Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
PERJODOHAN LAGI


__ADS_3

"Gue... Nggak siap ketemu Dia"


Pria itu menghela nafas berat. Menghempaskan dokumen yang ada di tangannya ke atas meja.


Ia rindu, tapi juga malu...


Jadi, bagaimana? Begitulah kegalauan yang berkecamuk dalam hatinya...



Axel melangkah menaiki anak tangga dengan lesu. Ucapan Vano masih terngiang-ngiang di telinganya.



"*Gue rasa ini satu-satunya kesempatan Loe buat ketemu Dia Xel, belum tentu setelah ini kalian bisa ketemu lagi kan*?"



Fiuh... Axel menghembuskan nafas pelan, Beban pikirannya sudah berat, sekarang ditambah dengan kegalauan hatinya untuk menentukan pilihan apakah Dia akan datang di pernikahan Darren atau tidak.



"Axel"



Suara Tamara membuat Axel secara alami memejamkan matanya. Ia kira semua orang sudah tidur. Ia melirik jam di tangannya, Sekarang sudah pukul 1 dinihari.



"Turunlah, Mommy ingin bicara"



"Axel capek Mom, Bicarakan besok saja"



"Tidak, Mommy ingin membicarakannya sekarang, turunlah"



Tamara nampak memaksa. Axel membalikkan tubuhnya menghadap Wanita yang paling Ia hormati dalam hidupnya itu. Tatapannya sayu dan lelah. Tamara bisa melihat keputus asaan yang ada di netra hijau gelap putranya.



"Mom, Kalau yang ingin Mommy bicarakan adalah tentang perjodohanku dengan Dania, maka lupakanlah. Aku belum ingin menikah lagi. Aku harap Mommy mengerti perasaanku"



Ucap Axel seraya menuruni tangga, menghampiri Ibunya.



"Lalu, sampai kapan Kamu akan hidup seperti ini? Setiap hari pulang larut, Kamu tampak sangat menyedihkan nak, dan Mommy hancur setiap melihat keadaanmu yang seperti ini. Bamgkitlah nak, lupakan masa lalumu dan mulailah hidup baru"



"Hidup baru yang seperti apa? Mommy memintaku melupakan masa lalu? Bagaimana bisa? Apa Mommy lupa, Mommy bahkan bisa sehat seperti sekarang karena ada organ tubuhnya yang menetap di tubuh Mommy, Apa sedikitpun Mommy tidak merasa berhutang budi padanya? Aku melukainya sangat dalam, Aku membunuh Anak pertamaku, dan tidak bisa menyelamatkan anakku untuk kedua kalinya, bagaimana Aku harus menjalani kehidupanku yang baru? Tolong Mommy jelaskan padaku bagaimana caranya?"



"Nak..."



"Mom.. Bahkan apa yang kita dapatkan saat ini sebenarnya sama sekali tidak pantas, Kita hanyalah orang-orang jahat yang telah melukai hati banyak orang, Lalu bagaimana bisa Kita melupakan semua dosa Kita begitu saja?"



Tamara terdiam.Ia menyadari bahwa ucapan putranya 100% benar adanya. Ia tak akan hidup sampai sekarang jika bukan karena Azizah mendonorkan ginjalnya untuk Tamara.



Tapi bagaimana? Mantan menantunya itu menghilang, Orang tuanya telah menjauhkannya dari keluarga Djaja, lalu dirinya arus bagaimana? Batin Tamara mengeluh.



"Dengarkan Axel Mom, Aku belum ingin menikah lagi Jadi, Axel mohon jangan buat perjodohan lagi, apalagi dengan Dania, Dia masih muda. Masih bisa mendapatkan Pria lain yang lebih baik daripada Axel. Axel hanya akan menyakitinya nanti karena menikah tanpa cinta. Dan Axel tidak ingin itu terjadi Mom. Please, mengertilah"


__ADS_1


Axel berlalu, kembali menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Tamara yang mematung tanpa sepatah katapun.



Keesokan harinya,



Suasana meja makan sangat hening, hanya suara peralatan makanan yang saling bersentuhan hingga menciptakan dentingan yang nyaring.



Tamara menatap putranya yang tengah fokus menyantap sarapannya. Wajahnya mendung seperti biasa. Entah kapan terakhir kali Ia melihat senyuman bahagia di wajah Axel, Ia sendiri pun tak ingat saking lamanya.



"Axel, Mommy ingin mengatakan sesuatu"



Axel menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuapkan sepotong pancake ke mulutnya. Kemudian meletakkan kembali makanan yang terkenal manis itu keatas piringnya.



Adhitama yang sedari tadi hanya membisu pun ikut menoleh ke arah putrinya.



'*Jangan bilang kalau Tamara ingin mengatakan hal bodoh tentang perjodohan itu lagi pagi-pagi begini*' Batinnya.



