
Setelah membereskan semua barang-barang nya Abdi pun kemudian pindah ke Mansion keluarga Bagaskara.
Abdi tampak begitu bahagia karena akhirnya dia bisa melangkahkan kaki ke Mansion yang mewah itu yang bahkan seumur hidupnya bekerja. Mungkin tidak akan pernah bisa memiliki mansion seperti itu.
" Akhirnya aku bisa juga melangkahkan kaki d
ke tempat ini sebagai menantu dari seorang Bagaskara." ucap Abdi bermonolog kepada dirinya sendiri ketika dia turun dari mobilnya.
Begitu turun dari mobilnya Abdi kemudian memanggil pegawai yang bekerja di Mansion itu untuk membantu dia mengeluarkan barang-barang miliknya.
Akan tetapi semua pegawai itu langsung terdiam setelah mendengarkan perkataan Bagaskara.
" Kalian kembali lagi ke pos kerja Kalian masing-masing. Kalian tidak usah mau untuk mendengarkan semua perintah dari laki-laki itu. Karena dia di sini hanyalah menumpang saja. Tuan besar dan nyonya besar di rumah ini tetaplah aku dan Delima sebagai Nyonya rumah di rumah ini. Apa kalian dengar itu?" tanya Bagaskara sambil menatap para karyawannya yang kemudian langsung menganggukkan kepala.
' Cih dasar tua bangka brengsek! Kurang ajar! Berani-beraninya Dia munghina aku dengan mengatakan hal seperti itu. Lihat saja ketika aku sudah berhasil menyingkirkanmu dari tempat ini aku pasti tidak akan pernah membiarkanmu untuk menghina dan menggangguku lagi!' bathin Abdi bersedih kesal luar biasa kepada Bagaskara yang sudah melarang para pekerjanya untuk menolong Abdi membawa barang-barangnya yang lumayan banyak ke dalam kediaman itu.
Rumah yang sekarang ditempati Abdi akhirnya diberikan kepada kedua orang tuanya untuk bisa ditempati oleh mereka.
__ADS_1
Rumah tersebut sebenarnya adalah hadiah pernikahan dari Bagaskara untuk Delima. Tetapi selama ini Abdi merasa bahwa rumah itu adalah miliknya sendiri. Karena di dalam sertifikat hanya tertulis namanya sebagai pemilik dari rumah itu.
Setelah menyuruh para pegawainya meninggalkan aku sebagai sekarang mendekati Abdi dengan wajah congkaknya.
" Lakukan semua keperluanmu sendiri dan jangan pernah berharap akan mendapatkan pelayanan dari para pegawai ku. Karena mereka semua aku gaji hanya untuk melayani aku dan Delima. Apa kau paham itu?" tanya Bagaskara dengan tatapan yang begitu membunuh dan benar-benar menjatuhkan mental Abdi dalam sekejap.
Setelah mengatakan itu Bagaskara kemudian meninggalkan Abdi dan Dia pun akhirnya membiarkan Abdi untuk tinggal di kediamannya semua itu dia lakukan demi cucu dan juga anak kesayangannya.
" Kalau bukan karena cucuku. Aku tidak akan pernah sudi menerima sampah sepertimu untuk menjadi bagian dari keluargaku. Kau harus benar-benar memperlakukan anakku dan juga cucuku dengan baik. Kalau kau masih sayang dengan nyawamu!" ucap Bagaskara sambil menatap tajam ke arah Abdi yang sampai saat ini masih menciut nyalinya saat berhadapan dengan Bagaskara yang begitu memiliki Aura yang sangat kuat sebagai seorang pemilik perusahaan yang sangat besar di Jakarta.
' Kalau bukan karena perusahaan yang kau janjikan. Aku tidak akan sedih untuk merendahkan diriku seperti ini kepada manusia sepertimu!' batin Abdi sambil berdecih merasa sangat kesal kepada Bagaskara yang selalu saja menunjukkan kebencian dan juga amarahnya kepada Abdi.
Bagaskara selama ini hanya membenci keluarga Prawira dan dia telah mengeluarkan begitu banyak usaha untuk berurusan dengan keluarga itu.
