Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Tentang Maya 1


__ADS_3

Abimana Berdiri dari duduknya membuat Azizah ikut mendongakkan kepalanya mengikuti gerakan Pria itu.


Pria itu menarik nafas sejenak dan berkata,


"Izinkan Aku memperkenalkan diri lu yang sebenarnya"


Azizah hampir melotot melihat tingkah Abimana, namun Ia kemudian malah menganggukkan kepala.


"Baiklah, perkenalkan, Nama Saya Abimana Aryasatya Dharmawangsa. Umur 34 tahun. Aku adalah... Pemilik sekaligus pemimpin Dharmawangsa Group. Dengan kata lain Aku... bukan seorang supervisor biasa seperti yang Kamu kira Zizah. Maaf kalau Aku tidak jujur kepadamu selama"


Abimana tertunduk di akhir kalimatnya. Sementara Azizah dan Tasya yang sedari tadi menganga mendengar ucapan perkenalan dari Abimana malah terkekeh geli.


"Kenapa kalian malah tertawa? Kamu tidak marah Zizah?"


Abimana kebingungan. Jika Tasya yang tertawa, Ia sama sekali tidak kaget, karena keponakan tersayangnya itu memang suka menertawakan dirinya. Tapi, Azizah.


"Kenapa harus marah?"


"Karena Aku bohong"


Jawab Abimana yang kini tengah duduk kembali.


"Tapi, sekarang udah jujur sama Aku"


"Tapi... Selama ini Aku..."


"Sebenarnya, Aku udah curiga mas semenjak Kamu kasih cincin ini ke Aku"


Ucap Azizah seraya menunjukkan cincin berlian pemberian Abimana beberapa bulan lalu. Wanita itu tersenyum, lalu melanjutkan,


"Kecurigaan Aku bertambah, saat Aku dilarikan ke rumah sakit. Aku denger Kamu bilang kalau Aku harus di tempatkan di ruang rawat terbaik, dan Kamu siap dengan biayanya"


Abimana mengerutkan keningnya, mencoba mengingat memori itu.


"Jadi, Aku semakin yakin kalau Kamu bukan orang biasa. Karena kecil kemungkinannya untuk melakukan semua itu. Tapi, Aku pikir selama itu tidak merugikan atau menyakiti Aku, kenapa Aku harus mempermasalahkannya? Itu hanya tentang identitas. Identitas bukan penentu kualitas hati dan akhlak seseorang"


"Zizah..."


"Terima kasih sudah jujur. Aku sangat menghargai itu mas"


Azizah tersenyum. Sungguh masalah identitas Abimana bukanlah masalah besar. Itu hanya seperti kerikil kecil. Sangat sepele. Kenapa harus dipermasalahkan?. Lagipula Ia juga tidak perduli dengan itu. Karena siapapun Abimana, sehebat ada Dia, Azizah akan tetap mengejar mimpinya, menjadikan dirinya wanita yang hebat juga suatu hari nanti atas usahanya sendiri, Insya Allah.


"Aku yang berterima kasih"


"Untuk?"


"Untuk tidak membenciku atas ketidakjujuranku selama ini hehe"


"Sama-sama. Tapi janji, siapapun diri mas, tetap jadi mas Abi yang Aku kenal. sederhana dan tidak neko-neko. Oke?"


"Siap Madam!!!"


Seru Abimana seraya memberi hormat.


"Kalian ngapain disini??"


Suara galak seseorang menginterupsi diantara obrolan Abimana dan Azizah.


"Mommy??"


Seru Tasya entah senang atau justru terkejut. yang jelas wajah mungil Tasya mengisyaratkan ketakutan yang dalam.


"Maya, Mba Maya?"


Sahut Abimana dan Azizah bersamaan.


Alih-alih menyahuti, Maya malah langsung menjatuhkan bokongnya begitu saja di samping Azizah.


"Nih!"

__ADS_1


Wanita itu kemudian memberikan sebuah amplop berukuran sedang dengan bentuk memanjang.


"Apa ini?"


"Loe liat aja"


"Kamu itu apa-apaan sih Maya?"


