Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Bram Tetaplah Bram


__ADS_3

Bram tetaplah Bram....


"Hahaha Mereka pasti sedang sibuk mencurigai satu sama lain, ini sangat seru"


Karissa berbicara dengan suaranya yang lembut tapi sangat berbisa, gambaran ular sesungguhnya.


Bram yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum lebar.


"Ternyata ambisimu tetap tidak berubah Karissa hahaha"


"Karissa? Helloo Bram Sadewo, ingatlah posisimu saat ini, jangan terlalu lancang"


Ucap Karissa dengan angkuh, seketika senyuman lebar yang tadinya bertengger di bibir Bram musnah detik itu juga.


"Maaf"


Hanya kata itu yang bisa Bram ucapkan, meskipun sesungguhnya dalam hatinya Ia tak terima. Dan bersumpah jika Ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, maka Ia tak akan segan pula menghabisi wanita menyebal ini.


Bram tetaplah Bram, rubah yang licik. Meski telah dibantu sekalipun Ia tak akan pernah merasa berhutang budi. Hatinya terlalu serakah untuk membalas kebaikan orang lain. Seperti yang pernah Ia lakukan pada Marcell dulu. Menjebaknya! Meskipun Marcell sudah banyak berbuat baik dan membantu perusahaannya.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"


Tanya Bram, mencoba mengalihkan pembicaraan yang menjengkelkan sebelumnya.


"Hmm... Tentu saja melanjutkan rencana yang tertunda 18 tahun lalu hihihi"


Bram pun manggut-manggut. Ia paham betul maksud Karissa.


"Itu sebabnya, Aku membutuhkan tenaga putrimu yang tidak berguna itu"


Jleb! Lagi-lagi, bram mendengar ucapan menyakitkan dari mulut berbisa Karina. Putrinya yang malang... Wajah cantiknya kini berubah menjadi sangat... Mengerikan.


"Tapi, jangan suruh dia muncul di hadapanku. Aku jijik sekali melihat wajahnya. Jika Dia harus melaksanakan tugas, maka aku akan mengatakannya padamu saja"


"Hmm baiklah"


Ucap Bram dengan bibir terkatup. Darahnya mendidih mendengar hinaan Karissa terhadap Alexa.


"Kalau begitu, pergilah. Aku akan memberitahumu detailnya setelah semua persiapannya selesai"


Tanpa banyak bicara, Bram berlalu. tangannya mengepal erat. Kemarahan terlihat jelas dari urat-urat yang timbul di wajahnya.


'Aku bersumpah akan menghancurkan kalian semua, termasuk kau Karissa. Wanita bajingan!!' Batinnya.


Sementara di belakang Bram, Karissa diam-diam tersenyum sinis...


"Braam braam... Kau pikir Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan? Dasar bodoh. Dari dulu sampai sekarang kadar kebodohanmu semakin bertambah huh"


Karina berjalan pelan menuju jendela besar di ruang kerjanya itu sembari meraih gelas wine yang sudah hampir kosong..


"Azizah... Ups... Maksudku Rheina... Keponakan Aunty tersayang... Maaf, tapi Aku tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama sayang... Hahahaha... Penderitaan ibumu adalah kebahagiaanku. Karena Dia telah merebut semua yang seharusnya menjadi... Milikku"


Tatapan Karissa tiba-tiba berkobar. Entah dendam apa yang dia simpan , yang jelas sorotan itu mengisyaratkan pertanda buruk.



Krebb...


Suara pintu mobil ditutup diikuti langkah seorang pria turun dari kursi kemudinya.


Wajahnya sumringah, Pria yang tak lain Abimana itu dengan sigap membukakan pintu mobil untuk dua orang penumpangnya. Nayla dan Azizah.



"Silahkan turun, Nona-nona cantik"



Ucap Abimana. Sementara Nayla dan Azizah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah pria berjambang lebat itu.



"Kurang-kurangin lebay-nya mas... Udah nggak pantes, hihi"


Ucap Azizah begitu turun dari mobil.



"Iya ih, Pak Abi nggak singkron ama mukanya yang cool dan garang"


Sambung Nayla.



"Masa sih lebay... Biasa aja padahal"


sahut Abi dengan wajah cemberut.



"Ya udah mas, udah malem. Pulang gih istirahat. Lagian mbak Maya juga nggak ada yang jagain kan"



"Iya pak, tuh non Tasya juga udah ketiduran"


Ucap Nayla seraya menunjuk ke dalam mobil.



Yups, Tasya yang imut sudah tertidur pulas. Gadis kecil itu duduk tepat di samping Abimana mengemudi.



"Iya mas kasihan, besok kan Tasya masih harus sekolah"


Azizah menambahkan.



"Iya iyaa... Semangat banget sih ngusirnya..."



