
Rheimon menutup Buku usang yang telah selesai ia baca diiringi dengan helaan nafas panjang.
"Adikmu masih tidak berubah. Maaf Honey, sebenarnya aku sudah lama mencurigainya tapi Aku tidak memiliki bukti barang secuilpun. Apalagi papamu selalu mempercayainya. Karissa lebih lihai dari yang Aku kira"
Rheimon menoleh kearah Karina yang terisak, Ia tahu istrinya jauh lebih kecewa dan sakit hati daripada dirinya.
Sejak dulu hubungan Karina dengan saudara kembarnya, Karissa memang tidak pernah baik. Jika kebanyakan saudara kembar' memiliki chemistry yang kuat dan hubungan kasih sayang yang indah, maka hubungan Karina dan Karissa berbanding terbalik 180°.
Karissa selalu menganggap Kakak kembarnya seperti musuh. Apa yang dimiliki Karina, maka Karissa juga harus memilikinya, kurang lebih seperti itu.
Hubungan mereka berdua semakin memburuk semenjak Rheimon dan Karina menikah, bahkan di acara perkumpulan keluarga, Karissa tidak akan datang jika Rheimon dan Karina ada di acara itu. Entah apa sebabnya. Rheimon sendiri juga tidak mengerti.
"Maaf, Sayang... Aku..."
"Sudahlah Honey, tidak perlu merasa bersalah, karena ini buka. Salahmu. Yang terpenting sekarang kita sudah mendapatkan titik terang, dan kita fokuskan untuk melindungi anak-anak kita, terutama Rheina. Jangan sampai Karissa mengetahui keberadaan Rheina"
Ucap Rheimon seraya mengelus punggung istrinya, mencoba menenangkan Karina yang masih terpukul.
Karina mengangguk mantap, apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Mereka saat ini harus fokus menjaga Rheina. Dan menjauhkannya sebisa mungkin dari Karissa. Jangan sampai adik kembarnya tahu jika Rheina yang Dia pikir sudah meninggal ternyata masih hidup dan sudah Ia temukan.
"Honey, kita masih memiliki hutang"
"Hutang?"
"Hmn... Hutang penjelasan pada putra Kita"
"Hmm"
Karina kembali mengangguk. Darren memang harus tahu, lagipula kecelakaan yang dialami Darren sudah lama terjadi, bukankah resikonya sudah pasti tidak sebesar dulu?
#
"M... Maksudnya Bapak itu kakaknya mba Azizah?"
__ADS_1
Nayla masih melotot tak percaya setelah mendengar cerita Darren. Ia merasa dejavu karena sepengetahuannya Azizah adalah yatim piatu. Lagipula bukankah ini terlalu kebetulan? Maksudnya, Nayla merasa Kenapa takdir ini begitu lucu, Azizah adalah mantan istri dari sahabat Darren ya g berarti bukankah mereka selama ini dalam lingkungan yang sama? Lalu kenapa Darren baru mengetahuinya. Untuk Nayla yang selalu mengedepankan rasionalitas dan perhitungan yang matang, apa yang diceritakan Darren terlalu.... mengejutkannya.
Darren mengerti apa yang dipikirkan Nayla. Ia bisa melihat dari ekspresi gadis imut itu yang memancarkan keragu-raguan.
Jangankan Nayla, Dia sendiri masih terkejut jika mengingat kenyataan itu. Tapi...
"Aku bisa memastikannya, karena diam-diam Aku sudah melakukan tes DNA Azizah dengan Aku dan Mommyku. Walaupun sepertinya sesuatu telah terjadi di masa lalu sehingga Aku nggak bisa ingat apapun tapi Aku yakin Daddy dan Mommy ku akan menjelaskannya padaku"
Nayla tanpa sadar mengangguk-anggukkan kepalanya, Darrenpun melanjutkan ucapannya,
"Yang terpenting sekarang, Aku ingin Kamu bantu Aku Nay..."
"Bantu apa pak?"
"Awasi dan jaga Azizah kalau Aku lagi nggak di deket dia. Berhentilah kerja di Pabrik. Aku dan Abimana punya rencana untuk membawa pergi Azizah ke Sydney. Aku ingin membawanya sejauh mungkin dari Axel"
"Bapak.. benci banget ya sama mantan suami mba Azizah?"
"Hmmm, karena aku tahu betul gimana Axel memperlakukan Azizah selama masa pernikahan mereka. Dan, Aku nggak akan pernah maafin Dia. Aku juga merasa bersalah karena saat itu Aku bahkan nggak tahu Dia itu adik kandung Aku"
"Hmn, itu sebabnya sekarang Aku harus melindungi Azizah walaupun sedikit terlambat"
"Mmmm, Oke pak. Saya mau bantu Bapak"
"Thanks ya Nay"
Ucap Darren seraya menggenggam tangan Nayla tanpa sadar.
"Tapi jangan pegang-pegang juga pak"
Nayla menangkis tangan Darren dengan kejam.
"Elahh, nggak sengaja Nay, kan terbawa suasana ceritanya"
__ADS_1
"Halah, bilang aja nyuri-nyuri kesempatan"
Sungut Nayla sebal..
"Iya-iyaa maaf..."
Ucap Darren cekikikan sementara Nayla diam-diam tersenyum salting.
##
Sementara itu, Axel yang mulai putus asa pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kenyataan bahwa Azizah adalah anak kandung Rheimon dan Karina membuatnya cukup terpukul, apalagi Ia juga gagal mendapatkan informasi bagaimana bisa Azizah dirawat oleh Fauzi yang merupakan orang kepercayaan Ayah dan Kakeknya. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu?
Kenapa Kakeknya tidak pernah mengetahui apapun?
"Sayang..."
Tamara menghampiri putra kesayangannya yang selalu kedapatan melamun. Ia juga merasa sangat bersalah dan berdosa jika mengingat semua perbuatannya pada mantan menantunya dulu. Padahal, Azizah sudah memberikan kehidupan untuknya dengan mendonorkan ginjalnya.
Percayalah, Jika Ia bisa memutar waktu dan mengerjakan kebenarannya lebih cepat, Ia pasti sudah berlutut memohon maaf pada gadis malang itu.
Tapi... Semua sudah terlambat, keangkuhan dan kebencian tak berdasar membuatnya menjadi orang yang jahat dan kejam.
"Mom, Mommy sama sekali nggak tahu soal om Fauzi?"
Tamara menghela nafas, Ia tengah duduk di samping putranya yang masih memandangi langit sore di luar jendela hotel tempat mereka menginap saat ini.
"Mommy nggak tahu Xel, karena Mommy hanya mengurus cabang, sedangkan Fauzi selalu bekerja untuk Kakekmu, di pusat. Mommy jarang bertemu dan hampir tidak pernah berbincang sama Om Fauzi. Bahkan sama Papamu, Mommy saja jarang mengobrol karena sama-sama sibuk"
Axel mendesah panjang. Pikirannya semakin ruwet seperti benang kusut.
"Mommy, juga kaget waktu tahu Azizah itu anaknya Karina, tapi Kita kan kita benar-benar tidak tahu sama sekali Xel"
"Hmm... Satu-satunya yang bisa menjelaskan ini semua adalah Kakek..."
__ADS_1
Tamara dan Axel saling berpandangan, Yah... Bagaimanapun dalam kisah ini, Adhitama lebih tahu segalanya....