Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
MATA MATA


__ADS_3

"Siapa yang mengatakannya padamu nak?"


Azizah menatap putranya dengan wajah serius. Ia telah menceritakan semuanya pada Shine, tanpa ada yang terlewat. Seperti dugaannya, Shine terlihat tidak terkejut sama sekali. Ekspresinya datar dan acuh. Azizah semakin yakin bahwa putranya sudah mengetahui tentang Axel dan dirinya sejak lama, entah dari siapa Azizah sungguh ingin mengetahuinya.


"Bibi Zoya"


"Bi- Bibi Zoya?"


Azizah menutup mulutnya dengan tangannya.


Zoya adalah Kepala pelayan di rumah Mommy-nya. Zoya bekerja pada Karina lebih dari 30 tahun. Tepatnya Ia adalah pelayan dari Ayah Karina yang kemudian di tugaskan untuk melayani keluarga Karina setelah Azizah atau Rheina lahir.


Zoya dikenal sangat loyal, bahkan Ia tidak menikah meski Karina telah memintanya untuk menikah. Zoya dan Karina hanya berbeda usia sekitar 5 tahun. Zoya lebih tua dari Karina, Tapi bahkan Ia masih nyaman hidup sendiri.


"Tapi... Bagaimana mungkin?"


Azizah masih terperangah tidak percaya, sementara Shine menjadi muram dan sedih. Ia sadar bahwa Ia telah mengecewakan Ibunya dengan menyembunyikan semua ini.


"Tapi, Shine rasa Mommy harus menanyakannya pada Popa dan Moma, Shine merasakan ada sesuatu yang Bibi Zoya sembunyikan"


"Maksudmu nak?"


"Shine tidak tahu pasti Mom, tapi sepertinya Popa dan Moma bisa mencari tahu"


Ucap Shine memberi saran pada Ibunya.


"Kamu benar nak, Mommy akan menanyakan ini pada Popa dan Moma ya, Kamu tidurlah. Besok bukankah Kita akan pergi ke taman bermain?"


"Hmn... " Shine mengangguk sebelum kemudian mengucapkan permintaan maaf kepada Mommy-nya.


"Mom, I'm so sorry. Shine tidak jujur pada Mommy dan menyembunyikan semua ini"


"It's Okay sayang. Tapi lain kali, kalau ada apapun itu Kamu harus menceritakannya pada Mommy dan Daddy, promise?"


"Ya Mom, promise"


"Dan... Satu lagi, cobalah untuk membuka hatimu nak, untuk menerima Papa Axel, hmn?"


"Kalau itu Aku tidak bisa janji Mom"


"Shine..."


Azizah nampak sedih mendengar ucapan ambigu putranya itu.


"Pria itu telah menyakitimu Mom, dan sekarang sudah ada Daddy. Shine tidak membutuhkan Papa lainnya"


"Shine, Kamu tidak boleh bicara seperti itu nak"


"Maaf Mom, tapi Mommy tahu, I can't lie to my heart. I can't accept him Mom, Sorry"


Begitu selesai mengucapkan kalimat itu, Shine segera berbaring dan menarik selimutnya, padahal ini masih siang hari. Tapi Azizah yang sudah sangat mengenal sifat putra sulungnya itu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu maksud Shine. Tidak ingin melanjutkan pembicaraannya.


Mau tidak mau, Azizah Pun meninggalkan Shine di kamar dan kemudian menuju kamar orangtuanya. Rheimon dan Karina.



Tok tok tok



Tok tok tok



Rheimon dan Karina saling berpandangan mendengar ketukan pintu kamarnya yang terburu-buru.



"Siapa Dad?"


__ADS_1


Tanya Karina, Rheimon mengendikkan bahunya,



"Mungkin Darren, Atau Zizah? Atau pelayan?"



"Haiish Kamu ini..."



Karina yang tengah duduk di meja rias pun segera beranjak untuk membukakan pintu.



"Mom...."



"Sayang... Ada apa?"



Karina terkejut melihat Azizah didepan pintu kamarnya dengan wajah pucat.



"Ada apa Sayang...."



Rheimon pun ikut menghampiri. Apalagi melihat putrinya yang terlihat panik dan terus meremas jari jemarinya sendiri.



"Ada apa Sayang? Katakan... jangan membuat Mommy dan Daddy takut"




"Zoya? Ada apa dengan Zoya?"



Karina tentu kaget tiba-tiba mendengar Azizah menyebut Asisten rumah tangganya itu.



"Shine.... Dia...."



"Bibi Zoya tidak ada di rumah Mom"


Darren nyaris membanting hapenya begitu Asistennya mengabarkan bahwa Zoya sudah meninggalkan kediaman Rheimon dan Karina di Czech Republic.


Meski Darren belum mengetahui apa maksud dari Bibi Zoya tapi menghilangnya wanita itu jelas membuatnya berfikir negatif. Tapi bagaimanapun, Zoya bukanlah orang asing, Ia telah bekerja pada Orang tuanya sejak Ia masih kecil.


"Cepat, cari sampai ketemu. Kalau sudah seperti ini, pasti ada yang Zoya sembunyikan dari Kita"


Sahut Rheimon. Ia dan Darren kemudian memutuskan untuk langsung terbang ke Czech Republic malam ini juga, Mereka tidak bisa tinggal diam sebelum menemukan Zoya. Karena mereka yakin, pasti ada sesuatu.


