
Abdi merasa sedih ketika mendengar bahwa Alana ternyata sudah hamil karena ulah bodyguard yang selama ini menjaganya. Abdi sangat mengenal Alana, jadi dia tidak terlalu heran dengan berita tersebut.
"Mana bisa Alana hidup satu hari tanpa seorang laki-laki? Jadi, aku yakin di sini bukanlah Alana yang menjadi korban, tetapi pasti bodyguard itu yang dipaksa oleh Alana untuk melayani dia!" Natasha tertawa terbahak-bahak mendengarkan apa yang dikatakan Abdi tentang sahabatnya.
"Dan kau sangat menyukai wanita seperti dia, bukan? Wanita yang selalu bisa membuatmu melayang ke atas awan!" Natasha kembali tertawa terbahak-bahak.
"Sudahlah Natasha, berhenti mengolok-olokku. Kau pikirkan saja tentang masalahmu sendiri! Aku pergi! Tadinya aku berada di sini untuk mencari ketenangan dan kebahagiaanku sendiri, tetapi kedatanganmu benar-benar membuat moodku hancur seketika!" Abdi kemudian berdiri dan meninggalkan Natasha yang merasa tersinggung dengan ucapannya.
"Kau itu sama-sama bajingan seperti diriku, jadi tidak usah sok suci!" Natasha bahkan sampai melempar botol minuman yang sudah habis diminum oleh Abdi ke arahnya, yang terlihat wajahnya begitu kusut masai.
"Eleh!! Sudahlah, kita urus saja hidup kita masing-masing!" Abdi yang merasa jengah dengan kelakuan Natasha akhirnya memilih untuk meninggalkan wanita itu sendirian di taman dan tidak memperdulikan semua ocehannya.
"Heran, kenapa manusia sangat bangga dengan dosa yang dimilikinya?" Abdi memilih untuk meninggalkan Natasha sendirian di taman sementara dirinya langsung pulang ke rumah dan bertemu dengan ibunya.
Melihat anaknya pulang, Rossa menyambutnya dan menyuruh Abdi untuk duduk.
"Kalau Mama hanya mengundangmu untuk bertengkar, lebih baik tidak usah bicara denganku. Aku lelah, dan ingin istirahat!" Abdi terlihat jengkel kepada ibunya, yang sejak awal sudah memasang wajah emosi di depannya.
Mendengar apa yang dikatakan putranya, Rossa seketika menciut nyali.
"Tadi Alana datang kemari dan mencarimu!" Abdi terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
__ADS_1
"Maksud Mama apa sih membicarakan Alana? Aku sudah putus dengan dia lama sekali!" Abdi terlihat malas untuk membicarakan Alana, apalagi setelah mendengarkan cerita dari Natasha tentang wanita itu.
"Ih, kamu ini ya! Menyebalkan sekali sih!! Mama kan bilang, kalau tadi Alana datang kemari!" Rossa terlihat gemas kepada putranya yang terus saja marah-marah kepadanya.
"Lah, terus?" tanya Abdi yang mulai merasa tidak sabar dengan ibunya.
"Alana bertanya apakah kamu mau menikah dengannya?" Abdi benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Lain kali kalau Alana datang kemari, Mama langsung usir dia, dan aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Mama! Sekali lagi, Mama membuat rencana aneh tentang hidupku. Maka, aku yakin Mama tidak akan pernah bertemu lagi denganku!" Abdi, yang sudah kesal melihat kelakuan resah, akhirnya hanya bisa memberikan ancaman kepada ibunya yang selalu mengatur hidupnya.
Rossa, yang melihat amarah di wajah putranya, hanya bisa menundukkan kepala dan tidak berani menantang keinginan Abdi.
"Lalu, apa yang harus Mama katakan kepada Alana?" tanya Rossa yang terlihat begitu bingung ketika berhadapan dengan Abdi.
Di dalam kamarnya, Abdi terlihat jengkel saat melihat Alana sedang tidur di atas panjangnya.
"Alana??? Apa yang kau lakukan di sini?" Abdi sampai melotot kepada Alana yang saat ini sedang tersenyum padanya.
