
Saat ini Nathan dan Arya sudah berada di restoran sebuah hotel bintang 5 yang sudah di reservasi oleh Arya.
" Ah rasanya aku sudah bosan! Setiap hari selalu makan denganmu saja. Jangan-jangan orang-orang berpikir bahwa kau adalah kekasihku!" ujar Nathan ketika dia masuk ke restoran bersama Arya.
Arya hanya tersenyum mendengar semua yang di katakan oleh Nathan.
Arya adalah orang yang paling mengenal Nathan luar dan dalam. bisa dikatakan kehidupan Nathan dari bangun sampai tidur adalah dalam kendalinya.
Jadwal harian maupun mingguan maupun bulanan maupun tahunan semuanya berada di tangan Arya.
Begitu percayanya Nathan kepada Arya sampai semua rahasia kehidupan Nathan pun tidak terlepas dari Arya.
" Makanya carilah kau kekasih. Biar kau bisa lepas dariku dan aku juga bisa lepas darimu dan aku bisa bersama dengan Kekasihku!" ucap Arya sambil tersenyum kepada Nathan.
Mereka berdua pun kemudian memesan makan malam untuk mereka.
Di saat Nathan melihat ke arah pintu restoran, dia melihat Delima dan Abdi yang masuk juga ke restoran. Kemudian mereka menuju sebuah meja di mana seorang laki-laki paruh baya sudah menunggu mereka di sana.
" Arya Apa kau tahu laki-laki paruh baya itu?" tanya Nathan kepada asisten pribadinya yang saat ini sedang menikmati makanannya yang baru saja datang dihantarkan oleh pelayan.
Arya pun sontak mengalihkan pandangannya mengikuti pandangan matamu Nathan.
" Hah? Bukankah itu Pak Bagaskara?" tanya Arya tampak terkesiap melihat pria paruh baya yang saat ini sedang mengobrol dengan Abdi dan Delima begitu akrab.
__ADS_1
" Apa jangan-jangan Delima itu anaknya Pak Bagaskara?" tanya Arya sambil menatap Nathan yang benar-benar syok dengan kenyataan itu.
Bagaskara adalah musuh keluarga Nathan sejak dulu keluarga mereka tidak pernah akur dan selalu menjadi saingan bisnis.
Tubuh Nathan seketika lemas dibuatnya.
" Bagaimana ini kalau delima benar-benar anak dari Bagaskara maka tidak ada harapan untukku untuk bisa memiliki dia!" ucap Nathan tanpa dia sadari.
Arya langsung mengkeplak kepala bosnya yang tampaknya sedang tidak sadar dengan ucapannya sendiri.
" Bos anda tidak sadarkah? Delima itu kan istrinya Abdi. Apa kau mau merebutnya??" tanya Arya sambil menatap Nathan yang tampak bingung dengan perkataannya sendiri.
" Ah sudahlah. Arya tidak usah memikirkan mereka lagi. Kepalaku pening gara-gara memikirkan mereka seharian!" ucap Nathan pada akhirnya kemudian dia pun mulai fokus untuk menyantap makan malam yang sejak tadi terus melambai ke arahnya meminta untuk dilahap olehnya.
" Sudahlah Bos lupakan saja. Lagi pula Delelima itu sudah memiliki suami dan aku yakin Abdi tidak akan mungkin melepaskan kartu ATM seperti dia. Bisa mendadak miskin dia kalau bercerai dengan Delima!" ucap Arya.
" Apa jangan-jangan Abdi dan Bagaskara memang bekerjasama untuk menyerang perusahaanku?" tanya Nathan kepada Arya.
Arya memutar bola matanya dengan malas Karena tampaknya Nathan memang benar-benar tidak bisa melupakan masalahnya dengan Delima maupun Abdi.
Entahlah Arya juga tidak mengerti tampaknya mereka bertiga memang terhubung oleh benang merah yang tidak akan bisa diputuskan begitu saja.
Nathan dan Abdi seperti tercipta untuk menjadi musuh alami sehingga mereka sulit untuk berdamai hingga saat ini.
