
Tamara menatap lamat-lamat putranya yang masih terlelap sejak malam lalu. Ia baru sampai ke Surabaya pagi ini karena ada beberapa urusan perusahaan yang harus di selesaikan. Dan lagi-lagi Radit mengatakan bahwa Axel mabuk di bar seperti 2 hari lalu. Ia pernah melihat putranya patah hati, tapi belum pernah separah ini.
"Terima kasih Raditya, sudah mau menjaga Axel selama disini"
Ucap Tamara pada sahabat putranya yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang Axel tempatnya duduk saat ini.
"Sama-sama Tante, Maaf kalau Radit nggak bisa bantu banyak, karena bagaimanapun masalah rumah tangga Axel adalah urusan pribadi. Radit cuma bisa bantu untuk mencari informasi"
"Tidak apa-apa nak, Tante yang berterima kasih karena kamu membantu Axel menemukan Azizah. Tante... Tante juga berhutang maaf padanya. Selama ini Tante sudah sangat jahat padanya"
"Iya Tante, lagipula Radit pikir mungkin kalau sama Tante Azizah mau mendengar, Karena selama ini Azizah nggak mau memberikan Axel kesempatan sama sekali"
Ucap Radit dengan suara lemah. setiap mengingat perjuangan Axel untuk membujuk mantan istrinya yang selalu berakhir menyedihkan.
"Tante bisa mengerti kenapa Azizah berlaku demikian Nak, karena apa yang telah Kami lakukan padanya memang sebenarnya tidak termaafkan. Tapi... Tante tetap akan berusaha, barang kali Azizah masih bersedia membuka hatinya untuk kembali bersama Axel, apalagi Dia sekarang sedang mengandung anak Axel, Cucu keluarga Kami"
Ada nada sendu di balik kalimat Tamara, seolah Ia merasa ragu, apakah Ia masih pantas menyebut anak yang kini dikandung Azizah adalah Cucunya? sementara dulu....
"Mudah-mudahan Tante, Jadi... Kapan Tante ingin menemui Azizah?"
"Hari ini kalau bisa. Apa... Nak Radit tahu dimana rumahnya??"
"Tahu Tante, Kapanpun itu, Radit siap ngaterin Tante kesana..."
"Syukurlah... Kalau begitu, Kita pergi setelah makan siang Biarkan Axel istirahat. Sepertinya Axel akan tertidur sampai sore nanti"
"Baik Tante... Tapi tante, Ada yang harus Radit sampaikan ke Tante, biar Tante nggak kaget nantinya"
"Ada apa?" Tamara menatap Raditya dengan raut penasaran. Apa ada sesuatu yang buruk? pikirnya.
"Alexa ada disini juga Tante, Dia masih mengejar-ngejar Axel dan mengaku-ngaku sedang mengandung anak Axel. Bahkan beberapa hari lalu, Alexa sudah menemui Azizah"
"Apa?? Astaga perempuan itu.... Ternyata dia benar-benar ular. Bagaimana bisa Aku tertipu wajah palsunya selama ini?"
"Tapi, Tante nggak usah khawatir, Orang-orang Radit selalu mengawasi pergerakan Alexa, jadi apapun yang akan perempuan itu lakukan, Radit akan mengetahuinya lebih dulu"
"Syukurlah, terima kasih nak. Kamu sudah sangat membantu Axel"
"Sama-sama Tante, Jasa Axel pada Radit dan keluarga lebih besar dari apa yang sekarang Radit lakukan Tan..."
Tamara tersenyum tulus mendengar Jawa Radit, kemudian Ia kembali menatap wajah Axel sembari mengelus lembut puncak kepala putranya itu.
Sebagai seorang Ibu, Tamara ikut merasakan kepedihan dan penyesalan Axel saat ini. Apalagi setelah melihat fisik anak kesayangannya yang bertambah kurus, wajahnya semakin tirus dengan jambang yang tidak terurus.
