
Keesokan paginya... Di sebuah suite apartment mewah yang tak lain adalah milik Raditya Rafa Benitez, nampak lengan dan sepi. Hanya bunyi gemericik air di salah satu kamar yang berhiaskan cahaya temaram.
Axel semalaman tidak bisa memejamkan matanya hingga saat ini, saat waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Pria yang nampak lebih gahar dengan brewoknya yang belum dicukur sejak 3 hari lalu itu masih setia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dengan harapan suhu kesejukan dalam air itu bisa mendinginkan hatinya yang saat ini terasa panas.
Kata-kata mantan istrinya terus terngiang dan berputar seperti VCD bajakan yang rusak.
Ia tak ingin menyakiti Azizah lagi, tapi hatinya masih belum rela untuk melepaskan wanita yang kini tengah mengandung anaknya. Anak-anaknya.
"Apa Aku benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi, Azizah?"
Pria itu menunduk frustasi. Dia bisa memahami kekecewaan sekaligus kemarahan Azizah, karena apa yang telah Ia lakukan memang sangat keterlaluan. Tapi, salahkah jika Ia berusaha untuk mendapatkan kesempatan kedua?
Setelah hampir 30 menit Axel mengakhiri kegiatan mandi sekaligus merenungnya. Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
Radit memang sahabatnya yang terbaik, Dia yang paling perhatian dan peduli padanya bahkan melebihi Vano. Bagaimana tidak? selain membantu Axel untuk stay di Surabaya tanpa diketahui siapapun, Radit juga menyediakan baju-baju yang sangat pas untuknya.
Setelah berganti pakaian, Axel langsung menuju ke dapur. Ia pikir percuma saja mencoba tidur.. pikirannya yang sedang kalut dan banyak beban akan selalu mengusir rasa kantuknya menjauh.
Baru saja Ia membuka pintu lemari pendingin, Suara bel pintu apartemen itu berbunyi.
'Apa Radit baru pulang? Tapi Dia memiliki kunci apartemen ini kan?' batin Axel bertanya-tanya.
Bel pintu kembali berbunyi, kali ini lebih agresif dari sebelumnya. Karena penasaran, Axel pun melihat dari lubang pintu apartemen, siapakah gerangan yang datang ke apartemen pagi-pagi buta begini?
"What the hell!"
Desis Axel dengan sorot kekesalan sekaligus keterkejutan memenuhi matanya saat melihat siapa tamu yang datang.
"Alexa?"
Axel hampir tak mempercayai penglihatannya. Bagaimana bisa Alexa mengetahui tentang tempat tinggalnya saat ini?
Terlanjur emosi, tanpa pikir panjang Axel membuka pintu dan dengan bengis memaki wanita yang pernah menjadi simpanannya itu.
"Brengsek! Loe ngapain sih disini??"
Maki Axel dengan tatapan nyalang. Meskipun awalnya Alexa terkejut karena tiba-tiba di bentak, namun wanita itu dengan segera menetralkan ekspresi wajahnya menjadi tenang dan cuek seperti tak mendengar apapun.
"Sssst ... Jangan marah-marah dong Sweety, Aku kan kesini karena baby Kita kangen sama Daddy-nya"
Ucap Alexa seraya mengelus-elus perutnya. membuat Axel mual. Pria itu memutar bola matanya jengah. Namun yang tak terduga, Axel malah tertawa terbahak-bahak.
Alexa yang tadinya tersenyum sinis kini mengernyit bingung. Apa Axel sudah tidak waras? batinnya.
"Gini aja deh, Gue capek sumpah berurusan dengan sampah macam Loe ini. Sekarang sebutin, Loe berapa? Gue kasih cek nya sekarang juga. Asal Loe nggak muncul lagi dalam hidup Gue!"
Ucap Axel tenang tapi penuh dengan nada kebencian.
__ADS_1
"Nggak semudah itu darling, Yang Aku butuhkan itu tanggung jawab kamu, bukan uang kamu"
"Enough!!! Tutup mulut Low, berhenti main-main sama Gue atau Loe benar-benar akan menyesal!"
Brakkk!!!
Seru Axel seraya memukul pintu. Membuat Alexa sedikit berjengkit kaget.
"Apaan sih ribut pagi-pagi begini??"
Radit yang nyawanya baru terkumpul seperempat bagian berjalan sempoyongan menghampiri pintu.
Namun sejurus kemudian Mata pria itu membelalak saat melihat Alexa si wanita ular 🐍 ada di depan pintu apartemennya.Nyawanya seketika terkumpul 100%.
"Loe??? Kok Loe bisa disini???" Tanya Radit dengan ekspresi luar bias kaget. Ini apartemen yang sangat private baginya. Hanya teman kencannya selama di Surabaya yang tahu tempat ini. Bahkan Daddy-nya sendiri tidak tahu bahwa Dia membeli apartemen disini.
"Bisa dong, kenapa enggak?"
"Sumpah, Loe benar-benar udah nggak punya urat malu ya?"
"Aku terpaksa melakukan ini, Axel tidak mau bertanggung jawab atas bayi dalam perutku ini, Iya kan Sweety??"