Yang lebih mereka takutkan lagi, Zoya mengetahui setiap seluk beluk keluarga Atmaja, bahkan setiap kegiatan dalam keluarganya Zoya pasti mengetahuinya. Jika kenyataannya Zoya adalah penghianat, maka Keluarga Atmaja sekarang pasti dalam bahaya.


"Tapi tidak akan ada yang menjaga Zizah dan anak-anak selain Abimana Dad..."


Ucap Karina di tengah kekosongan dan kebingungan yang melanda pikirannya. Zoya tidak hanya asisten rumah tangga, tapi juga seperti Kakaknya sendiri.


"Darren akan minta Axel untuk menjaga anak-anak juga Mom, bagaimanapun dia memiliki kewajiban itu"

__ADS_1


"Daddy Setuju. Orang-orang keluarga Djaja juga masih cukup berpengaruh jadi jika ada sesuatu Axel sangat bisa diandalkan, tapi kalau bisa kamu minta bantuan Vano juga Son"


"Okay Dad, itu semua bisa diatur"


"Baiklah, Kita bersiap-siap. Malam ini Kita ke Czech"


"Hmm, Okay Dad"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah kepergian Rheimon dan Darren beberapa jam lalu, Axel dan Vano pun tiba di Villa Atmaja yg saat ini di tempati Azizah dan keluarganya.


Tidak ketinggalan, Dania pun setia mengekor di belakang Axel meski Axel sudah memarahinya. Bukan apa-apa, Dania merasa Ia juga ingin dekat dengan anak-anak Axel.


Meski telah mengetahui kenyataan bahwa Axel memiliki anak dari Azizah, tapi sampai saat ini Dania tidak pernah memberitahu Tamara. Tentu saja Axel yang memintanya.


Karena Axel bilang, keadaannya akan semakin kacau jika Tamara tahu tentang anak-anaknya. Ibunya banyak berubah terutama setelah vonis jantung yang di deritanya. Tapi kebiasaan Tamara yang suka memaksa tetaplah sama. Axel hanya takut Tamara memaksa untuk bertemu Shine dan Shiena sementara kedua bocah itu bahkan belum mengetahui bahwa Ia adalah ayah kandungnya. Jadi, untuk sementara waktu Axel akan merahasiakan ini pada Ibunya.


"Gila ya, Kadang musuh Kita justru orang terdekat kita. Gue padahal udah kenal banget tuh sama. Bibi Zoya, ya kan Xel?"


Ucap Vani di tengah obrolannya bersama Axel dan Abimana, Mereka bertiga tengah berkumpul di ruang tamu, sementara Azizah, Karina , Nayla dan anak-anak serta di tambah Dania, sudah tidur di kamar masing-masing.


"Hmn... Kalau boleh tahu apa masalahnya?"


"Bibi Zoya menceritakan tentang Kamu sama Shine"


Jawab Abimana.


"What???"


Seru Vano dan Axel berbarengan.


"Jadi... Shine sudah..." Axel tidak melanjutkan kalimatnya. Namun Abimana yang sangat peka pun menanggapinya.


"Ya, Shine sudah tahu tentangmu, masalahnya Aku tidak yakin tentang apa yang di ceritakan oleh Bibi Zoya. Jadi Aku fikir Shine salah paham..."


Ucap Abimana.


Wajah Axel mendadak mendung. Tanpa mengetahuinya oun Shine sudah menolaknya. Axel menjadi semakin berputus asa.


"Tidak ada seorangpun anak yang membenci Ayahnya. Shine hanya butuh waktu untuk menerima keberadaanmu, Percayalah, Dia anak yang sangat cerdas, Ia akan bisa menerima semuanya dengan lapang dada jika sudah siap secara mental"


"Aku mengerti Abi, terima kasih, terima kasih karena sudah membesarkannya dengan baik"


"Tidak perlu berterima kasih, Aku menyayanginya, sungguh. Dan mulai saat ini, Kita akan membesarkannya bersama-sama"


Axel tersenyum mendengar ucapan Abimana yang terasa hangat di telinganya. Ia sekarang mengerti kenapa Azizah pada akhirnya mencintai Pria ini. Abimana adalah Pria sejati yang sangat bijak dan baik hati. Tidak seperti dirinya yang dulu arogan dan sombong.


"Oh ya kebetulan besok keponakanku juga akan datang, jadi akan ada banyak orang yang harus dijaga di rumah ini"


"Tenang, Orang-orang Gue selalu siap 24 jam buat keamanan kalian"


Sahut Vano dengan bangga. Abimana tersenyum lebar.


"Thanks..." ucapnya tulus.


Ketiga pria itu pun menghabiskan malam yang panjang dengan berbincang. Berbeda dengan kondisi suatu tempat yang jauh dari sana, Tempat yang gelap dan lembab.


Suara rintihan seseorang menambah suasana menjadi lebih mencekam.


Seorang wanita terbaring lemah dilantai, wajahnya kuyu Namun tidak ada luka sedikitpun.


"Jadi, Kamu tidak mau membantuku lagi... Kakak tercintaku??"


Suara berat nan menyebalkan seorang Pria membuat Wanita yang tengah terbaring lemah itu ingin muntah, Ia tersenyum sinis seraya menantang tatapan mata Pria itu.


"Zoya... Zoya... Penghianat!!! Kamu mau menghianatiku demi musuh keluarga Kita?"


"Mereka bukan musuhku, Kau yang musuhku, bajingan!! " Cuihhh... Zoya meludahi wajah Pria yang tak lain adalah adik sepupunya, Bram.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2