
"Gila ya manusia-manusia itu! nggak ada kapoknya gangguin Loe Zizah. Malah nambah lagi 1 siluman. Ngapain tuh perempuan kesini?"
Darren sedari tadi terus mengomel seperti emak-emak yang kehabisan gas dan token listrik secara bersamaan.
Sementara Azizah hanya terdiam, matanya terfokus pada wanita cantik di belakang Darren. Karina.
Darren yang memperhatikan arah pandang Azizah sontak menepuk jidatnya sendiri.
"Tuh kan jadi lupa. Zizah nih kenalin perempuan paling cantik di seluruh muka bumi dan antariksa, Nyokap Gue"
Darren dengan bangga memperkenalkan wanita cantik yang telah melahirkannya.
Karina terpana, penglihatannya terhipnotis mata jernih Azizah yang serupa dengannya. Cantik, seperti Rheina-nya dulu.
"Ma...??"
Suara merengek yang tak patut di keluarkan oleh pria berwajah gahar seperti Darren membuat Karina menggeleng pelan.
"Anak ini... Kamu nggak malu Son merengek seperti itu?"
"Lagian Mama dari bandara sampe kesini bengong terus, mikirin apa sih Ma? utang negara?"
Ucapan Darren bak Kelakar yang mengundang gelak tawa semua orang.
"Kamu ini...."
Karina mengalihkan pandangannya kembali pada Azizah. Ia menerbitkan senyuman termanisnya kemudian menghampiri wanita muda yang tengah berbadan dua itu.
"Hai... Kamu Azizah?"
Sapa Karina memandang Azizah dengan tatapan haru. Kebahagiaan membuncah dari dadanya. Melihat Azizah dari dekat semakin membuat Karina menetapkan keyakinan bahwa Azizah benar-benar Rheina, Tanda lahir tepat di pelipis kanan sama seperti miliknya, seperti Rheina-nya.
Kedua wanita itu saling menatap, mereka baru pertama kali bertemu, tapi seperti ada sebuah rasa yang di sebut rindu datang entah dari mana, menghampiri hati keduanya.
"Iya Nyonya, Saya Azizah" Jawab Azizah, senyum merekah terbit dari bibirnya.
"Jangan panggil Nyonya... Panggil Mama saja, seperti Darren"
Ucapan Tamara tentu membuat Azizah mengernyit, Mama? Ahh rasanya tidak pantas, Nyonya ini terlalu 'wah' untuk dipanggil Mama olehnya. Azizah membatin.
"Tapi... Saya..."
Azizah ingin menolak, tapi hatinya merasa tidak enak.
"Kalau gitu panggil Tante saja, asal jangan Nyonya, Oke?"
Azizah mengangguk setuju, Ia kemudian menoleh ke arah Abimana dan Darren yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksinya dengan Karina.
"Oh iya Tante, Ini mas Abimana"
"Halo..."
Sapa Abimana seraya menganggukkan kepalanya sopan.
"Hai Juga... Kamu pacarnya Azizah?"
__ADS_1
Tanya Karina secara gamblang, membuat Azizah ataupun Abimana salah tingkah.
"Mmm... Saya..."
"Masih belum diterima Mom, belum lolos seleksi tahap persidangan terakhir"
Ledek Darren. Azizah dan Karina yang mendengarnya sontak terkekeh.
"Skripsi kali ah"
Jawab Abimana ketus, Membuat Darren semakin tertawa keras.
Pria itu kemudian memberi kode pada Abimana untuk keluar dari ruangan. Ada yang ingin Ia bicarakan.
"Ya udah Mama sama Zizah ngobrol aja dulu, Kami para kaum Adam mau ada rapat penting"
"Ya udah sana, jangan nakal Son"
"Apa sih Ma... emangnya Darren anak TK"
"Hahaha, Udah sana, Mama juga mau ngobrol dengan sesama kaum hawa, hush hush pergi sana"
"Emang Eike ayam di hush hush segala!! Brewoook...!!! Ayo cuss kita oteweh"
Ucap Darren dengan gaya ala war wer wor. Abimana sampai bergidik ngeri, kemudian berkata,
"Najis!"
Mereka berdua pun keluar ruang rawat itu di iringi gelak tawa Karina dan Azizah.
Azizah seketika menoleh, walaupun Ia baru mengenal Darren beberapa bulan yang lalu, tapi setahu Azizah Darren bersahabat baik dengan Axel dan kedua sahabatnya yang lain sebelumnya. Bahkan bisa di katakan hubungan mereka sudah seperti saudara. Tapi, Kenapa Mama Darren berkata seperti itu?
"Bukannya Mas Darren punya banyak teman ya Tante?"
"Seperti mantan suami kamu dan temannya tadi?"
Azizah mengangguk, namun Karina justru tersenyum masam.