"Bukan ngusir, cuma nyuruh pulang aja wkwk "



"Apa bedanya?? Hmmm... Anyway. Zizah, Nayla, terima kasih selama Maya dirawat kalian udah mau gantian jagain. Kalau nggak ada kalian pasti saya kerepotan sekali"


__ADS_1


"Jangan kaya gitu mas, mba Maya sudah menyelamatkan nyawa Aku, jagain mba Maya di rumah sakit belum seberapa dibandingkan dengan jasa beliau"



"Udah... Itu semua udah takdir. Yang penting Maya juga udah sehat sekarang. Udah baik-baik aja kan?"



"Tapi lukanya nggak akan hilang"



"Bisa diusahakan kok, Aku nggak miskin-miskin amat Zizah, Aku masih bisa nyari dokter kulit terbaik buat menyamarkan bekas luka di tangan Maya"



"Mas ini..."



"Udah jangan di pikirin lagi. Semuanya udah baik-baik aja.yang penting sekarang Kamu harus lebih jaga diri, selalu berhati-hati karena Alexa berhasil melarikan diri. Jadi, segala kemungkinan buruk bisa terjadi sama Kamu Zizah"



Ucap Abimana serius. Ia dan Darren masih terus bekerja keras untuk menemukan jejak Alexa, tapi sampai sekarang hasilnya masih nihil.



Azizah menghela nafas panjang. Sudah-susah Dia kabur sejauh mungkin, tetap saja orang-orang dari masa lalunya kembali bermunculan.


Padahal jika dipikirkan lagi, Ia sama sekali tidak punya urusan dengan Alexa. Tapi kenapa perempuan yang pernah menjadi penyebab luka batinnya itu sangat membencinya. Bukankah seharusnya Ia yang sakit hati dan menyimpan dendam? Kenapa ini malah sebaliknya?



"Tenang aja, Mas sama Darren akan selalu siaga buat jagain Kamu. Nayla juga kan?"



"Oh oh, iya pak. Tenang aja mba Zizah. Nayla juga bakalan jagain mba Zizah sama dua jagoan ini"



Ucap Nayla seraya mengelus perut buncit Azizah.



"Terima kasih, terima kasih karena kalian selalu baik sama Aku"



Ucap Azizah terharu melihat tulisnya orang-orang di depannya itu terhadapnya. Padahal mereka belum lama saling kenal. Allah SWT memang Maha baik, mengirimkan Abimana, Nayla dan juga Darren ke dalam hidupnya.



"Mba zizah... Kok malah sedih"



"Aku bahagia kok, karena bisa mengenal orang-orang baik seperti kalian, terimakasih ya mas Abi, Nayla... semoga Allah membalas semua kebaikan kalian, karena Aku nggak bisa ngasih apa-apa"



"Ssst... Nggak usah ngomong kaya gitu. Aku sama Nayla melalukan ini karena sayang sama Kamu. Dan ini semua pantas Kamu dapetin . Karena Kamu juga orang yang sangat baik"




"Yahh... Aku nggak bisa peluk juga nih..."



"Apasih.. bukan mahram... Udah sana pulang"



"Diusir lagiii... Elahhh"



"Hahahaha"



"Ya udah, mas pulang dulu yah... Nay! Saya pulang dulu ya, titip Azizah"



"Siapp pak Boss!!!



"Assalamualaikum"



"Waalaikumsalam..."


Jawab Nayla dan Azizah serentak.



Tak lama kemudian suara mesin mobil menyala. Mobil Abimana pun mulai menjauh hingga hilang dari pandangan kedua wanita itu.



"Mba... Aku nginep di rumah mba ya... Males jalan plus takut diculik"



"Okeeyyy, dengan senang hati"



"Asiiiik.. Bi Ani udah tidur belum yahh"



"Udah kayaknya...."


__ADS_1


Dan mereka berdua pun berbincang-bincang seraya berjalan menuju rumah Bi Ani yang tak jauh dari tempat mereka berada saat ini...



"KENAPA KEK??!!!!"


Suara bariton menggelegar hingga membuat benda-benda yang kebetulan teronggok di ruangan itu ikut bergetar. Namun tidak dengan jiwa Adhitama yang sama sekali tak gentar.


Axel marah besar, Ia menjadi orang yang paling terakhir yang mengetahui identitas Azizah. Padahal kakeknya adalah orang yang pertama tahu, selain ayahnya dan juga Fauzi.


Bahkan Mommy nya sendiri tidak mengetahui akan rahasia ini.


"Bagaimana Kakek harus memberitahu? Bahkan setelah tahu Kakek ingin menjodohkanmu dengan Azizah, Kamu bahkan tidak pernah menegur Kakek, kecuali hanya untuk urusan pekerjaan. Dan juga... Apa saat itu akan ada bedanya jika Kamu tahu? Kamu sudah tergila-gila pada putri Bram"


Jelas Adhitama. Wajahnya tetap ketus dan dingin.


