Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
46. Perasaan Delima


__ADS_3

Nathan saat ini sedang pergi bersama Delima untuk melakukan fitting gaun pernikahan mereka.


"Kehamilanku sudah besar, akan sulit untuk menemukan gaun pengantin yang pas untuk aku," Delima terlihat sedih.


Nathan menghibur calon istrinya agar tidak merasa rendah diri.


"Kita akan bisa menemukannya di seluruh Jakarta. Bila perlu, kita akan mencarinya di seluruh butik. Percayalah, sayang. Kita pasti bisa menemukannya!" Nathan berusaha untuk menghibur Delima.


Penjaga butik kemudian mendekati Delima. "Mari saya tunjukkan satu gaun yang cantik, yang mungkin bisa digunakan oleh Anda," petugas butik itu pun tersenyum kepada Delima membuat dia senang. "Tampaknya laki-laki itu sangat mencintai calon istrinya. Lihatlah betapa sabarnya dia menghadapi bumil yang satu ini." Bathin penjaga butik sambil terus menatap kepada pasangan itu yang saat ini sedang saling membantu untuk memakaikan pakaian ke pada Delima.


Nathan tidak mengizinkan sama sekali kepada penjaga butik itu untuk membantu Delima memakai pakaiannya. Oleh karena itu, Nathan yang turun tangan sendiri untuk membantunya. "Ya ampun, mereka benar-benar pasangan yang sangat romantis. Baru kuli hati ada laki-laki yang begitu memperhatikan calon istrinya," penjaga butik itu benar-benar terpesona dengan kedua pasangan itu.


"Ada apa?" tanya rekannya yang saat ini melihat temannya ya masih asik memperhatikan Nathan dan Delima.


Temannya itu pun kemudian menunjukkan Delima dan Nathan. "Wah, Bukankah itu Nathan Prawira? Dia mau menikah? Hadeuh, patah hati nasional nih!" ujar temannya yang ternyata mengenal sosok Nathan yang rupawan.


Setelah selesai mendapatkan gaun yang akan digunakan oleh Delima pada saat hari pernikahan mereka, mereka pun kemudian langsung pulang. Delima sangat sadar kalau para pegawai butik tadi terus membicarakan mereka berdua. "Apa benar kalau aku beruntung menikahi Nathan?" Delima sepanjang jalan terus memperhatikan wajah Nathan yang begitu fokus dengan menyetir sambil menggenggam telapak tangannya.


Sungguh, Delima benar-benar merasakan bahwa dia dicintai. "Mungkin papa benar. Sebaiknya aku tidak boleh terpengaruh oleh Mas Abdi. Dia hanya sedang menggodaku agar aku merasa ragu untuk menjalani pernikahan ini!" Delima akhirnya memutuskan untuk mantap dalam melangkah bersama dengan Nathan.

__ADS_1


Laki-laki yang sudah banyak berjuang dan berkorban untuk bisa bersama dengannya saat ini. "Kenapa, sayang?" tanya Nathan sambil melirik kepada Delima yang sejak tadi hanya menatapnya dengan sendu.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mengingat kembali para pegawai butik itu yang begitu terpesona padamu." Nathan tersenyum kepada Delima.


"Aku tidak memperdulikan mereka, sayang. Sekarang yang aku perdulikan adalah kau. Apakah kau terpesona padaku juga?" tanya Nathan dengan senyum usilnya yang membuat Delima jadi salah tingkah sendiri.


"Kalau aku tidak terpesona padamu, aku tidak akan berada di sini bersama kamu," Delima tampak tersipu malu. Bagaimanapun, Delima masih merasa insecure dengan statusnya dan juga usianya yang lumayan terpaut jauh dengan Nathan.


"Aku hanya merasa heran. Apakah yang sudah kulakukan di dunia ini sehingga merasa pantas untuk menjadi istrimu? Padahal aku tahu kau memiliki begitu banyak fans dan juga penggemar. Nathan, aku hanya takut kalau suatu saat kamu menyesali pilihanmu ini untuk menikah denganku!" Delima terlihat menundukkan kepalanya.


Nathan kemudian menarik telapak tangan Delima dan menciumnya dengan lembut. "Percayalah, sayang. Tidak ada wanita yang lebih kucintai selain kamu. Apa kau tahu?? Teman-temanku bahkan menjulukiku sebagai laki-laki yang sulit ditaklukkan. Tapi apa kau tahu? Kau telah menaklukkan ku hanya dalam satu kali pandangan kamu. Bukankah kau lebih hebat dari mereka semua?" tanya Nathan sambil menjawil dagu milik Delima.


