
"Hmm... I don't like him at all"
Ucap Shine tanpa ekspresi. Sementara Abimana menunjukkan reaksi yang berbanding terbalik. Ia sangat terkejut mendengar penuturan Shine... Bukankah ini pertama kalinya Shine bertemu dengan Axel? Tapi kenapa....
Abimana hanya terdiam. Ia sendiri bingung harus merespon bagaimana, karena Shine tidak bisa di bohongi.
"Kenapa diam saja Dad?"
Ucap Shine seraya menatap Daddy-nya. Tatapan Shine memang terlihat biasa, tapi bagi Abimana ya g telah merawatnya dari bayi, Ia paham betul bahwa Ia tengah diintimidasi.
Untuk beberapa hal, Abimana sangat menyadari bahwa Shine benar-benar mewarisi sifat Axel. Cuek, dingin, dan juga mendominasi. Hanya saat bersama Shiena Ia terlihat seperti anak berusia 7 tahun yang normal. Padahal yang sebenarnya anak itu lebih cerdas dan dewasa dibandingkan usianya. Ia dan Azizah pun tidak tahu kenapa. Yang jelas, Shine sangat berbeda dengan Shiena yang masih bisa di bujuk.
"Daddy tidak bisa menjelaskannya padamu, karena itu adalah kewajiban Mommy, tunggu saja sampai Mommy menjelaskannya padamu, itupun kalau Kamu masih percaya pada Kami"
Pungkas Abimana seraya tersenyum lebar. Ia mengutarakan kalimat itu bukan tanpa sebab. Memang istrinya lah yang berhak menceritakan tentang Axel pada Shine. Bukan dirinya. Karena bagaimanapun Ia hanyalah ayah sambungnya.
"Baiklah, Shine akan menanyakan hal ini pada Mommy, tapi selama Mommy belum mau bilang apapun, Shine juga nggak mau ketemu sama Pria itu"
"Hmn, Baiklah, Daddy tidak akan memaksamu, karena Daddy-mu ini tahu, itu hanya akan sia-sia"
Abimana menepuk pundak Shine dan menatap ke dalam mata Shine yang terlihat seperti sedang berfikir keras.
"Ingat Nak, Kita ini manusia. Kita tidak bisa memutuskan untuk membenci seseorang yang bahkan belum Kita kenal dengan baik. Apalagi Kita juga tidak sempurna, tidak bijak rasanya kalau Kita menghakimi tanpa mengetahui. Paham?"
"Ya Dad, Shine paham... Tapi tetap saja..."
"Baiklah, baiklah. Daddy mengatakan itu bukan untuk memaksamu. Hanya memberikan sedikit nasihat pada putra sulungku yang keras kepala ini hehehe. Jadi... Kita lanjutkan permainannya?"
"Tentu saja lanjut Dad... Anyway... Aku mencintaimu Dad, Kamu adalah ayahku satu-satunya. Tidak ada yang lain. Aku dan Shiena hanya membutuhkanmu. Jadilah Ayah untuk Kami selamanya"
Abimana tercengang, sementara setelah mengatakan kalimat itu Shine kembali menata papan catur nya dengan wajah tenang yang dihiasi dengan senyum tipis.
Abimana membatin, Tidak mungkin... Tidak mungkin kalau Shine tahu tentang Axel bukan?
\*\*\*\*
"Baiklah, Saya pamit pulang Om... Zizah, Tante dan semuanya... Maaf mengganggu waktu kalian pagi-pagi begini"
"Ah sudahlah, tidak apa... Lagipula Kami juga sedang sibuk. Datanglah kapanpun Kamu mau"
Karina menyahuti, diangguki oleh Rheimon dan Azizah. Sementara Darren yang berada diantara mereka lebih memilih diam. Entah mengapa perasaannya masih tidak nyaman dengan kedekatan keluarganya dengan Axel setelah semua yang terjadi. Tapi apapun itu, Ia merasa selama semuanya masih aman Ia tak akan mempermasalahkannya.Yang terpenting Darren akan tetap mengawasi keamanan dan keselamatan keluarganya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Shine dan Abimana kebetulan keluar dari ruang bermain. Kemunculan Mereka tentu saja mengundang perhatian Anggota keluarga lainnya, terutama Axel.
Abimana tersenyum lebar kemudian berjalan menghampiri yang lainnya, namun tidak dengan Shine, Ia ngeloyor begitu saja melewati orang-orang itu menuju kearah kamarnya.
"Shine..." Azizah memanggil Putranya itu.
"Maaf Mom, Shine lelah"
Ucap Shine tanpa menoleh sedikitpun hingga bayangannya hilang dibalik dinding.
Tiba-tiba suasana menjadi sedikit canggung. Terutama Azizah. Dengan kikuk Ia meminta maaf pasa Axel atas sikap Shine yang mungkin kurang sopan.