"Jujur, Tante sedikit tidak nyaman dengan pertemanan mereka, karena pergaulan dan gaya hidup mereka terlalu hedonisme dan konsumerisme. Lebih banyak dampak buruknya daripada dampak baiknya. Maklumlah, 'merasa' dari kalangan atas jadi ya... begitulah. Bersenang-senang"
"Hmn begitu..."
"Kamu sendiri nak?"
"Hmn? Saya?"
"Ya... bagaimana... Kehidupan Kamu selama ini?"
Jantung Karina berdebar, Ia menatap Azizah dengan tatapan haru. Sungguh tidak sabar menanti untuk mendapatkan bukti bahwa Azizah benar-benar putrinya. Dan untuk itu Ia harus mencari cara agar mendapatkan sample rambut Azizah, supaya bisa melakukan test DNA secepatnya.
Jika betul Azizah terbukti sebagai Putri kandungnya, maka malang benar nasibnya. Lihatlah, badannya kurus sekali padahal tengah berbadan dua.
"Alhamdulillah Saya sudah melewatinya Tante, yang terjadi di masa lalu biar jadi pengalaman dan pelajaran buat Saya. Sekarang Saya harus membuat rencana yang matang untuk masa depan saya dan anak-anak Saya"
Ucap Azizah mantap seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
Tanpa sadar Karina mengulurkan tangannya kemudian mengusap lembut wajah Azizah.
"Kamu perempuan yang hebat nak"
Ucapan dan tindakan Karina membuat hati Azizah menghangat hingga matanya kembali berkaca-kaca.
Karina seketika memeluk erat tubuh Azizah. menyalurkan perasaan yang sulit untuk digambarkan. Ia langsung jatuh hati saat pertama kali melihat Azizah. Apa yang Ia harapkan semoga itulah yang akan menjadi kenyataan.
"Well, Tante akan membantumu, merancang masa depan yang baru"
Ucap Karina seusai melerai pelukannya. Azizah menatap wanita cantik dihadapannya lamat-lamat.
"Maksud Tante?"
"So... sebenarnya kedatangan Tante kesini karena Putra Tante yang nakal itu meminta Tante mencicipi kue buatan Kamu"
"A-apa?"
Azizah terperangah. Benarkah?
"Yess... Kebetulan Tante sudah menggeluti dunia pastry sejak masih muda, dan Tante sudah punya banyaaak toko kue di mana-mana, Fortune cookies and Cake, that's mine"
"For-Fortune Cookies and Cake?? Itu punya Tante???" Tanya Azizah dengan tatapan tak percaya. Toko pastry yang sangat terkenal terutama untuk kalangan sosialita. Mahal karena kualitasnya.
"Yups... Dan Tante ingin Kamu bergabung dengan Fortune Cookies and Cake, Tapi sebelumnya Tante pengen tahu dulu seperti apa rasa dari kue buatan Kamu"
"Tante... Tapi Saya masih belajar dalam membuat kue, Tante. Saya takut mengecewakan"
Entah kenapa Azizah merasa tidak percaya diri, Ia senang karena selama berjualan pelanggannya selalu puas. Tapi pelanggan-pelanggan itu berasal dari kalangan biasa saja, masyarakat pada umumnya. Bisa jadi kan, rasanya tidak akan cocok di lidah para pelanggan Karina yang jelas berbeda kasta.
"Jangan berputus asa sebelum mencoba. Kamu tidak akan tahu sampai dimana kualitas diri Kamu kalau tidak mencoba tantangan baru. Lagipula, semakin tinggi jam terbang kamu nanti, akan semakin meningkat pula kemampuan dan keterampilan kamu dalam membuat Kue, malah bukan tidak mungkin kamu akan membuat Kue yang belum pernah ada suatu saat nanti"
Ucap Karina seraya tersenyum lebar, berusaha meyakinkan Azizah bahwa segala sesuatu asal itu positif dan membangun harus di coba. Jangan menyerah sebelum bertarung.
Azizah menatap manik Karina, mencoba mencari keyakinan disana. Hingga pada akhirnya sebuah anggukan menjadi keputusan yang mutlak untuknya.
"Baik Tante, Azizah akan mencobanya"
"Good girl!!" Sorak Karina dengan bersemangat, kemudian melanjutkan,
"Well, setelah pulang dari rumah sakit, Tante akan coaching Kamu"
"Benarkah?"
"Yups. Jadi, jangan mengecewakan Tante"
"Insya Allah Tante, seperti kata Ibu Azizah, Kalau ada kesempatan baik harus kita gunakan semaksimal mungkin, terima kasih Tante"
"Ibu kamu... pasti bangga sekali sama Kamu sayang"
"Insya Allah, Ibu Azizah adalah Ibu terbaik di dunia ini"
Sahut Azizah berseri-seri, namun ucapan itu justru menjadi jarum tak kasat mata yang diam-diam menusuk hati Karina.
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih atas kunjungannya teman-teman, semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️❤️