
AKU BUKAN ANAK-ANAK LAGI
"Waaw... Aku takut sekali... Tapi sayangnya, Aku ingin bilang bahwa... Kalau Aku mati maka kupastikan Kalian semua juga akan mati, disini... Bersamaku"
Karissa tersenyum penuh misteri, Tak lama setelahnya, Ia mengeluarkan sebuah remot control.
"Sekali Aku menekannya, maka.... Kita semua akan pergi ke Surga bersama-sama... Indah sekali bukan, hmn??"
Darren, Abimana, dan yang lainnya mendadak pucat... Ini semua benar-benar diluar perkiraan mereka...
Karissa terus menyunggingkan senyum. Ia sudah mempersiapkan semua ini dengan matang semenjak Ia memutuskan untuk mengikuti Darren pagi ini.
Beberapa hari lalu saat mereka bertemu, keponakannya itu tak juga memberikannya informasi atau kabar tentang Rheina yang telah ditemukan.
Karissa pikir Darren akan sangat mempercayainya dan akan menceritakan kepadanya tentang apapun itu yang bersangkutan dengan keluarga Rheimon, tapi ternyata anak itu cukup cerdas meski dalam keadaan amnesia tapi Ia tak sebodoh itu bercerita pada orang lain mengenai rahasia keluarganya.
Dan ternyata, keberuntungan lagi-lagi menyertainya. Ternyata tanpa sadar justru Darren sendirilah yang mengantarkan Karissa pada Rheina, meskipun anak ini tidak menyadarinya.
Jadi, sekarang... kalaupun Ia harus mati, asal bersama dengan anak kedua orang yang sangat dibencinya itu, maka dengan senang hati Ia akan melakukannya. Kalau Darren dan Rheina mati sekaligus, bukankah Karina dan Rheimon juga akan hancur??
Seolah mengejek, Karissa terus memainkan remote kecil di tangannya.
"Tapi, tenang saja, tidak secepat itu sweetie... aku tidak terburu-buru, bagaimana kalau kita menyelesaikan permainan yang lain dulu, hmn?"
"Berhentilah Karissa, Apa sebenarnya maumu?"
Ucap Darren geram. Wajahnya merah padam. Ia masiy setia merangkul Azizah. Ia bersumpah demi apapun, Adiknya harus selamat, bagaimanapun caranya.
"Waww... Menakutkan sekali keponakanku yang manis ini..."
"Jangan panggil Aku dengan sebutan menjijikan itu, Aku bukan keponakanmu wanita iblis!!"
"Baiklah... Rupanya Kamu benar-benar mengingat semuanya. Bagus, Aku bisa mengulang kembali kenangan lama itu bukan?"
"Hahahaha, jangan terlalu yakin Karissa, Aku berbeda dengan Darren kecil yang bodoh itu. Aku sudah berubah, Aku bukan anak-anak lagi dan.. Aku tidak selemah itu. Lagipula Kau hanya perempuan tua, apa susahnya menghabisi betina lapuk sepertimu"
Darren berucap dengan mimik mengejek. Wajah Karissa menghitam, sorot matanya jelas menggambarkan bahwa Ia tak terima mendengar ucapan Darren, Betina lapuk katanya???
"Kenapa? Tidak terima? Haiiish... Lihatlah dirimu nyonyaah, Ibuku bahkan akan memiliki cucu, dan Kau? Ckckck, Hatimu sangat kotor, jadi tidak heran kalau tidak ada yang mau denganmu. Apalagi Daddy-ku? Kalau Aku jadi Daddy, Aku juga tidak akan memilih wanita sepertimu. Ibuku, Karina Hayes Atmaja 1000 kali lipat lebih dari dirimu. Kau hanyalah wanita SAMPAH!!!"
"Tutup mulutmu bocah bajingan!!!"
Tersulut emosi, Karissa tanpa sasar menekan remot kecil yang ada di tangannya...
