Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
31. Mengalah??


__ADS_3

Bagaskara berlari ke arah Delima yang sedang bersiap untuk terjun dari atas balkon kamarnya.


" Tolong sayang! Turunlah ke sini! Papa mohon sayang!! Jangan lakukan itu pada Papa!" Bagaskara menangis sejadi-jadinya melihat putrinya yang bersiap untuk meloncat dari balkon.


" Memangnya untuk apa aku hidup? Bukankah Papa tidak menyayangiku lagi? Papa hanya peduli dengan dendam di hati papa. Papa tidak pernah memperdulikan bagaimana perasaan aku. Bagaimana kebahagiaanku! Biarkan aku mati mungkin dalam kematianku papa akan jauh lebih senang dan Papah akan jauh lebih menyayangiku!" ucapan Delima benar-benar menusuk jantung Bagaskara.


Bagaskara bahwa dirinya telah dibutakan oleh dendam yang begitu besar kepada keluarga Prawira yang telah membuat adiknya mati bunuh diri karena malu menanggung aib.


" Abdi cepat telepon Nathan suruh dia datang kemari!" Bagaskara melirik ke arah Abdi yang sejak tadi terus berusaha untuk mendekati Delima dan berusaha untuk menariknya agar tidak nekat terjun dari balkon kamarnya.


Mendengarkan perintah dari ayah mertuanya Abdi seketika langsung mencari ponselnya yang tadi dia letakkan di atas nakas.


" Apa yang harus aku katakan pada Nathan, Pah?" tanya Abdi merasa bingung.


" Dasar bodoh! Cepat suruh laki-laki itu untuk datang kemari dan membujuk Delima agar tidak nekat untuk bunuh diri!" Bagaskara melotot ke arah Abdi yang seketika menciut nyalinya melihat amarah di wajah Bagaskara.


Walaupun hati nurani Abdi menolak untuk menghubungi Nathan. Tetapi dia pun tidak bisa melihat seseorang mati di hadapannya.


' Ah biarlah aku hubungi laki-laki bajingan itu untuk datang kemari. Bagaimanapun di mata publik kami tetaplah sahabat!' batin Abdi sambil kemudian mencari nomor telepon Nathan dan hubungi.


Delima yang melihat Abdi sekarang sedang menghubungi Nathan, dia terlihat gugup. Delima sudah melangkah semakin ke pinggir dari balkon kamarnya.

__ADS_1


Bagaskara berusaha untuk mendekati Delima dan meraih tangannya agar putrinya segera menuju ke tempat aman karena sangat berbahaya untuk berada di bibir balkon.


" Baiklah papa akan mengalah padamu. Sayang! Papa akan merestui perceraianmu dengan Abdi dan kau bisa menikah dengan Nathan. Sekarang turun Nak. Kita bicarakan semuanya baik-baik tidak perlu seperti ini nak!" Bagaskara sampai terjatuh sambil duduk. Kakinya seakan begitu lemas. Bagaskara seakan merasakan Dejavu saat dulu dirinya membujuk Mawar untuk tidak melakukan bunuh diri.


Air mata mengalir dengan deras di kelopak mata Bagaskara. Ketika dia mengangjat wajahnya, dia seakan melihat Mawar yang seperti sedang menangis ke arahnya.


" Lebih baik aku mati saja daripada aku tidak bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Semoga kau bahagia Kak dengan kematianku ini. Bukankah dengan begitu hanya kau yang akan menjadi pewaris dari perusahaan keluarga kita? Kau sengaja membuat Arjun menjauhiku dan membuat dia tidak ingin mendekatiku lagi. Kau menyakiti dia! Kau sengaja memberikan luka di dalam hatiku hanya untuk hari ini bukan? Selamat kak!! kamu berhasil Karena sekarang aku telah merasakan patah hati yang sangat besar atas penolakan Arjun untuk bertanggung jawab terhadap anakku yang aku kandung! Semoga kau bahagia dengan semua harta yang akan kau miliki seorang diri!" setelah mengatakan itu Mawar pun langsung meloncat dari atas balkon kamarnya.


" Tidak!!! Tolong Jangan lakukan itu! Maafkan aku Mawar! Aku benar-benar tidak berniat untuk membuat Arjun membenci kamu! Kamu salah faham! Laki-laki bajingan itu sudah bertunangan dengan Santi dan dia mengatakan kalau dia tidak mencintaimu. Oleh karena itulah, aku melarangnya untuk berdekatan denganmu lagi! Aku sangat menyayangi kamu Mawar!! Aku tidak akan pernah mengizinkan siapapun untuk menyakitimu!" Bagaskara terus menangis sejadi-jadinya ketika dia mengingat kembali kejadian lebih dari 20 tahun yang lalu ketika adiknya bunuh diri.


