Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
47. Haruskah??


__ADS_3

Arya merasa bahagia dengan rencana pernikahan Nathan dan Delima yang akhirnya berjalan dengan lancar. Hanya tinggal menunggu hari saja.


"Apakah aku harus melaporkan kepada Tuan Nathan tentang apa yang dilakukan oleh Tuan Abdi di luar negeri?" monolog Arya yang saat ini sedang memegang sebuah berkas yang dilaporkan oleh anak buahnya.


"Aku harus melaporkan semua ini kepada Tuan Nathan. Kalau tidak, dia akan berpikir kalau Tuan Abdi sudah bertobat dan tidak memiliki niat buruk lagi kepadanya," Arya memutuskan untuk melaporkan apa yang dilakukan oleh Abdi di luar sana.


Tanpa sepengetahuan Nathan, Abdi ternyata terus membeli saham-saham milik Prawira Group yang dilepas oleh peroranganan yang telah dia bujuk untuk membelinya atas nama orang lain. Abdi ternyata merencanakan untuk melakukan kudeta terhadap perusahaan yang dimiliki oleh Nathan. Saham 10% yang diberikan oleh Nathan kepada Abdi ternyata digunakan sebagai modal untuk dia melancarkan aksinya dan terus berusaha untuk mengumpulkan kekuatan supaya dirinya bisa merebut perusahaan Prawira group dari tangan Nathan sebagai ahli waris.


Nathan tampak terkesiap mendapatkan laporan seperti itu dari Arya. Nathan benar-benar tidak menyangka kalau orang yang dia kira sudah bertobat ternyata menyembunyikan bisanya di belakang senyum manis yang selalu diberikan oleh Abdi kepadanya.


"Tampaknya dia belum juga berubah dan dia sudah memutuskan untuk menjadi musuhku yang abadi. Kemarin dia sudah menggoyahkan perasaan Delima untuk menikah denganku dengan berpura-pura menjadi orang baik dan mengembalikan saham 10% itu kepadaku. Aku yang bodoh karena tidak mau menerimanya kembali," Nathan terlihat begitu menyesali atas sikap rongtonya karena tidak mau menerima apa yang dikembalikan oleh Abdi kepadanya.


"Tuan, mungkin kita bisa menggunakan rekaman CCTV saat pertunangan Anda dengan Nyonya Delima. Bukankah waktu dia menyerahkan kembali saham-saham itu kepada Anda?" tanya Arya dengan mata berbinar karena berpikir bahwa ada kesempatan untuk bisa kembali merebut semuanya dari Abdi.


Namun siapa yang menyangka, Nathan malah mengkeplak kepala Arya yang tadi sudah sangat bahagia.


"Kau bodoh atau dungu? Jelas-jelas aku sudah mengembalikannya dan tidak mau menerima kembali saham itu. Aku bisa menebak, bahwa aku telah jatuh ke dalam perangkapnya waktu itu. Dengan tingkah innocent-nya yang mengembalikan saham yang sudah kuberikan kepadanya di depan umum, sehingga kalau terjadi apa-apa dengan saham itu, dia bisa memutarbalikkan fakta dan mempermalukan kita dengan moment itu," Nathan terus menggelengkan kepalanya karena dia begitu bodoh tidak bisa melihat kejahatan Abdi yang begitu halus sehingga tidak bisa dirasakan dan dia duga.


"Itu semua karena Anda yang terlalu baik hati Tuan. Hati Anda terlalu mulia, sehingga Anda tidak pernah berpikir bahwa orang akan berbuat jahat kepada Anda," Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Nathan menatap asistennya dengan tatapan sendu. Ah, sungguh membuat Arya jadi tidak bisa berkata-kata.


"Sudahlah Arya kau sembunyikanlah semua fakta ini dari Delima. Aku tidak mau kalau dia sampai kepikiran masalah Abdi lagi. Biarlah ini semua menjadi urusan kita berdua," Arya mengangguk dan kemudian keluar dari ruangan Nathan.

__ADS_1


"Bukankah Nyonya Delima harus mengetahui urusan seperti ini, Tuan? Agar dia tidak terus dimanipulasi oleh Tuan Abdi," tanya Arya.


"Sudahlah Arya! Kau jangan membuat kepalaku tambah pusing. Kau ikuti saja apa yang aku katakan padamu. Tolong kau tetap sembunyikan semua ini dari Delima. Aku tidak mau dia jadi stres karena memikirkan orang nggak penting seperti Abdi. Apa kau paham?" tanya Nathan sambil menatap tajam kepada asistennya.


"Tuan Nathan, Nyonya Delima sebuah wanita yang beruntung, karena mempunyai calon suami sepertimu," Arya begitu bangga dengan bos besarnya yang selalu memiliki hati yang baik dan mulia.


"Aku hanya tidak mau kalau Delima terus memikirkan soal Abdi. Biarlah dia hanya memikirkan aku saja dan juga pernikahan kami berdua," terlihat Nathan tersenyum bahagia memikirkan rencana pernikahannya bersama Delima yang hanya tinggal menunggu hari.


