadi ayah dari calon anak yang ada di dalam kandungannya.

__ADS_1


Delima tidak berniat untuk meminta pertanggungjawaban dari Nathan. Karena bagaimanapun statusnya sekarang sebagai istri Abdi menguntungkan dirinya. Sehingga dia tidak merasa terbebani dengan pandangan negatif orang lain atas kehamilan dirinya sekarang.


Bagaimanapun hanya dirinya dan Abdi saja yang tahu kalau dia tidak pernah disentuh oleh sang suami selama pernikahan mereka.


" Aku titip dulu mobilku. Karena tubuhku sangat lemas dan tidak kuat untuk membawa mobilku saat ini!" ucap Nathan yang langsung turun dari ranjangnya dan kemudian dipapah oleh Delima menuju ke teras rumahnya di mana sekarang Arya sudah menunggu di sana.


" Bagaimana Bos? Apakah kita perlu ke rumah sakit?" tanya Arya yang merasa sangat tidak tega melihat Nathan yang sekarang wajahnya begitu pucat.


" Tidak usah tadi dokter sudah memeriksa aku dan juga sudah diberikan obat! Aku hanya butuh istirahat saja di rumah!" ucap Nathan.


Nathan ingin segera kembali ke rumahnya mumpung saat ini Ayahnya delima sedang tidak ada di mansion-nya.


Bagaimanapun Nathan tidak mau berhadapan dengan ayahnya Delima yang selama ini selalu menjadi musuh bebuyutannya di dunia bisnis. Nathan tidak sanggup kalau harus melakukan baku hantam dengan ayahnya Delima hanya karena ingin keluar dari rumah itu. Ya, ayahnya Delima dari tadi pagi tidak mengizinkan Nathan untuk keluar dari mansionnya. Karena dia berpendapat bahwa Nathan harus bertanggung jawab dengan kehamilan Delima.


" Baiklah bos ayo kita pulang!" ucap Arya.


Akan tetapi belum juga Nathan masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba saja dari arah pintu gerbang mobil ayahnya Delima sudah masuk.


" Ah Arya!! Gara-gara kau yang terlalu lelet. Sehingga aku akan dipastikan tidak bisa pulang ke rumahku sendiri!" sesal Nathan yang mengurungkan niatnya untuk pulang ke apartemen miliknya.


" Maafkan aku bos! Tadi di jalan sangat macet membuatku jadi terlambat untuk datang kemari!" ucap Arya sangat merasa bersalah.


Arya sangat tahu tentang permasalahan yang saat ini dihadapi oleh bosnya. Pasti sangat sulit sekali untuk berhadapan dengan ayahnya Delima yang selama ini selalu menganggapnya sebagai saingan bisnisnya.


" Mau perg ke mana kau bajingan?" tanya Bagaskara dengan nada baritonnya yang menggelegar di mansion miliknya.


Delima langsung mendekati ayahnya dan mencekal tangannya ketika Bagaskara bersiap untuk menampar Nathan.

__ADS_1


" Papa! Jangan bersikap keterlaluan terhadap orang! Apalagi Nathan adalah ayah dari calon anak aku!" ucap Delima memohon kepada ayahnya agar tidak melampiaskan emosinya kepada Nathan.


Walaupun Delima sudah berusaha untuk memegang tangan ayahnya. Akan tetapi, tetap saja tamparan demi tamparan tetap mendarat mulus di pipi Nathan.


" Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu yang sudah membuat hamil anakku!" ucap Bagaskara dengan tatapan penuh permusuhan kepada Nathan.


Nathan yang saat ini tubuhnya sedang lemas dia sama sekali tidak bisa menghindar ataupun melawan dari amukan Bagaskara.


" Sudah Pah! Tolong hentikan! Kau akan membunuhnya kalau seperti itu!" ucap Delima berusaha untuk membujuk ayahnya agar bisa mengendalikan diri di hadapan Nathan yang sekarang sudah terkapar di dekat mobilnya.


Delima berusaha untuk mendekati Nathan akan tetapi langsung ditarik oleh Bagaskara.


" Jangan coba-coba kau membela bajingan itu! Papa tidak akan pernah memaafkan dia kalau dia tidak datang kemari untuk melamar kamu dan menikahi kamu!" ucap Bagaskara dengan emosi yang memuncak di hatinya.


Arya benar-benar tidak mampu berkata-kata melihat bosnya yang sekarang sudah pingsan di bawah mobil karena dihajar oleh Bagaskara yang sedang emosi.


Melihat hal itu Delima benar-benar sangat sedih. " Arya, cepat kau bawa Nathan ke rumah sakit Aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya!" ucap Delima kepada Arya yang langsung bergegas mengangkat tubuh Arya ke dalam mobilnya.


Bagaskara hanya menatap kepergian mobil Nathan dari Mansion miliknya.


" Papa ini kenapa sih? Bagaimana mungkin Nathan mau menikahiku kalau Papa memperlakukan dia seperti binatang begitu?" tanya Delima merasa kesal luar biasa pada ayahnya yang tidak tahu kenapa sejak dulu selalu saja memusuhi Nathan dan juga perusahaannya.


Bagaskara tidak memperdulikan apapun yang dikatakan oleh Delima. Saat ini hatinya sedang diamuk amarah karena Nathan yang berniat untuk meninggalkan mansionnya dan tidak mengatakan apa-apa tentang kehamilan Delima.


" Aku tidak mengerti kenapa ayah dan anak sama-sama bajingannya! Dulu ayahnya yang meninggalkan adikku begitu saja ketika dia sedang mengandung. Sehingga akhirnya adikku mati bunuh diri karena tidak tahan menanggung malu! Sekarang laki-laki bajingan itu melakukan kesalahan yang sama dan sepertinya Dia juga tidak memiliki niat untuk menikahi putriku!" monolog Bagaskara merasa sangat kesal sekali dengan keluarga Nathan.


Bagaskara meraup wajahnya dengan kasar ketika mengingat tentang kejadian adiknya yang bunuh diri gara-gara ayahnya Nathan.

__ADS_1


" Lihat saja aku akan membunuh b******* itu kalau sampai dia tidak mau menikahi putriku!" ucap Bagaskara dengan amarahnya.


" Pah Delima tidak meminta kepada Nathan untuk bertanggung jawab dengan kehamilan ini. Lagi pula status Delima saat ini adalah seorang istri dari Mas Abdi. Jadi tidak ada yang akan berkomentar tentang kehamilan ini. Mereka pasti berpikir bahwa anakku adalah miliknya Mas Abdi! Papa tidak usah terlalu mencemaskan tentang kehamilan Delima. Aku bisa mengatasi ini Pah!" ucap Delima pada ayahnya.


__ADS_2