"What??? Loe kalo ngarang yang agak masuk akal dong Lexa, Loe ngilang aja udah hampir 5 bulan, terus Low bunting minta tanggung jawabnya sama Axel? Loe sinting apa gimana? hmn?"
Sungut Radit dengan raut muak. Gila ya, ada aja model perempuan kaya Alexa.
Ucap Alexa menggantung, Membuat Axel dan Radit menatap waspada.
"Nggak usah ngancam segala Loe, Loe bukan lawan kita!"
"Well, Kita lihat saja nanti" Tantang Alexa seraya mengerling nakal. Kemudian dengan senyum licik di bibirnya, Ia berkata,
"Jangan sampai menyesal Axel, My sweetheart"
Wanita itu menantang tatapan tajam Axel yang wajahnya sudah merah padam seolah benar-benar ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Mau Loe apa sih sebenarnya??"
Tanya Axel pada akhirnya. Meskipun Ia sama sekali tidak takut dengan ancaman Alexa. Tapi, jujur Ia khawatir jika Alexa juga telah mengetahui keberadaan Azizah. Dan bukan tidak mungkin Ia akan mengatakan kebohongan ini pada Azizah.
"Aku mau kamu menikahi Aku"
"Jangan mimpi! Gue kasih berapapun, tapi pernikahan?? Gue nggak akan pernah sudi!!" ucap Axel dengan suara berat dan rendah. Terdengar seperti singa yang tengah menggeram.
"Kalau begitu, Aku akan lakukan apa yang seharusnya Aku lakukan. Ingat... jangan menyesalinya.."
Ucap Alexa seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
Radit sudah tidak tahan melihat wajah menyebalkan Alexa. Ia kemudian menarik lengan Axel untuk masuk ke dalam.
"Udah Xel, nggak usah di ladenin. Gila emang nih perempuan"
Brakkk. ucap Radit seraya membanting pintu. Membiarkan Alexa teronggok di luar apartemennya.
"Gila! Kok bisa-bisanya Alexa tahu tempat ini"
Radit bertanya-tanya dengan bingung. Sementara Axel masih terfokus pada kata-kata Alexa. 'Jangan sampai menyesal katanya?'' Axel membatin. Jujur Ia takut jika Alexa akan melakukan hal yang bisa saja membahayakan Azizah.
"Dit, menurut Low, ada kemungkinan nggak Alexa tahu dimana Azizah sekarang?"
"Gue pikir ada Xel, Apartemen ini aja Dia tahu kan!"
Sahut Radit.
"Jujur Gue khawatir Dia bakal macam-macam sama Azizah"
"Hmm... Kalo gitu, gimana kalo Kita ke Rumah Sakit aja?"
"Tapi, Azizah masih nolak Gue"
"Aaaiish... Jangan di pikirin dulu masalah itu. Yang penting kita bisa jauhin Akan dari jangkauan Alexa si wanita ular 🐍"
"Hmn, Loe bener Dit"
"Ya udah, Gua mandi dulu baru Kita pergi ke rumah sakit"
"Oke, Gua pesen makanan buat sarapan"
"Sipp!" Sahut Radit seraya mengacungkan kedua jempolnya.
Sementara itu diluar lobby Apartemen,
"Axel... Axel... Aku yakin Kamu bakalan nyesel banget . Kalau rumah Radit aja Aku tahu, kenapa si tolol Azizah Aku nggak tahu???" Wanita yang sudah mengenakan kacamata berbicara sendiri di dalam mobilnya. Ia tak sabar menuju tempat berikutnya, Rumah Sakit.
"Baiklah, Azizah yang tolol, Gue bakalan ngasih kejutan yang nggak akan Loe sangka-sangka, Hahahaha"
Alexa kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat Azizah dirawat. Ayahnya memang luar biasa. Bisa mendapatkan informasi apapun dengan cepat dan detail. Bram Sadewo memang se licik itu. pantaslah jika anaknya juga licik.
Bersambung...
Maaf update nya telat, karena dari kemarin kurang enak badan, ditambah baca komen dari pembaca yang Masya Allah, sakit banget saya baca komennya. Dan ternyata nggak cuma di novel Aku, di novel lain bahkan ada yang lebih parah komenannya.
Entah, mungkin mbaknya adalah sutradara handal, jadi kalo baca cerita disini selalu bilang menjijikan, tidak kreatif, bodoh, najis dan kata-kata kotor lainnya. Bisa liat komenannya yang bilang najis.saya balas nggak kalah gila. Biar kapok. karena penulis-penulis lain sepertinya membiarkan jadi si mbaknya semakin menjadi-jadi.
Masih ada komenannya atas nama j*hanah t*ta. bisa d cek juga gimana lah dia ngomenin novel-novel lain. Astaghfirullah mba, taubatlah, daripada sampean gunakan jarinya untuk memaki cerita hasil karya orang dengan kata-kata Najis, menjijikan, tidak kreatif, bodoh dll mending sampean ngarang cerita sendiri aja terus apload di Noveltoon ini. lebih baik sampean gunakan jari-jari sampean buat berkarya, bukan menghina sebuah karya yang dibuat susah payah. Yang sampean lakukan bukan mengkritik tapi menghina!
__ADS_1