
" Yah, kalau kamu sudah tidak diperbolehkan untuk kemana-mana lagi sama Papamu, itu artinya kita berdua benar-benar tidak akan bisa bertemu lagi sampai hari pernikahan kita berdua, bukan?" tanya Nathan terlihat begitu frustasi.
Delima bisa merasakannya dari nada suara Nathan yang terdengar kesal dan sedih.
" Ayolah sayang. Cuma sampai hari pernikahan kita saja. Kalau kau merindukanku kau bisa menelpon ataupun video call." Delima berusaha semampunya untuk menghibur dan membujuk Nathan yang terdengar saat ini sedang misuh-misuh kepada Arya di sana.
" Tapi kita berdua harus mengecek gedung itu. Apakah kau sudah cocok atau tidak. Bagaimana ini sayang?" tanya Nathan dengan rasa khawatirnya yang begitu kentara sekali.
" Papa bilang dia yang akan mengurusnya bersama dengan om Arjun Kita hanya tinggal menunggu hari H dan duduk manis di rumah." Delima menjelaskan kembali semua yang dikatakan oleh ayahnya tadi.
" Hhhhh, papamu selalu punya cara untuk membuat kita tidak bertemu. Padahal aku benar-benar merindukanmu!" ucap Nathan.
Delima merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya mendengarkan apa yang dikatakan Nathan tadi.
" Baru juga bertemu ih, masa udah rindu lagi?" tanya Delima benar-benar merasa gemas dengan Nathan.
" Entahlah aku juga tidak mengerti kenapa aku selalu merindukanmu." Delima masa geli dengan pengakuan Nathan yang begitu terus terang kepadanya.
Mereka berdua pun kemudian banyak bercerita tentang kejadian yang tadi siang mereka alami. Nathan terlihat begitu lancar menceritakan segalanya kepada Delima yang mendengarkannya sambil menguap karena mulai terserang rasa kantuk.
" Nathan aku ngantuk sekali, apa aku boleh tidur?" tanya Delima sambil menguap kembali.
Nathan juga terdengar menguap di seberang sana. Tanda bahwa dia juga tengah menahan rasa kantuk yang sama seperti Delima.
" Baiklah aku akan menutup teleponnya kata aku juga sudah ngantuk banget. Selamat tidur sayang, mimpi indah ya?" Nathan kemudian menutup teleponnya.
Delima lalu naik ke atas ranjangnya dan langsung memejamkan matanya.
Nathan yang saat ini juga sudah berada di atas ranjang terlihat melek kembali saat dia melihat Arya yang masuk ke dalam kamarnya dengan begitu tergesa.
__ADS_1
" Tuan, ada berita buruk!" Nathan mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh asistennya.
" Katakanlah yang jelas. Jangan bikin orang jadi bingung!" protes Nathan sambil menguap dan menahan rasa kantuknya.
" Tuan Abdi saat ini sudah menguasai 15% saham perusahaan Prawira group!" Nathan cukup terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arya.
Nathan menguap semakin lebar Karena rasa kantuk itu benar-benar sudah membuat kepalanya pening sejak tadi.
" Oh, biarkan saja Arya. Ya ampun!! Kau tidak ada kerjaan sekali. Memangnya apa salahnya sih? Dia membeli saham itu kan dengan uangnya sendiri. Kok kamu yang panik begitu sih? Dasar aneh!" ucap Nathan yang sudah membaringkan tubuhnya dan memeluk bantal guling di sampingnya.
Arya menarik bantal guling yang ada di tangan Nathan kemudian menjauhkannya.
" Tuan, hanya dalam beberapa hari saja Abdi sudah menambah sahamnya menjadi 15%." Arya begitu serius menatap Nathan yang tanpa kebingungan dan tidak mengerti apa yang dia katakan.
" Ih, Arya!! Kamu sebenarnya mau ngomong apa sih? Dari tadi kok sepotong-sepotong kayak gitu sih?? Apa kamu nggak bisa bicara sekalian biar aku nggak penasaran gitu!" kesal hati Nathan di buatnya.
" Lagi pula kamu rajin banget sih jadi asisten? Astaga!! Ini tuh sudah lewat jam kerja Arya!Kai masih saja melaporkan pekerjaan padaku. Benar-benar aneh!" Nathan terlihat misuh-misuh dan menatap tajam kepada Arya yang hanya bisa meringis kepadanya.
