Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
26. Jelaskan!


__ADS_3

Nathan yang saat ini berhadapan dengan ayahnya di dalam kamar milik Arjun Prawira yang sedang berbaring di atas ranjangnya.


" Ada apa kau datang ke mansionku malahan melotot seperti itu? Dasar anak durhaka!" ucap Arjun Merasa tidak senang melihat wajah Nathan yang tidak bersahabat sama sekali terhadap dirinya.


" Jelaskan!" Nathan kemudian duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang sang ayah.


Arjun mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putranya.


" Apa maksud perkataanmu? Dasar brandal! Apa yang harus aku jelaskan padamu?" terlihat Arjun yang berniat untuk kembali tidur.


Saat ini Arjun memang sengaja tidak berangkat ke kantor karena tubuhnya saat ini sedang tidak fit dan sangat lelah.


Tadi dia sedang tidur siang. Akan tetapi diganggu dengan kedatangan Natasha yang memaksa ingin bertemu dengannya. Sehingga membuat Arjun akhirnya bangun dan menemui Natasha. Setelah Nathasya pergi, di saat dirinya hendak tidur lagi, ternyata Nathan pun memaksa untuk bertemu dengannya juga.


" Tolong Jelaskan apa hubungan Papa dengan keluarga Bagaskara?" akhirnya Nathan mengungkapkan secara gamblang apa yang ingin dia dengar dari ayahnya.


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nathan Arjun pun membuka matanya dengan lebar seketika rasa kantuk itu menghilang.


" Kenapa kau bertanya tentang keluarga Bagaskara?" Arjun tampak gelisah mendengarkan pertanyaan dari putranya yang terdengar tidak bersahabat.


Nathan menatap ayahnya dengan lengkap. Dia berharap mendapatkan penjelasan dari ayahnya. Tetapi malah dia yang harus menjelaskan sesuatu kepada ayahnya.


" Apa Papa tahu kalau Bagaskara selalu mencari masalah denganku?" Nathan menatap tajam kepada ayahnya yang mulai merasa tidak nyaman dan kehadiran putranya sendiri.


" Saat ini aku sedang sakit. Pergilah dari Mansionku kalau kau hanya ingin mengajak berdebat denganku. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun!" Arjun mengusir Nathan dari kediamannya.


Sebenarnya Arjun merindukan Nathan. Karena saat ini dia hanya memiliki Nathan sebagai putranya.


Tapi entah kenapa Nathan selalu saja marah setiap kali bertemu dengannya.


Nathan yang melihat wajah ayahnya pucat. Akhirnya hanya bisa memanggilkan dokter untuk sang ayah. Bagaimanapun saat ini dia hanya memiliki ayahnya seorang.


" Kalau begitu Istirahatlah aku akan membagikan dokter untuk Papa!" Nathan kemudian keluar dari ruangan ayahnya.


Arjun menatap kepergian Nathan dan menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


Entah kenapa Arjun tiba-tiba merasa hatinya sangat sedih.


" Mawar sampai saat ini kakakmu masih belum bisa memaafkanku dan dia masih suka mencari masalah dengan keluargaku. Bukankah dulu kamu yang tidak mau memberitahukan tentang kehamilanmu padaku? Kamu yang begitu cepat mengambil kesimpulan setelah melihatku bersama dengan wanita lain." Arjun bermonolog dengan dirinya sendiri dengan air mata meleleh di pipinya.


Arjun tahu bahwa Mawar adalah masa lalu kelam yang sangat sulit untuk bisa di hapus dari ingatan dan juga hidupnya.


Arjun merasa benar-benar bersalah terhadap mawar yang telah bunuh diri karena merasa kecewa terhadapnya.


" Sudah hampir 30 tahun sejak kematian kamu. Akan tetapi kakakmu masih saja belum bisa memaafkan kesalahanku!" Arjun pun memutuskan untuk tidur karena kepalanya tiba-tiba merasa pening sekali.


Bagaskara benar-benar sangat sulit untuk dihadapi. Pria tua itu bukan hanya mengganggu perusahaan Nathan tetapi juga selalu mengganggu perusahaan yang dipimpin oleh Arjun secara langsung.


Bagaskara benar-benar bertekad untuk menghancurkan keluarga Prawira sampai ke akar-akarnya. dendam kesumat yang ada di hatinya benar-benar sangat sulit untuk dihapuskan.


Pada saat Arjun sudah bersiap untuk tidur pintu kamarnya diketuk oleh Nathan dan Nathan masuk ke dalam kamar dengan seorang dokter bersamanya.


" Kenapa kau membawa dokter ke rumah ini? Aku baik-baik saja Nathan! Aku hanya perlu beristirahat saja!" Arjun terlihat merasa terganggu melihat dokter yang sudah bersiap untuk memeriksanya.


Tapi Nathan tampaknya tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Arjun.


