
Pukul 01.00 dinihari Axel baru menginjakkan kakinya di mansion utama keluarga Djaja. Lelah dan lesu menghiasi wajah tampan yang kini nampak lebih tirus.
Seorang pelayan wanita paruh baya tergopoh-gopoh menghampiri Tuan muda keluarga Djaja itu, kemudian meraih tas kerja yang ada di tangan Axel.
"Thanks Bi Surti"
"Den Axel, mau Saya siapkan air hangat untuk mandi?"
"Nggak usah, biar saya sendiri"
"Baik Den"
Axel mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.
Pria itu kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Axel menatap dirinya di dalam cermin. Dirinya yang kini tampak menyedihkan.
Pria itu mengamati dalam-dalam wajahnya sendiri. Wajah yang dulu Ia banggakan karena bisa dengan mudah menaklukkan hati wanita manapun juga. Tapi kini, wajahnya tak lagi sama. Wajah itu tak mampu mengembalikan bidadarinya yang terluka karena ulahnya.
Wajah yang dulu bersinar kini meredup.Berganti sendu yang membelenggu. Terjerumus dalam penyesalan berujung buntu.
Air matanya mengalir. Mengingat sebuah lembaran yang menjadi tanda bahwa Ia tak lagi memiliki kesempatan. Akta cerai.
2 kata mengusung luka, membakar harapan yang tadinya masih membuncah di dada.
"Apa Aku benar-benar kehilangan Kamu Zizah?? I'm so sorry... Please, come back to me"
Axel terisak, namun Ia segera menghapus bulir bening itu karena sadar tak ada gunanya menangis. Yang harus dia lakukan adalah mencari. Yah, hanya mencari dan menemukannya.
Axel menekan tombol shower. Perlahan air mengucur membasahi tubuhnya, berharap sedikit saja, air itu mampu menyejukkan perasaan gundahnya.
Sampai 30 menit berlalu, Axel keluar dari kamar mandi, Ia mendongakkan kepalanya saat melihat wanita yang telah melahirkannya, Mommy-nya. Tengah duduk di ranjangnya.
"Mom? Mommy belum tidur?"
Tanya Axel pada Tamara.
"Belum, Mommy tidak bisa tidur Sayang"
"Ada apa? Apa ada masalah...?"
Axel bertanya seraya berjalan ke walk in closet. Meraih piyama berwarna dark blue kemudian mengenakannya.
"Jangan bertanya seolah Kamu tidak tahu apapun Axel"
Sahut Tamara setelah melihat putranya keluar dari berganti pakaian.
"Apa maksud Mommy?"
Axel tetap kekeh dalam pendiriannya dalam bersikap seolah tak ada masalah apapun.
"Mommy sudah tahu semuanya Sayang"
"Tentang?"
"Tentang Azizah"
__ADS_1
Axel seketika menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Ibunya itu.
"Semuanya Axel, Mommy sudah tahu semuanya. Termasuk tentang transplantasi ginjal itu"
Tamara menangis. Ia baru mengetahui kebenarannya beberapa hari yang lalu dari seseorang yang merupakan sahabat ayahnya, Dr. Wiyono.
Mendengar tentang kenyataan siapa pendonor sebenarnya saja membuat wanita berusia 45 an itu shock berat.
Ditambah Ia mengetahui tentang ayah Azizah, Fauzi Ibrahim, ternyata adalah orang kepercayaan Ayahnya yang telah menyelamatkan Ayahnya dan perusahaan dari malapetaka hingga kehilangan nyawanya.
Semua kebenaran itu membuat Tamara sangat malu pada Azizah. Selama ini Ia sangat jahat dan kejam pada menantunya itu.
"Kita harus menemukannya Axel, Mommy mau mohon ampun pada Azizah atas semua kejahatan Mommy, meskipun Mommy yakin Azizah pasti sangat sulit untuk memaafkan Mommy, hiks hiks"
Axel hanya mampu menghela nafas panjang.
Ia kemudian menghampiri Ibunya dan memeluknya erat.
"Aku sedang berusaha Mom, Aku sudah menyuruh orang-orangku untuk mencari keberadaan Azizah sekarang. Doakan saja semoga segera mendapatkan hasilnya"
***
"Tidak akan berhasil. Aku yang akan menghalangi mereka menemukan Azizah"
Adhitama berkata kepada seseorang di seberang telepon.
"...."
"Hehehe , Yang terpenting buat orang-orang suruhan cucuku tidak bisa menemukan jejak tentang Azizah sedikitpun. Tutup Aksesnya. Beres. Mereka tidak akan bisa berkutik"
"...."
"...."