Tegur Abimana dengan nada sewot. Sementara putri Maya, yang tak lain adalah Tasya hanya diam seraya menikmati makanannya meski dengan terpaksa.


"Loe bakalan selamat kalo pergi dari kota ini, pergi yang jauh"


"Maya!!"


Sentak Abimana seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga membuat Tasya dan Azizah berjengkit kaget.


"Mas?!"


"Om, jangan pukul Mommy"


Abimana menggeram rendah menahan emosinya. Sementara Maya malah mengangkat sebelah alisnya, menantang tatapan kakaknya.


"Maksud Aku baik kok, Kalau nggak percaya ya udah, terserah!"


Maya berdiri kemudian dengan gayanya yang congkak pergi dari hadapan Abimana dan yang lainnya.


"Mas, Kita pulang aja ya...."


"Aku minta maaf Zizah, Maya seharusnya nggak Ngomong seperti itu sama kamu"


Azizah tersenyum, Ia juga tak mengerti kenapa Maya yang bahkan tak pernah menegurnya meski beberapa kali bertemu saat Ia tengah mengajar Tasya mengaji tiba-tiba menyuruhnya pergi. Azizah pun meraih amplop yang ada di hadapannya, Namun belumlah tangannya sampai menyentuh persegi panjang berwarna cokelat itu Abimana segera mencegahnya.


"Biar ku kembalikan pada pemiliknya"


Uca Abimana tajam. Sorot matanya jelas mengobarkan api kemarahan.


"Aku udah tahu Zizah, Biar Aku kembalikan pada Maya"


Takut membuat Abimana kesal, Azizah pun hanya mengangguk pasrah meski Ia sangat penasaran apa isi amplop itu.


Hingga sampai di rumah Bibi Ani pun Abimana tidak mampir walau sebentar, Pria blasteran Turki itu segera melaju kencang meninggalkan rumah Azizah beberapa menit setelah pamit.


*


*


"Tasya sayang, Kamu masuk ke kamar yah, Om mau bicara sama Mama Kamu"


Tasya mengangguk, namun gadis kecil itu kemudian mendongak, menatap pamannya dan berkata,


"Jangan pukul Mommy ya Om"


Ucap Tasya dengan matanya yang sendu. Abimana tersadar bahwa mungkin Dia telah membuat keponakannya itu takut. Pria itu kemudian berjongkok sembari melembutkan mimik wajahnya.


"Enggak sayang, Kamu tahu Om tidak akan pernah memukul perempuan. Om itu pria sejati, tidak akan main tangan dengan perempuan"


"Tapi tadi Om hampir pukul Mama"


"Itu kelepasan.. Maaf ya..."


"Oke... Kalau gitu jangan kelepasan lagi ya Om, nanti Tasya sedih"


"Iya, Om Janji..."


Tasya mengangguk mantap seraya tersenyum. Kemudian mengecup pipi pamannya sekilas dan berlalu menuju kamarnya dengan patuh.


Setelah memastikan bahwa Tasya telah masuk ke kamarnya, Abimana segera naik ke lantai dua dimana. kamar Maya berada.


"Maya!!" Seru pria itu, lagi.

__ADS_1


Namun tak ada jawaban. Abimana kemudian menerobos masuk ke dalam kamar adik semata wayangnya itu. Dan benar saja, Maya sedang duduk santai sambil menonton televisi diatas ranjangnya tanpa memedulikan panggilan dari kakaknya.


"Apa Kamu tuli?"


Diam. Maya tak menanggapi. Seolah kakaknya adalah makhluk ghaib tak kasat mata.


"Maya!!!"


Geram. Abimana berteriak keras seraya melemparkan amplop cokelat yang di berikan Maya pada Azizah ke atas ranjang. Jatuh tepat di samping Maya.


"Apa sih sebenarnya mau Kamu? Kurang apa Kakakmu ini Maya?? Kenapa kamu juga membenci Azizah. Perempuan yang kakak cintai!!! sampai-sampai Kamu meminta Dia pergi jauh??? hah??? Kenapa??"


