
Berkali-kali Abdi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sungguh dia benar-benar tidak pernah menyangka kalau perbuatan malam itu akan menghantarkan dirinya kepada situasi malam ini. Di mana dia harus mengakui anak dari musuhnya sendiri untuk menjadi anaknya dengan tawaran gaji 100 juta setiap bulan dan juga kehormatan keluarganya yang tidak akan dilaporkan oleh Bagaskara ke kantor polisi sebagai penipu.
Abdi memang sudah melarang ayahnya untuk melakukan kecurangan itu kepada Bagaskara. Akan tetapi ayahnya sangat sulit untuk dinasehati olehnya. Sehingga akhirnya Abdi pun harus terperosok begitu dalam dengan berurusan bersama keluarga Bagaskara.
Abdi merasa kesal luar biasa dalam pernikahan dia bersama Delima. Padahal dia sudah memiliki kekasih dan berniat untuk menikah dengan wanita itu.
Kekasih Abdi pun tidak kalah mentereng dari keluarga Delima. Alana merupakan anak tunggal dari pengusaha terkenal di ibukota. Walaupun tidak sekaya keluarga Bagaskara tetapi ayahnya Alana juga memiliki kekuasaan besar di dalam dunia bisnis.
Setelah mengetahui Abdi yang menikah dengan Delima, auto ayahnya Alana melarang putrinya untuk berhubungan dengan dirinya.
Bahkan sudah hampir 2 minggu Alana dan Abdi tidak pernah bertemu lagi. Karena Alana yang kabarnya bahkan sekarang sudah dikirimkan ke luar negeri oleh sang ayah untuk membuat Alana berpisah dengan Abdi.
" Jadi ternyata kamu yang sudah menolong Nathan dari pengaruh obat itu? Kamu sudah menggagalkan semua rencana aku untuk membunuh Nathan dan sekarang kau malah meminta aku untuk menjadi ayah dari musuhku?" tanya Abdi yang sejenak lupa dengan uang dan juga tuntutan hukum keluarganya yang tadi dikatakan oleh Bagaskara kepada dirinya.
Bagaskara sontak terkesiap mendengarkan pengakuan Abdi yang mengatakan bahwa Nathan adalah musuh besarnya.
" Apa maksudmu mengatakan kalau Nathan adalah musuh besarmu? Apakah kau punya masalah dengan dia?" terlihat Bagaskara yang menatap tajam ke arah Abdi yang sontak terkejut mendapatkan pertaniannya karena dari tadi dia begitu fokus kepada Delima sehingga untuk sesaat melupakan kehadiran Bagaskara di ruangan itu.
__ADS_1
" Sejak dulu aku dab Nathan memang musuh bebuyutan bahkan sejak kami masih duduk di bangku SD. Dia yang sok keren dan sok kaya. Itu benar-benar membuatku merasa jengkel luar biasa kepadanya. Bahkan dia selalu mengambil semua hal yang aku inginkan di atas dunia ini. Dua juga telah membuat orang yang aku cintai lebih memilih dirinya daripada aku. Dia selamanya akan menjadi musuh besarku dan aku tidak akan pernah mau memaafkan dia!" ucap Abdi dengan mata berapi-api.
Bagaskara mendengarkan ucapan Abdi dengan seksama dan akhirnya timbul suatu rencana di dalam otaknya. Untuk dapat memanfaatkan Abdi untuk menghancurkan Nathan tanpa harus mengotori tangannya.
' Tampaknya aku bisa menggunakan laki-laki bodoh ini untuk menghancurkan perusahaan Prawira. Aku yakin dia pasti bisa aku andalkan untuk melakukan tugas kotor itu!' bathin Bagaskara dengan senyum liciknya.
Delima mulai merasa khawatir dengan tatapan ayahnya ketika menatap mata Abdi.
" Terimalah tawaran kami untuk menjadi ayah dari cucuku. Selian itu aku nanti juga akan memberikanmu sebuah perusahaan yang bisa kau kelola untuk melawan Nathan dan melampiaskan semua bendamu padanya. Anggap itu sebagai hadiahku karena kau sudah mau mengakui cucuku sebagai anakmu di hadapan publik!" setelah mengatakan itu Bagaskara kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk masuk ke dalam kamarnya.
