Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
50. Gugup


__ADS_3

" Gawat kalau Papa melihatnya. Dia pasti akan mengejek aku terus-terusan dan berpikir kalau aku dan Nathan habis melakukan macam-macam." Delima tampak begitu frustasi memikirkan kedatangan ayahnya ke dalam kamarnya.


" Sayang?" kembali terdengar suara Bagaskara yang sudah tidak sabar lagi.


" Ya, Pah!! Masuklah tidak Delima kunci!" teriak Delima dari walk in closed miliknya.


Bagaskara masuk ke dalam kamar dan melihat delima yang saat ini sedang berada di walk in closed miliknya.


" Kamu sedang apa di situ?" tanya Bagaskara merasa heran putrinya berada di dalam sana berlama-lama.


" Tidak apa-apa Pah. Delima hanya sedang membereskan benda-benda yang ada di sini dan mengeceknya. Apakah ada yang bisa Delima sumbangkan ke panti atau tidak," dusta Delima sambil meringis kepada mereka sekarang yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Kemarilah sayang. Karena Papa ingin bicara denganmu!" Bagaskara kemudian duduk di sofa yang ada di dalam kamar Delima dengan begitu santainya.


Delima sekali lagi melihat tampilan dirinya di cermin. Memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya yang akan mengundang kecurigaan ayahnya.


Bagaskara bisa melihat kegugupan di wajah putrinya saat ini.


" Kamu kenapa sih sayang? Kok dari tadi papa perhatikan aneh sekali sih?? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari papa?" tanya Bagaskara benar-benar Penasaran sekali dengan apa yang sedang terjadi kepada putrinya saat ini.


" Ga kok Pah. Papa jangan asal sembarang menuduh!" protes Delima yang kemudian duduk di dekat ayahnya.


" Ada apa Pah? Kok tumben bener, Papa malam-malam begini masuk ke dalam kamar Delima sih?" tanya Delima benar-benar penasaran sekali.


Bagaskara kemudian menyerahkan kartu undangan yang sudah selesai dicetak dan sekarang diperlihatkan kepada Delima untuk dinilai. Apakah putrinya puas atau tidak.


" Bagaimana menurutmu sayang kartu undangan ini?" tanya Bagaskara sambil menyerahkannya kepada delima.


" Bagus kok. Aku suka! Semua yang di pilih oleh Papa, pasti yang terbaik. Delima tidak akan meragukannya sama sekali." ucap Delima dengan penuh kebanggaan sambil memeluk ayahnya.


" Ingatlah Delima. Pernikahanmu sebentar lagi. Kau sebaiknya tidak usah pergi-pergi keluar rumah lagi. Hal itu untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Paham?" tanya Bagaskara sambil menatap kepada Delima.

__ADS_1


" Ya Pah," Delima terlihat lesu karena itu artinya dirinya harus bersiap-siap untuk terkurung di dalam mansion milik ayahnya.


" Biarkan papa dan Om Arjun yang akan mengurus semua persiapannya. Ok?" tanya Bagaskara sambil memegang pipi Delima.


Delima hanya menganggukkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya.


Delima sangat tahu apa yang dilakukan oleh ayahnya adalah yang terbaik untuk dirinya.


Delima tahu kalau ayahnya benar-benar menyayanginya dan tidak mau terjadi apa-apa dengannya karena hari pernikahan sudah semakin dekat maka dia harus ekstra hati-hati untuk mengurangi segala kekhawatiran ayahnya soal keselamatan dirinya dan lain sebagainya.


Bagaskara kemudian keluar dari kamar Delima. Akan tetapi terlihat Bagaskara yang menghentikan langkahnya ketika dia hendak membuka pintu kamar putrinya.


" Sayang, kenapa kamu mau di rumah saja menggunakan syal begitu? Apakah kau tidak kepanasan sayang?" tanya Bagaskara sambil mengerutkan keningnya.


" Tidak apa-apa kok Pah!! Delima hanya merasa sedikit kedinginan saja kok. Udah Papa tidur saja dan beristirahat." Delima kemudian tersenyum kepada ayahnya.


" Kamu tidak mau makan malam dulu bersama papa?" tanya Bagaskara.


" Tadi Delima sudah makan malam bersama Nathan di luar saat dia menjemput Delima dari Cafe temanku," Bagaskara mengangguk dan merasa senang karena Nathan peduli dan juga mencintai putrinya dengan tulus.


Bagaskara kemudian keluar dan meninggalkan Delima sendirian di dalam.