" Biarkan saja Abdi mau melakukan apa. Aku tidak peduli! Aku percaya dengan semua timku yang pasti tidak akan membiarkan orang jahat seperti Abdi menguasai perusahaan kami!" ucap Nathan dengan penuh percaya diri.
Arya terlihat sedikit kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Nathan yang terkesan begitu menggampangkan segala sesuatu yang begitu serius seperti itu.
Arya jelas-jelas melihat potensi kehancuran kepada Prawira Group dengan kehadiran seseorang Abdi di perusahaan mereka.
" Pergilah tidur Arya!! Ya Tuhan!! Besok lagi kita membicarakan ini semua. Aku lelah dan aku benar-benar sangat ngantuk sekali!" Nathan menyuruh Arya untuk keluar dari kamarnya sekarang juga.
Mau tidak mau Arya pun kemudian meninggalkan ruangan Nathan.
" Baiklah Bos selamat malam!" Arya akhirnya keluar dari ruangan Nathan dengan perasaan kecewa dan juga sedih.
__ADS_1
Arya benar-benar menganggap bahwa perusahaan Prawira adalah bagian dari hidupnya. Oleh karena itu, Arya begitu peduli dengan perkembangan maupun kemunduran perusanaan yang Arjun wariskan kepada Nathan.
" Hmmm," setelah itu Nathan menarik selimutnya dan mulai terlelap begitu saja.
Arya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nathan.
Arya kemudian meninggalkan kamar Nathan menuju ke kamarnya sendiri.
" Aku harus segera menghubungi para pemegang saham yang lainnya. Jangan sampai nanti mereka terpengaruh oleh Abdi yang akan merayu untuk membeli saham-saham mereka dalam rangka kudetanya merebut Prawira grup dari tangan tuan Nathan." monolog Arya yang benar-benar mengkhawatirkan keselamatan perusahaannya karena saat ini sedang diincar oleh predator seperti Abdi yang sangat keterlaluan sekali emnjrjt Arya.
Setelah Arya selesai menghubungi beberapa pemilik saham area pun kemudian memutuskan untuk mengklasifikasikan para pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang mereka miliki.
Setelah semuanya beres Aryapun kemudian tidur dan besok dia akan melaporkan hasil pekerjaannya itu kepada Nathan.
Nathan harus bisa mengantisipasi para pemegang saham itu jangan sampai mereka menjual saham mereka dari perusahaan mikir keluarga Nathan.
Arya dengan sekejap saja sudah terlelap dalam tidurnya dengan pulas sekali.
***
Abdi yang saat ini sedang berada di Amsterdam. Dia terlihat begitu puas dengan hasil pekerjaan orang kepercayaannya yang berada di dalam perusahaan Prawira Group.
" Baguslah untuk sementara ini 15% di tanganku sudah lumayan besar. Secara perlahan kita akan merangkak dan merebut perusahaan itu dari Nathan. Aku rasanya sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi kemarahan dan juga terkejut seorang Nathan Prawira. Ketika mendapatkan kenyataan perusahaannya sekarang menjadi milikku! Hahahaha!" Abdi terlihat begitu bahagia mendapatkan laporan dari orang kepercayaannya yang telah berhasil membeli saham Prawira Group sehingga sahamnya sekarang sudah mencapai 15%.
" Aku yakin aku pasti akan bisa merebut Perusahaan itu dari tangan Nathan secara perlahan-lahan." ucap Abdi dengan sangat percaya diri dengan apa yang saat ini sedang dia lakukan.
" Kamu sangat bodoh sekali Nathan!! Waktu itu aku sudah mengembalikan saham itu kepadamu. Akan tetapi kau tidak mau untuk menerimanya. Biarkan aku menunjukkan arti kesombonganmu itu! Aku sangat tidak tahan dengan orang munafik sepertimu yang sok baik dan sok menjadi seorang malaikat!" monolog Abdi sambil menyesap wine yang ada di tangannya saat ini.
Terlihat tatapan mata yang begitu misterius dari mata Abdi yang saat ini sedang menatap langit malam yang begitu kelam.
__ADS_1
" Aku akan merebut Prawira group dan juga merebut Delima dari tanganmu!" ucap Abdi dengan geram luar biasa.