Semua orang disana menegang. Terutama Darren, Abimana dan Axel yang lari ke arah Azizah dengan cepat.
Tapi...
Tut. Tut.Tut.
Tidak ada yang terjadi. Benda kotak berwarna hitam dengan beberapa tombol itu hanya bersuara seperti remote rusak.
Tak lama setelahnya, terdengar cekikikan seseorang.
Radit sampai memegangi perutnya akibat menahan tawa.
"Weh kenape Loe"
__ADS_1
Tanya Darren.
Bukannya menjawab, Radit malah semakin terbahak-bahak.
"Tante Loe kurang pinter main taktik beginian"
"Maksud Loe..."
Tanya Darren, sementara Axel dan Abimana hanya menatap bingung ke arah Radit...
Flashback On...
"***Gila nih perempuan, banyak juga duitnya bisa bayar preman pasar sebanyak ini***"
***Ucap Radit pada Axel saat kembali dihadang oleh orang-orang Karissa***.
"***Ya sekarang loe pikir aja, nggak mungkin Tante Darren itu cuma nyiapin 10 orang buat ngadepin musuhnya. Orang-orang yang kita hadapi sebelumnya itu baru permulaan. Gue yakin banget setelah ini masih banyak kejutan buat Kita***"
"***Loe bener, Gue rasa si Terang itu suka nonton film ninja, makanya punya ide beginian***"
"***Terang apaan***?"
"***Tante Girang***"
"***Sialan Loe***!"
***Mereka masih sempat berbincang satu sama lain di tengah kerumunan preman yang terus mendekat***.
"***My pleasure***!!"
***Bak... Bukkkkk, Brakkk.... Bukkk bukkk!!! Bukkk***!!
***Jadilah pertarungan dua lawan banyak itu tak terelakkan. Axel dan Radit memang sengaja memutuskan untuk menghadapi mereka agar Darren dan Abimana cepat menemukan keberadaan Azizah. Singkat kata mereka membagi tugas, Kerjasama tim yang bagus***.
***Sementara di sisi lain, jalan Abimana dan Darren seperti jalan tol, lancar tanpa hambatan. Hingga tiba-tiba***...
***Brakkkkk***
"***Arrrrgh***!!!!"
"***Darren***!!!"
***Abimana terkejut melihat Darren jatuh tersungkur. Rupanya seseorang berbaju hitam yang buruk rupanya baru saja menghantamkan sebuah kursi tepat di kepala Darren***.
"***Bangsat***!!!"
***Abimana secepat kilat melayangkan tendangan mematikan ke wajah pria itu hingga terjungkal, Tak lama kemudian Darren menghantam balik kursi tadi tepat ke wajah pria itu hingga t.e.w.a.s***.
"***Ren... Ren... Kamu nggak apa-apa***?"
***Tanya Abimana yang seketika panik melihat Darren tidak merespon***.
__ADS_1
"***Abi... Ada apa***?!!!!"
***Axel dan Radit menghampiri Abimana dengan Darren yang terbaring di pangkuannya***.
"***Barusan orang itu memukul Darren dengan kursi***"
"***Astaga... Ren, Ren buka mata Loe Ren***!!"
***Axel dengan cepat berjongkok dan menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu. Hingga Axel baru menyadari bahwa Sahabatnya itu kini terluka***.
"***Kepalanya berdarah***...."
"***Waduh... Gimana dong ini***"...
***Sahut Radit***...
***Di tengah kepanikan ketiga pria itu, Darren mulai membuka matanya***.
***Meski rasa nyeri menyiksa terutama di kepala bagian belakangnya. Tapi saat mengingat adiknya dan wanita jahat yang kini bersamanya, Semangat pria itu kembali membara***..
"***Ren, Loe nggak apa-apa***?"
***Ucap Radit yang menyadari saat Darren membuka matanya perlahan. Axel dan Abimana pun ikut menoleh ke arah Pria itu berbarengan***.
