Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Rencana Busuk!


__ADS_3

"Brengsek! Sialan! Kenapa pelacur itu sekarang jadi banyak sekali yang membela. Bahkan Darren juga! Benar-benar Sial!!!"


Alexa memaki sembari mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju ke villa yang telah Papa-nya sewakan untuknya.


"Awas ya Kamu Azizah. Aku akan bikin kamu lebih sengsara dari sebelumnya. Semua ini gara-gara Kamu. Kalau dulu Axel nggak menikahi Kamu, Rencanaku pasti sudah berjalan mulus!!! Dasar perempuan sial!!"


Entah apa yang ada di pikiran Alexa. Yang jelas Ia sangat membenci wanita bernama Azizah itu. Terutama saat mengingat kembali bagaimana Axel memohon pada wanita itu. Hatinya bakar terbakar api. Panas.


Alexa juga mengingat Pria yang melindungi Azizah dari Axel. Siapa Pria itu? wajahnya... wajahnya sangat familiar. Batin Alexa bertanya-tanya.


Wanita itu kemudian meraih gawainya untuk menghubungi sang ayah.


Klik.


"Pa, Tolong selidiki laki-laki yang saat ini bersama dengan perempuan tolol itu"


"...."


"Azizah pah! Mantan istrinya Axel, siapa lagi??"


"...."


"Ya, Aku melihatnya di rumah sakit saat menemui Azizah. Ada tuan muda keluarga Atmaja juga disana. Jadi,katakan pada orang suruhan Papa agar berhati-hati"


"...."


"Aku tunggu Kabar Papa secepatnya"


"...."


Tut. Telepon berakhir.


"Kita lihat saja wanita sial. Kamu akan hancur"


Wanita gila. Dia tidak menyadari dosanya, malah mencari kambing guling atas semua masalahnya.


*


*


"What the f*ck! Jadi Dia Abimana Dharmawangsa? Kakaknya Maya, Simpanan Anak Gubernur itu?? Hahaha, Luar biasa"


Alexa tersenyum puas saat membaca informasi yang baru saja Ia dapatkan dari Ayahnya melalui email. Ia kemudian dengan santai membaca lebih detail informasi yang tertulis disana sembari membaringkan tubuhnya di ranjang king size kamar tidurnya. Sangat kebetulan Ia cukup mengenal Maya walaupun tidak terlalu dekat. Hanya bertemu saat clubbing dan Pesta wanita-wanita sosialita seperti dirinya.


Kring.


Handphone wanita itu berdering, tanda ada panggilan masuk.


"Papa?"


Alexa segera menjawab panggilan dari ayahnya, Bram.


"Ya Papa, bicaralah"


"Kau tahu ada sesuatu yang belum tertulis di email Papa mengenai keluarga Abimana"


Suara Bram terdengar sangat antusias seraya terkekeh.


"Apa itu?"


"Kau tahu Kalau Maya pernah hamil diluar nikah,tidak, maksud Papa dia hamil dan tidak dinikahi oleh pria itu. Dan, anaknya ternyata diasuh oleh Abimana. Anak itu juga sangat dekat dengan Azizah"


"Bagaimana Papa bisa tahu?"


"Tentu saja, orang suruhan Papa tidak pernah main-main jika berurusan dengan 'menggali informasi' bahkan aib ratusan tahun sekalipun bisa Dia bongkar Hehehe, Lagipula menurut informasi darinya, sekarang gadis kecil itu sedang menjenguk perempuan bernama Azizah itu"

__ADS_1


"Hmmm... Lalu, apa hubungannya anak Maya itu dengan rencanaku Pa?"


"Tentu, tentu ada. Dengarkan penjelasan papa dulu.


Maya sangat tidak menginginkan anak itu, Tapi Abimana memaksanya untuk tetap melahirkan anak haram itu, Namanya Tasya. Dan semenjak kelahiran bocah itu, hubungan Abimana dan Maya semakin kacau dan tidak akur"


"Lalu?"


"Tentu saja Kamu bisa membuat Maya memihak kepadamu, untuk melawan kakaknya. Papa yakin jika Dia juga membenci Azizah karena mendukung Abimana untuk menyayangi anak haram yang sangat dibencinya itu"


"Papa yakin kalau Maya membenci putrinya sendiri?"


"Tentu saja, Karir dan masa depannya hancur karena kehadiran anak itu. Jadi, ini adalah celah yang bagus untuk bisa mempengaruhi Maya agar berpihak kepadamu. Jika Abimana meninggalkan Azizah, maka tidak ada lagi yang melindunginya"


"Hmmn, Masih ada keluarga Atmaja Pa, Adhitama juga mendukungnya"


"Ya, Kita akan urus itu nanti, bukankah tujuanmu yang utama adalah menghancurkan wanita itu terlebih dahulu? Supaya Kamu bisa kembali pada Axel?"


"Ya, papa benar, Selama ada Azizah maka Axel tidak akan pernah menerimaku lagipula Aku memang membencinya, jadi kalau dia hancur maka Aku akan sangat bahagia"


"Kalau begitu lakukan, apalagi Kamu sudah cukup mengenal Maya saat Dia tinggal di Jakarta dulu"


"Hmn, baiklah Aku akan menuruti saran dari Papa"


"Bagus. Kalau begitu Papa tutup teleponnya"


"Oke Pa"


Alexa tersenyum puas saat panggilan itu berakhir.