Maya memutar bola matanya jengah. Wanita muda yang kini mengenakan piyama tidur bermotif monochrome itu kemudian bangkit dan menghampiri Abimana.


"Kalau dilihat dari cara kakak marah-marah, Aku bisa pastikan kalau kakak belum lihat isi amplopnya"


Pelan. Namun suara Maya jelas terdengar mengolok-olok ketidakcermatan Abimana.


Abimana tersenyum sinis.


"Apalagi, Didalamnya pasti isinya uang kan? Uang untuk menyuruh Azizah pergi jauh?? Hmn??" Ucap Abimana seraya menatap tajam Adiknya itu.


Maya berdecak sembari menggelengkan kepala.


"Ckck, Begitulah kalau orang mendahulukan emosi daripada logika, jadi terlihat bodoh"


Sarkas Maya, Ia lalu mengambil amplop dari atas ranjangnya. Meraihnya dengan sekali hentakan kasar. Maya kesal bukan main pada kakaknya. Bisa-bisanya Abimana belum melihat isinya tapi sudah menjudge dirinya dengan prasangka buruk.


Dia memang bukan orang baik tapi Dia juga tidak sepicik itu, apalagi pada Azizah yang sama sekali tidak pernah mengganggunya.


"Nih, Liat dulu sebelum berprasangka buruk apalagi sama adek sendiri"


Maya menempelkan isi amplop itu yang ternyata adalah foto-foto yang entah apa maksudnya, dengan keras ke dada Abimana hingga pria itu sedikit terkejut.


"Apa ini?"


Abimana mulai melihat satu persatu foto itu. Dan beberapa detik kemudian mata pria itu sukses membola saat melihat perempuan yang ada di foto itu.


"Alexa??"


"Udah tahu sekarang? Maksud Aku baik ngasih tahu Azizah kalau Dia harus pergi karena Nona Sadewo punya niat jahat sama Dia. Well kemarin Alexa nyamperin Aku dan ngajak Aku buat 'menyingkirkan' Azizah"


Kalimat terakhir adiknya sontak membuat Abimana menatap Maya.


"Kenapa? Nggak percaya? Ya udah terserah.Kalo udah nggak ada yang mau diomongin, pergi sana! Ganggu me time Aku aja"


Ucap Maya ketus.


"Kenapa Kamu nggak bilang sama Kakak? Kenapa Kamu selalu aja nggak pernah mau ngomongin apapun itu masalah kamu atau sesuatu yang penting sama Kakak?? Kenapa hubungan Kita jadi seperti ini May??"


Seru Abimana, Ia sungguh muak dengan tingkah Maya yang selalu seenaknya. Tidak mau mendengarkannya dan bertindak sesuka hati tanpa memikirkan akibatnya.


Maya berbalik, kini gantian, Maya yang menatap nyalang Abimana.


"Apa Kakak pernah dengerin Aku? Apa Kakak pernah menerima permintaan Aku? pendapat Aku?? Kakak lupa kenapa Tasya lahir kedunia??? Kakak lupa kalau semua yang Aku alami selama 8 tahu terakhir ini karena siapa??"


"Tasya itu Anak Kamu!! darah daging Kamu Maya, Kalau maksud Kamu, Kamu marah, kamu benci kakak karena melarang kamu ab*rsi itu karena kakak sayang sama Kamu. Kakak nggak mau Kamu menyesal!"


"Tapi sekarang Aku jauh lebih menyesal Kak! 8 tahun Aku hidup dalam ketakutan, kehinaan atas gunjingan orang-orang yang bahkan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi!!! dan jangan lupa, Aku kenal bajingan itu juga dari Kakak!!"


"Maya...."


Abimana menitikkan air matanya, Ia paham betul maksud Maya. Tapi sungguh Ia pun tidak tahu jika Pria yang telah menghancurkan hidup adiknya adalah temannya sendiri, Romi Herton Satria. Anak seorang kepala provinsi yang telah beristri tapi berhasil menipu Maya dan juga... dirinya.


Bersambung


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️❤️


Luvv banyak-banyak ❤️🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2