"***Nggak apa-apa... Tolong bantu Gue berdiri, Kita harus cepat, Kita nggak punya banyak waktu***"
***Ketiganya mengangguk kemudian Axel dan Abimana membantu Darren untuk bangkit berdiri***.
***Mereka pun kembali menuju lantai terakhir, Darren langsung terlihat bugar seperti tidak terjadi apa-apa padanya***.
"***Gue rasa justru bahaya yang sebenarnya itu ada Disana***"
***Ucap Darren seraya menatap bergantian tiga orang yang bersamanya, ketiganya mengangguk setuju. Karena tidak mungkin di ruangan itu tidak ada apa-apa jika mengingat Azizah pasti ada disana***.
***Ditengah perundingan itu, ada sesuatu yang mencuri perhatian Radit, hingga saat Darren dan yang lainnya sudah berjalan pria itu tetap mematung ditempat***.
"***Apaan tuh***?"
***Radit mendekati benda yang tersembunyi di balik meja usang di hadapannya***.
"***My God.... Bom***!!"
***Hampir melompat keluar bola matanya saat melihat bom waktu yang aktif ada di hadapannya***.
Bersambung
Jadi kemarin saya baca komen, ada pembaca yg protes katanya suara tembakan itu jangankan dari lantai 2, jarak 5 rumah aja kedengaran,
Jawaban saya : Ya, monmaap namanya juga novel, kemampuan mengarang saya ya begitu, tapi saya rasa banyak kok novel2 yang kisah dan ceritanya tidak masuk akal, namanya juga kan cerita fiksi, khayalan. Jadi kalau terlalu logis ya agak susah juga ya karena akan ada banyak hal yang di dramatisir. Mungkin beliau ini tidak pernah nonton drama/sinetron.
Kedua, Penjaganya kan udah d tembak semua kok masih muncul lagi? penjaga yang ditembak itu kan di lantai bawah, ya masa di lantai yang ada Karissa nya kosong tidak di jaga? Gitu lho maksud Aku...
Pernah lihat film India? Anak buah penjahatnya udah tumbang semua, eh tiba-tiba dateng lagi jumlahnya lebih banyak? Aku tuh ceritanya terinspirasi dari sana 🤣🤣🤣 ngerti kan maksudnya?
Gini lho, Aku ini penulis amatir, mentalnya belum terlatih, jadi kalau baca komen yang kaya gitu langsung ngedown, langsung nggak pengen nulis, kayak : iya yah aku nulisnya jelek, mending stop aja lah. Gitu...
Maka dari itu, Aku sebagai pembaca novel lain juga, kalo nggak suka sama alurnya, atau apapun itu yang aku rasa aku kurang cocok ya aku skip bacanya, aku baca novel yang lain karena untuk penulis pemula kaya aku, mentalnya mental tempe jadi harap maklum. Aku nggak sekolah nulis, Aku nulis karena hobby baca aja.
Dan kayaknya selama membaca, banyak banget novel yang lebih tidak masuk akal jalan ceritanya, kalau terlalu logis ya nggak nikmat toh...
Namanya juga novel. Jadi, janganlah terlalu serius. Ini bukan kasus kejahatan yang harus jelas dan terperinci di setiap kejadiannya. 😌☺️
Maka dari itu, untuk kesehatan mental saya sebagai penulis pemula memutuskan untuk memblokir semua toxic reader. Saya masih baperan, hehe
__ADS_1
Karena untuk menulis disini, Saya jujur karena saya suka dengan respon para pembaca saya yang baik-baik. Saya jadi bersemangat buat nulis lebih lagi setiap harinya di tengah kesibukan saya sebagai buruh migran di Hongkong.
Terima kasih buat yang selama ini setia membaca cerita Saya. Saya berusaha semaksimal mungkin menulis cerita sesuai dengan aturan PUEBI meski belum sempurna. Hanya ada beberapa kata-kata kasar dan 'bahasa gaul' karena menyesuaikan dengan tokohnya dan alurnya. Thank you ❤️❤️❤️