
Nathan meninggalkan ibu dan anak itu yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh keheranan.
" Jadi dia yang selama ini selalu diceritakan oleh Mama. Nathan yang sombong?" tanya Bagas terlihat begitu malas ketika dia melihat Nathan yang begitu sombong dan arogan di hadapan ibu tirinya.
Nathan membelalakkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas tentang dirinya.
" Weh, Aku sombong karena punya kualifikasi lah kamu?" sinis Nathan yang kemudian pergi dari hadapan mereka berdua.
Bagas merasa panas telinganya mendengarkan apa yang dikatakan Nathan tentang dirinya.
" Kamu kira kamu hebat?" tanya Bagas pada Nathan dengan tatapan jengkel.
" Ayolah Bagas! Kau baru saja menginjakkan kakimu di Indonesia. Tolong jangan membuat masalah yang akan membuat kepalaku terasa mau pecah!" Amanda terlihat begitu kesal saat Nathan menatapnya dengan emosi yang ga jelas gara-gara apa.
Padahal selama ini Nathan selalu baik kepadanya dan tidak pernah lupa untuk mengirimkan barang-barang branded yang diproduksi oleh perusahaan Nathan untuk dirinya. Akan tetapi untuk pertama kalinya Nathan menatapnya dengan begitu tajam dan tidak bersahabat sungguh membuatnya jadi keter ketir seketika.
" Sudahlah Mah. Aku pusing aku pulang saja!" Bagas merasa tidak suka dengan apa yang dikatakan ibu tirinya.
" Kamu itu gimana sih Bagas?? Tadi kau bilang mau membantu mama disini. Tapi sekarang kenapa kamu malah mau kabur begitu sih?" tanya Amanda kesal kepada Bagas yang sudah pergi meninggalkan kediaman Bagaskara.
Bagas yang awalnya ingin bertemu dengan Delima, sekarang harus menahan emosinya karena melihat Nathan yang ada di sana juga.
" Sialan banget sih!! Itu orang selalu saja ada di mana-mana!" gerutu Bagas merasa kesal sekali dengan Nathan yang sejak kemarin membuatnya emosi.
" Nathan, Awas kau! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Bagas kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan kediaman Bagaskara.
Nathan hanya menatap kepergian Bagas dengan perasaan yang nano-nano rasanya. Bagaimanapun juga Bagas adalah sepupunya sendiri. Anak dari tantenya sendiri. Walaupun hanya Anak Tiri tetapi tetap saja masih bagian dari keluarganya.
" Lepas Abdi, sekarang datang Bagas!! Ya Tuhan!! Ini cobaan ataukah ujian? Semoga kami berdua sanggup menghadapi semua ini dan tidak akan tergoda ataupun terganggu dengan kehadiran makhluk astral itu!" doa Nathan sambil menatap kepergian Bagas dengan kesal dan bingung.
" Siapa yang mahluk astral?? Apa maksudmu, kau bisa melihat setan di rumah ini??" tanya Delima yang tiba-tiba sudah berada di belakang Nathan.
Nathan hanya nyengir saja mendengar pertanyaan Delima kepadanya.
__ADS_1
" Ya sayang!! Tenang aja kok sayang. Makhluk astralnya sudah pergi dari sini. Tadi aku usir dia, biar nggak ganggu kamu dan juga keluarga kamu!" Delima sampai membelalakkan matanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nathan yang terlihat begitu serius.
" Apa kau yakin?? Makhluk astral itu sudah pergi meninggalkan tempat ini?" tanya Delima sambil celingukkan melihat ke sana kemari.
Nathan tertawa lucu melihat ekspresi wajah Delima yang seperti terkejut dan juga ketakutan.
" Nathan, sedang apa kau di sini? Bukankah sudah dikatakan oleh ayah kamu? Kalau kalian tidak boleh bertemu sampai hari H?" tanya Bagaskara yang mengkerutkan keningnya saat melihat Nathan saat ini sedang berbicara dengan putrinya.
Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena sudah Ketangkap basah oleh calon mertuanya sedang bertemu dengan calon istrinya.
" Aku hanya ingin menunjukkan ballroom yang akan digunakan oleh kami pada saat resepsi pernikahan kepada Delima," ucap Nathan terlihat gugup.
" Elah, paling modusmu saja ingin bertemu dengan putriku. Sudah sana pulang!! Kalian berpisah hanya 3 hari saja sampai hari H. Setelah pernikahan kalian selesai, kalian bisa bertemu sesuka hati kalian. Terserah! Tidak akan ada yang melarangnya!" Bagaskara berkata dengan tegas kepada Nathan.
Delima hanya tersenyum melihat Nathan yang tidak bisa berkata-kata di hadapan ayahnya.
Nathan sendiri tidak mengerti kenapa dia selalu tidak bisa melawan Bagaskara. Padahal Dulu ketika dia belum mengenal Delima, dirinya lumayan pro untuk melawan seorang Bagaskara yang terkenal galak.
Nathan masuk ke dalam mobilnya dengan begitu santai. Nathan kemudian menuju ke kantornya. Karena masih ada beberapa hal yang harus dia selesaikan di sana. Sebelum dia mengajukan cuti kepada sang ayah untuk fokus mempersiapkan hari pernikahannya.