"Hmn, jangan khawatir Aku tidak pernah ingkar janji, asal...Jangan biarkan cucuku menemukannya"
"...."
"Baiklah Kalau begitu. Aku tutup teleponnya"
Adhitama tersenyum lega. Sementara lawan bicaranya di telepon mendesah pelan.
"Sorry Xel, Gue harus bantu kakek Loe".
Darren yang kini berada di Surabaya baru saja menerima tugas dari Kakeknya Axel . Yups! Darren meneruskan tugas Ayahnya yang merupakan sahabat Tuan Adhitama untuk melindungi Azizah dari jangkauan Axel.
Kini Darren memiliki dua tugas. Tugas yang pertama adalah menjalankan hukuman dari Ayahnya untuk mengawasi pabrik milik mereka yang tak lain adalah pabrik dimana Azizah bekerja. Agar Darren berhenti bermain wanita karena Ayahnya terlalu sering mengalami darah tinggi akibat terus di datangi oleh para orang tua gadis yang merupakan korban putra semata wayangnya, Darren Hayes Atmaja.
Yang kedua, tentunya menjadi mata-mata Adhitama untuk memblock orang-orang Axel agar tidak menemukan wanita itu, Azizah.
Eits. Darren memprotes keras jika Ia di sebut penghianat. Karena Axel sendiri yang sudah memutuskan hubungan persahabatan mereka dan sampai detik ini Pria tampan itu tak juga meminta maaf pada Darren.
So, jangan salahkan Aku. Pikir Darren.
"Oke, baiklah. Besok pagi Aku akan bersiap.... Tebar pesona pada gadis-gadis pabrik, hahaha!
Dad... Kau melakukan kesalahan besar dengan mengirimku ke sini. Pabrik bukanlah urusanku, urusanku hanyalah para gadis cantik!!"
Darren menyeringai lebar. Dia sudah membayangkan betapa indahnya hari esok dengan gadis-gadis cantik karyawan pabrik yang mengerumuninya.
__ADS_1
Pria itu pun menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Karena besok akan menjadi hari yang menyenangkan! Batinnya.
***
Sementara itu di sisi kehidupan yang lain,
"Apa ini mas?"
"Hadiah dari Aku sama Tasya"
Abimana memberikan bingkisan kecil nan cantik pada Azizah.
Abimana sengaja melibatkan keponakannya, karena kalo Ia bilang ini darinya, bisa di pastikan Azizah pasti menolak.
(Pasal 1 tips MUMED dari Malik. Memberi Azizah hadiah)
"Aku berterima kasih banget selama 2 bulan ini Kamu dengan sabar mengajari Tasya mengaji, dan Tasya sekarang sudah hafal huruf-hurufnya"
"Sama-sama, Aku seneng kok ngajarin Tasya mas, nggak usah di kasih hadiah segala hehe, tapi terimakasih kalo gitu, Zizah terima ya hadiahnya"
Azizah tidak enak hati jika menolaknya, Abimana mungkin akan tersinggung.
Abimana mengangguk. Kemudian meminta Azizah membukanya.
"Buka dong, mudah-mudahan Kamu suka"
Wanita berhijab itu menurut, sejurus kemudian Ia membelalak seraya menutup mulutnya sendiri saat melihat hadiah dari Abimana itu.
"Ya Allah mas... Ini..."
"Kenapa? Kamu nggak suka?"
Abimana mendadak khawatir melihat reaksi Azizah.
"Ini... Asli?"
Azizah tidak bermaksud apapun. Iya hanya kaget melihat cincin berlian yang ada di tangannya. Skelai lihat saja ini pasti bukan berlian aspal. Dan jika benar ini asli, maka Abimana pasti menghabiskan banyak tabungannya.
"Iya, itu asli. Aku sendiri yang memilihnya"
"Ya Allah mas... Ini pasti mahal sekali. Kamu jangan buang-buang uang kalau cuma mau kasih aku hadiah mas.. Yang murah aja cukup kok, yang penting ikhlas dan berguna buat Aku..."
Azizah ingin menyodorkan kembali hadiah itu, tapi Abimana mencegahnya.
"Terimalah, cincin ini tidak akan pernah sebanding dengan semua yang sudah kamu lakukan untukku dan Tasya. Kamu sudah merubah hidup kami menjadi sangat membahagiakan"
"Mas Abi..."
"Terimalah... Aku mohon..."
Azizah menatap Abimana yang masih setia tersenyum ke arahnya.
Azizah Dilanda kebingungan, apakah yang dikatakan Nayla tentang perasaan abimana kepadanya itu benar??
Bersambung
Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️❤️
__ADS_1
luvv banyak-banyak ❤️🌹🌹