Delima mendengarkan semua yang dikatakan oleh ayahnya. Dia tahu kalau ayahnya saat ini sedang bersedih. Akan tetapi dia pun tidak mau mengorbankan cintanya hanya untuk dendam sang ayah yang tak pernah berakhir.


" Delima! Papa bersedia untuk melepaskan dendam ini. Asal kau turun dari situ. Tolong sayang. Jangan hukum Papamu dengan penderitaan yang tidak akan ada habisnya!" Bagaskara terus berusaha untuk mendekati Delima tetapi Delima terus menggelengkan kepalanya dan menolak untuk didekati oleh Bagaskara.


' Bagaimana ini? Semuanya tidak ada yang menguntungkanku. Tapi kalau mati gara-gara bunuh diri, maka aku pasti akan selalu terbayang-bayang dan merasa bersalah dengan kejadian ini!' bathin Abdi benar-benar merasa sangat Dilema dengan semua yang terjadi pada malam ini.


Pada saat Abdi masih melamun dan belum juga menghubungi Nathan. Bagaskara langsung membentaknya dan membuat dia terkejut seketika.


" Dasar bodoh! Apa yang sedang kau lakukan? Cepat hubungi laki-laki bajingan itu! Apa kau memang sengaja ingin membunuh putriku?" bentak Bagaskara dengan nada baritonnya yang benar-benar membuat Abdi terkejut bukan kepalang.


" Ya, saya akan menghubungi Nathan!" update pun kemudian langsung memutar nomor ponsel Nathan dan menghubunginya.

__ADS_1


Sekitar 5 menit Abdi terus menunggu untuk jawaban dari seberang sana.


Ketika Nathan mengangkat teleponnya. Abdi pun langsung menyuruh Nathan untuk segera datang ke kediaman Bagaskara.


" Nathan! Cepatlah kau datang ke kediaman Bagaskara. Karena saat ini Delima sedang berdiri ujung balkon dan bersiap untuk terjun ke bawah!! Tuan Bagaskara memintaku untuk menghubungimu agar kau segera datang kemari!" setelah mengatakan itu Abdi pun langsung menutup panggilan telepon.


Kakinya seakan begitu lemas. Seakan Dia sedang menyerahkan kehidupannya melalui panggilan itu. ' Abdi bodoh! Bukanlah lebih bagus kalau Delima meninggal? Maka semua yang dia miliki akan menjadi milikku. Karena dia sekarang berstatus masih sebagai istrimu!' setan serakah saya membisiki sesuatu kepada Abdi yang membuatnya merutuki semua kebodohan dan tingkah konyolnya yang memanggil Nathan ke kediaman Bagaskara.


***


Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Abdi. Nathan langsung berlari menuju garasi dan segera menggeber mobilnya menuju kediaman Bagaskara.


" Delima! Tolong kau jangan melakukan kebodohan itu. Bagaimana mungkin kau tega untuk meninggalkanku dan membunuh anak kita? Tolong Delima! Jangan lakukan itu! Aku mohon!!" Nathan berusaha untuk segera sampai ke kediaman Bagaskara.


Begitu sampai di kediaman Bagaskara. Nathan langsung berlari menuju ke kamar Delima. Hati Nathan benar-benar berdegup sangat kencang.


Kaki Nathan seakan lemas saat melihat wanita yang dia cintai saat ini sedang menangis begitu sedih di pinggir balkon yang hanya tinggal beberapa senti saja maka dia bisa jatuh dan mati.


"Delima turunlah! Tolong jangan lakukan ini! Aku mohon!! Apa kau ingin anak kita mati? turunlah dan aku akan berjuang untuk mewujudkan cinta kita berdua!" ucap Nathan begitu sampai di dekat Delima.


Air mata Delima benar-benar tercurah. Hatinya saat ini sangat sakit dan juga pilu.

__ADS_1


" Aku hidup untuk apa? Kalau hanya untuk menjadi alat kalian memuaskan dendam dan amarah kalian terhadap satu sama lain. Kalian hanya menjadikanku sebagai piala sebagai kemenangan satu sama lain! Aku tidak mau hidup seperti itu!" ucapan Delima benar-benar membuat Abdi, Nathan dan Bagaskara sangat terpukul.


Abdi merasa benar-benar malu dengan apa yang selama ini dia lakukan terhadap Delima yang ternyata tepat sasaran seperti apa yang dikatakan oleh Delima.


__ADS_2