
Setelah hari resepsi yang berakhir dengan manis dan penuh kebahagiaan akhirnya semua keluarga saat ini bisa berkumpul, termasuk keluarga Nayla.
Menikmati momen makan malam bersama sebelum Keluarga Azizah kembali ke luar negeri.
"Alhamdulillah ya Pak Hamid, akhirnya anak-anak Kita sudah sah menjadi suami-istri, Bapak sudah bisa bebas dari teror Anak Saya yang laknat ini"
Ucap Rheimon membuka suara ditengah kegiatan makan malamnya.
"Hahahaha, bisa saja Tuan Rheimon ini"
Sahut Pak Hamid tersenyum malu-malu. Apak Hamid adalah Ayah kandung Nayla yang sekarang sudah sah menjadi Nyonya Darren Hayes Atmaja.
"Jangan panggil Tuan, Kita kan udah jadi besan sekarang Pak"
"Baik Pak kalau begitu, Terima kasih. Saya juga bersyukur Bapak dan Ibu bersedia menerima Nayla jadi menantu padahal Kami dari keluarga yang..."
Ucap Pak Hamid penuh haru. Ia tak menyangka jika Putrinya kini telah menjadi istri dari pemilik Pabrik tempatnya dulu bekerja. Padahal mereka hanyalah keluarga sederhana yang hidupnya jauh dari kata 'kaya'.
Pak Hamid juga bersyukur karena orang tua Darren begitu menerima Nayla bahkan sangat menyayangi Putrinya itu, Mereka tidak menolak seperti orang kaya pada umumnya yang ingin memiliki menantu dari sesama kalangan atas.
"Sudah... Jangan bahas materi. Kalau buat Saya yang penting anak-anak Saya bahagia, toh Saya seperti ini juga karena memang lucky aja Pak. Jadi sebenarnya Kita sama saja tidak ada bedanya"
Ucap Rheimon tersenyum lebar.
Suasana pun kembali tenang sampai akhirnya Darren yang sedari tadi bermain-main kecil dengan keponakannya bersuara.
"Dek, Kamu nggak pengen gitu liburan di sini aja, Shine sama Shiena bukannya udah memasuki libur panjang sekolah ya?"
Darren menatap adiknya yang tengah memasukkan potongan buah apel ke mulutnya.
Azizah termangu sebentar, Ia kemudian menatap Abimana, Suaminya.
Abimana hanya melayangkan senyuman sebagai tanda bahwa Ia mengikuti apapun keputusan Azizah.
"Aku... Nggak tahu kak, Aku masih kurang nyaman dan sedikit takut disini"
"Takut Axel akan tahu soal anak-anak?"
Tebak Darren dan diangguki cepat oleh Azizah.
"Selain itu, Aku juga masih takut kalau mba Alexa dan Ayahnya masih mengincar keluarga Kita. Walaupun sudah bertahun-tahun berlalu tapi Aku masih selalu takut kalau Inget Mereka kak"
Jelas Azizah. Darren mengangguk paham. Tapi kemudian Ia menjawab dengan yakin,
"Ya udah gini aja, libur sekolah kan lama tuh sekitar 2 bulan, gimana kalau kamu liburan 1atau dua minggu aja, nanti balik lagi ke Czech Republic, Kakak masih kangen sama keponakan-keponakan Kakak yang lucu-lucu ini..."
Ucap Darren seraya mengelus kepala si kembar Shine dan Shiena bergantian.
"Ya udah deh, demi Kakak, Aku akan tinggal disini sampai 2 Minggu kedepan. Tapi dua Minggu aja ya kak, soalnya..."
Putus Azizah tak tega dengan Kakak semata wayangnya itu. Kenyataannya mereka memang jarang bertemu karena kesibukan Darren yang super super sibuk.
"Okay... Good!!! Mmmmm Mommy dan Daddy juga ya, Please? Darren benar-benar nggak bisa ninggalin kerjaan disini, apalagi semenjak Kantor pusat Atmaja Group pindah, Darren benar-benar jadi jin Kantoran"
Pinta Darren pada orang tuanya juga.
"Iyaa... Iyaa, masa anak-anak Mommy dan Daddy semua disini Daddy nggak ikutan? Hehehe"
"Oke Sipp!!! Nah gini kan enak, Kita bisa kumpul-kumpul kan tiap hari"
Sahut Darren sumringah.
Merekapun melanjutkan acara makan malam keluarga itu dengan hikmat hingga berakhir dengan bahagia dan penuh cinta.
__ADS_1
Tepat setelah kedua orang tua Nayla pulang, Darren membantu Nayla dan Azizah membereskan isi dapur, sementara Abimana sedang mengantarkan kedua anak kembarnya tidur.
Rheimon dan Karina tampak lelah jadi Anak-anaknya meminta mereka untuk istirahat terlebih dahulu.
"Dek..."
Darren memanggil Azizah yang tengah fokus mencuci piring, Nayla yang mendengar pun ikut menoleh.
"Ya kak?" Sahut Azizah menoleh sekejap kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu... Nggak mau ngasih tahu Axel tentang anak-anaknya?"
Azizah seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia terdiam.
"Kakak tahu, Kamu mungkin memiliki kekhawatiran tentang hal itu, tapi akhir-akhir ini Kakak menyadari sesuatu. Kakak, Mommy dan Daddy sangat hancur waktu Kamu hilang dari hidup Kami dek. Bahkan keluarga Kita hampir rusak karen kehilangan itu"
Azizah masih terdiam. Melihat Azizah tidak memberikan respon apapun, Darrenpun melanjutkan ucapannya.