Tapi bukan Axel namanya jika tidak berkeras hati. Ia masih merasa semua ini tidak lain awalnya adalah kesalahan kakeknya. Menjodohkannya secara tiba-tiba tanpa memberitahunya apapun.


"Itu hanya alasan Kakek. Sebenarnya kalau kakek memang berniat menceritakannya pada Axel, banyak kesempatan dan waktu yang ada. Tapi pada dasarnya Kakek memang hanya ini menyimpannya sendiri. Kakek sama sekali tidak mempercayaiku"


"Baiklah, Aku akui. Aku bersalah untuk hal itu Axel. Tapi... Semua tetap sudah terlambat. Berubahlah, lupakan Azizah dan mulai kehidupan yang baru"


"What??"


Axel tertawa sumbang, Ia sungguh geli mendengar ucapan kakeknya. apa berada di rumah sakit membuat kakeknya kehilangan akal sehat? Berubah? Memulai hidup baru?? Setelah semua ini terungkap?? Yang benar saja!


"Kakek tahu kalau sekarang Azizah sedang mengandung anak-anakku kek, dan kakek menyuruhku melupakannya dan memulai hidup baru? Apa kakek sedang bergurau?"


"Kau masih bisa memiliki anak lagi, menikahlah lagi. Itu hal mudah, semudah Kamu mendukung Alexa untuk membunuh anakmu dulu"


Jleb. Axel terdiam. Kata-kata kakeknya lebih menyayat dari sembilu.


"Jika kamu dulu bisa dengan mudah menyingkirkan anak tidak berdosa itu, kenapa sekarang kamu bersikeras terhadap anak yang tengah di kandung Azizah? Tidakkah mereka sama? Berasal darimu? Apa bedanya?"


Axel masih terdiam. Sejurus kemudian sebulir bening mengalir di wajahnya.


"Kakek bisa memaafkanmu nak, tapi Azizah... Tidak ada satupun ibu di dunia ini yang bisa memaafkan orang yang telah menyakiti anaknya. Tidak.. Memaafkan mungkin masih bisa, tapi tidak untuk melupakan. Pahamilah nak"


Axel tidak lagi mendengarkan ucapan Adhitama, Ia melangkah cepat meninggalkan ruangan itu dengan perasaan terluka.


Kenapa? Kenapa semua orang selalu mengungkit kesalahannya? Apakah hanya Dia manusia yang bersalah dimuka bumi ini? Kenapa tidak ada satupun yang mendukungnya untuk mendapatkan kembali Azizah dan anak-anaknya? Kenapa???




"Karena emang si Brengsek itu pantes buat dapetin hukuman ini"



"Ren..."



Vano menyentuh bahu sahabatnya itu. Yups. Vano dan Darren kini tengah bersama di sebuah Cafe yang letaknya tak jauh dari apartemen Darren.



Beberapa hari lalu Darren meminta bantuan Vano untuk menyelidiki Fauzi. Kebetulan ayah Vano memiliki jaringan bisnis intelejen. Jadi untuk urusan ini Vano lebih bisa diandalkan ketimbang Radit.



"Jujur nih, Gue nggak enak banget sama Axel. Dia juga minta tolong sama Gue, tapi Gue tolak karena Loe nih"



"Thanks"



"Maksud Gue Bro. Kalian berdua sama-sama sahabat Gue. Jadi Sorry nih, Gue nggak bisa milih antara Loe ataupun Axel. Kalian berdua sama-sama penting buat Gue"



"Gue ngerti kok. Gue makasih banget Loe udah mau bantuin Gue"



"Hmmm, ckk Kok bisa ya kebetulan gini. Azizah itu adek kandung loe??"



"Loe tahu sesuatu tentang masa lalu Gue? Kenapa Gue sama sekali nggak inget??"



"Ww-what? Gu-gue?"



Vano mulai tergagap. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan semacam itu dari sahabatnya sejak kecil itu.



"Ngeliat muka Loe jadi mleyot begitu Gue tambah yakin Loe pasti tahi sesuatu"



"Apaan sih Loe... Gini deh, Gue nggak mau ngeduluin Om Rheimon. Loe tunggu aja bokap Loe yang cerita. Gue yakin nggak lama lagi Beliau pasti kasih tahu semuanya sama Loe bro. Percaya deh sama Gue"



"CK... Asu Loe. Nggak bisa diajak kerjasama, \*\*\*\*\*\*!"



"Hahahaha dari dulu mulut Loe emang kayak \*\*\*\*\*\*. Enteng banget ngomong kotor"



"Halah... Kayak Loe nggak aja"



"Gue masih lebih mending dari Loe. Udah ah ayuk lanjut minum lagi kita, sekalian bahas Fauzi"



"Hmm...."


__ADS_1


San berlanjutlah malam dua bujangan tidak ting-ting itu membahas berbagai hal, terutama tentang Fauzi...


__ADS_2