"Tuan, sepertinya Anda sudah bucin tingkat akut dan sangat sulit untuk ditolong lagi," Arya terus menggoda Nathan yang saat ini sedang bahagia.


"Baiklah Tuan saya akan kembali ke kantorku dulu. Selamat bekerja kembali!" Arya kemudian keluar dari kantor Nathan.


Delima yang tadinya berada di balik pintu kantor Nathan melihat Arya yang mau keluar dari sana, langsung bersembunyi karena khawatir Nathan tahu kalau dia sudah mengetahui semua yang dilaporkan oleh Arya kepada Nathan tentang Abdi yang ternyata secara diam-diam selalu membeli saham Prawira Group.


Delima yang tadinya berniat ingin menyerahkan kotak makan siang untuk calon suaminya lebih memilih menurunkan niatnya dan dia menitipkan kotak makan siang itu kepada sekretaris Nathan.


"Tidak usah. Tadi ayahku menelepon kalau aku harus segera ke kantornya. Nanti kalau Nathan bertanya tentangku, kau katakan saja kalau makanan ini diantarkan oleh Grab kemari. Saya izin ya?" Delima kemudian bergegas pergi dan meninggalkan kantor Nathan.


Sekretaris Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Delima. Karena tadi saat Delima sedang menguping di depan pintu ruangan Nathan, sang sekretaris sedang berada di kamar mandi. Jadi dia tidak mengetahui kronologis yang sesungguhnya.


Sekretaris Nathan kemudian masuk ke dalam ruangan dan menyerahkan kotak makan siang yang tadi dibawa oleh Delima untuk Nathan dan diserahkan kepadanya.


Tok..tok..tok..

__ADS_1


"Masuklah," terlihat Nathan yang begitu lemas setelah mendapatkan laporan dari Arya tentang apa yang dilakukan oleh Abdi di luar negeri.


" Tuan, ini ada kiriman makan siang dari grab yang di kirim oleh Nyonya Delima untuk Anda," ucap sekretaris Nathan.


" Kom tumben banget?? Biasanya Delima mengirimkannya langsung padaku," Monolog Nathan yang merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Delima.


" Saya tidak tahu, Tuan!" ucapnya.


Nathan mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari sekretarisnya yang terkesan tidak profesional menurut Nathan.


"Tuan, sebenarnya saya ingin membereskan pekerjaan saya agar cepat pulang, karena anak saya sedang sakit. Bukan tidak ingin membantu Tuan, hanya saja...," sekretaris Nathan berhenti berbicara ketika melihat ekspresi wajah Nathan yang mulai kesal. Dia tidak mau mengambil risiko membuat Nathan marah lebih parah lagi.


"Baiklah," kata Nathan menenangkan diri.


"Sampai di sini saja. Kau bisa pulang sekarang. Aku akan menyelesaikan ini sendiri." Setelah itu, Nathan keluar dari ruangan dan menuju ke mobil Delima yang terlihat masih terparkir di luar kantornya.


Setelah bertanya ke beberapa orang, akhirnya Nathan menemukan Delima di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantornya. Delima sedang menunggu pesanannya di meja dengan di temani beberapa novel untuk membunuh kebosanan. Nathan merasa sedikit lega melihat Delima dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Maaf sayang, aku terganggu dengan kotak makan siang itu yang katanya kau kirim dengan jasa grab. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu," kata Nathan tersenyum sambil duduk du kursi yang sama di meja yang ada di cafe, tempat Delima duduk saat ini.


Delima mengangguk dan tersenyum. "Sudah tidak apa-apa, sayang. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan. Isi kotak makan siang itu adalah makanan kesukaanmu. Aku tahu hari ini kau sangat sibuk, jadi aku ingin membuatmu merasa lebih baik dengan makanan kesukaanmu." ujar Delima sambil tersenyum.


" Akan tetapi tadi ketika aku hendak mengantarkan makan siang itu untukmu, tiba-tiba aku mendapatkan panggilan dari Papaku dan Papa mengajak aku untuk bertemu di cafe. Aku tidak tahu untuk apa Papaku memanggilku kemari," Delima berusaha untuk menjelaskan semuanya kepada Nathan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.

__ADS_1


Nathan tersenyum lega. Tadinya Nathan merasa takut kalau Delima mendengarkan apa yang dia bicarakan dengan Arya tentang Abdi. Dia merasa sangat beruntung memiliki Delima sebagai calon istrinya. Meskipun terkadang perilaku Delima agak aneh, tetapi Nathan tahu bahwa Delima selalu punya niat baik untuknya. Dalam hatinya, Nathan berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Delima dengan sebaik-baiknya.


" Baiklah sayang tidak apa-apa. Kau bisa melanjutkan pertemuanmu dengan Papamu. Aku akan kembali ke kantor karena saat ini sedang banyak pekerjaan," Nathan kemudian bangkit dari duduknya dan bersiap untuk meninggalkan Delima.


__ADS_2