"Axel dulu melakukan kesalahan, Kakak tahu dan nggak akan lupa sampai kapanpun. Bahkan, Kakak sendiri nggak akan rela kalau kamu balik lagi sama Dia kalaupun Kamu tidak menerima Abimana dulu.
Tapi, Ini tentang hubungan darah. Apalagi Axel terlihat sangat menyesal dulu, Kakak masih ingat saat Dia membantu menyelamatkan Kita dari Karissa"
Azizah menoleh, mulai menatap Kakaknya. Darren tersenyum kemudian meraih bahu adik tercintanya itu.
"Tadi, saat Axel datang ke pernikahan Kakak dan ngucapin selamat, Kakak bisa lihat Dia sudah banyak berubah dek, Vano dan Radit pun mengatakan hal yang sama. Jadi, Kakak fikir, apa nggak lebih baik Dia tahu tentang Shine dan Shiena?"
"Tapi Kak... Gimana kalau mas Axel dan keluarganya malah akan mengambil mereka dari Aku kak? Dan lagi, gimana caranya Aku ngasih tahu anak-anak bahwa mereka memiliki ayah kandung yang mana mereka tahunya ya Daddy mereka adalah mas Abi"
"Nggak akan, Mereka nggak akan punya nyali untuk mengambil anak-anak dari Kamu, Percaya deh. Kalau soal ngasih tahu anak-anak kan bisa pelan-pelan, perkenalan dulu"
Sahut Darren. Azizah tak merespon namun kemudian...
"Aku pikirkan dulu kak, Untuk saat ini Aku jujur, belum siap ngasih tahu mas Axel tentang anak-anaknya. Aku juga nggak tega sama mas Abi, Dia udah berkorban banyak, bahkan Mas Abi ngasih nama belakangnya untuk anak-anak"
"Mas Darren benar mba, maaf bukannya ikut campur tapi Aku setuju sama pendapat Mas Darren"
Sambung Nayla yang sedari tadi hanya menyimak.
"Iya Nay, biar Aku pikirkan dulu dan Aku juga harus merundingkannya sama mas Abimana"
"He'eumh, iya mba..."
"Ck, udah jadi kakak iparnya jangan panggil mbak dong Sayang"
Ucap Darren seraya mencubit pipi Istrinya itu.
"Masih proses belajar Mas, harap maklum, hehe"
"Dih gemes banget deh"
"Udah jangan bikin orang iri. Masuk kamar sana. Kerjaan udah beres juga hihihi"
Seru Azizah yang kemudian ngeloyor begitu saja meninggalkan kedua pengantin baru yang tengah dimabuk cinta itu.
"Jadi Kamu sama Abi bakal datang ke acara launching formula parfum terbaru dari Perusahaan Paris itu Son?"
Rheimon membolak-balik dokumen yang di bawa Putranya untuk di pelajari kemudian dengan cepat Rheimon membubuhkan tanda tangan diatasnya.
__ADS_1
"Iya. Azizah sama Nayla juga ikut Dad, itu kan acara semacam Party kan, jadi wajib bawa pasangan masing-masing"
"Okay, yang penting kalian hati-hati ya, terus kasih jangan lupa amati presentasinya dan kasih laporan ke Daddy, kira-kira bakal menguntungkan nggak kalau kita investasikan saham Kita di sana".
"Okay, Sip!! Pokoknya beres Dad, selama ada Abimana laporan aman"
"Hadeh, Kamu ini lho, selalu aja ngandelin Adek ipar Kamu"
" Ya nggak apa-apa, punya Adik ipar pebisnis harus dimanfaatkan dengan baik Dad"
Ucap Darren seraya melayangkan cengiran kudanya. Rheimon hanya menghela nafas lelah. malang sekali menantunya itu, punya Kakak ipar yang otaknya sengklek seperti Darren. Wkkwkwk
"Datanglah bersama Dania Xel"
"Mom, Please"
Axel sudah lelah menolak permintaan Mommy-nya yang mungkin sudah ke 100 kali untuk pergi ke perjamuan bisnis salah satu perusahaan Parfum terkenal dari Paris.
Apalagi jika bukan permintaan agar membawa Dania sebagai pasangannya ke acara itu.
"Lalu Kamu mau pergi dengan siapa?"
Tamara tidak menyerah. Ia terus memaksa Axel agar bersedia memenuhi keinginannya. Lagipula Dania gadis yang baik.
"Aku akan kesana sendiri"
"Axel!!!"
Sentak Tamara dengan marah.
Beberapa saat kemudian wanita itu tiba-tiba memegangi dadanya.
"Mom, Mom..."
Tamara masih meringis kesakitan. Semakin tua sepertinya penyakitnya semakin bertambah. Dulu ia mengalami gagal ginjal sampai akhirnya mendapatkan transplantasi ginjal dari Azizah. Sekarang dokter memfonisnya menderita gangguan jantung.
"Duduklah, minum air ini..."
Axel memberikan segelas air putih yang selalu tersedia di meja kamarnya.
Tamara meminumnya dengan perlahan, wajahnya mendadak pucat, Axel jadi tak tega melihatnya.
"Oke... Axel akan pergi bersama Dania, hmn? sudah... jangan dipikirkan lagi..."
"Benar? janji?"
"Iya... Axel janji Mom..."
Tamara memeluk putranya. Sementara Axel memejamkan matanya erat. Ia harus benar-benar sabar menghadapi ibunya dengan segala permintaannya untuk bersama Dania.
Entahlah, Ia sudah pasrah saja dengan hidupnya yang terasa hampa dan tidak berwarna lagi.
__ADS_1
Bersambung....