'Semoga Azizah mau mendengarkan Mommy ya nak'
Bathin Tamara berharap.
*
*
Sementara itu, Di rumah sakit swasta ternama di Surabaya, Queen Elizabeth Hospital, Karina tengah menunggu dengan harap-harap cemas hasil tes DNA dirinya dengan Azizah. Ia hanya datang sendiri karena memang ingin semua ini menjadi rahasia untuk sementara jika benar Azizah adalah putrinya.
__ADS_1
Karena penyebab dan pelaku penculikan putranya belum di temukan sampai sekarang, dan yang lebih membuat bingung jika benar Azizah terbukti sebagai Putri kandungnya, bagaimana bisa Ia di besarkan oleh kaki tangan Adhitama yang jelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluarga Atmaja.
Sementara bukti terakhir yang Ia dapat, pelakunya mengarah kepada orang dari internal keluarga Rheimon, Suaminya.
Apalagi masalahnya jika bukan karena harta warisan.
Jadi, akan sangat membingungkan jika Azizah adalah Rheina tapi menjadi anak dari Fauzi Ibrahim, anak buah Adhitama.
"Jika benar semua dugaanku, maka Rheimon harus menanyakan semuanya kepada Tuan Adhitama"
Tak lama kemudian...
"Kariiin!"
Suara cempreng sahabatnya membuat Karina segera berdiri.
"Sheila!!"
"Buset dah, Karina Ishaq primadona kampus makin kece aja nih, makin insecure Gue!!"
Ucap Sheila sembari menatap Karina dari atas ke bawah.
"Apaan sih Kamu... Biasa aja kayaknya, malah makin tua Aku nih..."
"Hilih... Orang katarak juga kalo liat Loe bisa tiba-tiba sembuh Rin!"
"Hahaha, ngarang! Kamu nggak berubah ya Shel, masih cempreng aja walaupun udah jadi dokter!"
"Helooo, kecemprengan Gue nggak ada hubungannya sama profesi gue yess!?"
"Lagian Loe ngapain dah nungguin disini, kenapa nggak di ruangan Gue!"
"Nggak lah, disini aja sambil ngeliatin rumput rumah sakit"
"Ahahaha ada-ada aja Loe, ya udah yuk masuk. Hasil Tes DNA nya ada di ruangan Gue"
"Beneran??"
"Yups... Makanya Ayok ke ruangan Gue, sambil ngrumpi Kite..."
Karina mengangguk, kemudian Sheila dengan penuh semangat menggandeng lengan sahabatnya menuju ke ruang kerjanya.
Sesampainya disana...
"Jadi, gimana Shel, hasilnya??"
Karina menatap Sheila dengan wajah cemas, antara tidak sabar sekaligus takut. Bagaimana jika tidak sesuai harapan??
"Bentar yah, Gue baca dulu"
Sahut Sheila sembari membuka amplop hasil tes DNA Karina dan juga Azizah.
Hingga beberapa detik kemudian, Sheila tersenyum dengan matanya yang menitikkan keharuan.
__ADS_1
"Ada apa Shel??"
"It's Amazing Rin, Kok bisa ya??"
"Apa sih Shel, jangan bikin Aku mati penasaran dong!!" Seru Karina dengan bibir bergetar. Sahabatnya ini, kenapa malah membuatnya tambah deg-degan!
"Loe liat aja..."
Sheila menyerahkan lembaran berwarna dasar putih itu kepada sahabatnya yang tengah gemetar tak sabar. Karina meraihnya dengan cepat. Kemudian membaca tulisan yang tertera di kertas itu.
Tak lama kemudian suara tangis Karina memenuhi ruangan dokter berwarna peach itu. Sheila yang ikut terharu segera menghampiri Karina dan memeluknya erat.
