Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku

Asmara Satu Malam Bersama Istri Musuhku
30. Sabar dan usaha


__ADS_3

" Lupakan semua yang dikatakan oleh b******* itu! Karena dia tidak akan pernah merealisasikan apa yang dikatakannya. Dia sama seperti ayahnya yang tidak pernah bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan!" Bagaskara mengepalkan kedua tangannya di hadapan Delima.


Delima sangat sedih mendengarkan ucapan ayahnya yang seperti tidak pernah memikirkan tentang kebahagiaannya.


" Waktu itu Papa mengatakan, kalau papa akan merestui hubungan kami, asal dia mau datang dan bertanggung jawab kepadaku!" Delima menagih kata-kata ayahnya.


" Waktu itu aku tidak tahu kalau dia adalah anak dari Arjun Prawira!" Delima benar-benar kecewa dengan sang ayah dia hendak keluar dari ruangan ayahnya dengan perasaan yang sangat hancur.


Delima tidak pernah bisa berpikir dan tidak bisa pernah mengerti tentang perasaan ayahnya yang saat ini sedang diremas-remas.


Kejadian Selima saat ini seperti mengungkit masa lalu Mawar dan Arjun yang telah berlalu begitu lama dan saat ini Bagaskara sedang berusaha untuk melupakan kejadian buruk itu yang sampai sekarang masih datang di dalam mimpinya dan masih membuatnya menangis dalam kepiluan.


' Seandainya dulu Arjun datang untuk menikahi Mawar pasti adikku sekarang sudah mempunyai banyak anak dan hidup bahagia. Alih-alih membeku dalam tanah karena bunuh diri! Arjun!! dosamu itu tidak akan pernah aku ampuni dan aku akan terus mengejarmu!' bathin Bagaskara yang sedang di liputi amarah yang luar biasa.


" Ingat jangan pernah membicarakan lagi tentang b******* itu di depanku!! Atau aku akan merampas semua fasilitas yang sudah kuberikan kepadamu!" ancaman Bagaskara benar-benar telah membuat Delima terasa begitu tidak dihargai sebagai anaknya.


" Apakah Papa tahu bahwa Papa adalah makhluk paling bodoh di atas dunia ini?" tanya Delima dengan amarah yang mulai tidak bisa dia kontrol karena ayahnya hendak merampas kebahagiaan dalam hidupnya.


" Bibi Mawar sudah meninggal tapi lebih dari 20 tahun. Bahkan sampai sekarang Arjun Prawira sudah memiliki rumah tangga dan memiliki anak. Istrinya pun bahkan sudah meninggal tetapi sampai saat ini dia tidak pernah menikah lagi! Tapi Papa??? Papa di sini masih hidup dengan dendam yang ada di hati papa untuk sesuatu yang sudah berlalu begitu lama dan Bapak tidak memperdulikan kebahagiaan anak papa yang saat ini masih bernafas yang saat ini sedang mengandung cucu papa. Papa waraskah?? Tolong segera periksakan diri Papa ke psikiater agar Papa bisa menyembuhkan penyakit yang ada di hati papa!" ucapan Delima benar-benar menyakitkan bagi Bagaskara hampir saja dia melemparkan asbak yang ada di depannya.


Bagaskara benar-benar merasa sakit hati dengan semua yang dikatakan oleh delima hanya untuk membela yang telah membuat putrinya hamil dan sekarang sedang berusaha untuk menikahi putri nya.


" Jangan pernah menggunakan cara untuk menjatuhkanku agar Aku mengalah dengan kamu! Karena aku tidak akan pernah mau perduli dengan ucapan kamu!" Bagaskara kemudian meninggalkan Delima di ruang kerjanya sendirian dengan tangisan yang memilukan.

__ADS_1


Delima benar-benar merasa bahwa ayahnya memang tidak menyayanginya seperti yang selalu dielu-elukan oleh sang ayah terhadap dirinya.


" Apakah kalau aku bunuh diri juga, baru papa akan mengerti bahwa aku sangat mencintai Nathan?" tanya Delima sambil menatap wajah Bagaskara yang tadi sempat melintas di hadapannya.


Bagaskara tersentak mendengarkan ucapan putrinya, " Mungkin dulu Bibi Mawar pun mengalami nasib seperti aku saat ini. putus asa dan juga kebingungan." Delima berusaha bangkit dan berusaha untuk meninggalkan ayahnya tetapi kakeknya yang terasa emas membuat dia harus jatuh berkali-kali dan terseok-seok untuk bisa kembali ke kamarnya sendiri.


Abdi yang sejak tadi sebenarnya mendengar pembicaraan antara Delima dan Bagaskara. Dia memilih untuk bersembunyi di dapur dan berpura-pura tidak mengetahui semuanya.


Bagaskara melihat putrinya yang begitu merana hatinya seketika mencelos.


Kata-kata terakhir yang dikatakan oleh Delima seperti mata pisau bermata dua yang telah menghunus jantungnya.