" Periksa kesehatanmu dan cepatlah sembuh agar kita bisa berdebat lebih seru lagi!" ucap Nathan sambil duduk di sofa yang ada di dalam kamar ayahnya.


Arjun benar-benar geram mendengarkan ucapan putranya sendiri. Bagaimana mungkin putranya ingin dia sembuh hanya untuk bisa bertengkar lagi dengannya? Arjun sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya yang absurd luar biasa.


Nathan tahu kalau ayahnya sangat menyayanginya hanya saja ayahnya memang bertipe keras seperti dirinya sehingga tidak bisa memperhatikan ataupun memperlihatkan kasih sayangnya secara normal seperti ayah orang lain.


Setelah dokter memeriksa kesehatan Arjun dan memberikan resep obatnya Nathan pun mengantarkan dokter tersebut untuk keluar dari Mansion sang ayah.


" Malam ini aku akan menginap di sini dan menemani papa karena aku benar-benar harus mendapatkan penjelasan dari Papa tentang Bagaskara!" Arjun menatap Nathan dengan lekat.


" Katakan padaku kenapa kau sangat penasaran dengan Bagaskara?" Arjun benar-benar harus mendapatkan jawaban sebelum dia menjawab pertanyaan Nathan.


" Pah saat ini Delima sedang mengandung anakku!" Nathan meraup wajahnya dengan kasar seakan ada sebuah beban berat yang sedang dipikul oleh bahunya yang terlihat begitu rapuh.


" Siapa itu Delima?"

__ADS_1


" Delima adalah anak dari Bagaskara!" Arjun benar-benar terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nathan.


" Ya Tuhan Karma Buruk apa yang menyertai keluarga kita?" Arjun tampak begitu sedih terlihat dari wajahnya.


" Karma? Apa maksud Papa?" Nathan benar-benar penasaran dengan yang terjadi di dalam keluarga mereka.


Arjun kemudian menceritakan semua hal yang ingin diketahui oleh Nathan yang terjadi pada 30 tahun yang lalu antara dirinya bersama dengan mawar, adik Bagaskara.


" Jadi karena masalah itu yang membuat Bagaskara selalu mencari masalah dengan keluarga kita?" Nathan terlihat meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


Nathan merasa kesulitan untuk bisa mencerna semua yang diceritakan oleh ayahnya tentang adik Bagaskara yang meninggal karena bunuh diri yang disebabkan oleh ayahnya.


" Jadi aku harus merelakan anakku karena masa lalu kalian?" Nathan benar-benar tidak percaya dengan jalan hidupnya saat ini.


Setelah mengetahui alasan yang sebenarnya dari Bagaskara. Nathan pun kemudian meninggalkan kediaman sang ayah.


Sepanjang malam itu. Terlihat Nathan yang menyusuri jalanan jakarta tanpa tujuan dan ketika sadar Nathan menyadari bahwa saat ini dirinya berada di depan kediaman keluarga Bagaskara.


" Katakan padaku Delima. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Nathan terlihat begitu putus asa saat dia menatap ke arah Delima yang saat ini sedang bersama dengan Abdi di balkon kamar mereka.


Hati Nathan benar-benar terhiris oleh sembilu dan merasa sangat tidak rela ketika dia melihat wanita yang dia cintai yang saat ini sedang mengandung anaknya tampak mulai bisa menerima pernikahannya bersama Abdi.


" Katakan padaku Delima! Apakah aku benar-benar harus menyerah masalah anak kita?" Nathan terus menatap ke arah delima dan Abdi yang tampaknya sedang menikmati bulan purnama dari balkon kamar mereka.


Terlihat air mata menetes di kelopak mata Nathan. Saat Nathan membayangkan bahwa dirinya akan berpisah dan bahkan mungkin tidak akan pernah bisa bertemu dengan anak yang saat ini ada di dalam kandungan Delima untuk selamanya.


Hubungan keluarga mereka yang benar-benar sangat rumit benar-benar telah membuat Nathan menyerah sebelum berperang.


Nathan merasa dirinya tidak bisa untuk memperjuangkan Delima dan juga anaknya. Ketika melihat dendam yang begitu besar di mata Bagaskara terhadap dirinya.


Apalagi sekarang Nathan sudah mengetahui alasan kemarahan dan juga kebencian Bagaskara terhadap keluarga besarnya.


Ditambah lagi dengan Delima yang tidak pernah datang menemuinya untuk meminta pertanggungjawaban darinya.


" Apakah kau benar-benar tidak menginginkan aku untuk menjadi ayah dari anak kita?" Nathan terus bermonolog dengan dirinya sendiri sambil terus menatap interaksi antara Delima dan Abdi yang tampaknya sudah mulai berdamai dengan kehidupan mereka berdua sebagai suami istri.

__ADS_1


Hati Nathan benar-benar tidak rela melihat wanita yang dia cintai bersama Abdi.


__ADS_2