"Dia... Dia benar-benar Rheina Shel... Rheina ku yang hilang, belahan jiwa keluarga Kami huhuhu"
Karina roboh di pelukan Sheila, kakinya seperti menjadi nutrijell yang kenyal tapi rapuh.
"Congratulations sayangku, ini sungguh Keajaiban Tuhan. Puji Tuhan, Akhirnya kalian bisa kembali bertemu dengan putri kecil kalian"
Ucap Sheila yang memang seorang Nasrani yang taat, berbeda keyakinan dengan Karina sahabatnya.
"Thanks Sheila, thank you sudah membantuku"
"No.. Aku ikut senang atas kebahagiaan kalian ini"
"Iya Shel, Aku nggak tahu harus bagaimana menjelaskan perasaanku sekarang. Aku benar-benar merasa sangat sangat bahagia. Aku harus kasih tahu Rheimon!! Rheimon harus tahu kalau princess kesayangannya masih hidup!!!"
Ucap Karina yang segera meraih gawainya di dalam tas, Sheila mengangguk dengan semangat. Ia ikut tak sabar mendengar reaksi Rheimon. Pria yang berubah 180 menjadi sangat pendiam seperti candi semenjak kehilangan putrinya.
"Karin... Apa Kamu juga akan langsung mengatakannya pada Azizah? dan putramu Darren tentunya... Ia pasti akan senang jika tahu adiknya telah ditemukan"
Karina yang tengah sibuk mencari handphonenya yang tak juga ketemu seketika menghentikan gerakannya. Wajahnya tiba-tiba berubah sendu.
"Tidak Shel... biarlah ini akan menjadi rahasia sementara untuk mereka berdua. Azizah tidak tahu identitasnya sama sekali, yang Ia tahu ayah ibunya sudah meninggal. Aku tidak mungkin sekonyong-konyong mengatakan bahwa Aku adalah Ibu kandungnya. Alih-alih bahagia, bukan tidak mungkin Azizah malah akan membenciku karena berfikir buruk tentangku. Aku harus mencari tahu dulu bagaimana Ia bisa diasuh dan di besarkan oleh Fauzi Ibrahim ajudan Adhitama. Naru setelahnya Aku akan mengatakan kebenarannya pada Azizah.
Sementara Darren.. Kau tahu setelah kejadian itu bahkan Aku dan Rheimon harus berjuang membuatnya yakin bahwa Kami adalah orang tuanya. Ia tidak ingat sama sekali tentang... Rheina"
Karina menangis, Putra putrinya yang malang. Orang-orang keji itu telah membuat keluarganya sangat menderita. Putrinya hilang, Sementara putranya menjadi depresi hingga hampir mati karena percobaan bunuh diri yang akibatnya membuat Darren tidak mengingat apapun, bahkan namanya sendiri pun Ia lupa.
"Setelah kebenaran itu terungkap, Aku bersumpah akan membalas siapapun itu yang telah membuat keluarga Kami seperti ini Shel. Ini adalah sumpah seorang Istri sekaligus seorang Ibu"
Ucap Karina dengan mata memerah penuh dengan tekad untuk membalaskan dendamnya.
Bersambung
Maaf ya updatenya nggak rutin, ternyata Aku selelah itu kerja di Hongkong, jadi selesai nguli pengennya langsung tidur hehe
Harap bersabar ya menunggu Aku update yang moodnya suka naik turun. Belum lagi hapenya yang kadangkala suka eror membuat aku jadi tambah... Yah begitulah hehehe
Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️🌹🌹🤩
Kalau ada typo atau salah kalimat infoin aja ya biar aku revisi. kadang suka males revisi kalo udah selesai ngetik hehe
terima kasih. Luuvv banyak-banyak ❤️🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Udah di revisi .. makasih para pembaca sekakgus editor akuuh tercinta.... Sesayang itu lho aku sama kalian.
Di akhir episode nanti Aku bakal bagi-bagi Give away.... Stay tune yaaa ❤️❤️🤩