Kring kring


Terdengar suara dering telepon yang mengagetkan Delima. Delima langsung mencari tahu keberadaan ponselnya lalu mengangkatnya dengan segera.


" Ya?"


" Kau belum tidur juga sayang?" tanya Nathan merasa tidak suka dengan hal itu.


" Aku baru mau tidur sayang. Ya ampun!! Aku baru saja selesai mandi. Kamu kenapa sih?? Lagi pula ini masih jam 08.30, belum terlalu malam," protes Delima dengan sifat Nathan yang terkadang begitu overprotektif dengannya dan membuat Delima merasa kadang jengah dan kesal sekali.

__ADS_1


Nathan hanya tertawa di seberang sana mendengarkan ucapan dari Delima.


" Lagian kalau aku tidur sekarang. Aku pasti tidak akan bisa menjawab teleponmu begini. Nanti kau pasti marah-marah dan juga salah paham denganku seperti kemarin." ucap Delima yang kembali mengingatkan kejadian ketika Nathan marah kepadanya.


Hanya gara-gara tidak mengangkat telponnya, Nathan sampai ngamuk kepadanya waktu itu. Padahal saat itu Delima tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di kantornya dan dia berada di ruang meeting seharian bersama timnya yang sedang mempersiapkan produk baru untuk diluncurkan ke pasar.


" Baiklah. Apakah kau sudah makan malam?" tanya Nathan lagi.


" Bukankah aku baru saja makan malam tadi ya, bersamamu?" tanya Delima mengingatkan kembali calon suaminya yang terlihat begitu gugup sehingga terkesan tidak mengingat hal yang sudah terjadi ketika kebersamaan mereka tadi saat Nathan mengantar Delima pulang ke mansion Bagaskara.


" Baiklah. Aku lupa sayang. Itu gara-gara aku begitu emosi melihat laki-laki bernama Bagas itu yang terlihat begitu seakan akrab sekali denganmu. Aku benar-benar merasa cemburu dan tidak nyaman melihatnya," Nathan menjelaskan semua yang dia rasakan kepada Delima.


Delima merasa senang karena Nathan berterus terang segala perasaan yang dia rasakan kepadanya.


" Sudahlah aja membahas hal itu lagi kalau hanya akan membuatmu marah nggak jelas kek tadi." Delima merasa tidak enak ketika dia mengingat kembali tentang kado yang diberikan oleh Bagas tadi.


' Untung saja tadi Nathan tidak mampir Kalau tidak dia pasti akan melihat kado itu diberikan oleh si Bibi kepadaku. Aih, bisa-bisa akan terjadi perang dunia ke-4 di sini,' bathin Delima merasa ngeri dengan emosi Nathan yang sulit untuk dikontrol ya ketika sudah marah begitu.


Akan tetapi di atas itu semua, Delima merasa bahagia karena semua amarah Nathan ditujukan karena dia mencintainya bukan karena membencinya.


Hal itulah yang membuat delima bisa mentolerir semua emosi Nathan selama ini.


Lagi pula Nathan kalau marah tidak sampai bermain fisik ataupun melempar barang-barang di dekat dia. Nathan hanya mendiamkan Delima selama seharian dan membuatnya kelimpungan luar biasa dengan apa yang di lakukan oleh Nathan.


Delima kadang merasa gemas dengan apa yang dilakukan oleh calon suaminya.


" Besok kita pergi untuk mengecek tempat resepsi pernikahan kita. Kamu nanti siap-siap ya sayang? Jam 07.00 pagi kita akan berangkat ke sana. Aku akan menjemput kamu nanti." ucap Nathan pelan.


Delima mengingat apa yang sudah dipesan oleh ayahnya tadi.


" Sayang, Maafkan aku! Sepertinya aku tidak bisa untuk pergi bersamamu untuk kali ini," ucap Delima dengan rasa penuh penyesalan.

__ADS_1


" Kenapa?" Delima bisa merasakan aroma kekecewaan dari suara Nathan.


" Baru saja Papaku keluar dari kamarku dan mewanti-wanti aku untuk tidak pergi kemana-mana. Karena takut terjadi apa-apa di jalan. Pernikahan kita berdua hanya tinggal menunggu hari saja. Jadi sebaiknya kita sebisa mungkin untuk mengurangi aktivitas di luar!" Nathan terlihat mengerti dengan penjelasan yang disampaikan oleh Delima dan tidak mempermasalahkan hal itu.


__ADS_2