" Ya Tuhan!! Tolonglah hamba untuk bisa melepaskan rasa sakit hati ini dan bisa membiarkan putriku meraih kebahagiaannya! Walaupun mungkin hal itu akan sangat menyakitkan untukku!" doa Bagaskara sambil mengiringi kepergian Delima yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


" Papa benar-benar sangat egois dan tidak pernah memikirkan aku yang mencintai Nathan. Mungkin Papa memang tidak pernah benar-benar menyayangiku. Papa lebih mencintai Bibi Mawar yang sudah meninggal daripada aku yang masih hidup. Apakah aku juga perlu mati, untuk bisa dicintai oleh Papahku?? Untuk membuat Papa bisa mengerti. Bagaimana perasaanku saat ini?" Delima terus terisak.


Tidak terasa anak dalam perutnya terus meronta dan menendangnya. " Aw, maafkan Mama sayang!! Mama tidak sanggup untuk membawa ayahmu untuk bersama dengan kita! Mungkin hanya kematian yang bisa membuat kita bisa bersama!" Delima kemudian melangkah ke balkon dan berdiri di tepinya. Hatinya sangat hancur dan perasaan nya sangat sedih.


Abdi yang kebetulan masuk ke dalam kamar terkejut melihat delima yang sepertinya hendak meloncat dari atas balkon kamarnya.


" Delima!!! Ya Tuhan!! Delima!! turunlah Jangan lakukan itu!! Delima!! aku mohon turunlah semuanya bisa dibicarakan Aku akan berusaha untuk membantumu membujuk ayahmu agar dia mau mengikuti keinginan kamu. Delima! Aku mohon!! Pikirkanlah anak yang ada di dalam kandunganmu Dia memiliki hak untuk hidup!" bujuk Abdi yang saat ini tubuhnya serasa gemetar melihat delima yang sebentar lagi hampir terjatuh.


" Ya Tuhan!! Apa yang harus kulakukan? Oh Delima!!! Tolonglah aku! Turunlah Delima, Aku janji! Aku akan menceraikanmu dan berusaja membujuk Nathan serta ayahmu. Agar kalian bisa menikah!" bujuk Abdi sambil berusaha mendekati delima tetapi delima yang saat ini sedang menangis benar-benar seperti tidak mendengarkan ucapan Abdi.

__ADS_1


Sopir Bagaskara yang saat itu sedang berada di taman begitu terkejut melihat keributan yang ada di balkon kamar Delima.


" Astaghfirullahaladzim Non Delima !" Sopir itu pun langsung berlari ke dalam kamar Bagaskara yang sedang mencoba untuk memberikan tubuhnya.


Tok tok tok


" Tuan!! Tuan!! Cepatlah naik ke atas kamar Non Delima. Dia sedang berusaha untuk bunuh diri dengan meloncat dari balkon!! Tuan!!!!" sopir yang saat ini sedang berteriak di depan kamar Bagaskara, seperti sedang merasakan Deja vu dengan kejadian ketika dulu Mawar melakukan hal yang sama.


" Ya Tuhan!! Jangan-jangan non Delima sedang dirasuki oleh non mawar yang juga melakukan bunuh diri di rumah ini!" monolog supir itu sambil terus menggedor pintu kamar Bagaskara yang terlihat begitu sepi.


Bagaskara langsung terperanjat ketika mendengarkan sopirnya yang mengatakan bahwa sekarang Delima sedang berusaha bunuh diri di atas balkon kamarnya.


" Apa yang kau katakan Parto?" tanya Bagaskara mengkonfirmasi yang tadi dia dengarkan kepada sopirnya.


" Ayo cepat Tuan! Tadi saya melihat di bawah kalau Non Delima sedang berada di atas balkon kamarnya dan hendak meloncat! Ya Allah, Tuan! Saya merasakan deja vu ketika hal ini terjadi kepada non Mawar sekitar 20 tahun yang lalu!" Parto bergidik ngeri ketika mengingat tentang kejadian itu.


Bagaskara auto berlari ke lantai 2 untuk mendatangi Delima di kamarnya.


Hati Bagaskara benar-benar mencelos ketika dia melihat Delima yang sudah siap untuk terjun dari balkon kamar nya.


" Parto cepat kau siapkan kasur angin dan juga beberapa peralatan penyelamatan. Coba hubungi juga pemadam kebakaran agar mereka menolong kita!" perintah Bagaskara ketika dia dalam perjalanan menuju kamar Delima.


Hati Bagaskara seperti Parto yang juga sedang merasakan deja vu yang sama ketika dulu mawar meloncat dari atas kamarnya.

__ADS_1


" Tidak Delima!!! Papa mohon, jangan lakukan itu Nak!! Tolong maafkan papa! Anaku!! Kalau sampai kau mati, Papa bersumpah Papa tidak akan pernah memaafkan keluarga Prawira untuk selamanya!"


__ADS_2