Delima terkesiap mendengarkan ucapan ayahnya yang benar-benar tidak ada di dalam pikirannya.
Abdi yang merasa sangat bahagia ketika mendengarkan tawaran dari Bagaskara dia pun langsung menganggukkan kepala dan menerima penawaran dari delima dan juga ayahnya.
Siapa yang tidak akan bahagia ketika mendapatkan Jackpot yang begitu luar biasa di dalam hidupnya? Abdi tidak peduli apakah saat ini dia sedang dimanfaatkan ataupun tidak. Selama dia memiliki pedang untuk bisa menebas leher Nathan itu sudah lebih dari cukup bagi dirinya.
" Baiklah Pak Bagaskara. Sekarang aku mau dan siap untuk mengakui anak itu sebagai anakku dan sebagai gantinya kalian harus ingat dengan semua janji kalian padaku. Kita akan menuliskannya di atas materai dan disaksikan oleh notaris!" ucap Abdi yang ingin mengamankan segalanya yang kelak alan menjadi hak dirinya dalam perjanjian itu.
__ADS_1
Terlihat Bagaskara yang tertawa malaham terbahak-bahak mendengarkan ucapan Abdi yang telah melecehkannya.
" Eh, manusia hina sepertimu masih bisa melakukan tawar-menawar dengan kami? Sudah syukur kami masih berbaik hati kepadamu dengan tidak melaporkan seluruh keluargamu ke penjara. Dengan memberikan uang 100 juta kepadamu setiap bulan. Dengan memberikan perusahaan kepadamu dan engkau masih meminta hal yang begitu konyol pada kami?" tanya Bagaskara dengan tatapan melecehkan dan juga merendahkan Abdi yang dia nilai terlalu tidak tahu diri.
Abdi terlihat terkeren kecut mendengarkan semua perkataan Bagaskara Yang Sejujurnya sangat menohok di hatinya.
" Apakah salah kalau aku ingin mengamankan semua perjanjian ini? Aku hanya takut kalau sampai kalian di tengah perjalanan, ketika sudah tidak membutuhkanku maka kalian akan menendangku begitu saja!" ucap Abdi berusaha untuk tidak gugup.
Terlihat Bagaskara yang hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ketika dia mendengarkan ucapan dari Abdi yang menurutnya tidak bermutu sama sekali.
Ketika Bagaskara hendak mengatakan sesuatu kepada Abdi, Delima langsung menggelengkan kepalanya.
" Baiklah besok kita akan pergi ke notaris untuk menandatangani akte perjanjian ini. Sekarang bersiap-siaplah untuk pindah kemari karena aku tidak mau untuk tinggal di rumahmu!" ucap Delima nyaris tanpa menatap ke arah Abdi.
Yah Delima sudah memutuskan bahwa dia akan tinggal di kediaman ayahnya hal itu dia lakukan untuk mencegah Abdi berbuat anarkis terhadap dirinya ketika hanya tinggal berdua saja seperti yang sudah-sudah.
' Cih Dasar perempuan tidak tahu malu! Rupanya dia menghindariku ya? Baiklah tidak masalah. Aku rada tinggal di Mansion mewah ini rasanya tidak akan rugi sama sekali! Aku akan menikmati Masaku ketika tinggal di mansion mewah ini dan sedikit demi sedikit aku akan menyingkirkan Bagaskara sehingga aku bisa memiliki semua yang dia miliki.' batin Abdi dengan tatapan penuh Khayalan Tinggi ketika dia berhasil menyingkirkan Bagaskara yang selama ini selalu memberikan kepusingan ke kepalanya.
__ADS_1
" Baiklah sekarang juga aku akan bersiap-siap untuk pindah ke Mansion ini. Apakah aku akan membantuku untuk beres-beres?" tanya Abdi yang mulai berani untuk bermain mata kepada Delima yang hanya menggelengkan kepalanya.
Sejujurnya Delima sudah merasa malas untuk mengunjungi kediaman Abdi yang selama ini hanya memberikan sakit hati dan penghinaan kepadanya ketika berstatus sebagai istrinya Abdi dan menempati rumah itu.