Nathan langsung masuk ke dalam ruangan miliknya yang luas dan mewah begitu dia sampai di kantornya. Nathan sejak dulu memang ada seorang workaholic yang sangat menyukai pekerjaan.
Arya sebagai asistennya pun mengalami kesulitan untuk membuat dia tidak terlalu bekerja keras untuk perusahaan keluarga Prawira.
" Pak, tiga hari lagi Anda menikah dan Anda masih berangkat ke kantor? Kenapa anda tidak melakukan perawatan di rumah agar nanti kinclong saat menikah?" tanya Arya yang merasa excited sekali saat melihat Bos besarnya sekarang sedang bekerja di kursi kebesarannya.
" Perawatan kepalamu? Memangnya kau pikir aku ini apa, huh?? Aku itu sudah kinclong dari sananya! Bawaan orok dengan garansi seumur hidup! Walaupun tidak melakukan perawatan sekalipun! Sembarangan saja kau bicara!" ucap Nathan dengan tatapan horornya kepada Arya.
Arya hanya meringis mendengar ucapan dari bosnya yang sudah kembali seperti dulu sebelum mengenal Delima yang sudah membuat bos besarnya tergila-gila dengan pesonanya yang hakiki.
" Ok Bos!! Oh ya, Bos. Ngomong-ngomong bos ke kantor mau ngapain sih? Bukankah Bos bisa minta ke saya saja? Biar nanti saya yang akan antarkan ke rumah Bos!" Nathan melotot sempurna mendengar ucapan Arya.
" Sebenarnya di sini yang bos itu aku atau kamu, hmm? Kenapa aku harus selalu melaporkan segala sesuatu padamu? Sudah kau kembali sana ke ruanganmu dan kerjakan tugasmu saja! Jangan menggangguku!" Nathan tampak kesal dengan Arya.
__ADS_1
Arya pun langsung menyingkir dari hadapan Nathan. Arya sudah mengenal Nathan luar dalam. Kalau sudah melihat bosnya seperti itu, berarti Nathan sedang menghadapi masalah yang besar dan tidak ingin di ganggu siapa pun juga.
Nanti ketika Nathan sudah bisa menguasai perasaannya, dirinya pasti akan dipanggil kembali ke ruangan Nathan untuk mencari solusi bersama.
Arya meninggalkan Nathan dan kembali masuk ke dalam ruangannya sendiri. Arya tahu kalau bosnya stress berat karena tidak diperbolehkan bertemu dengan Delima sejak kemarin oleh ayahnya.
" Ya ampun!! Padahal cuma tinggal 3 hari lagi menuju hari H. Apa susahnya untuk menahan diri agar tidak bertemu sementara waktu? Dasar orang kalau sudah bosan jangan lupa segalanya!" ucap Arya sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bos besarnya.
Arya kemudian mulai fokus dengan pekerjaannya. Tidak ambil pusing lagi dengan urusan Nathan yang tadi marah-marah tidak jelas kepadanya.
Arya sudah terlalu terbiasa menghadapi kelakuan Nathan. Jadi tidak pernah ambil pusing ataupun baper dengan semua yang dilakukan Nathan kepadanya.
" Akhirnya selesai juga. Eh, tumben banget sih, kok bos besarku anteng banget sejak tadi?? Dia baik-baik saja kan? Jangan sampai kenapa-napa dengan dia! Sebaiknya aku mengecek ke ruangannya!" Arya yang khawatir dengan kondisi Nathan yang baginya tidak seperti biasanya. Arya langsung masuk ke dalam ruangan, tanpa mengetuk pintu.
" Ya ampun!! Arya kau hampir saja membuatku jantungan!" Ucap Nathan sambil menekan jantungnya yang berdebar kencang sekali karena kaget gara-gara Arya yang masuk tiba-tiba tanpa mengetuk pintu ruangannya.
Arya hanya meringis mendengarkan ucapan dari bos besarnya.
" Maafkan saya Bos. Tadi Saya khawatir sekali dengan keadaanmu. Karena tumben banget bos gak panggil saya lagi setelah sekian jam." ucap Arya yang merasa khawatir dengan keadaan bos nya.
Nathan memutar bola matanya dengan malas mendengar apa yang dikatakan oleh Arya.
" Ya ampun!! Kenapa kau jadi paranoid begitu sih?? Aku baik-baik saja kok. Aku dari tadi sibuk mengurus tentang saham-saham yang sudah dibeli oleh Abdi. Aku sedang berpikir, bagaimana caranya untuk bisa menarik semua ini kembali ke tangan kita. Aku tidak bisa membiarkan Abdi merajalela di dalam perusahaanku!" Terlihat Nathan yang menatap mata Arya dengan begitu serius.
Arya kemudian duduk di hadapan Nathan dan melihat berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya.
" Jadi dari tadi Bos serius bekerja karena masalah ini?" tanya Arya yang tersenyum kepada Nathan.
" Memangnya kenapa?" Nathan mengerutkan keningnya melihat asistennya yang khawatir dengan dirinya.
Nathan tahu kalau Arya adalah asisten yang sangat perhatian dan juga peduli dengannya.
" Aku baik-baik saja Arya. Kau tidak usah khawatir denganku! Aku hanya sedang sibuk untuk mencari cara melawan Abdi!" Nathan menatap Arya lekat.
__ADS_1