" Ya ampun gara-gara tua bangka itu, aku jadi harus melakukan semua ini sendiri saja. Ya ampun ini benar-benar sangat menyebalkan. Besok aku akan menyewa pembantu untuk diriku sendiri yang akan ku gaji untuk selalu melayani semua kebutuhanku. Aku tidak mau mati konyol karena harus melakukan semua hal sendiri di rumah ini!" monolog Abdi sambil mulai Masukkan satu persatu barang-barang yang di bawa dari kediamannya.
Abdi yang selama ini selalu berusaha untuk sabar dan tenang ketika menghadapi Bagaskara tampak mulai merasa jengkel luar biasa kepada ayah Delima yang selalu merendahkannya.
__ADS_1
Setelah melakukan begitu banyak usaha. Akhirnya Abdi pun sekarang sudah menempati kamar yang disediakan oleh Delima selama tinggal di mansion itu.
" Selamat datang di kediaman kami. Semoga Mas Abdi betah tinggal di sini ya? Tolong untuk tidak terlalu mengambil hati apapun yang dikatakan oleh Ayahku. Jangan khawatir nanti aku akan menginstruksikan kepada para pelayan untuk mau memenuhi kebutuhan Mas Abdi." ucap Delima dengan senyumnya yang merekah.
Seujurnya Delima pun tidak menginginkan hal ini terjadi tetapi demi anaknya dia harus berusaha untuk menguatkan hatinya. Ya, setidaknya dia ingin hidup berdamai bersama dengan Abdi sebagai suami istri. Walaupun hanya di atas kertas semata.
Mendengarkan janji dari Delima. Abdi sontak merasa bahagia dan tanpa sadar dia malah memeluk Delima karena merasa begitu bersyukur dengan kebaikan hati Delima pada nya. Padahal selama ini dia selalu memperlakukan Delima dengan buruk ketika Delima tinggal di rumahnya.
" Maafkan aku Delima yang selalu bersikap kasar kepadamu. Ketika dulu kita tinggal bersama di kediamanku. Percayalah pada. Akuku berjanji aku akan berusaha untuk menjadi suamimu yang baik!" ucap Abdi dengan kikuk ketika dia menyadari tingkah konyolnya yang tiba-tiba saja memeluk Delima yang juga sama-sama terkejut dengan kelakuan itu.
Delima hanya menatap Abdi dengan lekat sejujurnya dia pun tidak terlalu excited dengan hubungannya bersama dengan Abdi bagaimanapun saat ini hidupnya hanya untuk dia tujukan kepada anak yang ada di dalam kandungannya.
" Ya sudah Mas Abdi Istirahatlah dulu karena saya juga akan kembali ke kamarku!" setelah mengatakan itu delima pun kemudian naik ke lantai atas untuk kembali ke kamarnya yang ada di lantai empat.
Delima tampak menggunakan lift yang ada di di sebelah kamar Abdi. Sejenak Abdi terus memperhatikan langkah kaki Delima yang semakin menjauh darinya.
" Kamu bodoh sekali Abdi karena kamu telah melewatkan wanita secantik Delima untuk menjadi istrimu. Sekarang Alana bahkan entah ada di mana. Mungkin kalau dulu kau selalu memperlakukan Delima dengan baik, Delima tidak akan pernah berhubungan dengan Nathan bahkan sekarang harus hamil anak bajingan itu. Cih dia lebih mementingkan kebenciannya terhadap Bagaskara daripada darah daginnya sendiri. Laki-laki macam apa dia itu? Dasar menyebalkan!" monolog Abdi benar-benar merasa kesal luar biasa kepada Nathan yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Delima yang untuk saat ini masih terlihat rata.
__ADS_1
" Kalau aku dulu menerima pernikahan kami. Mungkin sekarang Delima sudah hamil anakku dan mungkin juga sudah memiliki beberapa orang anak yang cantik dan tampan seperti kami berdua. Bodohnya aku yang selalu saja termakan rayuan Alana!" ucap Abdi yang tampak menyesali semua hal yang terjadi di dalam hidupnya selama ini.