"Halo Abdi! Lama sekali kita tidak bertemu. Masa kamu tidak merindukanku?" tanya Alana sambil bangkit dari tempat tidur dan mendekati Abdi yang sedang marah.
"MAMA!!! CEPAT KEMARI!!" Abdi benar-benar marah kepada ibunya yang telah sembarangan memasukkan seorang wanita ke dalam kamarnya tanpa izinnya.
__ADS_1
Rossa mendengar panggilan dari anaknya dengan suara yang menggema di seluruh ruangan. Ia tergopoh-gopoh datang, dan langsung masuk ke dalam kamar Abdi.
"Ada apa sih nak, kau berteriak-teriak seperti itu?" tanya Rossa yang merasa tidak senang melihat kelakuan putranya yang semakin tidak menghormatinya.
"Apa yang wanita ini lakukan di dalam kamarku dan kenapa Mama mengizinkannya untuk masuk ke dalam sini?" tanya Abdi dengan mata berapi-api.
Abdi sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah lagi menyentuh Alana maupun wanita-wanita di masa lalunya. Abdi sudah berjanji untuk memperbaiki kualitas hidupnya mulai dari hari ini.
"Cepat suruh wanita itu keluar dari kamarku, atau aku yang akan meninggalkan rumah ini!" Abdi tampak begitu geram kepada Rossa yang sudah lancang memasukkan Alana ke dalam kamarnya.
Siapa yang menyangka kalau tiba-tiba Alana menangis tersedu-sedu melihat Abdi yang memperlakukannya seperti itu.
"Kenapa kamu jahat sekali, Abdi? Aku datang kemari karena merindukanmu dan ingin kembali kepadamu, tetapi begini caranya engkau memperlakukan seorang tamu yang sedang hamil?" tanya Alana yang benar-benar merasa sedih karena Abdi sama sekali tidak mau melirik kepadanya.
Alana sudah mendengar berita terbaru dari teman-temannya, bahwa Abdi sudah bercerai dengan Delima dan mendapatkan banyak sekali harta gono-gini dari keluarga Bagaskara. Selain itu, Abdi juga mendapatkan paham 10% dari perusahaan Prawira yang dimiliki oleh keluarga Nathan yang terkenal kaya raya.
Oleh karena itu, Alana, yang tadinya berencana akan menikahi bodyguard-nya, langsung melarikan diri dari kedua orang tuanya dan mencari Abdi.
"Cepat lah tinggalkan kamarku! Sebelum aku memanggil polisi atau orang tuamu untuk datang kemari!" Abdi, yang sudah kehabisan kata-kata, akhirnya harus mengungkapkan hal yang sangat dihindarinya. Bagaimanapun, Abdi ingin berubah dan dia tidak ingin menyakiti wanita, apalagi dia tahu kalau Alana saat ini sedang hamil. Karena melihat ibunya dan Alana yang tidak bergeming, Abdi kemudian mengambil ponsel dan kunci mobilnya untuk keluar dari rumah begitu saja.
Rossa yang terkejut melihat putranya pergi, kemudian mengejar Abdi dan memintanya untuk tidak meninggalkan dia. "Anakku mau ke mana sayang? Ini adalah rumahmu!" Rossa benar-benar menangis saat melihat Abdi naik ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah.
__ADS_1
"Lihatlah Alana! Semua ini gara-gara kamu! Bukankah tante sudah bilang kalau Abdi pasti marah kalau melihatmu di dalam kamarnya? Sekarang sebaiknya kamu pergi dari rumah ini atau Abdi tidak akan pernah kembali lagi ke sini!" Rossa kemudian mengusir Alana dari rumahnya. Alana menangis tersedu-sedu, tapi Rossa tidak memperhatikannya.
"Sudahlah pergi sana! Jangan berpura-pura menangis di hadapanku, karena tidak akan mempan sama sekali!" Alana kesulitan membuat Rossa membelanya atau membantunya untuk mendapatkan Abdi kembali. Tentu saja, Alana tidak ingin melepaskan Abdi yang sekarang sudah menjadi seorang duda keren yang kaya raya. "Baiklah, tante, sekarang aku akan pergi. Nanti aku akan datang lagi kemari!" Alana meninggalkan kediaman Abdi dengan hati yang marah dan kesal karena segala usahanya sia-sia.