"Kalau Mommy ingin membicarakan tentang obrolan semalam maka Axel menolak untuk membahasnya, maaf"



Tegas Axel tanpa basa basi. Sungguh Ia lelah dan bosan tentang hal itu.



"Bukan, Mommy ingin mengatakan bahwa, Mommy dan Kakekmu akan datang ke pernikahan Darren, Rheimon dan Karina mengundang Kami.. Apa... Kamu juga akan datang?"




"Axel?"


Tamara kembali bertanya saat melihat Axel hanya terdiam.



"Aku... Akan datang"



"Semuanya sudah siap, Honey?"


Abimana bertanya pada Istrinya yang tengah sibuk memasukkan pakaian dan perlengkapan anak-anak ke dalam koper. Besok mereka akan terbang ke Indonesia untuk menghadiri acara pernikahan Darren dan Nayla.


Azizah mengangguk,


"Hampir siap semuanya"


"Ingat honey, Sebelum berangkat Kamu harus minum vitamin dan penambah darah sesuai perintah Dokter Anne, Aku tidak mau..."


"Iya... Iya... Siap pak bos!!"


Ucap Azizah seraya memberi hormat layaknya seorang tentara pada Suaminya itu. Abimana terkekeh dan dengan gemas mencubit pipi Istrinya.


"Jadi malam ini Kita menginap di rumah Mommy?"


"Iya Mas, rumah Mommy dan Daddy lebih dekat ke airport, lagipula mereka merindukan kita, terutama anak-anak, jadi tidak ada salahnya kita menginap bukan? Lagipula sudah lama kita tidak berkunjung karena Kamu super sibuk"


"Hmm, Mas sibuk kan nyari nafkah buat keluarga Kita, Honey"


"Hihihi, Iya Aku tahu kok mas, Aku cuma bercanda"


"Ya udah, ayok jalan sekarang. Tadi Daddy udah telepon katanya mau ngajak anak-anak makan siang di luar"


"Okay..."

__ADS_1


"Sini, Biar Mas yang bawa"


Abimana berjalan keluar dengan 2 koper besar di tangannya, mereka pun keluar rumah menuju ke tempat janjian mereka dengan Rheimon dan Karina...




"Popaa.... Meemauuu" Seru Shiena dan Shine seraya berlari menghampiri Rheimon dan Karina yang juga tersenyum riang seraya merentangkan kedua tangannya.



"Ooooh, Cucu Popa dan Memau yang ganteng dan cantiiik... Kami sangat merindukan kalian"



Ucap Rheimon seraya menggendong Shiena, sementara Shine ada di gendongan Karina"



"Heyy.. Hanya beberapa minggu Kita tidak bertemu, kenapa mereka cepat sekali bertambah tinggi?"



Tanya Karina pada Azizah dan Abimana yang kini berjalan mendekat.



"Apa kabar Sayang?"



Rheimon merangkul Azizah dengan sayang dan tidak lupa mendaratkan kecupan singkat di kening putrinya itu.



"Alhamdulillah baik Dad, Daddy sendiri apa kabar? Maaf Azizah tidak bisa menjenguk Daddy dan Mommy akhir-akhir ini"



"Tidak masalah Sayang, Kami mengerti, Lagipula sekarang ini Kamu juga harus lebih menjaga kesehatan, demi si sikecil calon adiknya Shine dan Shiena"



Ucap Rheimon dengan senyuman lebar. Ia benar-benar bahagia mendengar berita kehamilan Azizah. Putrinya itu akhirnya bisa merasakan kebahagiaan setelah melalui banyak cobaan dalam hidupnya. Ia sungguh mensyukurinya, dan juga berterima kasih pada menantunya saat ini, Abimana yang sangat tulus dan bertanggung jawab serta begitu menyayangi Azizah dan Anak-anaknya.



"Ya sudah, Ayo kita makan siang sekarang.aaf Daddy lupa memberitahu kalau kita akan mempercepat perjalanan Kita ke Indonesia, sore nanti"



"Kenapa Dad?"



Tanya Abimana terkejut.



"Hehe, Kakak iparmu tercinta membuat masalah, Jadi... Ah Kamu sudah tahu kelakuannya Abi"



Abimana menghela nafas kemudian menatap Istrinya yang terkikik.



'*Kalau bukan kakak Iparku mungkin Aku benar-benar akan mencekiknya, masalah apa yang Dia buat sekarang*?' Batinnya...



Bersambung...



Hai kenalin nih, Shine Angelo Dharmawangsa dan Shiena Angela Dharmawangsa



Sampai lupa ngenalin si kembar ini 🫂🫂🫂

__ADS_1



![](contribute/fiction/5154657/markdown/23644518/1691468500449.jpg)


__ADS_2