"Biasanya Shine tidak begitu mas"
"Tidak apa-apa, Aku ngerti kok, mungkin Shine memang sedang lelah"
Ucap Axel seraya tersenyum.
Azizah melihat ke arah Suaminya seolah melemparkan pertanyaan atas sikap putranya yang tidak biasa.
"Maaf ya mba Dania jadi ikut tidak nyaman"
"Oh, nggak kok mba, nggak apa-apa, namanya juga anak-anak, mungkin Shine lagi badmood"
"Mmm, sekali lagi maaf ya..."
"Nggak apa-apa, kalau gitu Kami pamit dulu ya..."
Axel kemudian berjongkok dan menatap Shiena yang sedari tadi acuh dengan apa yang tengah terjadi, Ia fokus pada kotak musik cantik yang Axel berikan beberapa saat lalu.
"Shiena... Uncle pulang dulu ya... Kapan-kapan Uncle boleh main lagi sama Shiena?"
"Boleh dong Uncle... Shiena suka sama Uncle ganteng"
"Hahaha, Okay. Uncle pulang dulu ya, Bye... Cup"
Axel mengecup pipi gadis kecil berambut keriting didepannya. Shiena juga membalasnya dengan riang.
__ADS_1
Akhirnya Axel pulang dari rumah kediaman Rheimon dengan bahagia setelah melihat kedua anaknya. Meskipun Shine terlihat jelas telah menolak dirinya meski tidak terang-terangan.
"Kamu pasti sedih dengan sikap putramu?"
Dania memberanikan diri untuk bertanya ditengah suasana hening yang terjadi diantara mereka. Apalagi sejak tadi Ia melihat wajah Axel ya g terus menerus murung.
"Tidak, Aku memang pantas mendapatkannya"
"Mmm.. Maksudmu?"
"Aku tidak ingin terlalu percaya diri, tapi melihatnya seperti itu Aku jadi mengingat diriku sendiri. Shine benar-benar mirip denganku. Saat kecil banyak teman-temanku yang bilang bahwa Aku angkuh dan dingin. Padahal itu karena Aku tidak mudah menerima orang asing. Aku tidak mudah percaya apda orang lain"
"Mmmm... Begitu rupanya..."
"Ya, lagipula setelah semua yang kulakukan pada Ibunya, Aku pikir sebenarnya Aku tidak layak untuk diakui sebagai Ayah Mereka berdua"
"Axel..."
"Aku pantas menerima penolakan dari Mereka jika mereka tahu Aku adalah ayah kandung Mereka"
Axel memaksakan senyum meskipun saat mengatakannya hatinya benar-benar sakit dan tidak tahu apakah benar Ia bisa menerima penolakan itu atau tidak.
"Apa yang terjadi?"
Azizah mengusap lembut rambut Shine yang tengah duduk di tepi ranjang, tepat disampingnya.
"Maksud Mommy?"
Shine menunduk, Ia tak berani menatap mata Ibunya.
"Sikapmu tadi, Siapa yang mengajarimu untuk bersikap seperti itu?"
"Tidak ada Mom, I'm just... Tired"
Ucap Shine pelan. Tapi wajahnya mengekspresikan sebaliknya. Ia tidak terlihat lelah sama sekali.
"Jangan berbohong nak, Mommy mengenalmu dengan baik"
"Kalau begitu, Apakah Mommy juga tidak akan berbohong tentang Pria itu? Siapa Dia sebenarnya?"
"Shine...."
Azizah sedikit terkejut mendengar pertanyaan mendadak dari putranya itu. Tidak mungkin Shine mencurigai sesuatu tentang Axel, Karena Ia maupun Abimana tidak pernah membahas tentangnya sekalipun di depan anak-anaknya.
"Katakan Mom... Shine siap mendengarkan"
Ucap Shine penuh keyakinan, meskipun pada kenyataannya Ia tahu siapa Axel sebenarnya tapi Ia ingin mendengarkan langsung dari Ibunya.
"Baiklah...Asal Shine berjanji mengatakan pada Mommy juga, dengan jujur, apa yang Shine ketahui tentang Uncle Axel, Hmn?"
"Baiklah, Shine janji Mom"
"Dia adalah Ayah kandung Kamu dan Shiena. Uncle Axel adalah ayah kandung kalian berdua. Mommy pernah menikah sebelum bersama dengan Daddy-mu saat ini"
Meski terkejut karena harus menceritakan kebenarannya secepat ini, Tapi Azizah yakin Putranya bisa menangkap dengan baik semua ceritanya. Dan lagi, Azizah penasaran apa yang telah diketahui oleh Shine, mengingat reaksinya yang biasa saja malah terkesan cuek saat Ia mengatakan bahwa Axel adalah Ayah kandungnya.
__ADS_1
Apakah ada yang memberitahu Shine sebelumnya? Tapi siapa?
Bersambung