"Kita ini masih muda, sayang. Kau saja baru melahirkan anak pertama, bukan? Apa kau kira kalau kita sudah tua?" tanya Nathan sambil tertawa bahagia.


Nathan merasa bahagia akhirnya bisa melihat senyum Delima kembali setelah beberapa saat lalu sempat menghilang gara-gara terpengaruh dengan perbuatan Abdi yang tiba-tiba saja berubah menjadi pria baik. Untuk beberapa saat lamanya, Delima merasa berdosa kepada Abdi. Tapi setelah dinasehati oleh ayahnya, mulai sekarang Delima sudah memantapkan hati untuk mulai menatap masa depannya bersama Nathan dan juga anak mereka.


"Sayang, apa kau tahu?? Aku saat ini benar-benar sangat bahagia sekali. Pernikahan kita sebentar lagi dan kita pasti akan bisa melewatinya dengan bahagia bersama anak kita. Papaku sangat excited sekali untuk menyambut cucunya. Bahkan dia sudah menata kamar bayi untuk anak kita di kediamannya. Dia bilang, menyediakannya barangkali nanti kita akan berkunjung ke rumahnya." Delima bahkan sampai tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nathan.


Delima merasa bersyukur dengan pernikahan mereka berdua telah menjadi jembatan untuk perdamaian antara Bagaskara dan Arjun. "Syukurlah kalau mereka berdua sekarang sudah mulai bisa melupakan dendam mereka di masa lalu. Aku benar-benar sangat bahagia! Berarti anak kita, walaupun masih dalam kandungan, sudah menjadi duta perdamaian untuk kedua kakeknya!" Delima terlihat begitu bahagia setelah dirinya mengikhlaskan untuk bersama Nathan.

__ADS_1


"Yah, dia akan menjadi anak yang kelak akan membanggakan keluarga kita!" Nathan merasa bahagia. Karena akhirnya, asmara satu malam bersama istri musuhnya akan ending bahagia dengan pernikahan mereka berdua dan kelahiran putra mereka.


Setelah sampai di kediaman Bagaskara, Nathan terlihat mengantarkan Delima sampai ke dalam kamarnya. "Beristirahatlah, sayang. Ingatlah! Kau harus menyimpan banyak energi untuk pernikahan kita nanti. Aih, aku masih ingat pertarungan kita dulu yang akhirnya sukses mencetak Nathan Junior." bisik Nathan di telinga Delima.


Delima sampai memukul lengan Nathan yang sudah membuatnya malu karena mengingatkan kembali tentang kejadian itu.


"Ingatlah bahwa Allah sudah menutupi aib kita di hadapan manusia lainnya. Jadi sebaiknya kita tidak usah berbangga dengan perbuatan buruk itu. Kejadian malam itu adalah sebuah kecelakaan dan kita saat ini sedang berusaha untuk memperbaikinya agar tidak terjerumus dalam dosa selamanya. Aku mohon Nathan, tolong kau lupakanlah kejadian malam itu dan mari kita buka lembaran baru dalam hidup kita!" ucap Delima sambil berusaha menekan perasaan di hatinya yang saat ini benar-benar sedih karena pernah melakukan kesalahan tersebut.


Walaupun di dalam hati Delima penuh rasa penyesalan, namun dia merasa senang karena keduanya sekarang sedang meniti langkah untuk memperbaiki kesalahan itu bersama-sama.


"Baiklah sayang, maafkan aku. Sudah jangan sedih lagi. Aku tidak akan mengingatkanmu lagi tentang malam itu. Biarlah itu menjadi kenangan manis untuk kita yang tersimpan di dalam relung hati kita berdua. Sekarang istirahatlah, aku pulang dulu ya," kata Nathan, berpamitan kepada Delima, dan meminta dia untuk tidur.


"Tidurlah sayang. Aku akan pergi setelah kau terlelap." Delima kemudian menutup matanya dan berusaha untuk segera tidur.


Setelah berjalan-jalan seharian, tubuhnya memang sangat lelah dan dia butuh istirahat. Terlebih lagi, kehamilannya membuatnya mudah lelah.


"Selamat malam, sayang. Hati-hatilah dalam berkendara," pesan Delima kepada Nathan.


"Baiklah sayang, selamat malam," kata Nathan kemudian keluar dari kamar Delima setelah memastikan calon istrinya sudah terlelap.

__ADS_1


Nathan terlihat meneteskan air mata ketika dia keluar dari rumah keluarga Bagaskara karena ia teringat tentang masa lalu mereka yang akhirnya membawa mereka ke jalan pernikahan.


__ADS_2