__ADS_1
Walaupun di depan publik mereka bersikap seperti seorang sahabat tetapi bagi orang-orang yang mengenal kehidupan mereka secara mendetail akan tahu bahwa Abdi dan Nathan sejak dulu tidak pernah akur dan selalu terjadi persaingan sengit di antara keduanya yang sangat sulit untuk dipecahkan atau di carikan solusi untuk keduanya.
" Ayo kita selesaikan makan malam kita. Kemudian pulang saja. Mataku lama-lama sakit melihat Abdi yang sok-sok baik di hadapan ayahnya Delima. Bagaskara itu katanya orang yang hebat. Masa dia tidak tahu kalau anaknya hanya dijadikan sebagai mesin ATM oleh suaminya sendiri. Dasar pria bodoh!" ucap Nathan yang kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan restoran.
Arya hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam melihat emosi Nathan yang naik turun sejak dia berkenalan dengan sosok bernama Delima.
' Fix box besarku ini sedang jatuh cinta kepada istrinya orang lain!' batin Arya sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat Nathan yang sepanjang jalan terus cemberut dan tidak ada hentinya membicarakan tentang Delima dan Abdi.
Sepertinya tidak ada hal yang lebih menarik daripada pembahasan tentang mereka berdua. Bahkan Arya sampai merasa hampir mati bosan gara-gara hal itu.
" Udahlah Bos! Ayo kita tidur sudah hampir 3 jam kita terus membahas tentang mereka. ingat bos besok kita harus bertemu dengan klien yang datang dari Meksiko Jangan Sampai Nanti kita terlambat gara-gara hanya sibuk menggibah tentang Abdi dan istrinya!" ucap Arya yang kemudian langsung bangun dari tempat duduknya dan pergi menuju ke kamarnya.
" Iya yah perasaan sejak beberapa hari ini kita udah seperti orang yang suka menggibah. Ah gawat! ini semua gara-gara Abdi yang sudah mengotori hatiku dengan perilaku bejat dia!" ujar Nathan tampak begitu frustasi dengan hidupnya sendiri.
Nathan merasa sejak beberapa hari ini hidupnya seperti kacau dan sangat di luar batas kenormalannya.
" Arya apa aku benar-benar sudah jatuh cinta kepada Delima? Ya Tuhan Arya! Bagaimana mungkin seorang Nathan Prawira jatuh cinta kepada istri orang lain? Apa kata dunia Arya?" tanya Nathan sambil meraup wajahnya dengan kedua tangan.
Arya hanya menepuk bahu Bos besarnya yang saat ini sedang Dilema untuk memikirkan tentang masalah percintaannya.
" Sudahlah Bos. Nikmati saja semua prosesnya. Kalau jodoh pasti tidak akan kemana-mana! Percaya saja Bos bahwa wanita yang baik pasti akan diberikan untuk laki-laki yang baik!" ucap Arya sambil tersenyum kepada Nathan kemudian dia pun meninggalkan Nathan di ruang tengah dengan wajah bodohnya yang tidak mengerti dengan perkataan Arya.
" Hai Arya! Apa maksud perkataanmu? Kenapa aku tidak mengerti? Eh, Ah dasar asisten gila! Berani-beraninya dia meninggalkan bosnya sendiri. Padahal aku belum selesai berbicara dengannya!" ucap Nathan yang kemudian mengetuk pintu area beberapa kali tetapi tidak ada disahut sama sekali oleh Arya.
__ADS_1
Nathan pun kemudian menyerah. Nathan masuk ke dalam kamarnya mulai memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan ketika nanti dia bertemu dengan Delima maupun Abdi yang selama beberapa hari ini sudah mendesak di otaknya dengan begitu banyak dugaan dan prediksi.
" Aku harus berbicara dengan Delima. Aku harus bertanya sama dia. Apakah dia bagian dari rencana Abdi yang hendak menjebak waktu itu?" Nathan terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Hampir satu jam lamanya dia terus berpikir untuk rencananya pada esok hari saat dia bertemu dengan Delima.