"Well, Aku sudah tidak sabar.... Melihat kehancuranmu, ditinggalkan oleh semua orang, satu- persatu Hahahaha"


*


*


Karina segera memasukkan beberapa helai rambut Azizah yang berhasil ia dapatkan dengan susah payah.. Azizah memakai hijab, jadi Ia cukup kesulitan untuk dapat mengambil sampel rambutnya.


Syukurlah tiba-tiba perawat datang untuk membersihkan tubuh Azizah. Tak melewatkan kesempatan, Karina mengajukan diri untuk melakukannya, meskipun awalnya Azizah menolak, mungkin karena malu, namun pada akhirnya Azizah bersedia. Jadi Karina bisa menjalankan rencananya.


"Halo, Sheila, Aku akan datang ke rumah sakitmu malam ini, Aku butuh bantuanmu"


"...."


"Thanks, setelah sampai Aku akan langsung mengabarimu"


"...."


"Baiklah, Thanks sweetheart"


Karina menutup panggilannya dengan wajah tegang. Ia sungguh tidak sabar untuk mendapatkan hasilnya.


Wanita yang kini tengah berada di kamar mandi itu kemudian keluar untuk kembali menemani Azizah yang ternyata sudah terlelap.


Wanita itu tersenyum, Kemudian secara impulsif menghambat Azizah dan mendaratkan kecupan penuh kasih di keningnya.


Tak ingin mengganggu, Karina segera keluar dari Ruang rawat Azizah.


"Loe harus jujur sama Azizah mengenai siapa Loe sebenarnya"


Suara Putra sulungnya menghentikan langkah Karina yang baru akan menghampiri Ke-dua pria yang tengah duduk di kursi tunggu membelakanginya.


"Kalau Azizah marah gimana? Aku takut kalau Azizah kecewa karena merasa di bohongi olehku. Azizah punya pengalaman pahit tentang kebohongan"


"Tapi ini kan beda kasus brewok. Kalau maksud Loe itu tentang kebohongan mantan suaminya , si Axel itu, wajar Azizah marah, bahkan sampai benci karena yang di lakukan oleh Axel udah keterlaluan dan merugikan Azizah tentunya"

__ADS_1


Abimana tampak berfikir. Apa yang dikatakan Darren memang benar, tapi...


"Benar nak Abimana, Kamu harus jujur, toh itu hanya masalah identitasmu, bukan hal yang terlalu besar"


Abimana dan Darren sontak menoleh saat mendengar suara Karina.


"Mama?"


"Bu Atmaja, maaf... Saya..."


"Ahhh, tidak usah formal begitu, santai saja Son. Anggap Saya seperti Ibu Kamu, Panggil saya Mama juga boleh, ya kan son?"


Abimana tersenyum. Hatinya menghangat mendengar ucapan Karina, apalagi Ia sudah tidak memiliki Ibu.


"Elah, belum apa-apa udah punya dua saudara tiri. Tadi Azizah sekarang brewok, besok jangan sampe satpam rumah sakit ini Mama suruh buat manggil 'Mama' ya'


Sungut Darren pura-pura kesal.


"Hahaha, Why not?? Kalau mereka baik semua boleh anggap mama seperti ibu mereka, No problem, Ya kan Nak Abimana?"


"Hehe Iya Tante, Saya panggil Tante saja, takut Darren mati berdiri karena cemburu"


"Hihihi"


Karina terkikik geli mendengar ledekan Abimana untuk putranya. Sepertinya mereka mulai akrab meski lebih sering bertengkar.


"Setan Loe!"


Maki Darren dengan mata menyala-nyala yang justru membuat Abimana tersenyum lebar.


"Dengarkan Saya Nak Abimana. Saya bisa melihat kalau kamu tulus mencintai Azizah. Mata Kamu menggambarkan segalanya. Tapi sebuah hubungan pondasinya adalah saling terbuka dan saling percaya, Jika masih ada yang ditutupi dan di rahasiakan maka hubungan itu bisa jadi tidak akan bertahan lama"


Abimana mengangguk, mencoba memahami perkataan Karina.


"Saya akan mendukungmu, jika Azizah kesal setelah mendengar kejujuranmu, maka Saya sendiri yang akan membuatnya memahami dan menerima kejujuran darimu nak, jadi... Katakanlah yang sebenarnya. Saya yakin, Azizah punya pemikiran yang luas dan tidak semudah itu untuk membenci seseorang hanya karena menyembunyikan identitasnya dengan alasan yang baik"


"Baik Tante, Saya akan mengatakan yang sebenarnya pada Azizah..."


"Bagus...."


"Nah gitu dong! itu baru namanya pria sejati"


"Diem Loe kutu rambut!"


"******, Udah dikasih saran yang bagus juga, nggak tahu terima kasih..."


Dan berlanjutlah kedua pria itu saling mengejek serta beradu mulut, membuat Karina jengah dan memutuskan untuk masuk kembali ke ruangan Azizah. Mendengar Darren dan Abimana bertengkar membuat kepalanya pusing.


Sementara itu...


"Halo, Tuan Bram, Saya ada kabar terbaru"


"....."


"Ternyata perempuan yang bernama Azizah itu tidak tahu menahu tentang identitas Abimana, sepertinya akan seru jika dia mengetahuinya dari orang lain dan bukan dari Abimana sendiri"


"....."


"Dengan senang hati, Saya tunggu imbalan yang Tuan janjikan"


Klik. Wanita berpakaian perawat itu tersenyum puas kemudian melenggang dengan santai meninggalkan bangsal Dahlia, tempat dimana ruang rawat Azizah berada...


Bersambung


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2